SERUNI

SERUNI
BAB 62 Roy Minggat



"Gimana saksi??Sah??"Tanya wali hakim.


"Sah"


"Sah"


"Tabarakallah"Pak penghulu langsung melanjutkan dengan do'a, semua orang yang menyaksikan pernikahan Leo dan Riris menengadahkan tangan mendoakan kedua mempelai agar bahagia dan menjadi pasangan yang sakinah mawadah warohmah.


Selesai berdoa,Riris mencium punggung tangan suaminya,begitupun dengan Leo.Ia mencium kening Riris dengan begitu mendalam.Riris tersenyum bahagia,Leo menatap wanita itu dalam bayangan nya dia adalah Seruni.


Leo tersenyum lebar melihat bayangan Seruni.Hampir saja ia menyebut nama Seruni,suara Pak penghulu langsung menyadarkan lamunannya.


"Mari silahkan para tamu untuk menjamu makanan yang sudah disediakan sang pengantin.Karena ini acara dadakan,semua makanannya seadanya saja"


Riris bangkit,ia memberi kode kepada Leo agar mengikuti nya.Leo patuh,ia tidak menyadari akan rencana Riris selanjutnya.


Wanita itu menyodorkan segelas kopi pada Leo,ia pun meminum kopi yang sama.Leo menyeruput kopi itu tanpa perasaan curiga.Setelah kopi itu habis,Leo merasa pening.Ia memijit pelipisnya,berharap rasa peningnya bisa berkurang.Namun semakin lama Leo semakin pusing.


Riris yang menyadari obatnya bekerja,segera menghampiri pak penghulu tak juga seorang imam di masjid ini.Riris meminta diri sekaligus menyalami sebuah amplop putih berisi.Pak penghulu mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya,Riris pun menggandeng tangan Leo kembali ke Viila dengan menaiki Van Hitamnya.


"RIS...kamu apakan aku lagi?"Ucap Leo lirih menahan pusing di kepalanya.Riris hanya tersenyum tipis,ia fokus mengemudikan mobilnya.


Sesampainya di Villa,Riris membantu Leo berjalan masuk ke dalam.Diantara sadar dan tidak Leo merasakan dia dibantu duduk oleh Riris di sebuah kursi.Lalu istrinya itu melakukan sesuatu terhadap wajahnya.Leo ingin berontak,tapi ia lemah tak bertenaga.


Dengan lihainya Riris melukis wajah Leo menggunakan semacam benda lembek seperti tanah liat.Ia menjadikan wajah Leo mirip dengan Tuan Baya.Itulah ke ahlian Riris,ia memang mahir membuat wajah tiruan.


Setelah semua siap,ia mendudukkan Leo ke atas kursi roda.Lalu mendorongnya keluar.Riris berencana pergi keluar negeri dengan membawa Leo yang sudah dirubah seperti Tuan Baya.


Riris juga sudah mengantongi surat rujukan dari Rumah Sakit untuk pengobatan Tuan Baya ke luar negeri.Ternyata gadis itu sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari.


Ia akan hidup bahagia dengan Leo tanpa rasa takut akan gangguan dari siapapun.Ia akan memiliki Leo sepenuhnya.Gadis itu tersenyum membayangkan semua kebahagiaan yang ia impikan selama ini.Dengan tabungan yang ia miliki dari warisan sang Ayah,Riris akan membuka usaha disana.Dan Leo takkan bisa pergi kemana-mana lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seruni menunggu kedatangan Roy dengan perasaan campur aduk.Beberapa menit yang lalu Roy sudah menghubungi dirinya.Bahwa ruang rahasia itu sudah bisa dibuka.Seruni sangat penasaran dengan endingnya,tapi Roy hanya mengatakan itu saja.Setelah berjanji akan datang Roy langsung mematikan hpnya.


Seruni sesekali melihat ke ujung jalan,siapa tahu Roy sudah datang.Tapi hanya kecewa yang ia dapat,gerak jarum jam terasa lambat baginya.Beberapa kali Seruni menghentakkan kakinya karena kesal.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang,Seruni melihat jam di tangannya.Hampir satu jam Roy baru tiba di kosannya.Padahal jarak tempuhnya tidaklah selama itu.


"Kok lama banget sih Tuan?"Tanya Seruni begitu kesal.Roy tersenyum tipis


"Rindu ya?"Godanya seraya mendekati Seruni .Seruni mendelik kesal,ia merasa dipermainkan oleh mantan anak majikannya itu.


