SERUNI

SERUNI
BAB 150 Ba'im Sembuh



Ba'im merasa sakit di kepalanya yang teramat sangat.Ia sampai menghantuk-hantukkan ke meja kerjanya.Darah segar keluar dari lubang hidungnya.


Tiba-tiba seisi kelas bagai gelap gulita.Ba'im roboh terkulai tak berdaya di atas lantai.


Para anak-anak yang berada di bawah didikannya mulai masuk kelas karena jam istirahat sudah usai.


"Ustadz!!!"Pekik seorang murid histeris.Ia melihat darah sudah menggenang di lantai.Sesaat kemudian suasana kelas heboh,semua kacau balau.


____


Ba'im dilarikan ke RS terdekat,namun mereka menganjurkan untuk merujuk Ba'im ke Rumah Sakit Metra Medical.Rumah sakit milik keluarga Excel ,karena hanya disana yang memiliki Dokter hebat spesialis penyakit dalam.


Keluarga Muhammad Ibrahim pun tak membantah,mereka mengikuti anjuran dari Dokter.


Begitu mereka sampai dan merujuk Ba'im ke UGD.Mereka baru menyadari bahwa Ba'im pernah dibawa ke Rumah Sakit ini oleh Excel .


Ismail masih ingat bagaimana ia menuduh Excel lebay dan terlalu ingin mengambil hati Kakaknya karena telah membawa ke Rumah Sakit ternama.Di saat itu Ismail menyangka bahwa Kakaknya hanya pingsan saja.


"Bun....Is merasa bersalah sama Excel "ucap Ismail lirih.Seruni mengusap punggung anak bungsunya itu.


"Bunda tahu apa yang kamu pikirkan,Bunda juga merasa bersalah karena sempat berpikiran hal yang sama dengan mu.Ternyata Excel sudah tahu tentang penyakit Ba'im "


"Dan Ba'im sudah menyia-nyiakan wanita yang amat sangat peduli padanya "Sambung Roy.Seruni mengangguk lemah.


"Dimana sekarang Excel ya Bun?"


"Mungkin di rumahnya"


Ismail menggeleng pelan.


"Is sudah mencarinya ke sana,kata pembantunya Excel berada di Asrama.Berarti yang dimaksud adalah Yayasan kita"


"Jadi dia tidak pulang ke rumah nya?"tanya Roy.Ismail menggeleng...


"Lalu kemana dia?"sambung Seruni .Tak ada yang bisa menjawab.Karena memang tak ada yang tahu.


___


Pembantu di rumah Dokter Dirga menghampiri Excel yang tengah duduk termenung di tepi kolam.Disanalah tempat favorit wanita itu, dengan kaki yang terendam di dalam air membuatnya sedikit tenang dalam kekalutan.


"Non...ada telfon dari Tuan Besar"


Excel mendongak,ia mengambil telepon binbit yang disodorkan padanya.


"Hallo..ya Om??"


"Ex...Pria itu sekarat"jawab Dokter Dirga dari seberang.


"Apa??"


"Hidupnya tidak akan lama jika belum menemukan pendonor"


Excel tercengang,ia sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Jika kau ingin melihatnya untuk terakhir kalinya,maka datanglah "


Dokter Dirga memutuskan talian secara sepihak.Ponsel yang digenggam Excel meluruh, tangannya seakan tak kuat mencengkram benda pipih itu.


Dengan kekalutan yang menyakitkan,Excel bangkit...Ia berlari secepat ia bisa menuju mobil yang terparkir.Dengan Isak tangis yang tak tertahankan,Excel mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit.


.


.


"Om..."Excel langsung membuka pintu ruang kerja Dokter Dirga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.Untung Dokter Dirga tengah sendiri saat itu.


"Excel..."Dokter Dirga kaget , apalagi kedatangan Excel tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Cepat lakukan operasi Om,aku siap jadi pendonor.Tapi tolong... rahasiakan identitas ku Om"


"Ex...ini bukan operasi kecil "


"Tolong Om... tolong selamatkan nyawanya "Excel memohon dengan penuh iba.


"Papa sekarang tidak ada disini Om,dia ke Denmark.Jika harus menunggu Papa semua akan terlambat "


Dokter Dirga terdiam,ia harus mengambil tindakan yang tepat.


"Ommm cepatlah Om..."Excel mendesak.Akhirnya Dokter Dirga pun menyanggupi.Ia menelfon asistennya dalam operasi tersebut untuk menghubungi keluarga pasien.


Roy beserta yang lain tak percaya dengan kabar tersebut.Tapi mereka langsung menyambut hal itu dengan kebahagiaan.Perasaan putus asa yang menghantui langsung berganti sebuah harapan besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tubuh Ba'im yang sedang tidak sadarkan diri sejak awal datang ke Rumah Sakit,kini sudah terbaring di meja operasi.


