
Mendengar suara Seruni, Sayaka tanpa rasa bersalah dan malah dengan santainya berdiri sembari menggendong seekor kucing dalam pelukannya. "Kasihan dia. Kakinya kayaknya keinjak orang. Jalannya jadi tidak tegak. Untung aku lihat."
Seruni mengelus dadanya sendiri. Tidak peduli di mana pun berada. Rupanya peri kehewanan Sayaka masih tetap terjaga. "Ya sudah, kita masuk, yuk!" ajaknya.
"Yuk!" timpal Shakala.
"Iya, ayuk." Sayaka ikut menyahuti. Namun, Seruni kembali dibuat terheran-heran karena kekasih pilihannya itu tidak melepaskan kucing yang ada dalam pelukannya tadi.
"Bang, kucingnya," ingat Seruni.
"Biar aku antar dia ke dalam, Nduk. Kasihan dia jalan sendiri. Kakinya belum pulih benar. Itung-itung obat kangen sama mpus."
Jawaban Sayaka spontan membuat Seruni dan Shakala saling bertukar pandang. Kalau sudah berhubungan dengan binatang, memang Sayaka tiada duanya. Segala kekhawatiran dan rasa carut marut yang menumpuk di dada selama berada di rumah Seruni tadi, seakan lebur hanya dengan satu pelukan. Yaitu pelukan mpus.
Meski sebenarnya tidak demikian adanya. Kucing itu sebenarnya hanya pelampiasan dan pengalihan perhatian sesaat. Dalam setiap langkahnya, Sayaka masih begitu memikirkan apa lagi nanti yang akan terjadi. Bahkan sampai kapan dia di sini, juga terlintas di benaknya.
"Bang, tidak boleh membawa binatang dari luar ke dalam. Abang lepaskan saja kucingnya. Itu juga pasti kucing liar," bisik Seruni ketika mereka hampir mendekati loket pintu masuk untuk pemeriksaan tiket.
"Ini kebun binatang, kan? Kenapa mpus malah tidak boleh?" tanya Sayaka.
"Ya karena di dalam itu dikhususkan untuk hewan-hewan tertentu yang sudah dirawat sama pengelolanya, Ka. Kalau ada binatang lain dari luar, ditakutkan binatang itu tidak steril dan malah membawa virus untuk binatang yang lain," jelas Shakala. Seperti sedang menerangkan sesuatu pada anak sekolahan.
Seruni ingin kesal, tetapi apa daya, yang dihadapannya saat ini memanglah Sayaka. Yang lembut hatinya, bahkan pada seekor binatang sekali pun. Bersyukur dengan jiwa penyayang dan penolong kekasihnya itu, hanya saja kadang dia merasa sikap Sayaka juga sudah berlebihan jika berkenaan dengan binatang.
Akhirnya kucing malang itu pun dilepaskan juga oleh Sayaka. Setelah mencuci tangannya. Dia pun menggandeng tangan Seruni. Sungguh hal yang tidak terduga, karena sebelum-sebelumnya, Serunilah yang berinisiatif melakukannya. Lagi-lagi, Shakala harus menahan diri melihat kemesraan itu.
Sayaka tampak semakin bersemangat manakala mereka memasuki area binatang buas. Pria tersebut begitu telaten membaca setiap papan penjelasan mengenai binatang yang ada di dalam kandang. Shakala dan Seruni hanya bisa tersenyum. Setidaknya, mereka sudah membuat kenangan manis untuk Sayaka selama di Surabaya. Dengan harapan, pria tersebut suatu saat bisa betah berada di kota kelahiran Seruni itu.
Puas berkeliling di kebun binatang pertama di Jawa Timur tersebut, Seruni, Sayaka dan Shakala memutuskan untuk menyantap makanan khas Surabaya di salah satu taman di pusat kota. Meski bangunanya hanya terbuat dari tenda, warung dengan sebutan warung rawon kalkulator itu sangat ramai dengan pengunjung.
"Kita langsung pulang atau kemana lagi? Mumpung keluar jadi sekalian saja. Apa kamu mau beli oleh-oleh dulu untuk Pak Sajad dan Bu Sajad?" tanya Shakala di tengah-tengah santap makan mereka.
