SERUNI

SERUNI
BAB 69 Nadila Ernesta



Rasa penasaran membuat Seruni memutuskan untuk pergi ke kawasan hutan karet dibelakang yayasan.Ia pergi sesaat setelah para anak-anak Yatim makan pagi.


Seruni melangkah dengan hati-hati,daun-daun kering bersepah dimana-mana.Injakan kaki Seruni membuat suasana yang sepi jadi berisik.Pandangan mata Seruni menyapu ke sekitar,entah berapa hektar lahan kebun karet ini.Seruni tak menemukan apapun kecuali pohon karet yang tinggi menjulang.


Meskipun matahari sudah naik sepenggalah,namun karena rindangnya daun pohon karet membuat suasana masih temaram.Seruni sudah putus asa,ia ingin berbalik kembali ke yayasan.Namun bayangan sosok tak kasat mata menghentikan langkahnya.


Seruni menatap lekat sosok itu,tangannya terangkat menunjuk ke suatu tempat.Seruni pun mengurungkan niatnya untuk kembali,ia berjalan ke arah yang ditunjuk oleh makhluk tersebut.


Langkah kakinya semakin membawanya masuk kedalam hutan karet,semakin dalam semakin gelap.Seruni melihat semakin banyak makhluk itu bermunculan.Ia seperti dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata yang rata-rata anak gadis itu.


Mereka menatap Seruni datar, tanpa ekspresi.Seruni merasa kepalanya seperti berputar,ia hampir saja roboh kalau tidak ada seseorang yang menangkap tubuhnya.


Seruni tersentap,ia melihat Ustadz Mukhlis tengah menahan tubuhnya yang hampir ambruk.Gadis itu segera bangkit dan mengambil jarak.


"Ma-maaf Ustadz"Seruni jadi gugup dan serba salah.


"Neng ngapain disini?"Tanya Ustadz Mukhlis lembut.


"Aaa...emmm saya sumpek Ustadz,jadi pengen jalan-jalan.Eh kok malah jadi pening,sakit kepala saya"Seruni memicit keningnya.


"Ohhh begitu,,,mau lanjut jalan-jalan atau Neng mau kembali?Kalau mau lanjut saya temenin... sesudah kebun karet ini ada pematangan sawah yang dikelilingi air sungai yang jernih.Itu semua lahan milik yayasan ini, pemandangan nya sangat indah sekali Neng"


Seruni terdiam, ia merasa masih penasaran.Tapi rasa pusing di kepalanya masih berdenyut.


"Lain kali saja ustadz,saya pusing"Seruni menolak dengan cara halus.


"Baiklah,mari Neng..."Ustadz Mukhlis menghaturkan agar Seruni berjalan lebih dulu.Seruni mengangguk,ia pun berjalan didepan Ustadz Mukhlis.Pria itu melirik tajam ke arah tanah yang lapang, bibirnya terangkat sebelah.Lalu ia menyusul langkah gadis di depannya.


"Neng betah nggak disini?"Tanya Ustadz Mukhlis.Seruni menoleh dengan senyuman,ia memperlambat langkahnya agar bisa sejajar dengan pria itu.Rasanya segan pula jika ia berjalan didepan.Serasa diperhatikan setiap gerak-geriknya.


"Alhamdulillah betah Ustadz... suasananya sangat nyaman dan jauh dari keramaian kota"


"Apakah nanti Neng setelah menikah dengan Tuan Muda akan tinggal disini?"


"Emmmmm rasanya iya,soalnya Tuan Muda bilang akan menetap disini mengurus Yayasan"Jawab Seruni . Ustadz Mukhlis mengangguk mengerti.


Ustadz Mukhlis bergerak cepat membukakan pintu gerbang belakang yayasan.Seruni pun masuk setelah mengucapkan terima kasih.


Saat baru saja keduanya masuk, tiba-tiba Muhibbah sudah berdiri di depan mereka dengan pandangan tajam.


"Eh Kak Mu"Seruni agak kaget juga melihat Muhibbah disitu.Muhibbah diam tak menggubris,tapi dari sorot matanya ia seperti tidak suka melihat Seruni bersama tunangannya.Seruni jadi tak enak hati,ia bergulir menatap Ustadz Mukhlis agar melakukan pembelaan.Namun pria itu justru hanya tersenyum hangat padanya.


"Emmm kami tidak sengaja bertemu Kak Mu"Akhirnya Seruni yang menjelaskan.


"Aku tidak bertanya"Ketus Muhibbah.Seruni semakin canggung,tapi Ustadz Mukhlis terlihat santai.Pria itu tetap tersenyum manis menatap Seruni .


