
Nicta duduk di bibir kasur, lututnya gemetar, tungkai kakinya seperti tak bertulang.Baru kali ini ia berani melawan Ibu tirinya itu.Rasanya menggigil seluruh badan.
Nicta mengatur nafas yang memburu,ada rasa sesal dihatinya karena telah kembali ke rumah ini.
TRING TRING TRING
Ponselnya bergetar,Nicta segera merogoh tas sekolahnya untuk mengambil ponselnya.Ternyata telfon dari Papanya.
"Hallo..."
"Hay sayang,kamu sudah sampai di rumah ?"
"Iya Pa.."
"Cepat mandi yah,supir sudah bersiap untuk mengantar mu ke tempat Papa.Kita makan siang bareng "
Nicta terdiam, tidak ada salahnya ia mengikuti kemauan Papanya.Toh jika dia berada di sisi sang Papa,Nicta akan merasa ada yang melindungi.
"Baik Pa...Nicta bersiap dulu"
"Ok sayang"
Talian pun terputus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nicta menghempaskan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan sang Papa.Hidangan sudah tersaji,semua itu adalah makana kesukaan Nicta.Rona bahagia terpancar di wajah gadis itu.
"Papa sudah memesan semua makanan kesukaan mu sayang"
"Terimakasih Pa..."ucap Nicta.
"Ayo makanlah"
"Papa juga makan bukan?"
"Iya dong...Papa udah laper banget nih"
Nicta tersenyum tipis,Ayah dan Anak itu kemudian mulai menyantap makan siangnya.
"Sayang... terimakasih sudah mau kembali ke sisi Papa"
Nicta tersenyum tipis.
"Tapi,Papa tidak bisa melindungi mu selalu dari Tamara.Kamu harus punya kekuatan yang kokoh anakku"
"Nicta tahu Pa...jika Nicta kembali, berarti Nicta seperti menantang badai"
Tuan Mahendra mengangguk setuju.
"Papa punya solusi untuk memperkokoh kekuasaan mu, sehingga mereka akan sulit mengusikmu"
"Bagaimana solusinya Pa?"
"Kamu harus mau dijodohkan "
"Apa?!!"Nicta tersentap kaget
"Hanya ini jalan keluarnya Nak"
Nicta tak menjawab, tenggorokannya seperti tercekat.
"Sayang...Papa tahu kamu tidak akan setuju dengan usulan dari Papa.Tapi hanya ini jalan satu-satunya yang bisa kamu tempuh Nak.Kamu bukan hanya mendapatkan perlindungan dari Papa,tapi juga dari pihak keluarga calon suamimu"
"Siapa yang ingin Papa calonkan untuk Nicta?"
"Di perusahaan Airlangga,ada dua pemegang saham terbesar.Satu dari Brunei airline,dua dari PT KASTAPURA.Untuk menjalin hubungan keluarga dengan BRUNEI AIRLINE,itu sangat tidak mungkin sayang.Karena mereka dari kesultanan Brunei,jadi kita harus menjalin hubungan dengan PT KASTAPURA.Itu lebih mudah, karena kamu pun sangat kenal baik dengan Raja"
"Raja??"Nicta agak terkejut mendengar nama itu.
"Iya ...kamu ingat kan dengan Raja,dia kan sering main ke rumah"
"Teman kuliah Kak Valo?"
Tuan Mahendra mengiyakan.Nicta terdiam, ia mencoba mengingat kejadian yang dulu sebelum ia keluar dari rumah besar Papanya.Pernah sekali ia memergoki Raja menggoda Erika.Dan Erika pun tak menolak,karena Raja memang sangat lah tampan.Tapi saat mereka sadar ada Nicta disana,Raja seperti berpura-pura bahwa mereka sedang bercanda.Padahal Nicta melihat sendiri,Raja merangkul pinggang Erika dengan mesra dan hampir mencium bibirnya.
"Sayang..."Suara Tuan Mahendra mengagetkan lamunan Nicta.
"Iya Pa..."
"Bagaimana ??kamu mau kan?"
"Apa tidak ada jalan lain Pa?"Nicta merasa ragu dengan perjodohan ini.Tuan Mahendra terpegun, ia agak kecewa dengan pertanyaan putrinya.
"Emmmm apa kamu bisa menjalani hal sulit nantinya,karena jika kamu tidak punya pendukung ?semua akan menjadi sangat sulit sayang"
Nicta menelan saliva ..
"Bisakah kita bicarakan lain kali saja Pa... untuk saat ini,Nicta ingin fokus sekolah dulu"
Tuan Mahendra diam tidak langsung menjawab.
"Baiklah...kita bicarakan nanti jika kamu sudah siap"akhirnya Tuan Mahendra setuju.
"Makasih Pa"Nicta tersenyum senang,Tuan Mahendra mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nicta menunggu kedatangan Yas di sekolah.Ia ingin sekali curhat kepada pria itu ,saat melihat sepeda Yas sudah masuk parkiran,Nicta bangkit dari duduknya.
Tapi ia mendadak mematung karena ada seorang gadis menghampiri Yas lebih dulu.Nicta menghela nafas,ia agak kecewa.Akhirnya ia memilih untuk pergi saja.