Sayaka ingin sekali membeli oleh-oleh. Karena ini adalah kali pertamanya pergi jauh dari kampung halamannya. Namun apa daya, uang yang dimilikinya sungguh terbatas. Yang jadi masalah, dia juga tidak tahu oleh-oleh akan berupa apa dan berapa harganya. Bukan perhitungan, tetapi Sayaka selalu realistis. Dia bukan pegawai yang setiap bulan mendapatkan gaji. Dia hanyalah petani sekaligus peternak yang mendapatkan uang paling cepat tiga bulan sekali setelah masa panen tiba, atau ketika ternaknya sudah cukup memenuhi syarat untuk dijual.
Ketiganya melanjutkan santap makan sore mereka tanpa obrolan lagi. Terlihat Seruni dan Shakala begitu lahap menghabiskan makanan di depannya. Tidak demikian dengan Sayaka, lidah pria tersebut masih sangat asing dengan rawon. Si kuah hitam yang sarat akan rempah-rempah itu membuat Sayaka berdoa dalam hati. Berharap perutnya baik-baik saja setelah menghabiskannya.
****
Mereka baru tiba kembali di rumah Seruni ketika waktu menjelang maghrib. Subroto rupanya sudah bersiap untuk menunaikan sholat wajib tiga rakaat tersebut. Begitu pun dengan Sadewa yang juga masih di sana. Kedua orang tua itu kompak memakai sarung dipadu dengan baju takwa berwarna senada.
"Ser, kasih sarung sama baju itu ke Shakala dan Sayaka. Ayah tunggu di mushola. Mandinya cepat, jangan ada yang lelet. Ayah tidak mau telat semenit pun maghribnya." Subroto menunjuk tumpukan kain di atas meja ruang tengah.
"Iya, Yah." Seruni menjawab sambil mengambil benda yang dimaksud, lalu membagikannya satu per satu pada Shakala dan Sayaka.
Kedua pria tersebut segera mengikuti langkah Seruni yang ingin menunjukkan kamar mandi yang ingin mereka gunakan. Tatapan menyelidiki Sadewa tidak lepas dari sosok Sayaka. Dianggap menjadi saingan anaknya, sejauh ini dia belum menemukan sesuatu yang spesial yang bisa membuatnya mengerti kenapa Seruni bisa lebih memilih Sayaka ketimbang putranya.
***
Tepat waktu Adzan, semua sudah berkumpul di dalam Mushola rumah Seruni. Suasana canggung begitu kentara dirasakan Sayaka. Berada di tengah-tengah orang berstatus sosial dan berpendidikan tinggi, Lagi-lagi memaksanya untuk mempertanyakan kembali kepantasannya mendampingi Seruni.
"Pimpin sholatnya, Ka."
Suara bernada perintah halus yang keluar dari mulut Subroto disertai tepukan di pundaknya, tidak hanya membuyarkan lamunan Sayaka, tetapi juga berhasil membuat pria itu tergagap. "Sa--saya, Pak?" tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Memang ada Sayaka yang lain?" Subroto balik bertanya.
Sayaka tentu saja langsung menggeleng. Setelah menarik napas dalam. Dia pun segera mengambil posisi paling depan sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim ... aku pasti bisa," gumam Sayaka dalam hati. Menyemangati dirinya sendiri.
Sholat wajib tiga rakaat pun dimulai. Sayaka membius jamaah dengan bacaan surah-surahnya yang sangat baik serta suaranya yang merdu. Sholat kali ini, terasa lebih syahdu dan juga khusyu. Terlebih bagi Seruni. Setidaknya, mereka yang di sana harusnya menyadari, Sayaka bukanlah pemuda biasa-biasa saja. Di balik sikapnya yang acap kali terlihat remeh di mata orang lain, sesungguhnya begitu banyak keunggulan yang dimiliki. Hanya saja, Sayaka sendiri juga masih mengungkung dirinya dengan rasa minder yang dominan.
"Ka, bapak mau bicara berdua sama kamu setelah sholat Isya nanti. Shakala biar mengantar ayahnya ke rumah budhenya. Malam ini, kamu temani bapak," ucap Subroto sesaat setelah semua saling berjabat tangan seusai melakukan sholat.