
"Ayo cepat kita bawa dia"
Suara Kujang menyadarkan Seruni dari keterkejutannya.
"Ta-ta-tapi di-dia su..."
"Bawa saja"
Kujang memotong kalimat Seruni yang terbata-bata.Seruni mengangguk gugup,ia kemudian mengangkat tubuh Ibu Tito ke punggung Kujang.
*
*
Tito sudah siuman,ia mendapati Anggi dan Rasti setia menunggunya.Ia masih belum mengetahui jika Ibunya sudah dikebumikan.
Sedangkan Seruni memilih untuk tinggal dulu sementara waktu dirumah Reyhan .Ia ingin membantu urusan Tito sampai selesai.
"Kau sudah sadar To"ucap Rasti.Tito tersenyum tipis.
"Gimana perasaan kamu sekarang ?"Anggi menambahkan.
"Udah lebih baik"jawab Tito,namun Anggi dan Rasti seperti menangkap sesuatu yang lain.Ini bukan Tito yang mereka kenal,Tito dulu adalah pria petakilan yang usil banget.Banyak menggoda teman-temannya yang bisa mengundang tawa.
Tapi keduanya berusaha berpikir positif , menganggap perubahan Tito adalah proses pendewasaan diri.
Namun siapa sangka, setelah beberapa hari kemudian.Terdengar kabar yang mencengangkan.Tito ditemukan gantung diri di bawah jembatan.
Kabar ini membuat Seruni terkejut bukan kepalang.Ia shock sampai ponsel yang digenggamnya jatuh ke lantai.
"Kenapa Buk?"Tanya Ruksa sekretaris Seruni.Seruni tidak segera menjawab,ia mengatur nafas lalu perlahan duduk di kursi.
Ruksa gegas mengambil air putih untuk Bos nya itu.
"Minum dulu Buk"
Seruni mengangguk ia pun menenggak air itu sampai ludes.
"Ruksa... tolong miting untuk nanti sore diatur ulang jadwal nya ya...aku harus ke Tasik.Sahabatku meninggal dunia"
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un...baik Buk"Ruksa menjawab dengan tegas.
"Terimakasih "
"Sama-sama Buk"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terasa,Yas kini sudah menginjak usia sekolah taman kanak-kanak.Ia tetap tinggal bersama Seruni , sedangkan Uzma kini sudah mempunyai seorang putri.Dia lahir tanpa kemampuan apapun selayaknya Uzma dulu.Hal ini cukup membahagiakan Uzma dan Reyhan.
Sedangkan Seruni sendiri belum dikaruniai momongan, Steven sama sekali tidak perduli.Baginya Yas adalah putranya,Seruni sedikit lega dengan hal itu.Ia tidak tahu kenapa ia belum hamil juga.Padahal keduanya sudah cek ke dokter kandungan dan semua sehat-sehat saja.Tidak ada kejanggalan.
Seruni sempat berpikir tentang ucapan jelmaan Ummi Kalsum waktu itu.Bahwa dengan merawat Yas,itu sangat pamalih.Tapi lari kepada Takdir,Seruni segera membuang jauh-jauh pikiran negatif tersebut.
*
*
Yas tengah asyik memainkan legonya,ia tidak tahu harus menggambar apa.Karena otaknya tidak menemukan ide-ide yang bisa dijadikan inspirasi atas tugas menggambarnya.
Sedangkan semua teman-temannya asyik dengan dunia mereka sendiri.Ada yang menggambar rumah,taman,bunga, gunung,mobil dll.
Yas menghela nafas berat , tiba-tiba ia melihat sebuah penampakan.Yas tersenyum tipis,ia segera mengambil buku gambarnya dan mulai mencorat-coret bukunya menggunakan pensil.
Ibu guru Yas yang sedari tadi memperhatikan murid-muridnya termasuk Yas.Tersenyum karena akhirnya Yas mulai menggambar.Biasanya anak didiknya yang satu ini sangat sulit untuk dimintai untuk menggambar.
Beberapa saat kemudian,Ibu guru mengintruksikan agar murid-muridnya mengumpulkan tugas mereka di atas meja kerjanya.Semua patuh,satu persatu maju ke depan.
Bu guru penasaran dengan apa yang digambar oleh Yas.Apalagi ia melihat Yas menggambar hanya memakai pensil,bukan kuas atau cat air.
