SERUNI

SERUNI
BAB 102 KUJANG



Tanpa diduga Mbok Indun menarik tubuh mungil Ismail yang tengah digendong oleh Ibunya.Lalu mendekapnya...


HAHAHAHAHHAHA


Mbok Indun tertawa ngakak,tapi tawa itu bukan suara Mbok Indun.


"Ismail!!!"Seruni terkesiap,ia ingin merebut Ismail kembali namun tangan Mbok Indun cepat mencekik Ismail.Anak balita yang masih berumur 2 tahun itu menangis.


"Kalau mendekat,aku akan bunuh anak ini"Ancam Mbok Indun.Ia menyerat tubuhnya mundur hingga bersandar ke dinding kamar Ba'im .


" A'udhubillahiminasyaithonirrajim..."Ustadz Faruq yang memang memegang botol berisi air untuk kepentingan memagar rumah Roy, mengambil sedikit dari air itu lalu mencipratkan ke tubuh Mbok Indun.


"AAAAKKKHHHHHH PANAS!"Tubuh Mbok Indun kewalahan,ia merasa terciprat oleh bara api.Ba'im sigap menarik adiknya menjauh dari pengasuhnya itu.Seruni langsung memeluk Ismail dan menggendong bocah tersebut.


Karena Ismail sudah aman, ustadz Faruq maju semakin mendekati Mbok Indun.Wanita itu menarik tubuhnya menjauh namun kalah cepat dengan gerakan ustadz Faruq.Pria itu dengan cepat menekan kening Mbok Indun sambil membaca ayat-ayat ruqyah.


Mbok Indun menggelepar, dari tubuhnya keluar asap yang banyak.Ustadz Faruq terus membaca ayat-ayat ruqyah,sampai Mbok Indun terkulai lemas.Barulah Ustadz Faruq melepaskannya.


"Nyonya tolong bawa anak-anak ini ke tempat aman,Tuan dan Fajar tolong ikat dia.Jin yang merasuki nya bukan jin sembarangan"Ustadz Faruq memberikan perintah.Semua mengangguk patuh,Seruni menarik Ba'im untuk mengikutinya.Ia membawa kedua putranya masuk kedalam kamar.


Roy dan fajar mengikat kuat tubuh gempal Mbok Indun ke tiang penyangga rumah.Setelah selesai, ustadz Faruq memberi arahan agar duduk bersila mengelilingi Mbok Indun sambil membaca ayat-ayat ruqyah.


Roy dan fajar pun mengikuti arahan tersebut,mereka tak putus berzikir memohon petunjuk dari Allah SWT.


Ba'im penasaran,ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar Ibunya.


"Ba'im ...mari sini..."Seruni memanggil agar putranya didekat nya saja,namun Ba'im diam tak menggubris.Seruni turun dari tempat tidur menghampiri putranya.


"Ba'im ..."Seruni menepuk pundak Ba'im ,anak itu mendongak.


KREKKK


Sebuah bunyi seperti tulang patah mengalihkan perhatian Ibu dan Anak itu.Ternyata si kecil Ismail sudah merangkak terbalik di atas kasur.Ia menyeringai lebar,lalu melompat ke lantai.


"Astaghfirullah... Ismail"Seruni menjerit kuat membuat ketiga pria yang sedang berzikir menoleh ke belakang mereka.


Mbok Indun mengangkat sebelah bibirnya, matanya yang terpejam terbuka pelan.


"Hahahaha.....kalian pikir aku mudah dikalahkan"


Ustadz Faruq terbelalak,ternyata iblis itu telah memperdaya semuanya.Roy bangkit lalu menggedor pintu kamar.


"Sayang ada apa?? sayang"


Ba'im dengan sigap langsung membuka pintu kamar.Ia berhambur keluar begitu pun Ibunya.Ismail merangkak mirip orang yang sedang kayang,namun kepalanya tidak terbalik.


"Astaghfirullah..."Ustadz Fajar sangat terkejut melihat keadaan balita itu.Jiwa kebapakan Roy jadi tergerak,ia menyambar tubuh putranya dan menggendongnya.Tapi justru Ismail menggigit leher Roy seperti seorang drakula...


"Mas..."Seruni menjerit histeris.Darah segar menetes dari leher Roy.Namun Ismail tak melepaskan gigitannya.


