
Orang yang dipanggil Shanum pun berjalan mendekat. Paras tampan laki-laki yang tidak lain tidak bukan adalah Sayaka itu terlihat semakin jelas. Keringat yang mengucur di wajah pria tersebut, menambah pesona yang tidak biasa.
Seruni menelan ludahnya dengan kasar. Dalam hati, dia benar-benar mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu menyejukkan mata siapa pun yang melihatnya. Padahal, sakit hatinya saja masih menganga. Namun, dengan mudah mata mengajak untuk berpesta pora menikmati ketampanan yang semakin berlipat-lipat dalam kondisi penuh peluh seperti ini. Padahal semalam atau tadi pagi, ketampanan Sayaka masih dinilai rata-rata oleh Seruni.
"Abang, tolong kak Seruni. Kakinya tadi tertindih motor Sagala." Shanum langsung menyambut Sayaka yang tengah meletakkan celurit dan keranjang rumput ke tanah.
Seruni masih betah memandangi Sayaka, lidahnya tidak bisa bergerak untuk mengajak bibir berucap. Mungkin matanya sudah bosan melihat pria-pria berkemeja rapi dan berdasi. Sungguh, ketampanan Satria lewat jika dibandingkan dengan Sayaka sekarang.
Seruni semakin terhipnotis ketika Sayaka semakin mendekati dirinya. Aroma keringat khas pekerja keras seketika menyapa indera penciuman perempuan tersebut. Membuat Seruni sejenak berandai-andai. Terlintas di pikirannya yang liar, dia dan Sayaka pergi ke ladang bersama. Mencangkul lalu menanam benih berdua. "Ahh ... pasti akan sangat menyenangkan," batinnya.
"Kak ... kak Seruni. Sakit tidak?" Pertanyaan Shanum membuyarkan angan Seruni.
Perempuan tersebut buru-buru mengembalikan fokusnya. Melihat Sayaka berjongkok dan ingin menyentuh bagian kakinya, muncul ide gila di benak Seruni.
"Auwww ... sakit," rintih Seruni. Nada suaranya sedikit dibuat manja.
"Kita bawa ke rumah saja, Bang," usul Shanum.
"Dokter, bisa jalan kan?" tanya Sayaka sembari menundukkan pandangan matanya, pria itu tidak berani menatap Seruni.
Seruni mencoba berdiri, tadinya hanya ingin pura-pura sakit. Tapi ternyata benar-benar sakit. Jangankan berjalan, berdiri pun ini belum tentu sanggup.
"Num, tolong bantu aku!" pinta Seruni.
"Biar saya saja, Dok. Tapi maaf, saya kotor dan berkeringat. Kalau dokter sama Shanum, pasti dia tidak kuat menopang tubuh dokter." Sayaka mengulurkan kedua tangannya agar dijadikan pegangan.
Seruni menerima uluran tangan pria itu. Di matanya, siang ini Sayaka tidak hanya terlihat tampan dan keren, tetapi juga sekksi. Dengan susah payah, Seruni berusaha berdiri dibantu Shanum yang memegangi pinggulnya. Benar saja, sakit yang dirasakan kini menjadi berlipat-lipat. Sepertinya kaki Seruni mengalami trauma berat akibat beban motor yang menimpanya tadi. Kebetulan posisi saat jatuh juga membuat tumitnya salah posisi.
"Kalau jalan, rasanya Aku tidak kuat." Seruni kali ini sungguh-sungguh meringis menahan sakit.
Shanum terus mengamit pinggul Seruni. Sementara tangan Seruni mencengkram lengan Sayaka lebih kuat karena sedang ingin mencoba menapak selangkah.
"Aku tidak bisa. Ini sakit sekali." Seruni menyerah. Keringat dingin pun menetas dari keningnya akibat memaksakan diri untuk berjalan.
"Kalau, Dokter tidak keberatan. Biar saya gendong dokter saja. Tidak jauh. Saya biasa menggendong kambing ukuran besar dengan berat 100 kilo lebih. Jadi pasti kuat," ucap Sayaka dengan polosnya.
Seruni mendengus kesal, tapi tetap mengangguk juga. Meski baru saja disamakan dengan kambing. Tapi apa boleh buat, dari pada berjalan sendiri, pasti lebih menyiksa diri.
Melihat anggukan kepala Seruni, Sayaka segera menggendong Dokter itu ala-ala bridal style. Aroma keringat yang makin menyengat di hidung, sama sekali tidak mengusik Seruni. Hati, mata dan pikirannya sedang dilanda kekaguman. Bahkan dengan santai, tangan Seruni malah mengalung sempurna di leher Sayaka.
"Num, tolong kamu letakkan rumput itu di kepalaku. Sekalian kamu bawakan celuritnya, ya,' ucap Sayaka, seketika membuat Seruni melotot.
