
Muhammad Ibrahim meletakkan tubuh Khumaira dengan begitu hati-hati,gadis itu membenarkan letak tubuhnya agar lebih nyaman.
Ba'im berundur untuk menutup pintu,ia tak merasa jika gerak geriknya sedang diperhatikan oleh Pak Ramli yang baru saja tiba.
Pria itu berseringai licik,ia mengira bahwa rencana putrinya berjalan lancar.Langkah kakinya semakin mendekat begitu Ba'im sudah menutup pintu.
Senyumnya makin mengembang saat mendapati gelas di atas meja tandas tak berisi.
Berbeda dengan yang diprasangkakan,Ba'im mengambil peralatan akupuntur yang dimilikinya.Ia mengambil sebuah jarum,lalu mendekati Khumaira yang terlihat mengeliat-ngeliat seperti cacing kepanasan.Dari bibirnya terdengar suara ******* menggoda.Ia memperhatikan gadis itu, sedangkan yang diperhatikan tersenyum sambil bergerak-gerak erotis.Malah hijab yang tadi dikenakan sudah terlepas tak tahu kemana?.
"Seperti inikah yang terjadi kepada Nayla saat itu??"Gumam Ba'im .
"Saaayyyyaaaannnngggg"desah Khumaira,tangannya menggapai-gapai udara kosong.Ba'im mendekat,ia membalik tubuh gadis itu hingga berpose miring.Lalu menancapkan jarum akupuntur ke titik wind pool,tepat disisi kanan leher bagian belakang.Dalam hitungan detik, Khumaira pun pulas tertidur.
Ba'im menghela nafas lega,ia turun dari tempat tidur lalu menyelimuti gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu sholat Maghrib sudah tiba,Ba'im melaksanakan sholat Maghrib sendiri didalam kamar,ia mengaji Alquran untuk menunggu waktu sholat isya.
Sedangkan diluar,Pak Ramli sesekali memperhatikan kamar Nayla yang sunyi.Apakah karena ketagihan sampai lupa untuk keluar kamar ???Pak Ramli jadi tersenyum geli sendiri,ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa Pak??"Tanya Bu Raudah penasaran melihat suaminya senyam-senyum sendiri.
"kHumairah dan tunangannya sama sekali tidak keluar kamar Buk, sebaiknya kita segera nikahkan mereka"
Bu Raudah membuang muka, hatinya perih sekali.Sesaat kemudian ia keluar kamar.
"Mau kemana Buk??"tanya Pak Ramli .
"Ke Dapur"jawab Bu Raudah datar.
"Sekalian buat masakan untuk menantu kita Bu"seru Pak Ramli yang dihampakan oleh istrinya.Pak Ramli geleng-geleng kepala,ia merebahkan tubuhnya di atas kasur disamping Putra yang sedang asyik bermain.
___
Ba'im keluar kamar usai sholat isya,ia hendak membeli makanan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.Melihat gelas yang masih tak berpindah tempat,Ba'im mengambilnya lalu dibawanya ke dapur.
"Eh..Bu..lagi ngapain ??"sapa Ba'im saat baru saja ia masuk dapur ada Bu Raudah disana tengah mengaduk kuali.
"Lagi buat nasi goreng, kamu belum makan kan??"jawab Bu Raudah disertai senyuman.
"Oh iya...kenapa repot-repot Bu?saya bisa beli makanan diluar"
"Nggak repot kok, tinggal goreng saja...ohya?? Khumaira mana?"
"Dia lagi istirahat Bu"
"Ooohhh"Bu Raudah mengangguk pelan,namun raut wajahnya nampak kurang senang.
"Ada yang bisa saya bantu Bu"Ba'im segan untuk pergi begitu saja.
"Tidak usah...Ibu bisa sendiri"
"Nggak apa-apa Bu...jangan sungkan,saya sudah biasa seperti ini di rumah"
"Ohya??apa dirumah mu tidak ada pembantu ??"
"Ada...tapi tetep kami membantunya agar lebih ringan pekerjaannya "jawab Ba'im grogi.Bu Raudah manggut-manggut,ia sesaat menengok ke luar dapur.Lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
DEGH !!!
Tubuh Ba'im seperti menghangat,ia tak bergeming.Bu Raudah masih mengaduk kuali yang berisi nasi.
