
Muhammad Ibrahim baru saja keluar dari ruang guru.Ia hendak kembali pulang ke rumahnya untuk istirahat sejenak. Saat ia berjalan di koridor sekolah ia melihat Excel berjalan tak jauh di depannya.
Yang membuat Ba'im tercengang adalah saat Excel berjalan, tiba-tiba saja Gadis itu menghentikan langkahnya.Lalu bergeser ke samping dan melanjutkan kembali langkah yang tertahan tadi.Ia seperti menghindari sesuatu.
Ba'im terpana, Apakah Excel bisa melihat makhluk tak kasat mata? Yah, sememangnya Ba'im melihat sesosok makhluk yang berjenis perempuan. Namun ia tidak bisa melihat dengan jelas rupanya, karena wajah makhluk itu hancur tak berwujud. Makhluk itulah yang berpapasan dengan Excel . Dan makhluk itu juga berjalan melewati Ba'im.
Dengan sangat jelas Ba'im mendengar isakan tangis dari makhluk tersebut.Tangisan yang menyayat hati.
Karena penasaran Ba'im gegas mempercepat langkahnya menyusul Excel .
"Hey!!!"
Mendengar ada yang menyeru dibelakang punggungnya,Excel menoleh.Kedua bola matanya langsung berbinar begitu tahu siapa yang menyeru.
"Iya... ustadz memanggil saya??"
"Huufff kenapa aku kok merasa ngeri kamu bersikap sopan begitu?"gumam Ba'im .Kini mereka sudah saling berhadapan.
"Lah...Terus aku harus ngomong gimana?"
"Terserah lah...emmm Aku memanggilmu cuma mau nanya"
"Nanya apa?"
"Emmmm kamu bisa lihat makhluk tak kasat mata?"
DEGH !!
Excel terlihat langsung pias memucat,ia menoleh ke kanan dan ke kiri.Sepertinya ia ketakutan sekali.
"Kenapa?"Ba'im meniru sikap Excel yang toleh kanan dan toleh kiri.
"Darimana ustadz tahu saya bisa melihat Mereka?"Excel memelankan suaranya.
"Karena aku juga melihatnya "
"Hah?? benarkah ??waaaaahhh ternyata kita banyak kesamaan ya"Excel merasa sangat teruja.
Ba'im menghela nafas disertai gelengan kepala.Ia pun melangkah pergi begitu saja,namun Excel mengikuti nya.
"Kamu mau kemana -?"
"Pulanglah"Excel menjawab dengan entengnya.Ba'im baru ingat jika ternyata gadis itu tinggal seatap dengan nya.
"Ustadz...apa tadi ustad juga melihat seorang perempuan yang berhijab dengan wajah hancur?"tanya Excel saat ia berjalan beriringan dengan Muhammad Ibrahim.Pria itu menjawab dengan anggukan.
"Sepertinya dia baru mati deh ustad"
"Kok kamu bisa tahu?"
"Aroma darahnya itu masih segar"
Ba'im menghentikan langkahnya, yang juga diikuti oleh Excel .
"Tapi kalau dilihat dari pakaiannya ?kayaknya aku pernah melihat perempuan itu"
"Apa dia seorang Ustadzah, ustadz ??"Excel ikut menyimpulkan.
"Bisa jadi...Tapi siapa??"
Excel menggeleng pelan.Tanpa sengaja Ba'im menangkap kelibat seorang pengajar di santri putra.
"Assalamualaikum Ustadz Abu"sapa Ba'im agak lantang.
"Wa'alaikum salam..."Balas Ustadz Abu menghentikan langkahnya.Ba'im menghampiri meninggalkan Excel berdiri sendiri.Keduanya bersalaman dengan sangat akrab sekali.
"Lama sekali ya saya tidak melihat Ustadz Abu,apa mengambil cuti mengajar ?"
"Tidak Tuan muda,saya malah tidak pernah absen sama sekali.Mungkin kita sama-sama sibuk jadi tidak punya kesempatan untuk bertemu"jawab Ustadz Abu.Ba'im manggut-manggut, tiba-tiba Excel menarik ujung baju Muhammad Ibrahim.Membuat pria itu menoleh dan refleks menepis tangan Excel .
"Ada apa sih??"
"Pulang yuk"ajak Excel setengah merayu.
"Takut"
Ba'im melihat ke sekeliling,tapi ia tidak melihat apapun yang bisa membuat gadis itu takut.
