SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 78



Yas memasukkan ponselnya kedalam sakunya setelah menerima notifikasi pesan dari Lucas.Ia bergegas keluar dari rumah sakit itu.Tapi di pintu masuk,Yas berpapasan dengan pemandangan yang menyentuh hatinya.


"Ma...Mama.. bertahan ya Ma,Mama harus kuat..Mama jangan tinggalin Nicta..Mama harus kuat"Seorang gadis dengan penampilan penuh dengan darah terus mengikuti kereta dorong yang membawa Ibunya.Ia menggenggam tangan Sang Ibu dengan erat.Yas melihat Ibunya tetap tersenyum menanggapi rentetan kalimat putrinya yang penuh ketakutan.


Sepertinya mereka mengalami kecelakaan, sebenarnya keadaan putrinya juga tidak baik-baik saja.Namun demi sang Ibu,gadis itu terlihat berusaha baik-baik saja.


Yas ingin pergi setelah mereka sudah tak terlihat di tikungan koridor Rumah sakit.Namun hatinya seperti tak rela tanpa melakukan apapun.


Akhirnya Yas mengurungkan niatnya,ia kembali masuk mengikuti arah perginya rombongan si gadis.


*


Nicta menunggu di luar ruangan yang bertuliskan UGD dengan huruf besar.Ia sangat takut Ibunya kenapa-napa.


Pada saat itu dua pria menghampiri dengan pakaian dinas rapi.Jas hitam dengan celana warna senada.Mereka memberikan hormat kepada Nicta,namun Nicta justru membuang muka.


"Nona...kami diperintahkan untuk menjaga anda"


"Tidak usah,aku tidak butuh semua itu.Aku hanya butuh Ibuku"Tegas Nicta.Kedua bodyguard itu tak dapat mengatakan apapun.


"Katakan kepada mereka,aku sama sekali tak pernah mengharapkan apapun dari warisan Papa.Bukankah semua berkas itu sudah aku tanda tangani.Kenapa mereka masih mengganggu aku dan Ibuku?"


"Aku sudah mengikuti kemauan mereka untuk pergi dari rumah besar itu.Aku juga tidak pernah mengambil jatah bulanan yang Papa transfer padaku.Semua masih utuh tak pernah ku sentuh.Apa yang mereka inginkan lagi? sampai membuat kami begini??"Nicta tersulut emosi, tangisnya tak dapat tertahan.


"Nona...Bukankah Tuan Besar sudah mengatakan, bahwa anda tidak akan aman meskipun sudah mengikuti kemauan Nyonya besar dan juga anak-anaknya.Nona harus melawan,bukan menyerah tanpa perlawanan.Mereka akan semakin menindas Nona"salah satu Bodyguard itu berucap.


Nicta terdiam,ia mengesat air matanya meskipun masih terus bercucuran.


Yas diam di kejauhan menyaksikan adegan itu.Tapi mengingat tentang Rifka,ia pun memilih pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebuah rumah dengan nuansa sederhana bercat putih dan halaman yang cukup luas.Yas masuk karena pintu gerbangnya tidak terkunci.Ia tidak mengucapkan salam, karena ia tahu rumah itu tak berpenghuni.


Yas hanya memperhatikan dengan seksama rumah tersebut.Ia tak menemukan tetangga disekitarnya.Ada beberapa rumah disisi kanan dan kiri.Namun tidak ada satupun kelibat orang yang terlihat.


Yas melangkah perlahan ke samping Rumah,dedaunan berserakan dimana-mana.Lucas dan anak buahnya terus mengintai dari jarak aman.Mereka ingin tahu apa yang akan Yas lakukan di rumah Rifka.


Tanpa mereka sadari, sesosok tubuh juga mengintai di dahan pohon.Tepat di atas mereka.


Rupanya dibelakang rumah Rifka,Yas menemukan seorang nenek tua tengah menyapu.Yas tersenyum,ia pun mendekati nenek tersebut.


"Assalamualaikum Nek..."sapa Yas ramah.Nenek itu menghentikan gerakan, tubuhnya yang bungkuk menyusahkan dirinya untuk mendongak tegak.


"Cari siapa?"Tanya Nenek itu tanpa menjawab salam dari Yas.


"Saya Yas Nek...ini bener Rumah Rifka Nek?"


"Iya bener... semenjak hari itu,kamu orang pertama teman sekolah Rifka yang datang mengunjunginya "


"Semenjak hari itu ?? memangnya ada kejadian apa hari itu Nek?"


