SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 119



Batu mustika kecubung dan Jimat pengasihan pengantin berputar di atas telapak tangan Yas.


"Aku ingin tahu,dimana keberadaan gadis itu ?"


Dua Jimat yang terkenal sakti mandraguna berputar cepat seperti ****** beliung.Dan Keluarlah cahaya yang menggambarkan sesuatu yang terjadi.


Yas membulatkan matanya, ia bangkit dari duduknya yang bersila.


"Tunjukkan dimana itu?"


Dua Jimat melesat cepat,Yas pun berlari mengikuti.


Seruni dan Steven hampir saja bertubrukan dengan keponakan nya,karena Yas berlari bagai melompati tiga anak tangga sekaligus.


"Sorry Aunty"seru Yas tanpa berhenti.


"Yas...kenapa sih tuh anak?"gerutu Seruni sambil mengurut dada.Ia kaget bukan main ,Steven hanya geleng-geleng kepala.


*


Raja mulai melucuti pakaiannya satu persatu,dari mulai Jaz yang ia gunakan,dasi, kemeja,dan terakhir celana panjangnya.Ia tersenyum tipis melihat Nicta yang sudah meracau tak tentu arah, tubuhnya menggelinjang seperti cacing kepanasan.Raja merangkak di atas nya, membuka kancing bajunya satu demi satu.


"Rajaaaa..."suara desauan seperti tiupan angin hinggap di gendang telinga nya.Raja menoleh, ia a mencari siapa yang telah memanggil nya.


"Raja sayang...."


Ia menoleh lagi ke sisi yang lain,tetap saja kosong tak ada orang.Raja menepis semua pikiran yang ada di otak nya, kecuali niat yang terpendam terhadap tubuh Nicta.Ia kembali membuka kancing baju yang tersisa.


Tiba-tiba sesuatu berwarna hitam,lembab dan bau amis berayun di depan wajahnya.Raja mendongak,wajah tanpa mata dan hidung itu menghadap tepat di wajahnya.Raja terbelalak,ia terjungkal ke belakang merangkak mundur dengan penuh ketakutan.Sosok cungkring,tangan memanjang,dan perut buncit melompat ke atas kasur.Seringai lebar membuka deretan gigi hitam berlumuran darah.Melompat lagi ke lantai semakin mendekati tubuh Raja yang menggigil ketakutan.


Raja panik, ia menyeret tubuhnya menjauh, hingga tersandar ke dinding.Wajahnya kebingungan tak tahu harus kemana,ia terus menyeret tubuhnya menjauh sebisanya.


"Kau mau kemana ??hihihihihihi..."


"Ampun ....ampuni aku..."


Makhluk tanpa mata dan hidung itu tersenyum.


"Kau minta ampun padaku ???Hihihihi..Tapi aku tidak bisa mengampuni mu..Kau sudah merenggut semua hidup ku,dan sekarang aku akan merenggut hidup mu"


Dibelakang kepanikan itu,Nicta mengeliat kepanasan.Ia beringsut duduk, berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan.Entah apa yang ia lihat, tiba-tiba ia menjatuhkan tubuhnya ke punggung makhluk cungkring itu.Lalu memeluk nya erat.Makhluk tak bermata memutar kepalanya hingga 180°.Merasa heran dengan manusia yang dengan nyamannya tidur di punggung nya.


Disaat itulah,Raja beringsut dengan hati-hati menegakkan punggungnya.Ia berjalan merambat di dinding, membuka pintu dan berlari keluar.


BUGH!!!


Tubuh Raja terpental masuk kembali ke dalam kamarnya.Yas muncul disaat yang tepat,ia melangkah masuk dan menutup pintu dibelakang punggungnya.


Kini Raja berada diantara Yas dan si Makhluk cungkring.


"Hihihihihihi...."Sosok itu tertawa girang, mengasihani Raja yang tak berdaya.


"Mana Nicta??!"


Raja menggeleng cepat,ia mundur menyelip di antara celah tempat tidur.Yas mendekat, Makhluk cungkring yang berada tak jauh darinya mencuil pundaknya.Yas menoleh ,


"Laki-laki itu serahkan padaku,Kau ambil gadismu"


"Dimana dia?"


"Ada dipunggung ku"


Yas mengernyitkan keningnya.


"Ngapain dia dipunggung mu?"


"Aku tidak tahu, sepertinya dia sedang pulas tertidur"


Raja terpana melihat Yas yang santai berhadapan dengan si Cungkring.Yas melangkah memutari makhluk itu,benar saja.Nicta menempel seperti cecak di punggung si cungkring.Yas menariknya,tapi Nicta sangat erat memeluk.


"Nih anak.. nyusahin amat sih"Dengan disertai tenaga dalamnya,Yas menarik tubuh Nicta.Eh malah dengan senang hati Nicta melepas pelukannya.Hingga Yas terjungkal ke kasur bersama dengan tubuh Nicta diatasnya.


Si Cungkring malah tersenyum, dengan tangannya yang panjang ia menarik Krah baju Raja dan menentengnya seperti Excavator.Merambat di dinding,lalu keluar melalui jendela.


"Tolong... tolong..."Raja berteriak minta tolong,tapi siapa yang perduli karena suaranya hanya didengar oleh dirinya sendiri.Makhluk cungkring itu membawa Raja entah kemana?.


Nicta yang berada di atas tubuh Yas dengan posisi terlentang, beringsut duduk dengan susah payah.Ia tidak menyadari jika yang ia duduki adalah posisi tersensitif.Burung beserta telurnya tergencet di bawah,Yas hanya bisa menggigit bibir menahan sakit.


