
Roy membawa istrinya turun dan ia memberikannya segelas air putih,agar Seruni bisa lebih tenang.Ba'im terus saja mengekori orang tuanya.
"Mas..."
"Hem??"
"Kalian dari mana barusan??"Seruni mulai menunjukkan rasa penasarannya.
"Tadi aku terjaga sayang, sepertinya ada yang melempari rumah kita dengan kerikil.Karena penasaran,aku keluar.Eh tahu-tahu Ba'im sudah ada diruang tamu,dia berdiri mematung menatap keluar jendela "
Pandangan Seruni bergulir ke putra sulungnya yang duduk dengan menopangkan dagunya ke meja makan.
"Ba'im ngapain diruang tamu ?"
"Ba'im dipanggil sama temen Bunda..."
"Teman??"Seruni saling bertatapan dengan suaminya.Ba'im mengangguk...
"Dia menyerukan nama Ba'im ,pas Ba'im keluar dia sama Ibunya di luar melambai-lambai ke arah Ba'im "
"Terus?"sambung Roy.
"Ba'im nggak mau, karena Ibunya aneh"
"Aneh??aneh kenapa ?"Timpal Seruni .
"Wajahnya mengerikan Bun..pucat,dan matanya melotot.Ba'im takut...."anak kecil itu bergidik ngeri.
Seruni saling berpandangan dengan sang suami.Mereka saling berpendapat dalam diamnya.
"Terus Bunda kenapa tadi keluar dengan wajah ketakutan ?"Kini Ba'im yang bersuara.
"Iya sayang kamu kenapa?"sambung Roy.
"Emmmm aku...aku juga mendengar suara kerikil berjatuhan di atap rumah.Terus aku bangunin kamu Mas,kamu malah nyenyak sekali tidurnya.Jadi aku memutuskan untuk keluar melihat sendiri,tapi...."Seruni menggantung kalimatnya,ia menatap suaminya.Roy sudah bisa menebak apa selanjutnya yang terjadi, ketiganya saling bertatapan satu sama lain.
"Biar nanti aku konsultasikan masalah ini dengan Ustadz Fajar dan Ustadz Rahmat.Mereka pasti bisa membantu kita"Roy berucap dengan sangat yakin,Seruni tersenyum lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Roy benar-benar menceritakan semuanya kepada dua Ustadz sahabatnya.Berharap mereka bisa membantu mencari jalan keluar dari teror tersebut.
"Menurut pengalaman saya,itu adalah pertanda bahwa keluarga Tuan sedang dalam incaran Teluh"kata Ustadz Fajar.
"Teluh???sejenis apa itu Ustadz ?"Tanya Roy.
"Itu sejenis ilmu hitam yang bisa menjadi penyebab kematian seseorang...nanti malam kita baca ayat kursi lagi..semoga Allah melindungi Tuan dan keluarga semua "Jelas Ustadz Fajar.
"Amiin "Roy mengusap wajahnya selepas mengamini.
___
Di lain tempat,Seruni tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk suaminya.Ia dibantu oleh Mbok Indun,sedangkan Ismail ditemani oleh Ba'im di kamarnya.
"Kak..*****.."ucap Ismail dengan logat bahasa yang belum sempurna.
"Hah??adek mau *****?"tanggap Ba'im . Ismail mengangguk...Ba'im tersenyum,ia bangkit dari duduknya untuk mengambil dot susu yang sudah disediakan oleh ART di atas nakas.
Saat Ba'im mengambil dot susu itulah,lemari kayu yang berdiri tegak bergoyang dan ambruk.Untung Ba'im sigap,tubuh kecilnya itu berlari menyanggah lemari yang beratnya berkali-kali lipat berat orang dewasa.Ia meringis menahan sakit,kakinya terseret mundur secara perlahan.Tapi jika ia lepaskan,nyawa adiknya bisa dalam bahaya.
"BUUNNNDDAAAAAAAA"Ba'im menjerit sekuat tenaga.
"BUUUNNNDDAAAAAA"
"Mbok..itu suara Ba'im ya??"gumam Seruni.
"Saya tidak dengar apa-apa Nyonya "Jawab Mbok Indun seadanya.
"Apakah hanya halusinasi ku??"
Seruni jadi tidak tenang,ia harus memastikan agar bisa lebih yakin.Seruni meninggalkan dapur,Mbok Indun heran tapi juga penasaran.Ia pun mengekori sang majikan.