"Apa-apaan sih kamu?ini masih siang gini, bilang takut.Ngadi-ngadi"
"Siapa dia Tuan Muda ?"Tanya Ustadz Abu jadi penasaran dengan Excel yang terlihat tidak canggung dengan pria yang disegani dikalangan para pengurus yayasan Darul Islam itu.
"Ah bukan siapa-siapa ustadz,,,hanya pengganggu kecil yang tidak tahu diri"jawab Ba'im yang langsung menyinggung perasaan gadis tersebut.
Dengan kasar Excel menarik lengan Ba'im dan menariknya pergi.
"Hey...lepasin!!"Ba'im meronta menarik lengannya,namun Excel memegangnya kuat.Baru setelah mereka memasuki halaman rumah,Excel melepaskan lengan Ba'im .
"Kamu apa-apaan sih ?hah?makin kurang ajar saja kamu!!aku ini ustadz kamu,jadi kamu harus tahu diri,,,paham!!!
"Ya aku emang tidak tahu diri,tapi apa kamu tahu kalau pria itu bau darah segar??Bau darah yang sama dengan perempuan yang wajahnya hancur itu"balas Excel dengan nada yang tegas tanpa takut.Lalu ia berlalu pergi meninggalkan Ba'im yang terpinga-pinga.
"Apa maksud Excel kalau ustadz abu berbau darah segar seperti bau perempuan yang berwajah hancur itu??Aku memang bisa melihat mereka,tapi Excel ??dia bukan hanya bisa melihat tapi dia juga punya penciuman yang tajam.Apa???"
Ba'im bermonolog dengan pikiran yang memutar mencari jawaban.
"Astaghfirullah..."Ba'im memekik dengan mulut yang ditakup.Ia segera berlari kecil menyusul Excel masuk ke dalam rumahnya.
___
"Hey!!!Excel !!!"seru Ba'im kuat.Namun yang di panggil justru pura-pura tak mendengar.Ia langsung nyelonong masuk ke kamarnya.Padahal Excel saat itu tengah bercengkrama dengan Seruni .
"Eh..di panggil malah main pergi aja, dasar tidak tahu diri sekali anak itu"gerutu Ba'im dengan tangan yang terpacak di pinggang.Seruni hanya melongo melihat tingkah kedua muda-mudi tersebut.
Ba'im menghela nafas panjang.
"Kenapa Ba'im ? datang-datang kok malah marah-marah ?"
"Itu Bun..si Excel ...aku panggil bukannya nyahut malah pergi gitu aja, nyelonong masuk ke kamar nya. Padahal Ba'im ini ustadnya loh Bun,Ba'im wali kelasnya.Seharusnya dia hormati Ba'im lah"
Seruni manggut-manggut tanpa berkomentar.
"Assalamualaikum..."
Suara Ismail mengalihkan perhatian ibu dan anak itu.
"Wa'alaikum salam"jawab Seruni dan Ba'im hampir bersamaan.
Ismail menyalami Ibu dan Kakaknya bergantian.
"Ohya Is... Ustadz Abu bukankah wali kelas mu?"tanya Ba'im kepada adiknya,Ismail mengangguk.
"Dia pernah absen nggak ??"
Ismail menjawab dengan gelengan kepala.
"Berarti benar apa yang dia katakan"
"Kamu kenapa sih Ba'im ?tadi marah-marah nggak jelas sama Excel , sekarang malah interogasi adikmu tentang ustadz Abu"
"Bun... bukankah Ustadz Abu itu suami Ustadzah Nila?"
"Emmm seperti nya iya, emang kenapa ??"
"Ba'im baru ingat kalau Ustadzah Nila hari ini absen mengajar .Karena itu kelasnya diganti oleh Ustadzah Muna "
"Terus??"potong Seruni .
"Tadi...."Ba'im menggantung kalimatnya,ia ragu untuk menjelaskan.Karena ia khawatir takut salah.Karena sosok yang wajahnya hancur itu benar-benar tidak bisa dikenali.
"Tadi kenapa Ba'im ??kok nggak diteruskan"tegur Seruni .
"Ba'im ragu Bun...takut salah"ucap Ba'im .
"Saya rasa tahu kemana arah bicaranya ustadz Ba'im? "tiba-tiba Excel muncul langsung menyampuk.Ia berdiri menyandar ke kusen pintu dengan tangan terlipat di dada.