"Leo dan Riris menghilang"Ucap Roy setelah ia duduk di kursi teras kosannya Seruni .


"Apa?!!Lalu Papanya Pak Bos gimana?"Seruni pun duduk bersebelahan.hanya disekat sebuah meja bulat kecil.Roy menggeleng pelan.


"Ia sudah ditemukan tidak bernyawa,dengan luka menganga dilehernya.Sepertinya dia digorok"


Seruni menakup mulutnya.


"Kejam sekali Riris"


"Semua masih diselidiki lebih lanjut.Tim penyidik juga sudah sedang mencari keberadaan Leo dan Riris"


"Entahlah"Roy mengedikkan bahunya"Tapi kalau dari penilaianku secara pribadi itu tidak mungkin.Menurut keterangan Lyli,Riris sangat mencintai Leo.Jadi tidak mungkin Riris akan membunuhnya,kecuali kamu"


"Saya Tuan??"Seruni jadi keheranan.Roy mengiyakan


"Kamu akan dibunuh oleh Riris jika kedapatan Leo kabur.Karena Riris akan mengira Leo akan menemuimu"


Seruni terdiam mematung,antara takut dan khawatir pecah jadi satu.


"Tapi kamu tidak usah takut...kalau kamu nikah sama aku,kamu tidak akan dibunuh oleh Riris"


"Ih Tuan"Seruni memukul pundak Roy dengan kuat.Ia merasa dipermainkan oleh pria itu,Roy mengadu kesakitan sambil mengelus pundaknya.


"Udah ah cepat Tuan pulang,dan istirahat.Pasti Sherly sangat mengkhawatirkan Tuan"Seruni mengalihkan topik pembicaraan.Mendengar nama Sherly, keceriaan yang terpancar dari wajah Roy langsung meredup.


Tapi ia manut juga ,karena ia memang merasa butuh istirahat setelah semalaman begadang di rumah Leo.


"Ya udah aku pulang dulu ya"


Seruni mengangguk,Roy pun berpamitan dan kembali mengendarai mobilnya.


___


Sesampainya di rumah,Roy sudah disuguhkan oleh pemandangan yang membuat matanya sakit.Tak sabar rasanya Roy mengungkapkan semua kebusukan itu,tapi ia harus menahan diri.


Ketika menyadari kedatangan suaminya,Sherly gegas bangun dari pangkuan Rafa.Pria itu kaget mendadak Sherly melepaskan ciumannya.


"Darimana aja Roy?Kamu nggak masuk kantor kan hari ini?"


Pertanyaan istrinya tak diindahkan oleh Roy,ia terus saja melangkah masuk ke dalam,menaiki tangga lalu menutup pintu kamarnya.


Tak disangka Sherly menyusulnya,tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia langsung membuka paksa pintu kamar itu.


"Apa-apaan sih kamu?"Roy langsung naik angin.


"Kamu kemana aja?Kamu pergi dari semalam kan?"Sherly bukan menjawab malah balik bertanya dengan sengit.


"Itu bukan urusanmu"


"Kau suamiku Roy,dan ini rumahku.Jangan seenaknya begitu dong"


Roy langsung terasa hati.


"Ok...aku akan keluar dari rumah ini!!!"Roy langsung meraih koper yang tersusun rapi di atas almari.


"Tidak begitu juga Roy,,,aku hanya ingin tahu kamu pergi kemana?susah sekali kamu menjawabnya"


Roy tak perduli,ia membuka kopernya lalu mengambil baju-bajunya dan diletakkan begitu saja ke dalam koper itu.Sherly mengambil koper itu lalu dilemparkannya ke lantai.Roy terpana melihat sikap kasar Sherly kepadanya.Ia pun lepas kendali dengan menampar istrinya dengan kuat.


Wanita itu terhuyung-huyung ke belakang sampai bersandar ke dinding.Tamparan itu sangat keras sampai telinganya berdengung.


"Kau jangan melampaui batas Sher...aku sudah cukup sabar dengan mu.Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lagi berdiam diri,cepat ajukan surat cerai sebelum ku buat kamu menyesal seumur hidup"


Roy membuka pintu dan menutupnya lagi dengan kuat setelah ia keluar dari kamar itu.Ia meninggalkan Sherly yang masih shock dengan perlakuan kasarnya.Roy tancap gas menuju rumah lamanya yang sekarang di tempati oleh Geysa adiknya.