"Buka semuanya Bu dengan geyak cepat"jawab Yas dari tempat duduknya.Bu guru merasa heran,tapi ia pun mengikuti apa yang dikatakan anak muridnya.Bu guru menekan tepi buku menggunakan ibu jarinya,lalu buku satu persatu terbuka menunjukkan gambar disebaliknya.Sang guru tercengang,ia melakukan sekali lagi dengan lebih cepat dari sebelumnya.Kedua bola matanya membulat sempurna,nafasnya tertahan.Perlahan ia melirik dengan ekor matanya ke sisi bahu kirinya dimana terakhir makhluk berambut panjang berdiri dibagian akhir gambar.Bu guru menelan saliva, tengkuknya meremang dan hawa dingin menjalar.
Yas terus memperhatikan raut wajah gurunya yang memias.Keringat dingin mengalir perlahan.Makhluk itu tetap berdiri melayang disebelah gurunya.Ia menyadari jika Yas bisa melihatnya,karena itu ia menatap Yas dengan tajam.
Yas tersenyum,ia bangkit dengan menggenggam sebuah penggaris panjang milik nya.Lalu menghampiri sang guru yang terdiam gemetar.
"Bu guyu tsakit ??"
Sang guru menggeleng
"tsekayang banyak nyamuk Bu..ya bitsa buat oyang tsakit,nih... banyak "Yas memukulkan penggarisnya ke kaki kuntilanak yang melayang diam.Jika dilihat dengan mata telanjang ,Yas hanya memukul udara kosong belaka.Atau seperti penjelasannya,ia sedang memukul nyamuk.Tapi bagi manusia indigo,ia sedang memukul kaki kuntilanak dengan dipadu padankan kekuatan kecubung.
Kuntilanak itu kesakitan,ia mengangkat kakinya yang kesakitan dan digosoknya.Tapi kaki sebelah pun Yas pukul jua.Dan begitulah seterusnya, hingga akhirnya kuntilanak itu memilih pergi melenyapkan diri.
Yas tersenyum manis kepada gurunya.
"Bu guyu, nyamuknya udah peygi"
"Hah?"Bu guru tercengang.Yas dengan percaya diri kembali duduk ke kursinya.
*
*
"Aduuhhhhh "Kuntilanak itu menggosok kakinya yang kesakitan.
"Kurang 4j4r, kenapa anak kecil itu bisa memukul ku??Setahu ku sejak aku menyandang status sebagai kuntilanak,tidak ada manusia yang bisa memukul makhluk halus dengan secara langsung begitu.Setidaknya para ahli agama akan membaca doa-doa hingga kami kepanasan.Tapi itu adalah para ustadz- ustadz yang handal dan berilmu tinggi"
"Lah ini bocah memukul ku pakek penggaris, Malah sakit banget lagi.Kok bisa gitu??"Kuntilanak menggaruk kepalanya yang disantap oleh belatung.
"Hihihihihihi"Suara tawa terdengar lantang, Kuntilanak itu disamperin oleh teman seprofesinya.
"Kamu kenapa ??-masuk angin gosok-gosok kaki?"
"Masuk angin??aku diserang manusia kecil,bocil lagi"
Kuntilanak yang baru saja datang memonyongkan bibirnya,ia kurang paham dengan gerutuan temannya itu.
"Maksud mu apa?"
"Aku dipukul...nih"Kuntilanak menunjukkan bekas pukulan penggaris di kakinya.
"Hah???siapa yang mukul kamu??kok hebat banget"
"Haduuuh...itu dia yang aku bingung,sejak aku menyandang status sebagai kuntilanak,baru kali ini aku tahu manusia bisa menghajar bangsa kita secara terang-terangan begini"
"Ini penghinaan terbesar bagi kita, yang hajar kita anak kecil lagi... benar-benar keterlaluan sekali "
"Kita??Lo aja kalik,gue nggak!!"
"Kamu nggak setia kawan "
"Bukan masalah setia kawan atau nggak say, perasaan yang dipukul kan kamu.Masak aku juga kesakitan,kan nggak mungkin "
"Ini hanya kiasan b3g0k!!"
"Ohhh kiasan,tak kirain beneran "
"Lah yang dipukul itu beneran,bukan kiasan"
"Kamu gimana sih ?kok muter-muter gitu kalimatnya .Katanya cuma kiasan tapi beneran, gimana sih?"
Mbak kunti yang baru saja dihajar oleh Yas menghela nafas kesal.
"Ya udah deh, terserah kamu"kuntilanak itu beranjak dan pergi dari tempat itu dengan kesal.