"Kenapa nih orang?? senyum senyum saja dari tadi??Nggak tahu orang takut apa??pasti Kak mu sudah berpikir negatif nih"Ucap Seruni dalam hati.


Tiba-tiba Muhibbah menarik tangan Seruni dengan kasar.Ia membawa Seruni masuk ke dalam kamar pribadinya.Muhibbah mendorong tubuh Seruni sampai tersandar ke dinding.Seruni merasakan punggungnya berjedug disebabkan terhantam dinding.


"Kamu menyukai Mukhlis?"Tanya Muhibbah kasar.


"Lalu kenapa kamu jalan-jalan sama dia?ke tempat sepi pula?? Ngapain kamu di hutan Karet?? bercumbu dengan dia?"


"Astaghfirullah Kak Mu...tega Kak Mu menuduhku begitu??"Seruni terpana mendengar ucapan Muhibbah kepadanya.Muhibbah tersenyum kecut,ia seolah tidak percaya dengan Seruni .


"Sekali lagi aku menemuimu bersama dengan Mukhlis berduaan,akan ku pastikan Tuan Muda akan tahu hal ini"Muhibbah mengancam dengan tegas.Ia kemudian keluar dari kamar Seruni dan membanting pintu kamar tersebut.


Seruni benar-benar tak menyangka akan begini reaksi Muhibbah kepadanya.Hanya karena ia berjalan bersama Mukhlis,padahal ia benar-benar tidak punya niatan apapun.


___


Siang harinya,Seruni jadi malas untuk membantu Muhibbah di dapur.Ia memilih menjauhkan diri dari perempuan itu.


Ia berniat untuk pergi menemui Bapaknya yang tinggal di rumah besar samping Yayasan.Yang konon adalah tempat tinggal Ny Desi.


Namun dihalaman Musholla ia bertemu dengan Ustadzah Muna, wanita yang sudah berumur itu melambaikan tangan ke arah Seruni .Gadis itu pun mendekat menyambut panggilan dari sang senior.


"Assalamualaikum Ustadzah"Sapa Seruni .


"Wa'alaikum salam"Jawab Ustadzah Muna santun"Mari duduk sini"Ustadzah Muna menepuk kursi disebelahnya.Seruni mengangguk disertai senyuman,kemudian ia duduk disamping sang Senior.


Ternyata Ustadzah Muna tengah menunggu anak-anak yang kena hukuman lari mengitari lapangan.Entah dihukum sebab apa? yang jelas anak-anak itu bukannya sedih ,tapi berlari-lari sambil tertawa senang.


"Seruni mau kemana?"


"Saya hendak menemui Bapak di rumah itu Ustadzah"Seruni menjawab sambil menuding ke tempat rumah itu terpacak.


"Ohhh,nanti Seruni kalau sudah menikah pasti akan tinggal disana"


Seruni tersenyum.


"Semua keluarga Ny Desi sangat baik hati,termasuk Tuan Muda.Sifatnya persis seperti Ibunya.Seruni sangat beruntung bisa menikah dengannya.Dulu waktu masih ada Nyonya,beliau ingin menjodohkan Tuan Muda dengan anakku.Tapi sayang,,,anakku tidak berumur panjang.Ia meninggal saat usianya masih belia"


Seruni melihat tatapan kesedihan Dimata tua Ustadzah Muna.


"Meninggal karena apa Ustadzah kalau boleh saya tahu?"Seruni begitu penasaran.Ustadzah Muna tidak segera menjawab,ada bendungan air menggenang disudut matanya.Tatapannya lurus ke depan.


"Kepalanya terpenggal,jasadnya ditemukan di sungai dibelakang hutan.Dan yang lebih membuatku sakit,,,dia diperkosa secara brutal"


Seruni menakup mulutnya,jadi sosok perempuan yang kepalanya tanggal adalah anak Ustadzah Muna???


"A-apa Ustadzah tidak melaporkannya ke polisi?"


"Sudah...tapi jejaknya terhapus karena mayat anakku terendam air.Spermanya pun sudah tidak ada,dan sampai detik ini aku yakin pembunuh anakku ada disini.Masih hidup dan melenggang bebas"


Seruni terdiam,lagi-lagi ia mengingat ucapan para makhluk itu agar tidak percaya dengan siapapun disini.


"Kalau boleh tahu siapa nama anak Ustadzah?"Tanya Seruni .


"Namanya ILa...Nama panjangnya Nadila Ernesta"