"Kenapa tak menjawab ??"sambung Bu Raudah lagi.
"Emmm iya saya kenal"jawab Ba'im,ia menelan saliva.
"Kenal saja atau sangat kenal baik?"Bu Raudah seperti sedang mengintimidasi pria di dekatnya.
"Arah pembicaraan Ibu kemana ya??"Ba'im langsung to the points.Bu Raudah mematikan kompor,ia menghela nafas berat.Lalu berbalik berhadapan langsung dengan lawan bicaranya.
"Kamu kekasihnya Nayla bukan??"
Ba'im beradu pandang,diam tak bergeming,kemudian ia memilih untuk mengiyakan.
"Lalu kenapa kamu melamar anakku??"
Ba'im terpaku, tidak tahu harus menjawab apa ?
"Kau sengaja ingin menyakiti Nayla karena video itu ??"
Ba'im tetap diam,namun ia membalas tatapan Bu Raudah yang menukik tajam.
"Kalau itu benar niatanmu,kau akan menyesal!! karena Nayla tidak salah,dia..dia..dia .gadis baik"Kedua netra yang awalnya tajam,kini sayu dan menangis.
"Aku yang salah...aku yang salah..."Bu Raudah memukul dadanya sendiri.
"Ibu ..jangan begitu..."Ba'im merangkul bahu wanita itu.
"Ibu jangan begitu...Nayla pasti akan sedih melihat Ibu begini"
"Tapi memang aku yang salah, menikah dengan Ramli yang jahat dan tak berperikemanusiaan.Dengan kejamnya dia membunuh orang tua Nayla seolah-olah mengalami kecelakaan.Hanya karena ingin mengambil alih harta warisan orang tua Nayla.Padahal saat itu, istri adikku sedang mengandung anak keduanya hiks hiks hiks "Bu Raudah semakin tersedu-sedu.Ba'im sampai cemas takut disangka yang macam-macam kalau ada orang yang melihat.Ia menengok ke luar dapur, mungkin saja ada orang yang datang.Ternyata sepi!!!
"Jadi... Ayahnya Khumaira yang dengan sengaja membuat orang tua Nayla meninggal ??"Ba'im ingin lebih memastikan.Bu Raudah mengangguk pelan.
"Sejak Nayla umur kurang lebih 10 tahun,kami menjadi wali dari Nayla .Karena sememangnya adikku hanya aku saudaranya.Sedangkan Ibu Nayla ,dia anak tunggal yang kaya raya"
"Setahun kemudian,kuasa hukum keluarga Nayla yang mengurus semua aset warisan Nayla merasa curiga dengan kami.Secara tertutup,dia mengajakku bicara.Tapi aku tak tahu harus menjawab apa?aku takut nanti suamiku akan dihukum karena sikapnya terhadap Nayla yang jahat.Jadi aku memilih diam saja,karena aku juga tidak sanggup untuk berbohong bahwa Nayla baik-baik saja"
"Karena kurang puas dengan sikapku yang diam??kuasa hukum itu memutuskan untuk memasukkan Nayla ke dalam asrama.Dan setelah lulus sekolah menengah pertama,Nayla dimasukkan ke asrama "
"Aku pikir akan cerah sampai ke petang,tapi ternyata hujan di tengah hari.Semua hanya karena sifat iri hati dan tamak, sehingga membuat Nayla meregang nyawa dengan sangat mengenaskan "
"Hingga dia mati pun, tetap saja dikhianati oleh orang-orang yang ia sayangi "kedua netra Bu Raudah menatap Ba'im.
"Ibu... salah paham pada saya"ucap Ba'im .Bu Raudah tersenyum kecut.Ba'im ingin menjelaskan bagaimana perasaannya,namun tiba-tiba Pak Ramli muncul di ambang pintu.
"Loh..Anak menantu kok ada disini ??"
"Ah iya Pak...saya baru saja meletakkan gelas kotor"
"Ooohhh...Ibu kenapa?"Pak Ramli semakin mendekat,Bu Raudah sudah sejak awal kedatangan suaminya dengan cepat mengelap air matanya itu, berpaling mengambil piring.
"Emmm tadi Ibu katanya sakit kaki Pak"Ba'im memilih berbohong.