SERUNI

SERUNI
BAB 72 Perilaku Mukhlis



Tangan dingin menyentuh punggung tangan Seruni , matanya bergulir ke samping.Nampaklah ILa kecil dengan kepalanya yang tanggal,wajah pucatnya mengukir senyum.


"Tolong kami...."Suara yang seperti desauan angin menerpa rungu.Dalam sekelip mata,kamar Seruni penuh dengan gadis belia yang beranjak dewasa.Pandangan datar menukik ke satu titik,Seruni menyapu wajah melas Meraka dengan tatapan kepedihan.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?"Tanya Seruni parau.


"Temukan mayat kami"Sosok lain dengan perut bolong menjawab,Seruni terpana.Belatung menggerogoti rongga perut nya, ususnya menjuntai keluar.


"Ka-kau mati kenapa ???"Suara Seruni bergetar.


"Perutku dikoyak oleh jahanam itu,bayi didalamnya dikeluarkan.Dan saat itu aku masih sadar dan bernyawa.Hingga akhirnya ajal menjemput ku"Sosok itu menangis tergugu.


"A-apakah yang membunuh kalian adalah orang yang sama?"


Mereka mengangguk hampir bersamaan.


"Diakah??? Ustadz Mukhlis ??"


Melihat tatapan mereka yang seperti mengiyakan membuat Seruni berundur kebelakang,nafasnya tersengal-sengal.Ia panik,kejadian saat ia ditahan oleh Riris kembali menghantuinya.


Ia begitu trauma dengan orang-orang yang tak berperikemanusiaan seperti Riris dan Mukhlis.Seruni menggigil,ia meringkuk memeluk kedua lututnya.


Tiba-tiba sebuah belaian lembut menyentuh pucuk kepalanya.Seruni mendongak, terlihat Ibu Seruni duduk disamping putrinya.Dengan penuh kasih,ia membelai rambut Seruni .


"Bantulah mereka...."suara lembut sang ibu membuat sudut matanya mengambang.


"Aku takut...aku takut Ibu..."Seruni tergugu menangis dengan membenamkan wajahnya disela lututnya.


"Kemana Seruni yang pemberani ??Dimana anak Ibu yang suka memukul kepala Ibu dengan batang penyapu?"


Seruni mengangkat wajahnya.


"Ibu... makhluk halus berbeda dengan manusia jahat.Dia tidak akan lenyap dengan hanya dikentutin"


"Jika lawanmu manusia,maka hanya manusia yang bisa melawannya"


"Tapi Seruni sendiri Ibu...Dia ..dia seorang laki-laki "


"Ibu yakin kamu pasti bisa menemukan jalan keluarnya"


Ibu Seruni menepuk pundak putrinya,secara serentak makhluk tak kasat mata itu lenyap dari pandangan.


Seruni diam,otaknya berpikir.Tak mungkin dia minta bantuan Roy,sedangkan ia tahu Roy sekarang tengah berusaha menyelesaikan masalahnya secepat yang ia bisa.


Jika Seruni memanggil Roy, sudah pasti pria itu akan datang.Tapi masalahnya akan diundur entah sampai kapan ?


Pak Salam sudah tua renta,sekali dorong sudah dipastikan akan ambruk seketika.Apa harus ia melaporkannya ke polisi ??tapi mau lapor atas kasus apa?? Pembunuhan ILa??itu sudah kasus lama.Lalu apa yang harus dilaporkan???


Seruni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Tapi ia harus mencoba untuk meyakinkan polisi agar membantunya menyelidiki Mukhlis.Ia tidak akan pernah tahu bisa atau tidak kalau tidak mencoba,iya kan??


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok paginya, setelah sarapan Seruni pamit kepada Bapaknya untuk pergi keluar dengan alasan ingin membeli sesuatu.


"Apa kamu sudah baik-baik saja Uni?"


"Uni sudah nggak apa-apa Pak"


"Apa perlu Bapak temenin?"Pak Salam masih was-was.


"Seruni cuma mau beli barang sebentar saja kok Pak"Kilah Seruni berusaha membuang jauh-jauh rasa khawatir di wajah tua itu.


"Baiklah,tapi harus cepat kembali ya"


Sebelum melewati pintu gerbang,Seruni terlebih dahulu harus melewati halaman musholla yang cukup luas.Disanalah Seruni tak sengaja bertemu Ustadz Mukhlis,pria itu berlari kecil ke arahnya.Seruni ingin menghindar ,tapi sudah kepalang tanggung.Ia tidak bisa berkutik lagi.


Tangannya gemetar saat Ustadz Mukhlis semakin dekat dengannya.Meskipun Pria itu tersenyum manis,namun Seruni malah semakin panik.


"Neng mau kemana?"Tanya Ustadz Mukhlis ramah.


