
Seruni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Uni...itu kamu?"Sebuah seruan membuat Seruni menoleh ke belakang.Gadis itu memicingkan matanya memperjelas penglihatannya dalam samar-samar.
"Kak Mu???"Seruni melihat Muhibbah berjalan ragu-ragu mendekati.
"Alhamdulillah... syukurlah kalau itu kamu Uni"Muhibbah mengelus dadanya dengan perasaan lega.Ia melangkah cepat menghampiri Seruni .
"Kak Mu mau kemana?"Seruni bertanya.
"Mau ke toilet kebelet pipis,Uni sendiri mau kemana?"
"Sama,mau ke toilet"
"Ya udah yuk barengan"
Seruni mengangguk, keduanya berjalan beriringan.Meskipun begitu Muhibbah seperti ketakutan.Ia merapatkan tubuhnya ke Seruni , membuat Seruni merasa sedikit aneh.
"Kita satu kamar mandi aja ya berdua"Tiba-tiba Muhibbah mengajukan sebuah permohonan.
"Aaaaa emmmm baiklah"Seruni menjawab dengan ragu.Muhibbah tersenyum senang,Seruni merasakan tangan Muhibbah gemetar.Apakah ia setakut itu??
___
"Uni nggak takut ya berjalan sendiri tengah malam pergi ke toilet?"Tanya Muhibbah saat ia menunggu Seruni menyelesaikan wudhu'nya.
"Uni udah biasa Kak"Jawab Seruni enteng.Keduanya pun keluar dari toilet bersamaan.
"Udah biasa??? maksudnya??"
"Udah biasa ngeliat yang begituan"
Muhibbah langsung refleks merapatkan badannya.
"Jangan buat aku takut dong Uni ah"kedua mata Muhibbah begitu awas memperhatikan sekeliling.Seruni hanya senyam-senyum.
"Kak Mu bisa ke kamar saya bentar?"
"Mau apa?"
"Ada yang ingin saya tanyakan"
Muhibbah terlihat ragu-ragu,tapi akhirnya ia mengangguk setuju.
Usai sholat Sunnah,Seruni langsung duduk di bibir kasur berhadapan dengan Muhibbah.
"Kak Mu...Apakah disini pernah terjadi kejadian ganjil atau gimana gitu?Saya sangat penasaran karena Kak Mu terlihat ketakutan sekali sampai gemetaran"Seruni memang tidak suka mengira-ngira ,ia lebih suka langsung bertanya.
Muhibbah terlihat ketakutan ,ia memeriksa keluar jendela khawatir takut ada orang lain selain mereka.Seruni diam saja menunggu dengan sabar jawaban dari Muhibbah.
"Apa tadi kamu tidak melihat sesuatu?"tanya Muhibbah.Seruni berbohong dengan memberi jawaban gelengan kepala.
"Tempat ini sudah menjadi anker saat banyak anak-anak yang hilang tanpa jejak,sejak saat itu banyak diantara mereka yang kesurupan.Anehnya yang hilang rata-rata para gadis-gadis.Aku sendiri sekarang sangat takut keluar malam,sudah beberapa kali aku melihat penampakan mereka"
Seruni manggut-manggut pelan,ia teringat akan peringatan yang diberikan oleh mereka untuk tidak mudah percaya kepada orang-orang disini.
"Uni..."
"Ya Kak"Seruni segera tersadar dari lamunannya.
"Aku boleh tidur sama kamu nggak?"
"Boleh Kak Mu"Jawab Seruni tanpa rasa keberatan sama sekali.
"Setiap malam?"
"Setiap malam?? emangnya kenapa Kak Mu?"
"Aku penakut orangnya Uni...sejak banyak teror,aku selalu mengkonsumsi obat tidur biar bisa tidur"
"Ya sudah nggak apa-apa"
"Beneran ya??"Muhibbah begitu sumringah.Seruni mengangguk yakin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas sholat subuh,Seruni membantu Muhibbah menyiapkan makan pagi untuk para anak panti.Ada juga beberapa anak panti yang terbilang sudah dewasa turut membantu Muhibbah.
Mereka semua sangat cekatan dan gesit menata piring dan menyendok nasi serta lauk yang seadanya.Seruni sangat bersemangat sekali, suasana ini sangat menyenangkan baginya.
Disaat ia tengah sibuk bekerja, ponselnya berdering.Ia menyimpan benda pipih itu di kantong celemek yang dipakainya.
Seruni mengelap kedua telapak tangannya lalu merogoh ponselnya yang tak berhenti berdering.
"Wa'alaikum salam sayang....lagi apa nih?"Balas Roy begitu mesrah.
