
Emil turun dari mobil mewah yang ditumpangi.Beberapa orang diantaranya langsung mengiringi langkahnya.Emil agak kikuk,tapi ia berusaha membawa diri dengan baik.
Baru saja ia mengetuk pintu rumah, Keluarganya langsung datang menyambut.
"Mil...ada apa ini?"tanya Bapaknya.
"Iya Mil...kenapa kita dijaga ketat?"sambung Ibunya.Emil tidak segera menjawab,ia masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu rapat-rapat.Sebelum itu ia menengok ke luar jendela,para bodyguard itu berjaga dengan ketat lengkap dengan persenjataannya.
"Siapa Yas sebenarnya??"
"Mil..."
Tepukan di pundak mengagetkan Emil dari pikirannya.
"Iya Ma..."
"Kamu belum menjawab pertanyaan kami"
"Ahhh"Emil menggaruk pelipisnya"Emil juga kurang mengerti Ma,tapi yang jelas ini demi kebaikan kita semua"
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian teman kamu Rifka itu?"tanya Bapaknya Emil.
"Dari mana Papa tahu tentang Rifka ??"Emil kaget Ayahnya tahu tentang masalah Rifka.Padahal ia tidak pernah cerita apa-apa.
"Jadi benar ??"Ayahnya semakin yakin.Emil tidak menjawab.
"Dulu Papa kecewa padamu, karena ternyata Kamu memilih untuk bungkam atas kasus Rifka.Jika itu terjadi padamu,apa kamu bisa setegar dia?"
"Pa...aku tidak mau Papa bernasib sama seperti keluarga Rifka"pekik Emil
"Nak ..kita mati membela kebenaran tidak akan rugi.Nyawa hanya sebuah waktu yang akan hilang dengan caranya sendiri.Tapi membela kebenaran?,itu hanya sekali seumur hidup"
"Kau beruntung bisa mendapatkan kesempatan kedua,siapa mereka ??kenapa mereka melindungi kita?"
"Emil juga tidak tahu Pa,tapi yang jelas pria ini punya kekuatan melebihi musuh kita"
Semua keluarganya saling berpandangan satu sama lain
*
"Apa?"Ayah Lucas terperanjat dengan kabar yang disampaikan oleh anak buahnya melalui via telepon.
"Rumah anak itu dijaga ketat ??siapa mereka ?? polisi kah?"
"Sepertinya bukan Bos..mereka seperti Intel terlatih"
Ayah Lucas terdiam,ia memainkan pena di sela jemarinya.
"Baiklah... Selidiki siapa anak muda yang Lucas maksud itu.Pasti dia punya pengaruh khusus di kota ini.Aku tidak percaya jika ada orang yang berpengaruh melebihi diriku tanpa aku ketahui "
"Baik Bos..."
"Aku tunggu secepatnya "
"Baik!!!"
Ayah Lucas menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya.Ia berpikir keras siapakah lawannya saat ini.
*
Yas melangkah perlahan dijalan TPU,ia mencari makam orang tua Rifka.Ada rasa sakit mendera didadanya saat ia sudah tahu bagaimana kematian tragis menimpa mereka?
Namun Yas justru bertemu dengan gadis yang di Rumah Sakit kemarin.Gadis itu menangis sesenggukan didepan gundukan tanah yang masih basah.Sepertinya sang Ibu tidak bisa diselamatkan.
Yas terpaku diam menatap gadis itu.Hatinya memang dingin,namun jika untuk seorang Ibu.Dia langsung menjadi hello Kitty.
"Bangkitlah...tegakkan punggung mu,dongakkan wajahmu"
Nikta mendongak,ia menyeka air matanya lalu bangkit.
"Kau siapa?"
"Tidak penting kamu tahu aku siapa ?"jawab Yas datar.Nikta tersenyum kecut..
"Kau mengenalku ??atau kau antek Tante Tamara?"
"Aku tidak tahu siapa dirimu atau pun nama perempuan yang kau sebut"
"Kalau kau tidak tahu siapa aku?jangan sok bijak dihadapan ku"
"Apa ada yang salah dengan ucapan ku?"
"Kau tidak menyadari apa kesalahan mu???hah??"
Yas diam !
"Kau terlalu ikut campur urusan orang!!!mengenalku saja tidak, sok-sokan nasehatin aku!!Kamu tidak tahu kan gimana perasaan kamu jika ada diposisi aku?tidak kan?!!"
