SERUNI

SERUNI
BAB 53 Hantaman Kemarahan



Pagi-pagi sekali Leo sudah berada tak jauh dari rumah Seruni,tapi kelibat sang kekasih tak jua terlihat.


Sampai akhirnya Lyli menelfon bahwa tas Seruni tertinggal di kantor Roy.Itupun Roy yang menelfon Lyli,karena OB yang memberitahukan hal itu kepada Roy.


Segera Leo mengemudikan mobilnya menuju kantor Roy.Tanpa ia sadari bahwa baru saja ia melewati Seruni yang dihantar oleh tukang ojek.


Leo mengusahakan langkah kakinya cepat agar bisa segera sampai di ruang audit.Ternyata Roy sudah menunggu disana,para timnya mungkin masih dalam perjalanan.


Leo ingin mengambil tas Seruni,namun Roy bergerak cepat menyembunyikan tas itu dibalik punggungnya.


"Berikan tas itu"Pinta Leo.


"Kemana Seruni?"


"Aku tidak tahu"


"Kamu pasti tahu,apa yang kamu lakukan padanya sampai ia menghilang?"


Leo terkesiap,siapa yang telah memberi tahu Roy kalau Seruni menghilang.Tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di pipi Leo,pria itu terhuyung-huyung ke belakang.


"Tega kamu menyakiti dia?"Roy menarik kerah baju sahabatnya lalu menjotosnya sekali lagi.Tubuh Leo tersungkur ke lantai.


Roy bersiap untuk menyerang Leo sekali lagi,namun keburu Lyli datang dan melerai keduanya.


"Udah stop Roy"Lyli mendorong tubuh Roy menjauh dari adiknya.


"Aku harus memberi pelajaran kepada adikmu itu Ly,agar dia tidak kurang ajar dengan Seruni"


Qodir menahan tubuh Roy agar tidak melakukan penyerangan lagi.Bukan ia merasa kasihan kepada Leo,namun lebih ke melindungi Lyli agar tidak terluka karena melindungi Leo.


Justru Qodir sangat berharap Roy bisa memberi pelajaran kepada Leo lebih daripada ini.Karena ia sakit hati setelah mendengar cerita dari Lyli tentang pengakuan Leo semalam.


Kenapa hantu yang diceritakan Leo telah menghajarnya tidak membunuh Leo saja?Itulah pikiran jahat Qodir saat itu.


Lyli membantu Leo bangun lalu dipapahnya keluar.Barulah Qodir melepaskan Roy yang terlihat geram menahan amarah.


"Kenapa kamu menghajarnya disini?"Bisik Qodir.


"Aku sudah tidak tahan lagi"Jawab Roy sembari menggeretakkan gerahamnya.


Qodir duduk dengan helaan nafas berat.


"Seruni belum ada tanda-tanda pulang,aku tak tahu dia kemana?"Ungkapnya.


"Aku tadi sudah menghubungi Pak Salam melalui telfon Seruni.Dia juga tengah mencari"Sambung Roy


"Semoga dia baik-baik saja"Ucap Qodir penuh harap.


___


Lyli membantu adiknya duduk di Lobby sementara waktu.Ia memeriksa wajahnya Leo yang membiru.


"Kamu tidak apa-apa?"Tanyanya penuh perhatian,Leo hanya menggeleng.


"Tas Seruni masih didalam Kak"


"Aku akan minta Qodir untuk menyimpannya"


"Apa Kakak yang cerita sama Roy semuanya?"


"Tidak!!Aku tidak menceritakan apapun padanya"


"Lalu kenapa Roy bisa tahu?"


Lyli terdiam,ia sudah bisa menebak siapa yang mengatakannya pada Roy.


"Kak Leo"


Seru Seseorang membuat Lyli dan Leo menoleh hampir bersamaan.Geysa berjalan setengah berlari menghampiri mereka.


"Kak Leo kenapa?"Geysa membingkai wajah Leo dengan hati-hati.


"Tidak apa-apa"Jawab Leo hampir tak terdengar.


"Dia dipukul oleh Roy"Lyli justru menjelaskan.


"Hah?Kak Roy pukul Kak Leo??Apa masalahnya?"


"Karena Seruni menghilang"Jawab Lyli lagi.


"Seruni menghilang??terus Kak Roy marah sama Kak Leo??"


Kedua kakak beradik itu saling berpandangan.


"Bener-bener ya Kak Roy,udah punya istri juga masih saja sok perhatian sama Seruni.Ini pasti juga karena Seruni masih ngejar-ngejar Kak Roy.Mereka kan sama-sama bucin"


Pernyataan Geysa tidak mendapatkan tanggapan apapun.


"Ya udah yuk Kak,Gey anterin Kakak ke Dokter.Biar wajahnya diobati"Ajak Geysa.