"Emmmm"Nicta membalikkan badannya,lalu rebah tanpa dosa menindih tubuh Yas.Ia mengusap pipi Yas , mencium nya, mengusapnya lagi.


"Kau tampan sekali"


Yas menelan saliva,wajah Nicta sudah tak berjarak lagi.Hingga Yas bisa menghirup hembusan nafasnya.


"Aku kepanasan,,, tolong aku..."


Yas ingin bangkit tapi Nicta menekan lengannya.Ia sedikit mengangkat kepalanya hingga pakaian yang sudah terlepas kancing menunjukkan bagian dadanya.


"Apa yang mau ditiup?"pikir Yas dalam hati.


"Cepat tiup...gini..fuh fuh fuh"Nicta mencontohkan gerakan bibirnya.


"Kau sudah tidak waras..."


"Aku kepanasan...bukan tidak waras..."


"Menyingkirlah...aku kan mendinginkan tubuhmu"


"Benarkah ???"


Yas menatap tajam,Nicta tersenyum tipis.Ia pun turun dari atas tubuh Yas.Kemudian Yas menggendong Nicta di punggung nya dan dibawanya pergi.


"Wuuuuu segernyaaaa...."seru Nicta kegirangan saat Yas memacu sepeda motornya.Ia memeluk Yas dengan erat, kakinya pun melingkar di pinggang.Posisinya tidak berubah sama saat Yas menggendong nya keluar dari hotel itu.


Tangan Nicta menelusup masuk ke dalam kaos street yang dipakai oleh Yas.Ia merab a-ra ba menjelajahi dada yang begitu segak dan sixpack.Tubuh Yas menyeruap hangat,detak jantungnya mulai berpacu.


"Hemmmmm nyamannya"gumam Nicta lirih.Ia terus menjelajahi mencari sesuatu yang semakin nyaman.Memaksa masuk ke sela cela na yang sesak.


Yas menghentikan laju motornya,ia menahan tangan Nicta agar tidak semakin jauh memasuki daerah terlarang.


"Emmmm aku mau kesitu"Nicta merengek manja.


"Mau aku potong tanganmu"jawab Yas datar.


"Emmmm emmmm aku mau kesitu"Nicta merengek seperti anak kecil yang memaksa dibelikan permen.


"Kalau kamu memaksa,aku turunkan kau disini"


Nicta terdiam, tiba-tiba ia berdiri.Yas mengira kalau Nicta akan benar-benar turun disini.Yah Nicta turun dari motor Yas,tapi ia naik lagi ke bagian depan tepat di atas tangki bensin.Ia duduk berhadapan lalu memeluk tubuh Yas lagi.Seperti tanpa dosa dan rasa bersalah,Nicta menempel kan kepalanya ke dada Yas.


"Dag dug dag Dug dag Dug...hehehe detak jantung mu sangat cepat,sama seperti punya ku.Tapi aku nyaman seperti ini,,hemmm seperti irama yang menghipnotis agar aku lebih cepat terlelap Hemmmmm"


Nicta mengangkat wajahnya,kedua tangannya memangku wajah Yas.


"Apakah kamu menyukai ku??"


Tatapan mai-mai beradu dengan tatapan dingin yang mulai berbinar.


"Hemm??? katakanlah kalau kamu memang menyukai ku,karena aku juga menyukai mu..sangat menyukaimu"


Ibu jari Nicta membelai bibir yang terkatup rapat.


"Boleh aku menciummu?"


Yas tak bergeming,namun jakunnya naik turun.Seperti menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya.Nicta mendekat, hembusan nafas yang cepat dapat ia rasakan begitu hangat.Membuat ga irah nya semakin bergelora.


Dua bi bir itu menyatu lembut,dua tu buh semakin merapat.Dengan posisi seperti itu,Nicta atau pun Yas dapat merasakan getaran dibawah pe rutnya masing-masing.Karena menempel dengan Begitu sempurna.


Lama pagu Tan itu berlangsung, hingga Yas tak menyadari jika ia sudah merangkul ping gang ramping milik Nicta.


Nicta tersebut saat ciu Man keduanya terlepas,


"Kau sudah mengambil ciuman pertama ku"ucap Yas.Nicta terkekeh...


"Mulai saat ini,Kamu adalah milikku.Jangan pernah mencoba untuk macam-macam dengan ku"


"Berarti....kamu juga adalah milikku?"


Yas tersenyum tipis.


"Tapi aku kepanasan...Aku...aku..."Nicta ter-engah-engah menatap penuh naf su tubuh Yas.Ingin rasanya ia merobek kaos street yang menutupi tubuh gagah itu.


"Jangan!! belum saatnya"Yas menahan tangan Nicta.


"Tapi aku ingin..."


"Kau akan menyesal jika melakukannya sekarang,karena sepertinya kamu dalam pengaruh obat"


"Aku tidak perduli...aku ingin..."rengek Nicta memaksa.


"Aku tidak bisa...hemm??begini saja"Yas menarik Nicta kedalam pelukannya.Ia memeluk erat gadis itu sampai Nicta merasa susah untuk bernafas.


Uhuk uhuk uhuk..


Tangan Nicta memukul punggung Yas minta dilepaskan.Yas pun merenggangkan pelukannya.


"Kau ingin membunuhku ??"Nicta terbatuk-batuk.Yas tersenyum..


"Peluklah...aku antar kamu pulang"


Nicta patuh,ia memeluk erat tubuh Yas.Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang,tanpa merubah posisi.Nicta begitu nyaman,ia sangat tenang mendengar degup jantung yang berpacu.