SERUNI

SERUNI
BAB 108 Di Kamar Nayla



Ustadz Faruq memeluk Muhammad Ibrahim dengan rasa penuh suka cita.Ia tidak menyambut kedatangan muridnya itu di Bandara karena sedang melakukan perjalanan haji ke Mekkah Al-Mukarramah.


"Aku bangga padamu,jangan pulang dulu.Menginaplah disini"Pinta Ustadz Faruq.Ba'im tersenyum , menutupi kecanggungannya.Karena hatinya langsung menolak permintaan itu.Jika dia menginap ??malam ini ia tidak akan bisa bertemu dengan Nayla .Tapi ia juga tidak bisa mengungkapkan kata penolakan.


"Ayah..."Ba'im ingin meminta pertolongan Ayahnya.


"Gurumu sangat merindukan mu,jadi kamu menginaplah.Ayah akan naik taksi online,kamu pulang besok bawa mobil Ayah"


Mendengar Jawa dari Ayahnya,Ba'im terbungkam.Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain akur dengan keputusan itu.


___


Saat tamu sudah sepi, ustadz Faruq memanggil Ba'im dan mengajaknya ngobrol di teras samping.


"Bagaimana hasil kelulusan mu di Kairo,apa cukup memuaskan ??"


"Alhamdulillah guru... meskipun bukan nomor satu,tapi tidak mengecewakan "


Ustadz Faruq manggut-manggut disertai senyuman.


"Aku pikir kamu akan ikut Ayahmu menjemput ku di Bandara "


"Maafkan saya guru,saya tidak tahu mengenai kepulangan guru"


"Iya...Ayahmu mengatakan hal yang sama "


Ustadz Faruq menyesap kopinya,ia menghela nafas panjang setelah meletakkan kembali cangkir ke atas meja.


"Sebenarnya aku ada hal penting yang ingin ku sampaikan padamu "


"Hal apa itu guru?"


Ustadz Faruq menatap Ba'im dengan begitu mendalam.Ba'im jadi merasa tak enak hati,ia mengalihkan pandangannya ke lain arah.


"Harimau putih,penjaga Kujang.. mendatangi ku melalui mimpi.Dia mengatakan,ada makhluk astral mendekati mu.Kujang tidak suka dengan makhluk tersebut,ia penuh dendam dan amarah"


Hawa hangat menyergap tubuh Ba'im ,ia tahu siapa yang dimaksud oleh gurunya.


"Jangan bodoh karena cinta,kamu harus bisa berpikir positif.Dan pasti juga kamu sudah tahu apa yang boleh dan tidak harus dilakukan"


Ba'im tertunduk, telinganya mendengar,namun hatinya menolak menerima.


"Kau sudah pernah membaca kisah Laila Majnun?"


Ba'im mengangguk lemah.


"Pasti kamu tahu bagaimana sikap Qois saat Laila meninggal mendahuluinya ??"


Ba'im menatap kosong wajah sang guru.


"Qois sama sekali tidak pernah menyalahkan Tuhan,dan tidak menyalahkan takdir.Dia tersenyum karena sang kekasih sudah berada di tempat yang aman.Itu lebih baik daripada Laila berada di sisi laki-laki lain"


"Qois yang disebut Majnun,atau dalam artian gila.Masih bisa berpikir waras bahwa Laila yang sudah tiada tidak mungkin hidup kembali.Kau tahu apa kata Qois saat terdengar isu bahwa Laila menjadi hantu dan mencari Qois??"


Ba'im menggeleng pelan.


"Jika Qorin mampu menjadi Laila,itu tidak akan mengubah sedikit pun dari hatiku mencintai kain kafan Laila"


Ba'im menundukkan wajahnya begitu mendalam,ia paham apa maksud gurunya.Tapi hatinya menentang,tak perduli itu Qorin atau sejenisnya.Hati Ba'im sangat bahagia dengan itu semua.


Ustadz Faruq menatap muridnya, mencari jawaban dari gerakan tubuh sang murid.


"Iya guru"


"Siapa gadis itu ?"


"kHumairah,,,,anak panti juga"


Ustadz Faruq manggut-manggut.


"Dari namanya saja indah??aku harap itu menjadi awal yang baik untukmu"


Ba'im mengangguk sopan,


"Saya harap guru berkenan menjadi orang perantara diantara keluarga kami"


"Baiklah...akan aku usahakan "jawab Ustadz Faruq setuju.Ba'im tersenyum tipis....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari yang dinanti sudah tiba, Khumaira telah ijin pulang untuk acara lamaran tersebut.Pak Ramli sangat bahagia,ia mengundang khalayak ramai untuk menjadi saksi bersatunya putri tercintanya bersama dengan seorang anak dari keluarga priayi.


