
Sayaka mendekati Subroto yang tengah berjongkok sembari menyelimuti anak-anak kucing yang baru saja dilahirkan dengan menggunakan sorban yang tadi melingkar di leher pria tersebut. Sungguh Sayaka tidak menyangka, Subroto juga pecinta fauna sama seperti dirinya.
"Ini Ibunya kemana, kok anak-anaknya ditinggal begitu saja di sini." Sayaka mengedarkan pandang ke segala arah mencari sosok kucing betina besar sembari berjongkok menyamai posisi Subroto.
"Biarin begitu dulu, Ka. Nanti kalau induknya belum muncul, biar saya bawa saja. Sudah mau mulai jamaahnya." Subroto beranjak berdiri ke area wudlu. Karena tangannya sedikit terkena darah kucing.
"Iya, Pak." Sayaka pun mengikuti Subroto karena dia memang belum mengambil wudlu.
Selang tiga puluh menit berlalu, sholat berjamaah ibadah tiga rakaat pun selesai dilaksanakan. Terlihat Subroto dan Sayaka keluar mushola bersama Pak Sajad. Tentu saja obrolan saat ini didominasi antara Pak Sajad dan Subroto. Keduanya tampak seperti kawan lama yang baru dipertemukan kembali.
"Sambil menunggu waktu isya, singgah ke rumah saya dulu, Pak," tawar Pak Sajad.
"Dengan senang hati. Saya senang sekali dengan sambutan ramah di sini." Senyuman Subroto di ujung kalimat sungguh menandakan wibawa yang tidak luntur meski sudah lama pensiun menjadi jenderal.
"Mohon maaf, Pak. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, mohon ijin saya mau melihat anak kucing tadi." Sayaka memberanikan diri mengatakan hal tersebut begitu mereka berada di halaman antara mushola dan rumah Pak Sajad.
"Oh, iya, Ka. Saya malah lupa. kamu lihat, ya. Kalau belum ada induknya, nanti kasihkan saya saja," ucap Subroto sambil menepuk keningnya sendiri.
"Iya, Pak. Saya pamit," Sayaka sedikit membungkukkan badannya sebelum berlalu dari hadapan dari kedua orang yang sama-sama dihormatinya tersebut.
Pak Sajad dan Subroto pun memasuki rumah. Keduanya disambut sapaan hangat Bu Sajad yang memang sebelumnya sudah menduga akan kedatangan tamu istimewa. Dalam hati kecil perempuan tersebut, seketika terselip kekhawatiran akan kelanjutan hubungan antara Sayaka dan Seruni. Entah mengapa, dia merasa bentang perbedaan antara keponakannya dengan Seruni begitu jauh. Sebagai pengganti orangtua Sayaka, jelas dia menyimpan kekhawatiran yang cukup besar jika hubungan itu dilanjutan.
Belum apa-apa, Bu Sajad sudah bisa menyimpulkan Subroto bukan orang sembarangan. Cara pria tersebut memandang lawan bicaranya dan bertutur kata, sungguh menampilkan kesan layaknya keturunan darah biru sejati. Sangat bersahaja.
Setelah menyapa sebentar, Bu Sajad memilih kembali ke dapur untuk membuatkan minuman dan menyiapkan camilan. Sayup-sayup, dia mendengar suaminya sedang bercerita sedikit tentang keseharian Sayaka. Ketekunan, kerja keras dan kejujuran tidak luput dari nilai positif yang disebutkan oleh Pak Sajad.
"Itulah yang saya lihat sekilas dari Sayaka, Pak. Karena itu kemarin saya menawarkan untuk bekerja sama dengan dia. Supaya Sayaka mempunyai peternakan dan kadang yang lebih luas untuk dimanfaatkan secara maksimal demi kesejahteraan penduduk asli sini."
"Wah, Pak Subroto ini baik sekali. Saya itu dulu sudah menawarkan Sayaka untuk kuliah, Pak. Dia yang menolak. Katanya, kuliah tinggi-tinggi percuma nanti malah jadi budak negeri sebelah seperti kedua anak saya," timpal Pak Sajad.
