
Benar!! Pagi-pagi sekali, Steven sudah bersiap untuk pergi.Dan entah kenapa,Uzma malah mengantar kepergian Steven sampai teras depan.
"Ohhh jadi ini alasan kamu memutuskan pertunangan dengan Caroline ?"
Steven dan Uzma hampir bersamaan menoleh ke arah suara.
"Tante...."desis Steven begitu melihat kedatangan Mamanya Caroline.Wanita itu mendengus ,memperhatikan Uzma dari ujung kepala sampai ujung kaki.Dan berakhir di bagian perut Uzma .
"Dia hamil ??"
Uzma dan Steven saling berpandangan.
"Jawab Stev!!Apa dia sudah hamil??"
"Iya Tante...dia sedang hamil"Steven tak ada niat sama sekali untuk menjelaskan yang sebenarnya.
"Waaah Tante benar-benar tidak menyangka kamu bisa berbuat sedemikian rupa kepada Caroline , padahal Caroline sangat mencintaimu Stev.Dan ini balasan yang kamu berikan kepadanya ?"
Uzma ingin menjawab tuduhan itu,namun tangan Steven menggenggam erat tangan Uzma sebagai kode agar Uzma diam saja.
"Sekarang Tante minta, tinggal kan wanita itu.Caroline sangat mencintaimu , mungkin kalau kamu minta maaf kepada nya dan membujuknya agar kembali.Dia akan memaafkan mu,Tante yakin itu"
"Tidak Tante,Stev tidak bisa melakukan itu "Jawab Steven tanpa ragu.
"Apa??jadi kamu lebih memilih wanita murahan ini dari pada Caroline yang hanya setia padamu??"
"Dia bukan wanita murahan Tante"Bantah Steven.
"Lalu apa namanya jika seorang wanita bisa hamil sebelum menikah ?"
"Dia sudah menikah Tante"
"Apa?"dua bola mata Mamanya Caroline seperti hendak akan melompat keluar mendengar pernyataan Steven.
"Ja-jadi kalian sudah menikah ???bisa kamu melakukan itu Stev,padahal Tante sudah menganggap mu seperti anak kandung Tante sendiri.Hal yang kamu lakukan bukan hanya mengkhianati Caroline,tapi juga mengkhianati Tante yang sudah menjaga dan merawat mu semenjak orang tua mu meninggal.Jika saja Tante tahu ini yang akan kamu lakukan sebagai balasan? Tante tidak akan pernah sekalipun merasa iba kepadamu Stev.Sungguh Tante sangat menyesal telah mengangkat mu sebagai anak,dan memberikan tangan putri kesayangan ku kepadamu "
Steven tersenyum getir .
"Terimakasih Tante...Stev juga menyesal kenapa saat itu dengan sangat mudah percaya dengan orang?.Meskipun itu adalah saudara ataupun kerabat dekat sendiri.Karena Stev baru sadar jika apa yang Tante dan Om lakukan semua hanya demi sebuah warisan"
"Apa maksud mu Stev??-Apa kau mengingkari kasih sayang kami yang tulus kepadamu ?"Mamanya Caroline mulai naik emosi.
"Stev sudah mendengar semua nya dengan sangat jelas Apa yang Tante bicara kan dengan Om saat perdebatan dengan Tante Rindiani"
Mamanya Caroline terkesiap kaget.
"Jadi tolong hentikan kepura-puraan ini Tante,jangan seolah-olah kalianlah yang terdholimi"
Mamanya Caroline sudah di skak mate,dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Steven menarik tangan Uzma dan membawa nya masuk ke dalam mobil.Tidak mungkin Steven meninggalkan Uzma sendiri di rumah dalam keadaan panas seperti ini.
"Kau mau bawa aku kemana ?"Tanya Uzma
"Ikut aku pergi,,aku tidak mungkin meninggalkan mu sendiri di rumah"Jawab Steven sambil terus mengemudi.Ia sudah sedikit terlambat karena kejadian ini.
__
"Ma...Mama dari mana?"tanya Caroline saat melihat Ibunya baru saja datang dengan wajah yang sulit diartikan.
"Aa...emmm"Ibunya terlihat bingung,mata sembab Caroline terus mengikuti langkah sang ibu yang tak terhenti masuk ke dalam rumah.
"Kenapa dengan Mama?Kok kayak orang yang sedang tertekan begitu??Apa karena aku putus tunang dengan Steven,Mama jadi begitu ?"
