
"Kenapa pagi-pagi bikin ribut disini ?"Reyhan bertanya kepada gadis yang memperk0s4nya semalam.
Vina jadi ngeblank tidak bisa memikirkan apapun kecuali kekaguman.
"Nona..."
"Ah...i-iya"sapaan yang begitu sopan sekali.
"Kenapa anda ribut-ribut pagi-pagi begini ?? Apa ada yang bisa saya bantu ?"
"Ah..anu..Ibu ku sakit, di-dia ada di UGD sejak subuh tadi.Ta-tapi belum mendapatkan penanganan medis "
"Baiklah"Reyhan menoleh ke tempat Livia berdiri"Suster Livia ... tolong ambilkan almamater saya,dan stetoskop.Saya akan langsung ke sana.Tolong anda menyusul ya..."
"Baik Dok!!"
Vina tercengang,
"Jadi dia Dokter?? Waaaaahhh"
Vina seperti kejatuhan durian runtuh,pria yang memuaskannya semalam adalah seorang Dokter.
"Mari Nona..."
Reyhan melangkah lebih dulu,Vina mengejar di belakang . Langkahnya tertinggal karena langkah Reyhan panjang dan cepat.
Vina ingin mengucapkan sesuatu,tapi sudah keburu masuk ke dalam ruangan UGD.Gadis itu jadi geram sendiri.
"Kenapa waktunya sangat tidak tepat sih??"
___
Dengan sigap,Livia memasangkan almamater milik Reyhan .Dan mengalungkan stetoskop ke leher pria itu.Lalu Reyhan mulai memeriksa keadaan Ibu Vina.Setelah itu ia menulis semua catatan penyakit pasien.
"Sus... tolong panggil gadis itu untuk menemui saya di ruangan saya"
"Baik Dok..."
Livia segera keluar menyampaikan pesan Reyhan .Vina tercengang,ia langsung deg-degan tak karuan mendapatkan pesan tersebut.
Kaki nya terasa berat untuk melangkah.Beberapa kali ia harus menelan saliva karena merasa tenggorokannya kering.
"Bagaimana ini??aku gugup sekali"Gumamnya.
Livia yang berjalan lebih dulu menoleh karena Sama sekali tak merasa ada yang mengikuti langkahnya.
"Mbak...ayok"seru Livia .
"I-iya sus..."
Vina pun mengikuti Livia meskipun ia sudah berkeringat dingin.
"Silahkan masuk"
Vina mengangguk kaku,ia masuk ke dalam setelah dibukakan pintu oleh Livia .Vina terlonjak kaget begitu pintu tertutup.Ia benar-benar nervous banget.
"Silahkan duduk Nona"Reyhan mempersilahkan duduk,Vina mengangguk.Ia duduk dengan sangat kikuk sekali.
"Nona...Ibu anda punya riwayat penyakit lemah jantung,jadi sangat berisiko jika Dia meminum sembarangan obat .Anda pasti telah memberikan ibu anda obat-obat yang biasa dibeli di warung-warung kan-? karena itu ibu anda mengalami sesak nafas"
Vina hanya bisa manggut-manggut saja,lidahnya terasa kelu untuk bisa mengatakan apapun.
"Untuk sementara waktu,ibu anda harus diinfus.Kami tidak berani memberikan obat padat kepada beliau,kami akan memberikan obat ringan berupa cairan agar mudah dinetralisir oleh tubuh"
Vina hanya manggut-manggut.
"Jika Anda sudah paham,anda bisa keluar Nona"
"Aaaa i-iya "
Vina bangkit, hatinya sedikit kecewa karena sepertinya orang yang berada dihadapannya tidak mengenal dirinya.Vina menoleh kearah Reyhan yang saat itu menatap dirinya.Refleks Vina mengulas senyum,Reyhan pun membalasnya disertai anggukan ringan.
Sekali lagi Vina kecewa,dia pikir Tatapan pria itu menandakan ia ingat akan kejadian intens semalam.Tapi ternyata ??dia malah memberikan anggukan hormat.Hemmmmm.
Vina pun keluar dengan menelan kekecewaan.Ia kembali ke tempat Ibunya di rawat.Vina menjaga sang Ibu sendiri,sedangkan Ayahnya yang juga sakit-sakitan dijaga oleh adiknya di rumah.
___
Saat ia menemani sang Ibu, pikirannya melanglang buana.Ia terus menerus teringat akan Reyhan .Disaat jadwal Ibunya dicek,Vina harus kecewa karena yang memeriksa keadaan Ibunya bukanlah Reyhan . Melainkan Dokter lainnya.