Ia bertambah jumawa ketika keluarga Muhammad Ibrahim datang tepat waktu, ketampanan pria itu tak diragukan lagi.


Barang-barang hantaran menyilaukan mata Pak Ramli ,ia tak berhenti tertawa dengan semua itu.


Berbeda halnya dengan Bu Raudah, Ia tak berhenti meneteskan air mata melihat sang calon menantu. Sampai saat Ba'im menyalami tangannya, Bu Raudah menciumi pipi Ba'im sambil menangis tersedu-sedu.Pak Ramli jadi segan karena sikap istrinya itu, ia meminta Bu Raudah untuk tidak membuat drama macam-macam.


Sampai acara selesai Bu Raudah masih sesenggukan ,meskipun sudah tidak mengalirkan air mata. Saat keluarga Muhammad Ibrahim pamit untuk pulang, Ba'im mengutarakan niatnya untuk bermalam di sana. Spontan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi keluarga Ba'im sendiri. Sedangkan untuk keluarga Humaira? Pak Ramli sangat bersukacita menyambut keinginan sang calon menantu.


"Ba'im ...kamu masih tunangan Nak,masih belum muhrim"Seruni memperingatkan dengan nada suara yang dipelankan.


"Ba'im tahu Bun, Insyaallah Ba'im akan menjaga maruah Khumaira dengan sepenuh hati"


Seruni menatap suaminya minta pendapat,tapi Roy hanya bisa angkat bahu saja.Sedangkah Ustadz Faruq juga tidak bisa banyak bicara,ia menepuk pundak Ba'im beberapa kali seperti sebuah kode.Ba'im hanya mengangguk seperti paham saja.


Akhirnya keluarga Muhammad Ibrahim tidak bisa berbuat banyak .Mereka pun meninggalkan Ba'im untuk tinggal di rumah calon mertuanya.


Pak Ramli mempersilahkan calon menantunya masuk ke dalam rumahnya.


"kHumairah... tolong siapkan kamar untuk tunanganmu"Titah Pak Ramli .


"Baik Ayah..."Khumaira mengangguk patuh. Dikarenakan kamar tamu dijadikan gudang oleh ayahnya ,maka hanya tersisa bekas kamar Nayla yang kosong.Khumaira merasa enggan masuk ke kamar itu,ia bukan tidak tahu kalau Nayla menjadi hantu penasaran.Tapi untung Ayahnya punya kenalan dukun yang mapan, sehingga arwah Nayla tidak bisa menghantui nya dan juga keluarganya.


Dengan ragu-ragu Khumaira membuka kamar Nayla yang sudah lama tak terpakai.Begitu pintu kamar terbuka,hawa dingin menyergap tubuh Khumaira. Gadis Itu bergidik ngeri, ia memeluk tubuhnya masuk selangkah demi selangkah ke kamar Nayla.


kHumairah terbatuk-batuk dikarenakan debu yang sangat tebal sekali. Belum apa-apa gadis tersebut sudah merasa dongkol karena harus membersihkan kamar Nayla.


Tok tok tok tok


"Ada yang bisa aku bantu ??"


Suara Ba'im mengagetkannya,pria itu sudah berdiri di ambang pintu yang sengaja Khumaira buka lebar-lebar.


"Ah tidak usah Tuan,saya bisa kok"jawab Khumaira basa-basi.Ba'im tersenyum simpul,ia tahu gadis itu berbohong.Karena baru saja Ba'im mendengar bebelan Khumaira dari luar.


"Sudah sana,biar aku yang bersihkan.Kamu siapkan minuman untuk ku saja.Karena pasti aku akan sangat kehausan nanti"


Ba'im mengambil alih kemucing dari tangan Khumaira.Gadis itu mengangguk malu-malu,ia pun bergegas keluar dari kamar yang menyeramkan baginya.


Senyum di wajah Ba'im langsung berubah setelah Khumaira pergi.Ia melangkah ke arah pintu, menutupnya lalu menguncinya dari dalam.Ba'im memperhatikan ke sekeliling kamar itu, masih kamar yang sama persis dengan video dimana Nayla digilir oleh beberapa pria.Ada rasa sakit menyergap di relung hatinya.Sakit sekali, sampai-sampai Ba'im mencengkram dadanya dengan kuat.