
"Dok.."
Excel mendongak, suster yang menjadi asistennya itu mendekati meja kerjanya.
"Maaf jika saya lancang atau ikut campur dalam hal ini...tapi saya cuma ingin ngasih tahu saja Dok"
"Iya.. katakanlah.."
"Jangan dekat-dekat dengan Dokter Syahrul ,saya punya filing tidak enak dengan dia"
Excel tergelak..
"Suster Anna ,,, terimakasih atas amarannya,tapi suster tidak perlu khawatir.Saya merasa sudah kayak mati rasa sama laki-laki "
"Ohya??"suster Anna tersenyum tenang"Syukurlah Dok...saya takut Dokter Syahrul akan mengambil kesempatan kepada Dokter Okta"
Excel tersenyum tipis.
"Karena saya beberapa kali mergokin Dokter Syahrul mesrah dengan suster Rani.Dan dulu juga mesrah dengan beberapa suster lainnya,dia kan cerai karena ketahuan selingkuh sama istrinya "
Excel manggut-manggut menanggapi gosip yang sama sekali tak ingin dia tahu.Tapi demi menghargai jadi dia dengarkan saja.
"Ngomong-ngomong kenapa Dokter Okta mati rasa dengan laki-laki ??Apa Dokter punya pengalaman pahit dengan laki-laki ??"
"Emmm bisa dibilang begitu,,,"Excel menjawab dengan singkat.
___
Ba'im kaget melihat kedatangan Ismail ke tempat dia mengajar.
"Tumben datang ke sini?? apa ada masalah ??kamu kan bisa telfon, tidak perlu repot-repot datang sampai ke tempat ini"
"Aku penasaran sama anak kecil yang kakak maksud tadi malam. Aku cuma ingin memastikan Dia anak Kakak atau bukan?"
"Emang kamu bisa??"Ba'im menautkan kedua alisnya.
"Yah lihat saja nanti "
Ba'im terdiam,
"Baiklah...ini masih jam 9..yuk..."Ba'im mengajak Ismail keluar dari ruangannya untuk mencari keberadaan Reyhan .
"Hari ini kakak tidak ada jadwal mengajar di kelasnya, jadi tadi Kakak belum sempat ketemu dia. Tapi pasti dia ada di sekitar sini"
Ba'im mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman bermain.
"Itu dia"Ba'im menunjuk ke satu titik,ia pun melangkah diikuti oleh adiknya.
Reyhan yang sedang duduk sendiri di bawah pohon sambil membaca buku, agak kaget melihat dua orang yang salah satu diantaranya dikenal sebagai gurunya menghampiri.
"Hay..."sapa Ba'im ,Reyhan menjawabnya dengan seulas senyum. Ia menutup buku yang baru saja ia baca.
Ba'im dan Ismail duduk mengapit bocah itu.
"Lagi apa ???kok nggak main sama temen-temennya??"tanya Ba'im lembut.
"Belajar Ustadz.."
"Belajar ?? belajar apa?"
Reyhan menunjukkan buku yang ia baca, ternyata itu iqra.
"Reyhan nggak suka dibilang bodoh,jadi Reyhan belajar sendiri biar cepat bisa baca ini.Tapi tadi Ustadz tidak hadir di kelas "
"Iya... Ustadz mengajar di kelas lain"
"Ohh gitu..."
Ismail dan Ba'im saling berpandangan satu sama lain.
"Emmm Reyhan ..."
Reyhan beralih menatap Ismail .
"Kenapa Reyhan baru masuk sekolah baru-baru ini? Apa kamu murid pindahan atau emang baru mau sekolah?"
Reyhan tidak segera menjawab,ia menatap Ba'im seperti bertanya siapa orang itu ??.
"Emmm dia adik Ustadz"akhirnya Ba'im memperkenalkan Ismail .Reyhan manggut-manggut.
"Rey pindah Om dari Jepang"
Kedua kakak beradik itu terbelalak lebar.
"Reyhan suka baca ,semua buku yang Bunda simpan Reyhan baca.Ada satu buku yang tidak bisa Reyhan baca,katanya itu bahasa Arab.Karena itu Rey sekolah disini karena ada pelajaran Bahasa Arabnya"
"Sebenarnya Bunda bisa aja ngajarin Reyhan, Tapi Bunda sekarang sibuk.Dia udah jadi Dokter, pulang pun sering malam.Nggak kayak dulu waktu masih Bunda sekolah"
"Si-si-siapa nama Bunda kamu"gemetar suara Ba'im bertanya kepada anak itu.Reyhan menautkan kedua alisnya..
"Siapa ya???Datuk sering memanggil Bunda dengan panggilan EX"
Ba'im seperti terkena asma,dadanya sesak sekali.
"Excel ???"
Reyhan mengerutkan keningnya, kemudian menggeleng pelan.
"Rey nggak tahu Ustadz"
Ba'im mencengkram dadanya sendiri,ia merasakan gejolak yang tak tertahankan.
"Tenang kak kita akan cari tahu siapa ibunda yang anak ini maksud"Ismail berusaha menenangkan Kakaknya.
"Reyhan... bisakah kamu ikut Reyhan pulang nanti ??"sambung Ismail . Reyhan bergantian menatap guru dan adik gurunya itu.Ia pun menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Keduanya saling berpandangan dengan alis bertaut.
"Kenapa -?"
"Kami ingin kenal dengan Bunda kamu"
Reyhan diam.
