
Keadaan hening setelah peraduan argumen berlangsung sengit.Papanya Nagita tetap kekeuh menuntut Ba'im untuk bertanggung jawab. Kalau tuntutannya tidak terpenuhi maka ia mengancam akan menyebarkan berita itu.
Sedangkan Nagita yang di intimidasi oleh Seruni tetap memilih bungkam . Seruni tidak rela jika Ba'im harus bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan kesalahannya.
Namun akhirnya Ba'im bersuara...
"Baiklah...saya akan menikahi Anak anda Pak...Tapi sebelum itu anda harus tahu jika anak anda saya nikahi,anak anda sah jadi istri saya tapi saya haram menyentuhnya.Kedua...jika anak itu nanti lahir,dan terbukti bukan anak saya.Maka akan jatuh talak untuk nya...Saya tidak akan menuntut apapun dari anda,saya hanya ingin menyelamatkan maruah anak anda sebagai santri disini.Dan anda juga harus cukup paham,jika ternyata anak yang dikandung itu bukan anak saya.Jangan sesekali pun memburuk-burukkan kami karena anak anda ditalak oleh saya"
"Ba'im ...."Seruni masih tidak bisa menerima keputusan anaknya.
"Bunda... jangan risau,kita sekarang tengah mencari jarum ditumpukkan jerami.Jadi Ba'im merasa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua"
"Baiklah!!!Kapan kamu akan menikahi Nagita ??"tanya Papa Nagita penuh ambisi.
"Kapan Bapak mau??"
"Besok!!!
"Apa??? Besok??"Seruni bangkit dari duduknya dengan emosi.Tapi Roy segera menariknya duduk kembali.
"Sayang tenang ya..."Roy mengusap lembut pundak istrinya.
"Mas..anak kita??"
"Iya aku tahu,,,kita harus percaya kepada Ba'im , bahwa dia pasti akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik"
Seruni menghela nafas kesal, ia tidak bisa menerima keputusan itu begitu saja.
"Baiklah kalau begitu,kami permisi dulu.Sampai jumpa besok pagi..."Papa Nagita pamit dengan senyuman puas.Kedua keluarga bersalaman lalu keluarga Nagita keluar dari rumah Muhammad Ibrahim.
Ismail yang baru saja pulang heran melihat ada tamu.Ia berpapasan di halaman rumahnya dengan keluarga Nagita.
"Siapa mereka Kak?"tanyanya kepada Ba'im yang berdiri di teras habis mengantar keluarga Nagita.
"Keluarga calon istri Kakak..."
"Hah??Kakak mau nikah ??"
Ba'im tak menjawab ,ia masuk ke dalam dan disusul oleh Ismail .
"Kakak serius mau nikah ?"Ismail masih inginkan sebuah jawaban.Akhirnya Ba'im mengangguk...
"Bun...Kak Ba'im benar mau nikah??"Ismail masih belum yakin.Ia menghampiri kedua orangtuanya.Seruni tak menjawab karena masih kesal dengan keputusan Ba'im .
"Iya..."Roy lah yang menjawab.
"Serius ???terus Excel gimana ??Apa dia sudah tahu ???"Ismail justru mengkhawatirkan gadis itu.
"Tadi dia tahu,tapi belum tahu tentang Kakak yang akan menikah "Ba'im menjawab kuyu.
"Kalau begitu aku ada kesempatan dong "
"Maksud mu??"
"Ya kalau Kakak menikahi wanita lain, berarti aku ada kesempatan untuk menikah dengan Excel"dengan santainya Ismail menjelaskan.Seruni dan Roy saling berpandangan satu sama lain.
"Jangan ngadi-ngadi...dia tetap milikku"Ba'im berucap dengan tegas.
"Loh...Kakak kan mau menikahi wanita lain?"
"Itu hanya formalitas, setelah terbukti kalau anak itu bukan anakku,maka kami akan berpisah.Nama baik Yayasan akan tetap terjaga"
"Excel pasti akan terluka jika tahu hal ini,entah apapun alasannya Kakak menikahi wanita itu "
"Ustadz...."
Suara yang tidak asing terdengar,semua menoleh ke asal muasal suara tersebut.Seruni bangkit dari duduknya,ia mengajak suaminya untuk masuk ke dalam.Begitu pun dengan Ismail,ia menepuk pundak Kakaknya sembari berkata.
"Selesai kan urusan ini dengan baik Kak"
Ba'im menatap gadis yang mematung melihat ke arahnya.Dengan anggukan kepala Ba'im meminta gadis itu mendekat.Excel patuh, ia mendekat lalu Ba'im menariknya untuk duduk di sisinya.
"Benarkah Ustadz akan menikahi Nagita ??"
"Iya Ex..."
