
Seruni baru saja tiba di rumah,ia heran melihat mobil suaminya terparkir disana.Bukankah Steven masih di Klinik,sebab itu Seruni pulang sendirian tanpa menunggu jemputan dari Steven.
"Sayang..."
Seruni menemukan Steven tengah duduk di halaman samping rumah sambil menghisap rokok.
"Aku pikir kamu masih di klinik, aku juga sudah menelponmu tapi kamu nggak angkat. Kamu kenapa?"
Steven terlihat terpaksa tersenyum lalu menggeleng.Seruni bukan orang yang mudah tertipu,ia bisa menangkap gelagat yang kurang mengenakkan.Apa karena masalah kecelakaan itu??tapi Steven tadi sikapnya biasa saja.Justru terkesan sependapat dengan Seruni . Kenapa sekarang malah begini?
Seruni mengambil posisi duduk didekat suaminya dengan menarik kursi kosong.
"Kamu jujur aja deh, pasti kamu lagi mikirin masalah kecelakaan itu kan ?kamu kecewa sama aku?"
"Bisa nggak jangan ngomongin masalah itu"
"Ya nggak bisa dong, kamu nggak bisa nyalahin masalah itu ke aku .Aku tuh nggak tahu apa-apa, tengkurap aja aku belum tahu"
"Aku nggak nyalahin kamu, siapa yang nyalahin kamu?"
"Tapi dengan cara kamu bersikap seperti itu, Kamu itu seperti nyalahin aku. Lagi pula orang tua ku tuh kan nggak sengaja, Mereka juga di konspirasi agar bisa mengalami kecelakaan . Aku juga kehilangan orang tuaku loh Stev"
Steven membuang muka,ia menyundut kan rokok nya dengan kuat ke lantai.
Tiba-tiba telfon Seruni berdering, dengan hembusan nafas kesal.Seruni merogoh ponselnya lalu mengangkat talian.
"Iya Kak...."
Suara Reyhan terdengar,pria itu menjelaskan semua duduk perkara yang sebenarnya. Termasuk foto orang tua Steven dengan mobil pribadi mereka.Seruni mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa komentar.
"Terimakasih Kak..."
Talian terputus.
Steven tak bergeming, ia mendengar tapi matanya menatap ke arah lain.Seruni mencari foto orang tua Steven seperti apa yang diperintahkan oleh Reyhan .
"Nih..."Seruni menyodorkan ponselnya agar Steven melihat.Suaminya itu memutar bola matanya,ia terperangah karena Seruni menunjukkan foto kedua orang tuanya.
"Apa-apaan kamu?!"Steven bangkit tersulut emosi"Sudah aku bilang jangan membahas masalah ini lagi!!"
"Aku akan tetap mengusut tuntas masalah ini, karena orang tua ku sama sekali tidak bersalah"
"Aku sudah berusaha menahan sabar Ya...tapi kamu terus memancing emosiku.Coba kamu diposisi aku?bayangkan gimana perasaan aku? bahwa aku telah menikah dengan wanita yang orang tuanya telah menyebabkan kedua orang tua ku meninggal.Membuat aku hidup sebatang kara "
"Lalu bagaimana dengan aku? Aku juga kehilangan kedua orang tuaku ketika aku masih kecil. Kamu bisa bayangin nggak ?dan sekarang terbukti bahwa orang tuaku tidak bersalah. Yang menabrak itu bukan orang tua ku, tapi orang tuamu! Yang menyebabkan kematian orang tua ku adalah orang tuamu"
"Kenapa kamu malah memutar balikkan fakta ?!!"
"Lihat ini!!!"Seruni menunjukkan ponselnya ke depan wajah Steven.
"Foto ini adalah bukti bahwa yang salah itu orang tuamu!"
Steven tercekat,ia mengambil alih ponsel istrinya.
"Lihat baik-baik mobil itu!! sama kan sama mobil yang aku pakai sekarang? Desainnya, huruf platnya...itu inisial namamu kan?"
Steven menautkan kedua alisnya, tiba-tiba ia berlari keluar halaman depan guna memeriksa mobil istrinya.Seruni mengekor di belakang.
"Sudah jelas??"sambung Seruni ,ia merampas dengan kasar ponselnya dari tangan Steven.
