SERUNI

SERUNI
BAB 93 Teror



Operasi pendonoran jantung berjalan lancar.Roy harap-harap cemas menunggu keluarnya Dokter yang bertindak dalam operasi istrinya.


Sedangkan Pak Salam tidak bisa datang karena kondisinya yang kurang sehat.


Tak berapa lama Dokter pun keluar,ia tersenyum karena operasi tidak mengalami kendala apapun.Begitu pun bayi didalam perutnya Seruni , Dokter bersyukur bayi itu kuat hingga bisa bertahan sampai tahap sekarang ini.


"Kita tinggal menunggu waktu saja Pak,mungkin dalam 2mingguan jantung itu bisa bekerja secara normal"


"Iya Dok... terimakasih banyak"Roy begitu bahagia, akhirnya penantian nya tidak sia-sia.


___


Dua Minggu berjalan lambat sangat,namun Roy tidak pernah lelah menunggu istrinya kembali.Ia pun sering kali mengajak calon buah hatinya bercengkrama.


Sampai akhirnya,Roy merasakan pergerakan jari jemari istrinya bergerak.Dengan segera Roy memanggil Dokter untuk memeriksa Seruni .


Benar saja,perlahan Seruni membuka kelopak matanya.Ia mengerjap karena mendapatkan cahaya masuk ke dalam kornea matanya.


"Sayang...kamu sudah sadar..."Roy menggenggam erat tangan istrinya.Seruni tersenyum tipis melihat suaminya itu,ia membalas Cengkraman tangan suaminya.


"Dokter dia sudah sadar..."Roy begitu sangat teruja.


"Alhamdulillah..."rasa syukur dipanjatkan bersama oleh Dokter dan suster karena semua berjalan dengan baik.


Roy menciumi pipi Seruni,ia meneteskan air mata bahagia.Sudah cukup lama Roy berdoa dan berharap hari ini bisa terjadi.Dan sekarang istrinya telah kembali.


ALHAMDULILLAH


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bertahun-tahun kini telah berlalu,Roy dan Seruni sudah memiliki dua anak laki-laki.Yang pertama bernama Muhammad Ibrahim,dan yang kedua Ismail.Pak Salam telah meninggal dunia saat Ba'im(panggilan untuk anak pertama mereka) berumur 3 tahun.Jadi beliau belum sempat tahu jika Seruni punya anak lagi setelah itu.


Ba'im sepertinya memiliki bakat ibunya,namun tidak dengan Ismail.Tapi kita tak pernah tahu karena Ismail baru saja berumur dua tahun.


Saat hendak melakukan sholat ashar berjamaah,Seruni melihat Ustadzah Muna sedang bercengkrama dengan seorang anak gadis sekitar berumur 10tahun.Lebih tua dari Ba'im satu tahunan lah.


Menurut Seruni anak itu terlihat berbeda,ia memakai baju serba hitam,dan matanya nampak kosong.Tapi saat bercengkrama dengan Ustadzah Muna,anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya.Sepertinya anak itu sedang difatwakan oleh Ustadzah Muna.


"Assalamualaikum Ustadzah.."sapa Seruni .


"Wa'alaikum salam... Nyonya..."Ustadzah Muna bangkit dari duduknya, meskipun ia lebih tua dari Seruni .Namun ia begitu menghormati Seruni selaku istri dari pemilik yayasan.


"Siapa anak ini??saya merasa baru melihat nya hari ini ?"Tanya Seruni memperhatikan anak itu,dan anak itu balas menatapnya.


"Dia anak baru Nyonya, ibunya katanya meninggal dunia.Sedangkan Bapaknya tidak tahu entah kemana?Tapi sejak kemarin dia selalu asyik dengan dunianya sendiri.Sholat pun dia terlihat tidak tenang,banyak bergerak.Hampir mirip dengan anak yang berkebutuhan khusus Nyonya "


"Siapa yang mengantar nya kemari?"


"Tidak ada Nyonya,pak satpam yang menemukannya duduk di Pintu gerbang sendirian "


Seruni menatap anak tersebut penuh ibah,ia mengusap pucuk kepala anak itu.Tiba-tiba saja anak itu menepis tangan Seruni yang membuat Seruni kaget,begitu pun juga dengan Ustadzah Muna.Ia tidak percaya jika anak itu akan bersikap kasar.


"Eh jangan begitu,dia itu ibu asuhmu yang sebenarnya...kau harus sopan sama dia"Tegur Ustadzah Muna,bukan mendengarkan anak itu justru lari masuk ke dalam asrama putri.


"Eh malah kabur..."


"Biarin aja Ustadzah,mungkin dia ada trauma"Ucap Seruni menenangkan Ustadzah Muna.


"Tapi dia memang sedikit kurang ajar Nyonya..."Jawab Ustadzah Muna.


"Ya sudah...yuk kita sholat berjamaah Ustadzah.."Ajak Seruni .