"Putra Pak Sajad ke luar negeri? Wah, sayang sekali. Kalau sudah sarjana, punya bekal pendidikan dan pengalaman harusnya bisa mengabdi untuk negeri. Memang gajinya tidak tinggi, tetapi ada kebanggan tersendiri. Uang bisa dicari dengan usaha yang lain. Tapi kembali lagi, cukup tidaknya nilai uang atau materi itu kembali pada rasa syukur
kita. Sepotong singkong atau sepotong roti, Sama-sama bikin kenyang. Cuman kadang beda di gengsi orang yang memandang. Dan maaf lho Pak Sajad, pas keluar, nggak bisa dibedakan to, tadi masuknya itu keju, singkong, mie atau spaghetti."
"Soal jodoh, kita sebagai orang tua cuma bisa mendoakan yang terbaik. Semua kembali pada mereka yang menjalani. Kita pengennya si a, tapi kalau nyatanya anak kita berkenan sama si b, ya mau gimana lagi. Yang penting kita sebagai orangtua tidak bosan mengarahkan dan mengingatkan. Usia dan pengalaman hidup kadang kala masih membuat mereka mengedepankan perasaan ketimbang logika. Sejatinya hidup tidak hanya cukup dijalani dengan cinta, mana mereka ngerti."
Ucapan Subroto barusan tertangkap jelas di telinga Bu Sajad yang memang kembali muncul ke depan membawa nampan berisi sepiring singkong, kacang tanah, jagung rebus dan dua cangkir teh daun gula batu buatannya sendiri. Perempuan tersebut sedikit merasa tersindir. Meski maksut Subroto tentu bukan demikian, Bu Sajad benar-benar semakin galau dengan hubungan Seruni dan Sayaka.
"Silahkan, Pak. Ini hasil kebun sendiri." Bu Sajad meletakkan satu per satu yang ada di atas nampannya ke meja.
"Terimakasih, Bu," ucap Subroto.
"Saya permisi dulu." Bu Sajad tampak buru-buru meninggalkan ruang tamunya. Perempuan itu berjalan terus ke belakang. Dia lalu duduk termenung di samping kandang Siti. Bersandar pada pilar bambu penyangga atap kandang sisi kanan.
Sementara Subroto dan Pak Sajad masih larut dalam pembicaraan yang bagi kaum laki-laki tentunya tidak jadi soal.
"Saya salut sama Pak Subroto. Meski anak tunggal dan perempuan pula, tapi Seruni tetap diijinkan untuk dinas di daerah yang jauh dari peradaban kota ini," puji Pak Sajad.
"Seperti halnya Pak Sajad yang tidak bisa mencegah kemauan kedua anak Pak Sajad. Saya pun sebenarnya juga demikian. Pengennya Seruni dinas saja di kota kami. Cepat menikah dan punya anak. Dengan harapan, suaminya nanti bisa meneruskan atau paling tidak bisa membantu mengelola usaha keluarga kami. Tapi kok rasanya saya egois kalau memaksa anak menjalankan hal-hal yang bukan pilihannya sendiri. Lagipula, Seruni juga pengen punya cerita untuk dibagikan dengan anak cucunya nanti. Pengalaman seperti ini, tentu tidak bisa didapat di sekolahan. Tidak pula bisa digantikan dengan uang."
Pak Sajad terdiam sejenak. Dari perkataan Subroto barusan, dia baru sadar akan adanya jurang perbedaan yang cukup curam antara Sayaka dan Seruni. Tidak hanya tentang mereka berdua. Tetapi juga antara kedua keluarga. Sebagai pihak laki-laki, seharusnya di posisi yang lebih mampu. Namun, yang terjadi pada Seruni dan Sayaka, jelas sebaliknya.
"Kalau Sayaka yang jadi menantu Bapak, tentu meneruskan usaha Pak Subroto atau pun tinggal di Surabaya adalah hal yang tidak mungkin, Pak," ucap Pak Sajad. Membuat Subroto berdehem karena pembicaraan rupanya mengarah pada hal yang lebih serius.
Sementara itu, Sayaka yang berjalan dari arah samping mushola sembari membawa tiga ekor anak kucing dalam kondisi sudah bersih dan diletakkan di dalam kardus mie instant, menghentikan langkahnya begitu melihat Bu Sajad duduk melamun.
"Ua ...." Sayaka memanggil Bu Sajad sambil menepuk pundak perempuan tersebut dengan hati-hati.
"Eh, kamu, Ka." Bu Sajad langsung menjawab dengan sedikit tergagap.
"Ua kenapa di sini malam-malam?"
"Ua lagi cari angin." Bu Sajad beranjak berdiri sembari menatap Sayaka lekat-lekat. "Setelah makan malam nanti, Ua mau bicara serius sama kamu," tambahnya.