"Anak ini sangat cerdas,dia sangat berhati-hati dalam menjawab "Ismail bergumam dalam hati.
"Maaf Om...maaf ustadz,Reyhan belum dapat ijin dari Bunda"
"Ohh kami hanya ingin kenal saja, tidak lebih"
Reyhan tetap menggeleng.
"Bunda tidak suka jika berkenalan dengan orang yang tidak penting "
"Tapi aku gurumu "
Reyhan tersenyum.
"Ustadz bukan wali kelas ku"
Ismail bangkit,ia mengajak Ba'im untuk mengikutinya.
"Kak...anak ini seperti dilatih untuk itu,dia sangat berhati-hati sekali.Pikirannya luas dan teliti.Bagaimana kalau kita mengekori dia nanti ??"
Ba'im mengangguk setuju.Ia memang sedikit heran,anak sekecil Reyhan tidak sembarangan menjawab jika ditanya orang.Dan yang lebih mencengangkan,saat ini Kujang terlihat duduk di sisi Reyhan .Anak itu hanya senyam-senyum menatap Kujang.Sesekali Kujang akan menggosok-gosokan kepalanya ke pangkuan Reyhan.
"Kenapa mereka terlihat sangat akrab??"pikir Ba'im .
____
Untuk jadwal mengajar selanjutnya,Ba'im memilih absen karena ingin mengikuti Reyhan bersama dengan Ismail .
Tapi yang mencengangkan,Reyhan ternyata masuk ke rumah sederhana saja.Dan Ismail sendiri yakin itu bukan rumah Excel , karena dulu dia pernah sekali berkunjung untuk mencari Excel .
"Loh??kok malah dia masuk ke situ??"tanya Ba'im .
"Ini pasti ada yang salah"
"Katanya kamu pernah datang ke rumah Excel kan??kamu pasti ingat dimana alamatnya?"
"Aku lupa kak,waktu itu aku mencari alamat rumahnya di bagian informasi data santri.Tapi aku yakin ini bukan rumahnya, rumah Excel besar berlantai dua "
"Terus kita harus gimana sekarang ??"
"Kakak harus mancing anak itu, deketin dia... setidaknya Kakak bisa tahu dimana sekarang ibunya bekerja sebagai Dokter "
"Begitu??"
Ismail mengangguk.
"Baiklah..."Ba'im setuju dengan usulan dari adiknya.
___
Untuk hari ini,Excel pulang lebih awal karena tidak begitu banyak kerjaan.Reyhan sangat senang sekali,ia pun bercerita banyak di sepanjang perjalanan.
"Bun...tadi Ustadznya Reyhan membawa adiknya menemui Reyhan .Dia nanyak-nanyak tentang masalah pribadi, termasuk tentang Bunda"
"Benarkah ??"mendadak perasaan Excel jadi tak tenang.
"Terus Reyhan jawab apa ?"
Reyhan menggeleng...
"Seperti pesan Bunda kita harus berhati-hati dalam menjawab"
Excel tersenyum, namun ia tidak bisa berbohong Jika ia sekarang mulai khawatir. Tapi apa mungkin itu adalah Ba'im , kalau memang iya? Kenapa dia bisa mengajar di tempat itu? apa terjadi sesuatu dengan yayasan? Lalu kenapa dia bisa penasaran dengan Reyhan?
"Rey... Apakah kamu pernah bilang tentang kamu dari mana atau apa gitu kepada ustadz kamu??"
"Iya Bun Rey bilang kalau Rey pindahan dari Jepang, dan sekarang ibunda Rey adalah seorang dokter itu aja"
Excel diam menganyam praduga dalam otaknya.
Ba'im dulu hanya tahu jika Excel akan menjadi dokter, tapi dia tidak pernah bilang kalau dia akan melanjutkan ke Jepang. Karena saat Excel menikah dengan Ba'im, Excel tidak punya keinginan untuk kuliah terlalu jauh sehingga membuat dia berjauhan dengan suaminya. Jadi memang dia tidak pernah mengutarakan hasratnya dulu ingin kuliah di Jepang.
Kecuali Ba'im mencari tahu ke mana dia pergi. Tapi yang tahu Excel pergi ke Jepang hanya Papanya dan juga Om Dirga. Jika Om Dirga yang mengatakannya, dia pasti diberi tahu olehnya. Tapi kalau Papanya yang ngasih tahu??
Segera Excel mengambil ponsel yang terletak di sampingnya. Ia menggunakan handset agar mudah dalam melakukan panggilan.
"Hallo pa..."
"Iya Ex.."
"Apa Papa pernah bertemu dengan Ba'im sebelum Papa berangkat ke Jepang?"
"Kenapa ??"
"Jawab saja Pa please"
"Iya... ketika aku menerima ijazah kamu, dia datang menemui papa"
"Lalu Papa bilang kalau Excel pergi ke Jepang?"
"Iya .."
Excel menghela nafas besar, sampai kedua pipinya mengembung.
"Baiklah Pa...bay"Excel memutuskan talian secara sepihak.
"Kenapa Bun??"Tanya Reyhan yang melihat kegusaran di wajah ibunya.
"Rey... bisakah Reyhan mulai besok tidak usah sekolah lagi. Bunda akan mencari guru privat untuk Reyhan"
Reyhan terdiam agak lama,tapi kemudian ia pun setuju.
"Terimakasih sayang..."Excel mengusap pipi anaknya dengan tangan kiri.Sedangkan tangan kanannya sibuk menyetir.