"Baik Nyonya..."


___


Selepas selesai sholat ashar, seperti biasa bila hari Jumat karena sekolah libur.Para anak-anak yatim bermain di taman tepat di belakang Mushola.Tidak ketinggalan juga Ba'im ,ia bermain sepak bola bersama anak-anak sepantarannya.


Anak sulung Seruni ini memang memiliki jiwa sosial yang tinggi,dia tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan anak yang lain.Meskipun ia diperlakukan secara hormat oleh para anak-anak Yatim tersebut.


Saat bola dipegang kiper,Ba'im lari ke bagian belakang.Ia mengambil posisi sebagai Bek belakang.Sang kiper menendang bola perlahan,namun aneh.Bola justru melambung tinggi dan mengenai tepat di kepala Ba'im .Anak tersebut langsung tersungkur ke tanah, kepalanya berdenyut-denyut kesakitan.Sontak keadaan jadi kacau, mereka semua meluruh menghampiri Ba'im .


"Kok kamu nendangnya kuat banget sih ?"


"Iya...lihat tuh Ba'im kesakitan "


"A-a-aku nggak nendang kuat kok...Ba'im kan dibelakang.Aku mau ngasih bola sama Fajar"sang kiper menjelaskan dengan menahan tangis.


"Sudah-sudah...aku nggak apa-apa kok"Ba'im menyela, meskipun ia merasa pandangannya banyak sekali bintang berkelipan.


"Ya udah, yuk bawa Ba'im ke rumahnya"


"Iya...kamu ikut ya..nanti kamu minta maaf sama Nyonya"


si kiper mengangguk ragu.Mereka pun bergerombol mengantar Ba'im ke rumahnya.


Ismi (anak gadis yang suka berpakaian hitam) tersenyum menyeringai.Ia berjalan perlahan dari jarak yang terpantau jauh mengikuti gerombolan itu.


"Nyonya... Nyonya"Anak-anak itu bersahutan memanggil Seruni .Seruni yang tengah bermain dengan Ismail di taman rumah segera bangkit sambil lalu menggendong Ismail.


"Ada apa ??"Tanya Seruni lembut.


"Ba'im kena Bola kepalanya, Rahmat yang menendang bolanya"dengan lugunya salah satu anak tampil seperti Hero.


"Benarkah ??"


Ba'im tersenyum


"Ba'im nggak apa-apa Bunda...cuma Bola aja"


Seruni tersenyum mengusap kepala putra sulungnya.


"Ba'im kan anak kuat ya"Ucap Seruni , anaknya mengangguk.


"Ya udah nggak apa-apa...lain kali hati-hati ya Rahmat"


"Baik Nyonya"Rahmat tertunduk takut.


"Ba'im mandi dulu ya,, sebentar lagi kan waktu sholat Maghrib...kalian juga cepat mandi ya..."


"Baik Nyonya "Jawab anak-anak Yatim itu kompak.Mereka pun berbondong-bondong kembali ke asrama masing-masing.Seruni memperhatikan kepergian anak-anak asuhannya itu.


Tanpa sengaja ,Seruni menangkap sosok Ismi yang berdiri di kejauhan menatap tajam ke arahnya.Tatapan Ismi sungguh membuat meremang bulu Roma, mendadak perasaan Seruni jadi tidak nyaman.Ia merasakan sesuatu hal yang tidak baik dalam diri anak itu.


Saat Seruni memperhatikan Ismi ,Ba'im yang berdiri di dekatnya mendongak menatap Bundanya yang diam mematung.Mata kecil anak itu melihat dengan jelas bahwa genteng rumahnya bergerak,Dan....


"Bundaaaa .."Ba'im mendorong tubuh Seruni hingga terjerembab ke lantai bersamanya dan juga Ismail adiknya.


PRANG!!!


Genteng itu jatuh berkecai di tanah.Seruni terbelalak,ia langsung mencari Ismi .Namun sosok itu sudah tak terlihat lagi.


"Bunda nggak apa-apa ?"Tanya Ba'im membelai pipi sang Bunda.


"Nggak apa-apa nak...Ba'im nggak apa-apa ?"


Ba'im menjawab dengan gelengan kepala.Hanya Ismail yang menangis membuat Roy keluar dari dalam rumah.


"Sayang..."Desis Roy melihat anak istrinya melantai di teras,ia segera mengambil Ismail dalam gendongannya.


"Kalian kenapa bisa ada dilantai ?Dan kenapa Ismail menangis ??"Roy begitu panik.


Seruni menatap putra sulungnya...


"Tadi genteng itu bergerak Ayah...lalu jatuh.Untung kami cepat menghindar "Ba'im lah yang menjelaskan.


"Apa??!!"Roy menatap istrinya dengan alis bertaut.


"Sudah ayo cepat kita masuk..."Seruni mengajak semuanya masuk,lalu ia mengunci pintunya dari dalam dengan rapat.