Excel juga terbaring di meja operasi yang lain dan bersebelahan.Tangannya menggenggam tangan Ba'im yang terkulai.


"Kau harus hidup... meskipun aku tidak bisa bersamamu,tapi kau harus hidup.Aku ingin kau benar-benar hidup dengan bahagia, meskipun aku tahu ,aku tak sanggup bila harus jauh dari mu"


"Aku akan bertahan dengan sisa kenangan diantara kita.Aku yakin itu sudah lebih dari cukup, terimakasih atas cinta yang selama ini kau berikan padaku.Aku tahu itu tulus dari hatimu.Meskipun akhirnya kau menyesali nya"


Perlahan Excel mulai kehilangan kesadaran karena obat bius sudah berhasil disuntikkan ke dalam tubuhnya.


Operasi pendonoran sumsum tulang pun dilaksanakan.Semua Dokter yang terlibat bekerja dengan konsentrasi tinggi agar tidak terjadi kesalahan.


Saat pemindahan selesai dilakukan, seorang Dokter yang mengurus Excel dalam penjahitan luka operasi.Kaget melihat sesuatu tanda yang sangat ia kenali.


"Dok..."Ia memanggil Dokter Dirga,sang Dokter mendongak.


"Wanita ini,,, Sepertinya tengah hamil"


"Apa??"Dokter Dirga terbelalak,ia segera menghampiri Excel dan mengecek sendiri kebagian tubuh yang terdapat luka menganga.


Ia melihat dengan jelas rahim yang membengkak agak sedikit lebih besar dari ukuran yang biasa.


"Astaghfirullah... cepat jahit ,kita tidak boleh terlambat.Jika terlalu lama dibius akan membahayakan janin"


"Baik Dok..."


Dengan cekatan semua tim kompak menyelesaikan operasi besar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rasa bahagia tak terkira begitu mendapat kabar kalau operasi berjalan dengan lancar.Pendonoran sumsum tulang berhasil dengan baik.Dan dapat disimpulkan bahwa Muhammad Ibrahim akan sembuh.


Seruni menangis penuh haru, begitupun dengan suaminya.Mereka dengan sabar menunggu anak sulung mereka sadar.


___


Di alam bawah sadarnya, Ba'im melihat Nayla datang dengan senyum sumringah.Ba'im pun menyambut kedatangan gadis itu dengan suka cita.


Namun, tinggal sejengkal jarak diantara mereka untuk bersatu.Kujang muncul dan mengaum panjang.Kehadiran Kujang membuat Nayla ketakutan,ia mundur.


"Tuan..."Nayla merintih memohon pertolongan.Tangannya terulur ke depan.Ba'im segera ingin menghampiri ,namun lagi-lagi Kujang menghalangi.Ia tidak lagi mengaum,tapi mengeram sangar menunjukkan gigi-giginya yang runcing.


Nayla semakin panik,,, ia menatap Ba'im dengan memelas.Ba'im jadi tak tega melihat gadisnya akan diserang oleh Kujang.


"Kujang..."Ba'im menghardik sang Harimau putih.Bukan takut, justru Kujang mengaum panjang dan sangar.


Nayla semakin ketakutan, karena dari Auman harimau itu keluar lah angin kencang menerjang tubuhnya.Nayla berusaha bertahan dari serangan Kujang,akan tetapi yang terjadi adalah tubuhnya sedikit demi sedikit terkikis oleh angin tersebut hingga lenyap tak bersisa.


"Nayla...."Seru Ba'im ,ia tak percaya sosok itu akan binasa.Tubuh Ba'im berlutut ke lantai,ia mengerang penuh kesedihan.Tiba-tiba sebuah suara terdengar.


Kau harus hidup... meskipun aku tidak bisa bersamamu,tapi kau harus hidup.Aku ingin kau benar-benar hidup dengan bahagia, meskipun aku tahu ,aku tak sanggup bila harus jauh dari mu"


"Aku akan bertahan dengan sisa kenangan diantara kita.Aku yakin itu sudah lebih dari cukup, terimakasih atas cinta yang selama ini kau berikan padaku.Aku tahu itu tulus dari hatimu.Meskipun akhirnya kau menyesali nya"


"Excel ?????"Ba'im mengangkat wajahnya.Jantungnya berdebar tak karuan bila mengingat si empunya nama.Ia kebingungan, menoleh ke sana kemari.Ia seperti berada di suatu tempat yang tak berujung.


Kujang tiba-tiba pergi,suara Excel terdengar dimana-mana.


"Ex... dimana kamu ??"Ba'im tak tahu ia harus kemana,ia jadi linglung.