Shanum merasakan cemburu yang luar biasa. Kalau saja, Seruni tidak banyak menolongnya hari ini. Pasti dia tidak akan peduli. Sudah lama Shanum memendam rasa pada Sayaka. Jangankan digendong, disentuh, atau diperhatikan, bicara saja hanya seperlunya.
Andai Satria atau siapapun orang yang mengenal Seruni melihat. Entah apa yang akan mereka pikirkan? Mungkin mereka akan menertawakan dan mengira Seruni begitu frustasi. Bagaimana tidak? Kini, Seruni berada dalam gendongan tubuh kekar milik Sayaka. Lelaki yang juga sedang membawa sekeranjang rumput di kepalanya. Sungguh adegan yang tidak akan terjadi di tempat asal Seruni. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka saja heran, apalagi jika yang melihat adalah orang kota. Pasti mereka akan tertawa geli.
Sesekali Seruni menatap wajah Sayaka yang terlihat fokus ke depan. Bukan keranjang di kepalanya yang dipikirkan Sayaka saat ini. Tapi berada sedekat ini dengan Seruni membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Wajah Sayaka boleh saja datar, seperti sangat tidak terpengaruh dengan keadaan. Tapi detak jantung yang dirasakan siku Seruni tidak bisa bohong. Kecepatannya, sama persis dengan orang-orang yang sedang gugup pada umumnya.
"Num, tolong keranjangnya." Sayaka meminta tolong Shanum menurunkan keranjang karena mereka sudah sampai di depan rumah Pak Camat.
Sayaka, lalu langsung masuk ke dalam rumah. Perlahan, dia merebahkan Seruni di kursi yang terbuat dari kayu jati tanpa alas busa.
"Terimakasih ya, Bang," ucap Seruni, begitu lembut.
Sayaka hanya menjawab dengan senyuman sekilas. Lalu dia berjalan ke dalam memanggil bu Sajad.
"Maaf, ya Kak. Ini gara-gara Shanum. Hari ini, Kak Seruni dapat masalah karena menyelamatkan Shanum," pinta Shanum, merasa sangat tidak enak.
"Tidak masalah, Num. Sekarag kamu pulang. Katakan pada Abahmu, nanti setelah isya, kita ke rumah abang Suga," ucap Seruni.
Shanum hanya mengangguk. Bibirnya tidak tahu harus mengucap apa. Seruni benar-benar baik dan tulus. Tapi dia malah sempat menyimpan kekesalan hanya karena cemburu.
"Makasih ya, Num." Seruni mengatakan sebelum Shanum selangkah keluar dari pintu rumah Pak Sajad.
Bu Sajad ke luar dari dalam rumah dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, beliau tadi sedang menjemur singkong di halaman belakang rumah saat Sayaka meneriakinya.
"Kenapa kamu, Ser?" tanya bu Sajad, sembari mengelap tangannya yang basah di tepian daster yang dikenakannya.
"Sepertinya terkilir, Bu. Itu ungu sekali. Tadi hanya lebam, tapi sekarang sudah bengkak begitu." Seruni menunjukkan bagian tumit kaki kanannya pada bu Sajad.
"Ibu buat kan air hangat dulu untuk membersihkan, setelah itu biar dipijat sama Sayaka. Dia pinter lho Ser. Orang sini kalau habis jatuh atau sekedar salah urat, pasti dipijit Sayaka," ucap perempuan yang sudah menganggap Seruni seperti anaknya sendiri itu.
Seruni menyembunyikan kekesalannya. Sudah tau bisa mengurut, harusnya Sayaka menawarkan diri sejak tadi. Nyatanya, pria itu hanya menempatkannya di kursi, lalu berlari memanggilkan bu Sajad. Sungguh sangat jual mahal.
Bu Sajad beringsut ke belakang, mengambil air hangat dan memanggil Sayaka yang hendak mandi. Kaos yang dipakainya tadi sudah lepas dari tubuhnya. Kini pria tersebut tengah memperlihatkan dadanya yang bidang dan berotot dengan handuk yang menyampir di pundak kanannya.
"Sini pijit Seruni dulu." Bu Sajad menarik tangan Sayaka dengan paksa. Tidak peduli dengan permintaan Sayaka yang ingin memakai kaos terlebih dahulu.
Begitu Sayaka muncul di depannya, Seruni mengucek-ucek matanya. Sungguh, pikirannya kini kembali melayang pada benda pusaka menggantung yang pernah terlihat jelas di matanya. Dia menghubungkan benda itu dengan dada yang sungguh ingin dia gunakan untuk tempat bersandar.
"Profil Bang Sayaka benar-benar cocok dengan benda pusaka kemarin. Duh ... kenapa jadi ingat lagi sama ontong," batin Seruni seraya menepuk-nepuk keningnya sendiri.