*
Saat pulang sekolah,Yas melihat Nicta berlari menyebrang jalan.Yas juga melihat mobil yang sama seperti hari-hari biasa menjemput Nicta terparkir di bahu jalan.
Kedua netranya terbelalak lebar , rupanya Nicta baru saja menolong seseorang yang akan ditabrak mobil.Yas segera turun dari sepeda motornya.Ia pun menyebrang jalan mendatangi gadis itu.
"Nic...ada apa?"
Yas berjongkok, memeriksa urat nadinya.
"Ohh dia pingsan,tidak apa.Kamu tidak perlu cemas"
WESSSS
Yas terkesiap,bayangan hitam melesat melewatinya.Yas bisa melihat kemarahan pada bayangan hitam itu.Segera Yas menggendong tubuh gadis yang kata Nicta adalah temannya.
"Ma-mau dibawa kemana?"
"Ikuti saja aku"jawab Yas kemudian,Nicta menurut.Ia bangkit lalu mengekori Yas yang membawa Eny temannya.
Yas membawa masuk tubuh Eny kedalam mobil Nicta.
"Pak...bapak bisa bawa motor saya?"tanya Yas kepada supir Nicta.
"Aaa emmm bisa Den..tapi??"
"Tolong Bapak kemudikan motor saya,dan saya akan bawa mobil ini"Yas menyodorkan kunci motornya.
"Kenapa Yas??"
"Tolong jangan tanya apa-apa dulu,ini semua demi keselamatan kalian"
Nicta saling beradu pandang dengan supirnya, akhirnya Nicta mengangguk memberi kode.Supirnya pun mengangguk setuju.
Yas membawa Nicta dan Eny ke rumah nya.
"Ini rumah siapa Yas?"tanya Nicta penasaran.
"Rumah ku"Jawab Yas pendek.Ia merebahkan tubuh Eny ke sofa panjang dengan hati-hati.
"Suruh supir mu masuk"
"Ah iya..."Nicta pun gegas Keluar.
Setelah semua masuk,Yas melihat keluar jendela.Bayangan hitam itu rupanya mengikuti,tapi ia tidak bisa masuk melewati dinding rumah Yas.Karena memang rumahnya sudah dipagar gaib oleh Kujang.
Yas mengunci pintu dan jendela,ia juga menutup tirai jendela.Nicta dan supirnya keheranan dengan sikap Yas.
"Yas... kenapa kamu menutup semua pintu dan jendela ?"
Yas tak menjawab,ia duduk di sebelah tubuh Eny yang masih tidak sadarkan diri.
"Bisa kamu ceritakan siapa dia?"
"Emmm dia teman sekelas ku saat masih di SMP"
"Lalu, bagaimana tadi kamu bertemu dia?"
"Saat lampu merah menyala,aku lihat Eny menyebrang jalan.Aku memanggilnya,tapi dia seolah-olah tidak mendengar panggilan ku.Padahal jarak kami sangat dekat, berhubung lampu sudah menyala.Aku meminta supir ku untuk berhenti di depan saja,dan aku mengejar Eny.Aku melihat Eny seperti orang hilang akal,berjalan dengan tatapan kosong.Sampai akhirnya,aku melihat dia menerobos keramaian jalan dan hampir tertabrak truk kontainer.Untung aku cepat menarik tangannya, tiba-tiba dia pingsan.Mungkin dia shock ya?"Nicta menjelaskan panjang lebar.
Yas mengangguk mengerti.
"Kau tahu rumah dia dimana ?"
Nicta mengiyakan...
"Ok! untuk sementara waktu biar temanmu ini tinggal disini dulu"
"Kenapa Yas?"
"Sepertinya dia ditumbalkan"
"Apa??di tumbalkan?"
Yas mengangguk.
"Sama siapa?"
"Biasanya oleh orang terdekatnya "
Nicta menakup mulutnya...dia sangat tidak percaya dengan hal itu.
"I-itu tidak mungkin Yas... karena setahuku,Eny termasuk keluarga berada"
"Apa dia punya saudara ??"
Nicta menggeleng..
"Katanya adik-adiknya meninggal semua,hanya tinggal dia seorang"
"Berapa orang yang mati?"
Nicta menggeleng pelan..
"Aku tidak tahu,tapi Ibunya selalu hamil"
"Dan bayinya meninggal "
Nicta mengangguk ragu.
"Hemmm..."
"Kenapa Yas?"
"Filing ku tidak pernah salah, mungkin Ibunya sudah tidak bisa hamil lagi.Jadi sekarang iblis meminta nyawa temanmu"
"Masak sih ada begituan di jaman sekarang ini?"
"Kalau kamu tidak percaya,kamu bisa bawa temanmu pulang.Tapi aku jamin, sebelum kalian sampai ?mobil kamu pasti akan kecelakaan "
"Loh kok bawa-bawa aku?"
"Iblis itu sedang menunggu di luar pagar rumahku,dia menginginkan nyawa temanmu.Jadi bagaimana pun caranya,ia harus mendapatkan nya hari ini juga"
"Ihhh jangan buat aku takut dong"Nicta mengusap pundaknya sendiri,Yas tersenyum melihat gelagat Nicta.