"Mobil yang remnya blong Itu adalah mobil ini, dan ini bukan mobil ayahku .Aku tidak tahu Kenapa kakekku bisa tertukar mobilnya? Kenapa kakekku bisa nggak tahu mobil anaknya. Yang terjun ke jurang dan terbakar itu baru mobil ayah ku.Jadi sudah jelas bukan, yang salah itu siapa?hah??"
Steven menatap istrinya,ada rasa bersalah dalam dirinya.Namun Seruni justru berbalik masuk ke dalam meninggalkan suaminya.
"Sayang.... sayang..."Steven berseru memanggil sembari berlari kecil mengejar istrinya.Namun Seruni sangat cepat, tahu-tahu dia sudah masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nandar mengantarkan makanan untuk Ibunya,saat itu Ny.Rindiani sedang duduk termenung memeluk guling.
"Ma... waktunya makan malam"
Nandar meletakkan nampan di atas nakas.Lalu ia duduk di bibir kasur disamping sang Ibu.
"Nan suapi ya"ucap Nandar lembut,Bola mata Ny.Rindiani bergulir ke arah putra Sulungnya.Sekelumit senyuman tercipta.
"Nan...Apa Aldo sudah makan?"
Nandar terpegun,ia tidak bisa menjawab apa-apa.
"Nan... Tolong suapi adikmu dulu,nanti perempuan itu yang lebih dulu menyuapinya"
"Ma...Aldo sudah makan kok"
"Sungguh ???"
Nandar mengiyakan.
"Kamu yang nyuapi dia?"
Nandar mengangguk lagi.
"Kamu bo-ong...Aldo sekarang sedang disuapi wanita itu...Tu...tu"Ny.Rindiani menunjuk ke satu titik kosong.Nandar dengan sadarnya mengikuti arah tempat yang ditunjuk oleh sang Ibu.
"Ma....itu karena Aldo tidak ingin mengecewakan perempuan itu,Aldo sangat mencintai nya Ma"
Ny.Rindiani membulat kan matanya.
"Apa kamu bilang???Aldo tidak boleh bersama perempuan itu,dia hanya membawa malapetaka bagi keluarga kita.Lihat dirimu Nan,kamu tidak pernah percaya dengan Mama bukan?? sekarang kamu ditinggalkan oleh istrimu begitu saja"
"Ma...Siska minta cerai karena tidak tahan dengan sikap Mama yang selalu menyakiti hatinya"bantah Nandar.
"Apa kamu bilang??? sekarang kamu nyalahin Mama??"
"Ma..Nan bukan menyalahkan Mama,tapi Nan hanya ingin Mama sadar bahwa sikap Mama selama ini salah"
"Durhaka kamu Nan... bisa-bisanya kamu berkata begitu kepada Mama,lihat Aldo!!Dia mengorbankan dirinya untuk melindungi Mama"
Nandar mendengus kesal, ia benar-benar sudah dibuat emosi oleh sikap Ibunya.
"Ya sudah terserah Mama!!Nandar sudah capek melayani sikap Mama yang seperti ini.Terus saja banding-bandingin Nandar sama Aldo,Tapi kalau ada apa-apa Nandar tidak akan Sudi menolong Mama"
"Asal Mama tahu, istri Steven sepertinya ingin menguak kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya"
"Apa maksud mu??"
"Mama kan yg memotong kabel rem mobil Orang tua Steven,dan Mama juga kan yang memberi kesaksian kepada polisi bahwa mobil Tante Siska yang masuk jurang.Mama juga yang diam-diam membalik nama surat-surat mobil itu dengan atas nama anak dari Mitra medical"
Ny.rindiani tercengang tak percaya.
"Dan sekarang masa kejayaan Mama rasanya sudah pudar, Istri Steven sudah mencurigai kejadian ini.Mama tidak akan pernah menyangka bukan, bahwa bayi yang dulu belum bisa apa-apa sekarang sedang mencari tahu penyebab kematian orang tua nya.Siap-siap saja Mama masuk penjara "
Nandar bangkit dengan emosi yang membuak-buak.
"Tidak....tidak....kau pembohong besar Nan...Aku Rindiani tidak akan mudah ditumbangkan"Jerit Ny.Rindiani histeris.
Nandar menutup pintu dengan hati bagai terkikis sembilu.Ibu yang dia sayangi ternyata tetap saja mengucilkan dirinya dari hatinya.Dan tidak pernah bosan membandingkan dia dengan Aldo.
Kalau bukan karena permintaan Papanya,Nandar segan untuk menginjak kan kaki di Indonesia.