"Hemmmm"Nenek itu menyapu lagi.


"Biasanya ada saja teman Rifka yang datang untuk belajar kesini, yang paling sering si Emil.Kadang dia menginap disini "Nenek itu seolah-olah tak mendengar pertanyaan dari Yas.


"Emil???Emil siapa Nek?"


BHUK


Suara seperti benda berat jatuh mengalihkan perhatian Yas.Pria itu menoleh ke belakang.Namun pada saat ia menoleh lagi,Nenek yang baru saja menyapu di depannya tiba-tiba menghilang.


Yas mencarinya,namun sama sekali tidak ada tanda-tanda ataupun jejak yang ditinggalkan.


"Nenek tadi bukanlah arwah ataupun roh.Dia manusia...manusia sama seperti halnya Rifka"


"Emil?? Nenek tadi menyebut nama Emil"


Yas bergegas pergi meninggalkan rumah Rifka.Tidak lupa ia menutup pintu depan rumah gadis itu.


Lucas dan teman-temannya keluar dari tempat persembunyiannya setelah Yas pergi.


"Apa Yas menemukan sesuatu petunjuk ??"gumam Lucas.


"Itu mustahil Bos,apa yang bisa dia temukan disini ?"Niko menjawab.Lucas diam,namun tak dapat dipungkiri ia lega mendengar penilaian Niko.


Rifka yang bergelayut di dahan pohon, menatap kosong rumah tempat tinggalnya.Ada sisa-sisa perih dalam hatinya.


*


*


Saat kembali ke sekolah, Suasananya sudah sepi.Yas pun memilih untuk pulang saja.Ponselnya berdering sejak tadi, karena sedang mengendarai sepeda motor.Ia tidak bisa langsung mengangkatnya.


"Hallo ya aunty ?"


"Kamu dimana ??Udah pulang sekolah belum?"tanya Seruni dari seberang.


"Belum Aunty "


"Bisa langsung ke kantor,kita makan siang bareng.Uncle ada disini juga"


"Hemm baiklah "


"Ok!! Aunty tunggu "


Talian terputus hampir bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yas yang baru saja sampai di sekolah, langsung disambut oleh dua temannya yang satu tim basket,RADIT VS LATIF.


"Yas..."


Yas hanya menyunggingkan senyumnya membalas sapaan temannya.


"Kamu keren banget Yas...Lucas sampai segitunya kemarin pas tahu ada telfon dari kamu.Apa yang telah membuat mereka bisa takluk dalam hitungan hari sama kamu?"Rentetan kalimat panjang terucap oleh Radit.


"Emil !!"jawaban pendek dari Yas membuat keduanya terbelalak.


"Emil ?? siapa Emil??apa hubungannya dengan Lucas yang takut padamu?"tanya Latif.


"Apa jangan-jangan ???"Ucapan Radit menggantung.


"Hus jangan ngawur...aku ingin bertemu dengan Emil teman dekat Rifka "


"Emil???"


Radit dan Latif menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mungkin Emil anak kelas XII A,teman sekelas Lucas juga"Terka Latif.


"Kamu kenal?"tanya Radit


"Enggak cuma tahu aja"balas Latif.


"Ya udah,,, tolong pertemukan aku dengan dia"Pinta Yas.


"Emmmm Baiklah ayo aku tunjukkan orangnya"


*


*


Latif menunjuk seorang gadis yang tengah bercanda ria dengan beberapa temannya di ambang pintu masuk kelas.


Yas mengangguk mengerti,ia pun mendekati gerombolan gadis-gadis tersebut.


"Emil..."Seru Yas tanpa perduli yang mana gadis itu.Mereka semua menoleh,dan kaget ada cowok ganteng yang memakai seragam senada dengan mereka, menyebut nama Emil.


"Kamu kenal ?"tanya seorang siswi yang termasuk salah satu dari gerombolan Emil.Gadis yang ditanya menggeleng.


Tanpa ba-bi-bu lagi,Yas serta merta meraih tangan Emil dan menariknya pergi.


"Eh...mau apa kamu??eh lepasin!!mau aku teriakin maling nggak ??"Emil meronta-ronta namun Yas tak bergeming.


Setibanya di sudut tangga yang jauh dari lalu lalang siswa dan siswi lewat.Yas menyudutkan tubuh Emil ke tembok,lalu menahan pergerakan gadis itu dengan menyanggahkan tangannya.


Emil terkesiap , tubuhnya meremang karena diperlakukan seperti itu oleh seorang pria ganteng.