"Nek... tolong adek..."Seru Ba'im panik.Seruni kaget mendengar seruan Ba'im .Ia memperhatikan ke sekeliling,Seruni tak bisa melihat keberadaan Ibunya.


Padahal arwah Ibu Seruni ada disana,ia menarik keluar iblis yang merasuki Ismail hingga terhempas ke dinding.


Bersamaan dengan itu, Ismail terkulai pingsan.


"Nyonya,tolong sambil usapkan air Bidara ini ke tubuh anak anda.Ba'im .. tolong baca ayat kursi disisi adikmu"


"Baik Ustadz..."


Ustadz fajar membaringkan Ismail,lalu menyerahkan botol yang berisi air Bidara itu.


"Tuan sebaiknya bersihkan luka di leher anda dengan air ini, karena takutnya akan menjadi luka yang tidak biasa. Sebab anda bukan digigit oleh manusia melainkan oleh iblis"


"Baiklah..."Roy patuh.


Ustadz Fajar kembali ke sisi gurunya ,ia melanjutkan baca an ayat-ayat ruqyah membantu gurunya.


GGRRRRRRR


Mbok Indun terus mengeram matanya melotot tajam. Ia duduk dengan gelisah, sembari berusaha untuk melepaskan diri dari ikatannya.


"Jika kamu tetap ingin bertahan di tubuh itu? Aku tidak punya jalan lain selain membinasakanmu"Ucap ustadz Faruq.


"Kau pikir aku takut??Hahhahahahahahah"


Suara tawa iblis yang merasuki Mbok Indun menggelegar.


"Fajar !!katakan kepada semua orang terutama Nyonya Dan Tuan, jika mereka mendengar sesuatu apapun jangan beranjak sedikitpun dari tempat mereka "Titah Ustadz Faruq.


"Baik guru..."


Ustadz Fajar bangkit, ia memberitahu kepada Roy serta Seruni pesan gurunya itu. Kedua pasangan suami istri itu menggangguk paham.


Ustadz Faruq mengeluarkan sebuah senjata yang disebut kujang dari balik bajunya. Mata iblis yang melihat senjata tersebut terbelalak lebar, seakan-akan kedua bola matanya akan melompat keluar.


Ustadz Faruk mengiris ujung jemarinya menggunakan senjata tersebut. Lalu ia membaca bait-bait doa sembari meletakkan senjata tersebut ke atas lantai dihadapannya.


Aneh bin ajaib, senjata itu berdiri tegak tanpa disentuh. Angin kencang bergemuruh hebat, padahal rumah itu seluruh pintu dan jendela tertutup rapat. Angin ribut juga terjadi di dalam kamar Seruni, tapi mengingat pesan yang disampaikan oleh Fajar dari ustad Faruk, mereka hanya diam saja sambil terus membaca doa.


Suara auman macan terdengar membahana, iblis yang merasuk tubuh Mbok Indun terlihat gusar dan gelisah. Ia juga mengeram sekuat-kuatnya melawan auman harimau tersebut.


Tiba-tiba tubuh Mbok Indun terkulai lemas, namun angin ribut itu tetap berlangsung. Disertai dengan dentuman-dentuman bak terjadi peperangan.Dan juga suara pedang beradu.


Lalu terdengar Auman macan yang panjang, bersamaan dengan itu senjata kujang tergeletak di lantai dan angin ribut juga mulai mereda.


__


Ismi menyemburkan darah pekat berwarna kehitaman dari mulut.Tubuhnya berguncang hebat,Mbah Simah yang menyaksikan itu segera berlari menghampiri.Dengan sigap ia menangkap tubuh Ismi yang tersungkur.


"Nak...kamu nggak apa-apa Nak???"Mbah Simah terlihat panik.Dari kedua mata Ismi mengalir darah segar.Ismi tidak bisa mengatakan apapun ,ia terbatuk-batuk dan menyemburkan darah kembali.


Mbah Simah tahu kalau cucu angkatnya itu sedang tidak baik-baik saja.Tapi ia pun juga tidak bisa berbuat apa-apa.Ia memeluk tubuh Ismi dengan erat,air matanya mengalir deras.Mbah Simah menangis meraung-raung.


"Maafkan Mbah nak... maafkan Mbah...Mbah tidak berdaya untuk membantumu..."Mbah Simah menciumi wajah Ismi bertubi-tubi.Ia belum menyadari jika Ismi sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Wanita tua itu terus saja meraung-raung meratapi nasib Ismi ,cucu angkatnya.