Excel membuang muka ,ia tak membiarkan Ba'im melihat air matanya yang lolos mengalir deras.Namun pria itu justru meraih dagu si gadis.Dengan lembut ia mengusap air mata Excel menggunakan dua sisi ibu jarinya.
"Aku mohon pengertian mu...Aku melakukan ini semua demi nama baik Yayasan"
"Bukan karena anak itu adalah anak Ustadz ??"
"Astaghfirullah...kamu tidak percaya padaku ??"
Excel memalingkan wajahnya,tapi Ba'im menahan pipi gebu itu.Ia tak membiarkan Excel tak menatapnya.
"Aku sakit Ex..hatiku hancur jika kamu meragukan ku"
Excel menundukkan wajahnya, tangan Ba'im justru sigap mengangkat dagunya.
"Lihat aku Ex... jangan membuang muka dihadapan ku"
Excel menghembuskan nafas berat, dadanya sesak seperti ditimpa batu yang sangat berat.
"Lakukanlah apa yang menurut Ustadz harus dilakukan,aku pergi dulu "Excel bangkit tapi Ba'im malah menarik tubuh sintal itu kedalam pelukannya.
"Jangan pergi Ex... jangan tinggalkan aku"
Pelukan itu sangat erat,namun Excel tak membalas.Kedua tangannya menjuntai saja.Begitu Ba'im merenggangkan tubuhnya, tiba-tiba Excel melepaskan diri dan berlari masuk ke dalam.
Jika ditanya tentang hatinya ,ia tidak rela melihat Ba'im harus menikah dengan wanita lain . Namun jika keadaan memaksa, Ia pun tidak bisa untuk ikhlas.
Ba'im mungkin di posisi yang sulit ,tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendak kepada hatinya untuk menerima semuanya ini.Excel hanya bisa mengunci diri di dalam kamar,tanpa menghiraukan ketukan pintu yang bertalu-talu disertai seruan Ba'im memanggil namanya.
Pria itu ingin Excel mengerti dan memahami keadaannya.Ok!!Excel akan mengerti, Excel tidak mau memaksa Ba'im memahami hatinya yang tak rela dan tersakiti.Biarlah ia menyendiri dulu,ia ingin menguatkan hatinya sendiri tanpa siapapun.
____
Malam berganti pagi,namun Excel tetap meringkuk di dalam kamarnya.Panggilan kasih sayang dari Seruni tidak ia hiraukan.Tidak hanya Seruni , Ismail dan Ba'im pun berusaha membujuk Excel untuk keluar.
Hingga akhirnya sebuah kiriman untuk Excel datang.Hal itulah yang dijadikan kesempatan bagi Ba'im untuk membuat gadis itu keluar.
"Excel...Ada paketan untuk mu"seru Ba'im setelah mengetuk pintu.
"Oh ponselku..."Excel bingkas bangun ,ia segera membuka daun pintu kamarnya.Ba'im tersenyum senang melihat gadis itu keluar.
"Terimakasih"Excel mengambil cepat paketan itu dari tangan Ba'im lalu ia masuk kembali ke dalam kamarnya.
Ba'im terpelongo, secepat itu paketan berpindah tangan.Tiba-tiba pintu terbuka kembali.Sudut bibir Ba'im terangkat sedikit.
"Ustadz rapi sekali,mau kemana ??"Excel memperhatikan penampilan Ba'im dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Sebentar lagi...aku ..aku akan akad nikah di Musholla "
DEGH!!!
Excel diam, ekspresi wajahnya tak terbaca.Ia pun kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Ex .... tolong lah jangan seperti ini ??aku sangat tersiksa kamu seperti ini Ex"
Excel bersandar ke daun pintu, matanya terpejam mencoba menguatkan diri.Sedangkan disisi lain Ba'im menempel di daun pintu dengan tak berdaya.
"Katakanlah sesuatu...aku mohon..."Ba'im merintih,air mata jantannya mengalir perlahan.Untuk kesekian kalinya,ia merasakan sakit akibat cinta.
"Kak..."Ismail memanggil pelan,ia tahu keadaan Kakaknya kali ini pasti sangat hancur.
Ba'im memalingkan wajahnya ke arah adiknya.
"Pak penghulu sudah datang..."
Ba'im mengangguk dengan sesakan dada yang hanya ia yang bisa merasakannya.Ia menatap daun pintu kamar Excel dengan sendu.
"Excel....aku akan pergi,tapi ingat satu hal ....hati ini hanya untuk mu, percaya ataupun tidak ?? aku akan tetap menjaganya untuk mu"
Tubuh Excel meluruh ke lantai,ia memeluk kedua lututnya dan menangis sejadi-jadinya.Ekor matanya melirik ke daun pintu, seolah melepaskan kepergian orang yang ia cintai untuk menikahi wanita lain.