"Aaa emmm"Seruni canggung ,kakinya melangkah mundur sejengkal demi sejengkal.Ustadz Mukhlis dapat menangkap rasa ketakutan Seruni .Hatinya teriris sakit,senyum yang ia sunggingkan lenyap seketika.


"Maaf jika saya membuat Neng ketakutan"Ucap Mukhlis dengan rasa kecewa yang mendalam,ia pun pergi meninggalkan Seruni yang terdiam dengan rasa bersalah.


Tapi Seruni tidak mau berlama-lama disitu,ia segera mempercepat langkahnya keluar dari pintu gerbang utama yayasan.


Mukhlis menatap punggung gadis itu sampai lenyap terhalang pintu gerbang.Kemudian ia mengambil sepeda motornya untuk pulang.Sesampainya di rumah, Mukhlis menendang pintu sampai terbuka lebar.


Muhibbah yang sedang menyapu jadi terkejut ,namun belum sempat ia bertanya kenapa ? Mukhlis sudah menghampiri dan melayangkan tamparan ke wajahnya.


Gadis itu terhuyung-huyung ke belakang, telinganya berdengung akibat kuatnya tamparan itu.


"A-ada apa Mukhlis ??? Ke-kenapa kamu menampar ku??"


Mukhlis menjambak hijab Muhibbah sehingga kepalanya mendongak ke atas.


"Gara-gara kamu...Seruni jadi takut kepada ku"


Mukhlis dengan kasar mendorong kepala Muhibbah hingga tersungkur ke lantai yang terbuat dari semen.Gadis itu mengangkat wajahnya, sekali lagi Mukhlis mencengkram kerudung Muhibbah.


"Kenapa kamu selalu menjadi penghalang disaat aku menyukai seseorang ?hah???"


Mukhlis mendorong lagi kepala gadis itu.Muhibbah terlihat pasrah,ia menunjukkan kepalanya,mengusap air matanya dengan ujung hijabnya.


Mukhlis bangkit,ia duduk di kursi lalu menyulut rokok.


"Dulu,,,gadis pertama yang aku sukai adalah ILa,tapi kamu malah mengolok-olok nya dengan Tuan Muda.Sehingga mereka benar-benar dekat satu sama lain,dan ILa malah menjauhi ku.Sekarang saat aku menyukai Seruni ,kamu juga membuat nya takut padaku"


"Aku juga ingin bahagia Mu...bersama dengan orang yang aku cintai"


"Hanya aku yang mencintaimu Lis,hanya aku"Muhibbah menepuk-nepuk dadanya sendiri.


"Tapi aku tidak mencintaimu"Mukhlis menghisap nikotin disela jemarinya,lalu menghembuskan asapnya sampai membumbung tinggi.


"Apa kurangnya diriku Lis?? Semuanya telah aku berikan padamu"


"Aku tidak minta,kamu yang memberikannya secara sukarela"Jawab Mukhlis tak berperasaan.


"Itu karena aku mencintaimu Lis...aku tahu kamu sering *****,sejak kamu menyetubuhi ILa,kamu sering ***** dan ingin melakukannya lagi.Karena itu aku rela mengorbankan kehormatan ku agar kamu tidak menginginkan gadis lain selain aku.Tapi kamu tetap saja menginginkan yang lain meskipun sudah ada aku"


"Kamu mengencani anak gadis lain sampai ia hamil,dan kamu malah membunuhnya dengan tragis karena dia mempertahankan bayi itu.Kamu juga tak segan memperkosa gadis yang menolak mu,hingga mayatnya bergelimpangan di hutan karet itu"


"Kamu mengubur mereka seperti mengubur ayam mati,aku tahu semua perbuatan mu Lis.Tapi aku diam karena aku mencintaimu,aku berusaha memuaskan mu sampai detik ini.Tapi kamu tetap menginginkan gadis lain"


"Sekarang kamu malah menginginkan Seruni ,Apa kamu pikir Tuan Muda akan diam saja?"


Mukhlis menyeringai,ia menekan puntung rokoknya ke dalam asbak.


"Tapi Seruni gadis yang menarik Mu,saat aku menggendongnya,buah pantatnya sangat kenyal dan berisi.Buah dadanya juga sangat besar dan ranum.Akkkhhhhh aku benar-benar ingin mencicipinya"Mukhlis menggigit ujung jari telunjuk nya,angannya menerawang jauh.


"Sudah cukup Lis...jangan buat masalah yang lebih besar lagi.Seruni adalah milik Tuan Muda,jika kamu berani menyentuhnya kamu akan dalam bahaya"Muhibbah berusaha menciutkan nyali Mukhlis.


"Apa kamu pikir,aku perduli ????Ciiihhhh"Mukhlis meludahi wajah Muhibbah,kemudian ia bangkit masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.


Muhibbah mengusap ludah itu dengan ujung hijabnya, hatinya terasa sakit tapi tak berdarah.