"Dari penampilan mu saja,kau seperti anak orang kaya yang manja,yang butuh apapun tinggal menadah.Hah!!! sok-sokan nasehatin aku?"
Yas diam seribu bahasa,ia tidak menyanggah ucapan pedas gadis tersebut.
"Kau juga tidak mengenal ku Nona,dan kau hanya menilai ku dari penampilan ku saja.Kau tidak tahu seberat apa hidup yang ku lalui sehingga bisa mengatakan kalimat itu padamu.Jika aku tidak pernah merasakan keterpurukan,pasti aku akan menilaimu sebagai gadis cengeng yang meratapi sebuah kuburan"Ucap Yas kemudian,ia pun pergi tanpa berkata apapun lagi.
Nicta tercengang,,, Menatap punggung pria yang meninggalkannya begitu saja.
*
Makan Orang tua Rifka beserta adiknya sudah Yas temukan.Ia duduk diantara celah jarak kubur satu dengan yang lainnya.Lalu membaca doa disana.
Saat Yas mengusap wajahnya perlahan disertai akhir dari bacaan doanya.Terlihat sepasang kaki berdiri di depannya.Yas mendongak.
Rupanya Rifka yang berdiri di sana,Yas segera bangkit dan mensejajari kaki lawan bicaranya.
"Untuk apa kamu datang kemari ?"tanya Rifka tanpa sedikitpun menatap Yas disampingnya.
"Untuk mendoakan orang tua mu"
"Tidak usah repot-repot..."Kedua bola mata yang sudah berbeda itu bergulir menatap Yas.
"Kau tidak perlu mengambil hatiku dengan cara murahan seperti ini"
"Untuk apa aku mengambil hatimu?kau bukan musuhku?"Balas Yas.
"Tapi kamu sudah berani ikut campur urusan ku dengan Gabriel "
"Apa yang kamu lakukan ini salah?"
Rifka menarik sudut bibirnya,
"Salah??lalu apa yang mereka lakukan padaku itu benar ?"
"Jika kamu begini,kamu tidak ada bedanya dengan mereka.Kalian sama saja meskipun caranya berbeda "
"Kau memang sok bijak!!benar apa yang dikatakan gadis itu tadi?"
"Aku akan menghukum mereka dengan hukuman yang setimpal "Yas mengkuotakan janji.
"Hukuman yang setimpal adalah kematian mereka "Tegas Rifka.
"Kematian terlalu mudah untuk mereka"
Rifka langsung menoleh...
"Kau mempunyai rencana ?"
Yas melawan tatapan penuh tanda tanya itu.
"Tidak ada ..tapi akan ku pastikan mereka akan merasakan akibat dari perbuatan mereka sebelum mereka mati"
Rifka terdiam...
"Sekarang... beristirahat lah dengan tenang"sambung Yas lagi.
"Aku tidak bisa...Tapi terimakasih,kita tidak saling mengenal.Tapi hanya kamu yang mau memperjuangkan kebenaran untuk ku"
"Kenapa kamu bilang tidak bisa ?"
"Aku sudah melakukan perjanjian dengan syetan,asal aku bisa balas dendam ?aku siap menukar jiwaku"
"Kenapa kamu tidak berpikir akibatnya ?"potong Yas cepat,ia menyesali sikap yang diambil oleh Rifka.
"Apakah seorang wanita yang kehilangan keluarganya di Depan matanya sendiri dengan cara keji?bisa memikirkan hal lain?"
Yas tercekat, tenggorokannya terasa sangat kering.
"Aku didukung ayahku saja,kami tidak mampu melawan mereka.Apalagi aku sendiri?hanya ini satu-satunya jalan untuk melenyapkan mereka "
Yas diam terpaku...
"Tolong sampai disini saja usahamu,sisanya serahkan padaku"
"Apakah nenek itu yang membantu mu?"
Rifka tertunduk,ia mengangguk perlahan.
"Kalau kamu meneruskan perjanjian ini,kau tidak akan bisa berkumpul bersama keluarga mu di Akhirat"
"Aku tidak bisa mundur lagi"jawab Rifka.
KHEM
Terdengar suara orang berdehem..Keduanya menoleh hampir bersamaan.Terlihat Nenek itu berdiri menatap ke arah mereka.
"Aku harus kembali "Rifka mengucapkan salam perpisahan.
"Sekali lagi Terimakasih "
Yas sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.Memang jika perjanjian dengan syetan tidak akan mudah dipatahkan.Apalagi dengan menumbalkan jiwa.