Caroline hanya bisa mengira-ngira,ia tidak pernah menduga jika Ibunya akan mendatangi rumah Steven.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Deringan telfon sudah melolong untuk kesekian kalinya.Namun Reyhan tetap tak mengindahkan,ia justru menutup wajahnya dengan bantal.
"Hallo..."
Reyhan langsung membuka penutup wajahnya saat mendengar suara sang adik.Rupanya Seruni sudah mengambil ponsel Kakaknya dan berbicara dengan si penelpon.
"Siapa?"tanya Reyhan saat adiknya sudah menuntaskan panggilan.
"Kalau penasaran ?kenapa nggak diangkat ?"
Reyhan beringsut bangun.
"Dari Om Harun ya?"
"He-em... Kakak diminta untuk segera datang ke Rumah Sakit,karena sebentar lagi akan ada pertemuan para Dokter senior"
"Malas Ah....."Reyhan hendak merebahkan tubuhnya kembali,namun Seruni menahannya.
"Ayo dong Kak ..sampai Kapan Kakak begini terus?"
"Aku malas aku ingin resign dari dunia kedokteran "
"Jangan gitu Dong...Runi temenin Yah"
"Ngapain ??"
"Yah hitung-hitung mau memeriksa aset keluarga "
"Idiiiiih sok-sokan kamu"
Seruni tersenyum...
"Ayo dong Kak...atau mau Runi mandiin?"
DEGH
Reyhan jadi teringat akan Uzma , kata-kata itu yang selalu Uzma katakan jika Reyhan malas untuk mandi .Maka dengan senang hati Reyhan mau dimandiin.
"Ihhh kok malah senyam-senyum sendiri,pasti pikirannya lagi traveling kemana-mana nih?...buruan gih..."
"Aku rindu Uzma ..."desah Reyhan dengan keperitan hati yang mendalam.
"Runi juga Kak ....tapi kita harus tetap tegar sampai Kak Uzma kembali...Kak Uzma pasti Kecewa jika melihat Kakak seperti ini.Ayo buruan... jarang-jarang loh Runi bisa ikut"
"Iya iya...."dengan malas Reyhan turun melantai melangkah masuk ke kamar mandi.
"Runi tunggu di luar Kak"Seru Seruni lantang,ia tak mendengar sahutan.Atau memang Kakaknya tidak menjawab.
___
Di hari dan waktu yang sama,Livia datang ke rumah sakit bersama suaminya Khusairi.Ia sedang mengecek kandungan atas permintaan ibu mertuanya.
Langkah Livia terhenti saat melihat kelibat sosok yang ia kenal.Lututnya gemetar , tangannya mendadak keluar keringat dingin.
Khusairi kebingungan karena tak mendapati istrinya di sampingnya,ia menoleh kebelakang dan melihat Livia berdiri mematung dengan wajah memucat.Ia mengikuti arah pandang mata istrinya.Sepasang suami istri terlihat hangat dan penuh kasih masuk mendahului keduanya.Sang istri Sepertinya sedang hamil juga.Khusairi berjalan menghampiri Livia dengan pandangan yang mengherankan.
"Ada apa?Apa kamu kenal mereka ?"
Livia gelagapan...ia baru ingat jika Khusairi belum pernah tahu siapa istri Reyhan .
"Ah... ti-tidak...Mas...aku pusing...bisa kah kita pulang"pinta Livia dengan wajah ketakutan.
"Kalau kamu pusing,ayo sekalian kita periksa ke dokter...jangan pulang "bantah Khusairi.
"Tapi aku ingin pulang Mas,,,perutku mual dan perih mencium aroma obat"Kilah Livia mencari alibi yang tepat.Ia tidak mau suaminya sampai menyadari jika sebenarnya ia takut perbuatannya akan terbongkar.
"Kamu jangan aneh-aneh deh"
"Beneran Mas..."Livia berusaha meyakinkan.
"Nanti gimana kalau Mama tanya hasil USG nya?"
"Kita USG di tempat lain aja Mas"
"Lah...kamu sendiri yang minta mau kesini, sekarang malah minta di tempat lain"
"Tolong lah Mas... please..."Livia terus membujuk suaminya sampai akhirnya Khusairi pun setuju meskipun Tatapan matanya menunjukkan rasa penasaran.