SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 4



Gadis yang ditolong semalam tadi bernama Wulan.Dia duduk di teras samping rumah memperhatikan dua kakak beradik itu bermain basket.


Wulan senyam-senyum sendiri melihat bagaimana tampannya pemuda yang menolongnya itu.Tubuhnya sangat atletis, apalagi disaat memakai pakaian olahraga seperti saat ini.Keringat yang mengucur menambah kesan daya tarik tersendiri.


Setelah mendribble bola,Reyhan melambungkan bola hingga lolos masuk ke dalam keranjang.Wulan bertepuk tangan dengan semangatnya.Tiba-tiba ia heran melihat Reyhan diam mematung menatap ke satu arah, Wulan mengikuti kemana arah pandang pria tersebut.


Ternyata Livia datang,ia menatap heran ke arah Wulan.


"Hay Kak Livia "Sapa Seruni sambil melambaikan tangannya.Livia membalas lambaian tangan tersebut.


"Ada apa ?? pagi-pagi udah datang ke rumah ?rindu ya?"goda Reyhan sembari mendekati gadis itu.Livia tersenyum, wajahnya bersemu merah.


Wulan mendengar dengan jelas godaan Reyhan kepada wanita yang baru saja datang.Ia tidak suka,ia merasa jengkel sekali.


"Siapa dia?"tanya Livia menunjuk ke arah Wulan.


"Gadis yang di tolong Runi semalam.Korban pelecehan seksual oleh Ayahnya sendiri"


"Lebih tepatnya ditolong kami berdua"Timpal Seruni .Ia duduk mengasoh di kursi kosong tak jauh dari Wulan berada.


"Kenapa dibawa pulang ke rumah ??"tanya Livia lagi.


"Dia tidak punya sanak saudara "jawab Reyhan .Ia melangkah masuk ke dalam melewati pintu samping yang diikuti oleh Livia .Wulan pun mengikuti keduanya.


"Lalu??apa kamu akan mengijinkan dia tinggal disini ??"


Reyhan duduk di kursi makan ,ia menegak sebotol air sampai habis.Livia tidak canggung mengambilkan sepotong roti lalu ia lapisi dengan selai coklat kesukaan Reyhan .Kemudian ia menyajikan di hadapan Reyhan selayaknya seorang istri.


"Terimakasih..."


Livia menjawab dengan senyuman.Ia pun duduk di kursi samping Reyhan .


"Rencananya sih , bentar lagi aku akan ke Yayasan.Biar dia tinggal disana saja"Reyhan menjawab sambil mengunyah roti.Livia manggut-manggut tanda mengerti.


"Mas... boleh tidak kalau saya tinggal disini saja.Saya jadi pembantu juga nggak apa-apa.Di rumah ini sepertinya tidak ada pembantu"tiba-tiba Wulan menyampuk pembicaraan Livia dan Reyhan .


"Masalahnya kami memang tidak memakai jasa PRT.Kami hanya memanggil seseorang petugas kebersihan 3x dalam seminggu untuk membersihkan rumah kami"tiba-tiba Seruni datang ikut bicara.Ia duduk di kursi kosong disebelah Kakaknya.Jadi posisi Reyhan berada di tengah-tengah adik dan sahabatnya.


Wulan nampak tidak suka dengan jawaban Seruni .


"Nggak digaji juga nggak apa-apa kok"Wulan tetap berkeras hati.


"Maaf ya Wulan...kami bukan tidak bisa membayar gaji PRT.Tapi kami lebih ke kurang suka jika ada PRT yang akan berada di rumah ini selama 24jam .Kami punya privasi tersendiri untuk tidak direcoki oleh orang lain"Kini Reyhan yang menjawab.


Wulan terlihat kecewa,ia pergi begitu saja tanpa kata.


"Sepertinya dia suka sama kamu"ucap Livia .Reyhan hanya tersenyum.


"Itu hal yang biasa "jawab Reyhan enteng.


"Aku boleh ikut ya nanti kalau mau ke Yayasan"


"Boleh..."jawab Reyhan kemudian.Livia tersenyum senang.


___


Reyhan sudah siap untuk pergi ke Yayasan tempat Pamannya Ismail berada.Seruni pun sama,ia sudah menunggu di ruang tamu sambil bermain game.


Tapi Reyhan tak menemukan wujud si Wulan.


"Mana Wulan ?"Tanya nya.


"Udah ku panggil dari tadi,tapi tak ada dia menampakkan diri"Jawab Seruni sambil terus fokus dengan ponselnya.Reyhan menatap Livia ,gadis itu hanya tersenyum tipis.


Tak ada pilihan lain,Reyhan harus turun tangan sendiri.


Tok tok tok tok


"Wulan...ini aku"seru Reyhan dari luar kamar.