Sedangkan di dalam kamar,lemari yang ditahan oleh Ba'im terasa semakin berat saja.Tubuh mungil Ba'im tidak mampu menahannya lebih lama lagi,tapi ia tidak putus asa.Ismail yang menatapnya dengan mata polosnya itu tersenyum melihat kakaknya.Mungkin ia berpikir kakaknya sedang bermain.
"Tenang ya dik... insyaallah Allah akan membantu kesusahan kita"
Ba'im berucap dalam...
"Lahawla walaquwata illabilla..."Ba'im menyanggahkan kepalanya karena tangan kecilnya sudah tidak mampu untuk bertahan.
"Astaghfirullah Ba'im ..."Seruni langsung berhambur membantu anaknya.Sedangkan Mbok Indun mengambil Ismail dalam gendongannya.
"Minggir Nak..."Seruni memberikan perintah,Ba'im menurut...ia segera berlari ke tepi.Bersamaan dengan itu,Seruni melepaskan lemari itu hingga ambruk ke lantai.
Seruni memeluk putra sulungnya,ia menangis penuh haru karena usaha Ba'im melindungi adiknya.Padahal ia sebagai orang dewasa saja tidak kuat menahan lemari itu,tapi Ba'im sekuat tenaga menahannya.
"Terimakasih ya sayang..."Seruni menciumi wajah Ba'im berkali-kali.Ba'im tersenyum diwajahnya yang sayu,,,,
"Sayang..."
Tiba-tiba Roy datang melihat kekacauan yang terjadi.
"Ada apa ini ??"
"Mas..."Seruni bangkit,ia berhambur memeluk suaminya.Tangisnya makin pecah dalam pelukan sang suami.
"Kenapa ini Mbok?"Roy semakin bingung.
"Anu Tuan...emmm lemari ini ambruk, hampir mengenai Ismail.Dan Ba'im menahan lemari itu sekuat tenaga sampai kamu datang"Mbok Indun menjelaskan seadanya.
"Apa?".
Seruni semakin menjadi, tubuhnya bergetar hebat.Ia tak kuasa menahan sedih jika sampai terjadi sesuatu kepada dua putranya.Ia sanggup menahan cobaan seperti apapun,tapi jika harus kehilangan Putranya ?? mungkin lebih baik dia memilih mati saja.
"Tenang ya sayang... Alhamdulillah Allah masih melindungi anak-anak kita"
"Mas...ini sudah bukan main-main lagi,kita harus berusaha Mas keluar dari masalah ini.Kalau perlu kita pindah saja,gimana?"
"Tidak sayang...kita akan hadapi ini bersama,kita tidak boleh kalah dengan syetan ataupun iblis "jawab Roy dengan yakin.
"Tapi kalau nyawa anak-anak yang jadi taruhan nya,aku tidak mau Mas ..."Seruni menangis lagi.
"Tidak sayang,,, insya Allah mereka akan baik-baik saja..."
Ba'im memeluk kaki kedua orang tuanya.Seruni jadi terharu,ia membelai pucuk kepala putranya dengan lembut.
___
Malam harinya,Roy dan dua ustadz sahabatnya melakukan zikir lagi.Mereka mengitari rumah Roy sebanyak 41 kali sambil membaca ayat kursi.
Sedangkan Seruni pergi ke asrama putri dengan ditemani Ustadzah Muna untuk menemui Ismi . Kebetulan gadis itu tengah membaca buku di tengah-tengah halaman asrama.Seperti biasa,Ismi memakai baju yang bernuansa hitam.
"Ismi..."Seru Seruni pelan,gadis itu mendongak.Tatapan matanya kosong,ia kembali menunduk melanjutkan bacaannya.
Seruni duduk di samping gadis itu...
"Ismi.. bolehkah ibu bertanya ??"
"Bertanyalah!!"Ucap Ismi tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku yang sedang dibacanya.
"Ismi...jika diajak bicara oleh orang yang lebih tua, jangan acuh begitu.Nggak sopan!!"Hardik Ustadzah Muna.
"Nggak apa-apa Ustadzah,,,dia hanya anak kecil "bela Seruni .
"Tapi kalau tidak diajari sejak dini,makin susah nantinya Nyonya..."sahut Ustadzah Muna.Seruni hanya mengulas senyum...
"Ismi ...Ismi asal orang mana?"tanya Seruni lembut.
"Tidak tahu..."Jawab Ismi cuek.
"Apa Ismi tidak ingat sama sekali ??"
Ismi menggeleng pelan, membuat Seruni dan Ustadzah Muna saling berpandangan.