"Tidak usah Gey, makasih.Kak...Leo pulang dulu ya.Semua kerjaan disini kakak bisa handel kan?"Pamit Leo.Lyli mengangguk yakin.


"Tidak usah"


Leo bangun dengan menahan rasa nyeri ditubuhnya.Ia berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Geysa.Gadis itu terlihat kecewa.


___


"Kak"Geysa main nyelonong masuk sembari meletakkan tasnya dengan kasar ke atas meja kerjanya Roy.


"Ngapain Kakak pukul Kak Leo sampai bonyok gitu?Kakak sadar diri dong,udah punya bini juga"


"Anak kecil jangan ikut campur"Jawab Roy cuek.


"Geysa emang masih kecil kak,tapi Gey tahu kalau apa yang Kakak lakukan itu salah.Seruni bukan siapa-siapa Kakak lagi,jadi nggak usah sok perhatian sama dia"


Roy melirik adiknya dengan sorot mata tajam.


"Bisa diam??"


Geysa ngeri juga dengan tatapan Kakaknya itu,ia pun mendengus pergi tanpa salam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seruni duduk santai di teras kost-annya.Ia baru saja menyelesaikan sholat Dzuhur.Sedangkan Pak Salam langsung tidur siang,maklum sudah tua jadi memang lebih sering tidur.


"Seruni"


Gadis itu terkesiap kaget melihat siapa yang sudah berdiri di depannya.Leo tersenyum menahan perih disudut bibirnya.


Seruni mematung,ia bingung apakah ia harus menyongsong kedatangan Leo?Ataukah menghindarinya?


Pria blasteran itu melangkah perlahan mendekati Seruni.Gadis itu bangkit dari duduknya.


"Maafkan aku Seruni"Ucap Leo lirih"Aku khilaf,aku dibutakan oleh rasa cemburu.Maafkan aku"


Belum lagi Leo sampai tepat di hadapan Seruni,tubuhnya terdorong kuat sampai jatuh menimpa meja.


Seruni kaget melihat Roy juga ada disana.Gadis itu segera membantu Leo untuk berdiri.


"Biarkan saja laki-laki kurang ajar itu,kalau perlu akan aku bunuh dia sekarang juga"Roy masih belum habis marah dengan sahabat nya itu.


"Tuan apa-apaan sih?Main kasar begitu.Disini tempat umum Tuan bukan rumah pribadi.Jangan bikin ribut disini bisa nggak?"


Merasa dibela,Leo mengambil kesempatan itu untuk menyandarkan kepalanya di bahu Seruni.


"Aku pusing sayang"Bisik Leo.


Roy jadi tambah geram.Apalagi sikap Seruni yang begitu lembut membantu Leo duduk.


"Kamu kenapa bisa babak belur begini?"Tanya Seruni penuh perhatian.Ia sangat berharap bahwa itu bukan perbuatan arwah Ibunya.


Leo mengangkat tangannya menunjuk ke arah Roy,Seruni jadi bingung.


"Kenapa dengan Tuan Roy?"


"Aku yang memukulnya,karena dia sudah berani kurang ajar sama kamu kemarin"Jawab Roy dengan lantang.


"Apa??"Mata Seruni membeliak lebar.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun melecehkan mu Seruni, termasuk dia!!!"Roy menuding Leo dengan tangan kirinya.


"Aku minta maaf sayang "Leo memeluk Seruni dengan erat.


"Aku khilaf,aku cemburu saat tahu kamu sering berduaan di kamar dengan dia.Aku tak terima,karena dengan ku kamu hanya mau dicium saja"


Leo mengakui semuanya dalam pelukan eratnya.


"Siapa yang bilang aku sering berduaan di kamar dengan Seruni?"Hardik Roy.


Leo mengangkat wajahnya,namun kedua tangannya masih memeluk kekasihnya dengan erat.


"Adikmu"Jawab Leo singkat.


"Geysa???lalu kamu percaya?"


Leo mengangguk.


"Hemm percayalah pun tak apa,cepat lepaskan Seruni,biar aku nikahin dia"


Leo menggeleng seperti anak kecil dengan rengkuhan yang dieratkan.


KHEM KHEM KHEM


Ketiganya kaget,terlihat Pak Salam muncul dari balik pintu.


"Bapak"Seru Roy,dengan takzim nya ia meluruh mencium tangan Pak Salam.Leo pun melakukan hal yang sama (Hem baik dan sopan didepan calon mertua)


Seruni berdiri, mempersilahkan Bapaknya untuk duduk.


"Kalau memang serius segera halalkan,jangan suka nyosor melulu"Sindir Pak Salam setelah beliau duduk diantara tiga orang yang berdiri mengelilingi.