Setelah Ibunya terlelap,Vina memilih untuk keluar mencari udara segar.Ia ingin menenangkan pikirannya yang terus memikirkan Reyhan .
Tiba-tiba ia melihat pria yang telah menguasai otaknya masuk ke dalam mobil.Yah mobil yang sama tempat ia berkencan semalam.
Vina bangkit,ia membulatkan tekad untuk mengingatkan pria itu kepada dirinya.Vina segera bergegas dengan keberanian yang ia kumpulkan.
Ia menarik ganggang pintu yang belum tertutup rapat.Dan langsung duduk di atas paha pria itu.
Adegan itu terjadi beberapa saat,lalu Vina melepaskan ciumannya perlahan.Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat begitu dekat.
"Apakah Dokter sudah ingat saya?"
Reyhan menarik sudut bibirnya.
"Saya belum pikun Nona"
Vina tersenyum.
"Jadi Dokter sebenarnya ingat dengan saya?"
Reyhan hanya tersenyum saja.Hembusan nafas Reyhan yang hangat menaikkan libido wanita itu.Ia kembali menyergap dua kelopak bibir pria yang begitu merekah.
Kali ini Reyhan mengikuti saja alur permainan sang wanita.Sehingga perempuan itu berhenti dengan sendirinya.
"Apakah Dokter sengaja mempermainkan saya?".
Reyhan menggeleng pelan.
"Lalu kenapa Dokter bersikap seolah-olah tidak pernah bertemu saya??tidak pernah mengenal saya??"
"Saya memang tidak mengenal mu"
"Iya...ta-tapi setidaknya kan Dokter bertanya,apakah kamu gadis yang semalam bersama ku??gitu"
Reyhan tersenyum tipis.
"Haruskah saya begitu ??"
Vina jadi malu dengan ucapan yang seperti menyudutkan dirinya.
.
.
.
Tanpa disadari oleh Reyhan , ternyata Livia melihat adegan hangat di mobil itu.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkram dadanya.Sakit sekali rasanya melihat orang yang dicintai bermesraan dengan gadis lain.Gemetar tangan Livia , sampai tas yang digenggamnya jatuh ke lantai.
Sesudah gadis itu pergi,Reyhan menyalakan mobilnya.Sinar lampu tanpa sengaja menyorot ke tempat Livia berdiri.
Reyhan melongokkan kepalanya keluar.
"Liv!!"Serunya lantang.Livia menarik nafas dalam-dalam,ia memungut tasnya lalu berlari kecil menghampiri.
"Aku pikir kamu sudah pulang duluan, karena biasanya kamu menunggu ku di luar"sapa Reyhan kepada gadis itu.
"Aku ke toilet barusan"jawab Livia dengan senyuman yang dipaksakan.
"Ooohhh...ya udah ayo masuk"
Livia mengangguk,ia pun masuk kedalam mobil Reyhan .
Disepanjang perjalanan Livia banyak diam,Reyhan beberapa kali memperhatikan gadis itu.Namun pandangan Livia jauh keluar.
"Kamu kenapa Liv??".Reyhan memberanikan diri untuk bertanya.Tapi yang ditanya tak bergeming.
"Liv..."Sekali lagi Reyhan memanggil gadis itu.Reyhan menyentuh tangan gadis itu, barulah Livia bergerak kaget.
"I-iya...A-ada apa Rey?
"Kamu kenapa ??kok menangis ??"
Livia membuang muka,dan diam-diam menghapus air matanya.
"Liv..."Reyhan mempererat genggaman tangannya,sentuhan hangat itu mampu menggetarkan jiwanya.
"Ceritalah padaku jika kamu ada masalah"bujuk Reyhan .Livia hanya menggeleng pelan.
"Jangan gitu dong,apa kamu sudah tidak menganggap ku?"
Livia mengangkat wajahnya, Tatapan sembab itu meluruhkan hati Reyhan .Sambil tetap mengemudi Reyhan mengusap lembut pipi Livia .
"A-aku ke-cewa sama kamu"
"Kecewa??kenapa?Apa aku telah melakukan kesalahan ?"
Livia terpaksa menggeleng,tidak!! sebenarnya Reyhan tidak salah.Karena dirinya hanya dianggap sebagai sahabat oleh pria itu.Tapi,Livia hanya mengatakan tentang apa yang dirasakannya.
Reyhan berpikir keras,apa sebenarnya yang telah ia lakukan?? sehingga membuat gadis itu merasakan kecewa terhadap dirinya.
Apakah Livia melihat apa yang terjadi tadi di dalam mobil ??Reyhan memastikan dengan melihat raut wajah gadis itu.Yah bisa jadi!