Wulan membuka pintu lebar-lebar,ia sendiri masuk dan duduk di bibir kasur.Reyhan ikut masuk,tak lupa ia menutup pintu dari dalam.


Reyhan duduk bersisian dengan Wulan yang menundukkan wajahnya.


Reyhan meraih dagu gadis itu,dan mengangkatnya lembut.


"Wulan...kamu mau ya tinggal di asrama ?"ucap Reyhan lembut yang membuat gadis itu terbuai.


"Aku...aku pengen tinggal disini "jawab Wulan jujur.Reyhan tersenyum,ia mengusap bibir Wulan lembut dengan ibu jarinya.


"Aku seorang laki-laki, sangat berbahaya jika tinggal seatap dengan anak gadis seperti mu"


Tubuh Wulan menegang mendapatkan sentuhan dibibir nya.


"Kamu tinggallah di asrama,itu rumah ke-dua ku.Karena Asrama itu milikku"


Wulan tersenyum tipis.Tiba-tiba ia berhambur memeluk tubuh Reyhan .Reyhan pun membalas dengan usapan lembut dipucuk kepalanya.


"Mau ya ??"Reyhan terus membujuk.Wulan menganggukkan kepalanya dalam pelukan.


"Tapi Mas janji akan sering mengunjungi Wulan"pinta gadis itu.


"Insyaallah,jika aku tidak sibuk.Karena aku seorang Dokter, yang memiliki banyak pasien"


Wulan melepas pelukannya.


"Tidak apa,akan aku tunggu kedatangan mu Mas"


Reyhan membelai pipi Wulan lembut.


"Ya sudah...cepat bersiap ya"


Wulan mengangguk.Reyhan bangkit,ia keluar dari kamar Wulan.


___


"Mana?"tanya Livia ,Seruni menoleh ke belakang.Reyhan menunjuk ke belakang punggungnya memakai ibu jarinya.


Seruni tersenyum tipis,ia tahu apa yang dilakukan Kakaknya itu.


"Yuk...kita tunggu di mobil"ajak Reyhan ,Livia mengangguk.Ia pun bangkit mengikuti langkah Reyhan .Seruni mengekor setelah menuntaskan permainannya.


10 menit kemudian, Wulan muncul.Ia berlari kecil menghampiri mobil yang sudah siap berangkat.


"Mas... boleh nggak aku duduk di sini"Wulan merengek menunjuk tempat duduk di samping kemudi yang sudah diduduki oleh Livia .


Spontan Livia menoleh ke arah Reyhan ,pria itu tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda.Livia jengkel,ia bangkit lalu menyelipkan tubuhnya diantara celah kursi untuk pindah ke belakang.Seruni hanya diam-diam tersenyum melihat hal itu.Kejadian ini sudah biasa jika Kakaknya menjadi rebutan para gadis-gadis.


Wulan begitu senang sekali,ia langsung duduk di samping kemudi.Dan tanpa segan menautkan tangannya ke lengan Reyhan .Livia semakin jengkel,dirinya saja malu melakukan hal itu kepada Reyhan .Eh...gadis bau kencur ini justru tidak tahu malu melakukannya di depan semua orang.Reyhan malah cuek saja dan membiarkan gadis itu semaunya sendiri.Livia semakin meradang saat melihat Wulan bersandar ke bahu kokoh milik Reyhan .Kedua tangannya mengepal kuat.Ingin rasanya Livia menjambak rambut gadis itu.Tapi ia masih bisa mengontrol emosinya.


Reyhan bisa melihat ekspresi wajah Livia dari balik kaca spion mobil.Ia hanya senyam-senyum saja.Sedangkan Seruni menanggapi dengan gelengan kepala.


"Kakakku memang sad boy parah pakek banget"Gumamnya dalam hati.


Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga.Ismail sudah sejak tadi menunggu kedatangan keponakannya itu.Ia langsung memeluk Reyhan begitu anak muda tersebut keluar dari dalam mobilnya.


"Pamaaaannn"Seruni merentangkan kedua tangannya manja,ia langsung melompat memeluk pamannya.


"Uuuhhh kamu sudah berat sekali Run"ucap Ismail saat Seruni menggelayut di lehernya.


"Ku rasa paman yang sudah semakin tua,dah tak larat gendong Runi hehehehe"balas Seruni .Ismail mencubit pipi gadis yang sedikit mirip Ibunya itu.


"Siapa dia?"tanya Ismail saat melihat Wulan yang menyalaminya setelah Livia .


"Dia Wulan Paman,,,dia akan tinggal di asrama ini"jawab Reyhan .Ismail manggut-manggut...


"Yuk kita masuk ke dalam "ajak Ismail kemudian.Semua mengangguk setuju , Wulan mempercepat langkahnya mensejajari langkah Reyhan .Namun Livia menarik ujung baju gadis itu hingga berundur ke belakang.Wulan kesal sekali,tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena Reyhan menoleh ke arah mereka.