"Lagi sibuk nyiapin makanan anak-anak Tuan"
"Waah jadi iri,aku sendiri nggak ada yang nyiapin makanan buatku"
"Loh emang dua pembantu Tuan kemana?"
"Sejak Mama meninggal mereka diberhentikan sama Geysa,yah hitung-hitung hemat pengeluaran.Hanya Siti aja yang datang 3kali seminggu untuk bersih-bersih dan mencuci baju kotor Geysa"
"Ohhhh begitu"Seruni mengangguk mengerti.
"Sayang, akhirnya Sherly hari ini akan mengajukan surat permohonan perceraian.Jadi kemungkinan urusan ku disini akan lebih cepat siap"
Seruni tersenyum lebar.
"Tunggu aku yah disana,aku kangen banget sama kamu"
Sekali lagi Seruni hanya tersenyum
"Kok diem aja sih???Kamu nggak suka ya denger kabar ini?"
"Cepet datang ya Tuan... Assalamualaikum"Seruni memutuskan talian secara sepihak.Ia jadi malu sendiri mengatakan hal itu kepada Roy.Semua orang yang berada di dapur termasuk Kak Mu juga ikut senyam-senyum mendengar obrolan Seruni dan Roy.
"Kok sama tunangan manggilnya Tuan sih??"Tegur Muhibbah.
"Udah kebiasaan Kak Mu,kan dulu Uni adalah pembantu disana"
"Ohhh begitu,jadi ceritanya majikan jatuh cinta sama pembantu nih"Goda Muhibbah.Seruni tersenyum malu.
___
Roy senyum-senyum sendiri sambil memutar-mutar benda pipih dan canggih itu disela jemarinya.Kini Seruni sudah tidak dingin lagi terhadapnya.Dan impiannya untuk menikah dengan gadis itu akan segera tercapai.
Tok tok tok tok CEKLEK
Belum sempat Roy bersuara pintu sudah terbuka.Kepala Geysa menyembul dari balik daun pintu yang tidak terbuka sepenuhnya.
"Ada Papanya Sherly"Ucap Geysa.
"Hah?"Gegas Roy turun dari tempat tidurnya.Ia hanya memakai piyama Keluar untuk menemui Tuan Hendrie.
Benar saja,Tuan Hendrie sudah duduk dengan menyilangkan kakinya di atas sofa menunggu kedatangan Roy.
"Papa..."Seru Roy berjalan mendekati.Ia tetap santun menyalami Tuan Hendrie.
"Aku dengar Sherly akan menuntut cerai,kenapa??Apa kalian ada masalah?Bukankah sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ayah Roy,kenapa kalian begitu ego?"
Tuan Hendrie tanpa basa-basi langsung mengungkapkan niat kedatangannya ke rumah sang menantu.
"Maafkan Roy Pa..."Roy menundukkan wajahnya.
"Papa kesini bukan untuk mendengar ucapan maafmu Roy.Papa ingin kamu kembali bersama dengan Sherly"
"Roy tidak bisa Pa"
"Kenapa??Apa yang membuatmu sampai tidak mempertimbangkan calon anakmu?Calon pewarisku??"
"Mungkin ini jalan yang terbaik Pa untuk kami berdua"
"Terbaik buat kalian,,apa itu juga terbaik untuk cucuku?"
Roy tersenyum getir.Andai itu anaknya?mungkin akan lain ceritanya.Tapi Roy tidak mampu untuk jujur,karena perjanjian yang ia tawarkan kepada Sherly harus ia tepati.
"Roy...aku sangat mengandalkan mu,aku sangat mempercayai mu.Aku merasa beruntung sekali mendapatkan menantu seperti dirimu"
"Beda dengan suami Dea,dia tidak punya potensi apa-apa.Jadi tolong ... pertimbangkan permintaan ku Roy"
"Maafkan Roy Pa... keputusan kami sudah finis"Roy tetap teguh meskipun hatinya sedikit tergerak untuk mengasihani Tuan Hendrie.
"Apa kamu lupa dengan hutang piutang Papamu?"Tuan Hendrie mulai mengungkit.
"Sherly sudah menganggapnya lunas karena bayi itu Pa"Jawab Roy tegas.
Tuan Hendrie mengusap wajahnya dengan kasar,ia terlihat frustasi.
"Jadi memang sudah tidak bisa dipertimbangkan lagi?"
Roy menjawab dengan gelengan kepala.Setelah menghela nafas panjang,Tuan Hendrie bangkit dari duduknya.
"Baiklah... terserah kalian"Ketusnya seraya melangkah pergi.Roy hanya bisa diam,ia tidak ingin menciptakan masalah baru dengan keluarga Sherly.Ia benar-benar ingin lepas dari ikatan keluarga itu.