
Tangan yang tergenggam bergerak,Tuan Brata kaget.Ia cepat menyusutkan air matanya.
"Excel..."desisnya.
Bola mata yang terpejam terlihat bergulir kekiri dan kekanan.
"Sus!!"Tuan Brata menyerukan perawat yang dipekerjakan untuk menjaga dan memantau kondisi putrinya itu.
Seorang gadis berpakaian putih dan bersanggul itu muncul dari balik pintu.Ia tergopoh-gopoh memeriksa keadaan pasien khusus yang diamanahkan untuknya.
"Bagaimana Sus??"Tuan Brata masih cemas meskipun kata suster tersebut keadaan Excel semakin membaik.
"Alhamdulillah...dia sebentar lagi akan siuman"
"Alhamdulillah..."Tuan Brata mengusap wajahnya seperti habis berdoa.
"Bayinya gimana ??"
"Bayinya sehat sekali meskipun masih berumur 4Minggu,ini adalah keajaiban Pak"
Tuan Brata tersenyum, meskipun ia sangat kasihan dengan nasib putrinya.Tapi ia cukup bahagia karena akan memiliki seorang cucu.
Excel membuka matanya perlahan, orang pertama yang ia lihat adalah Ayahnya.
"Papa..."
Tuan Brata tersenyum,ia membelai pucuk kepala Excel dengan lembut.
"Kamu sudah sadar Nak??"
Excel menarik sudut bibirnya sebisanya.
"Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya kepada Papa??Jangan begitu sayang... jangan kamu berpikir aku membuangmu Nak... jangan kamu berpikir aku menyekolahkanmu di asrama itu berarti aku membuangmu.. tidak... papa tidak pernah membuangmu Nak... Papa hanya ingin kamu menjadi manusia lebih mandiri lagi, lebih bertanggung jawab lagi"
" Tapi bukan ini yang Papa inginkan... ketika kamu ada masalah kamu tidak mau menceritakannya sama papa...ketika kamu menghadapi hal begitu besar kamu mengabaikan papa . Papa sakit ketika datang langsung melihatmu tergeletak tak berdaya seperti ini, Apalagi kamu sedang hamil"
Excel terperangah...
"Apa??aku hamil Pa??"
"Yah Kamu hamil anak dari pria yang telah membuangmu... anak dari pria yang telah kamu selamatkan nyawanya.Kenapa Ex?? Kenapa kau masih menolong orang yang telah menyakitimu??"
Sudut mata Excel berair,namun bibir nya tersimpul senyuman.Perlahan tangan yang masih tertancap selang infus meraba permukaan perutnya yang masih rata.
"Anakku baik-baik saja kan Pa??"
Tuan Brata mengangguk..
"Dia kuat seperti mamanya"
Excel tersenyum mendengar hal itu.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya Nak?"tanya Tuan Brata .
Excel terdiam sejenak.
"Mungkin Ex akan segera ke Jepang Pa, melanjutkan kuliah di sana "
"Dengan keadaanmu yang tengah hamil begini?"
"Kenapa ??Itu tidak akan menjadi masalah kan Pa,toh anak ini bukan hasil jual diri"
"Iya Papa tahu sayang... tapi pasti akan sangat merepotkan bagimu ,Jika kamu kuliah sambil menjaga anak"
"Kalau belum menjalaninya ,akan terasa susah Pa. Tapi kalau sudah dijalani ,Excel yakin semua pasti akan baik-baik saja"
Tuan Brata menghela nafas panjang.
"Baiklah...jika itu yang kamu mau Nak...Papa akan senantiasa mendukung mu.Ohya...Papa dapat telfon dari yayasan,katanya lusa adalah penerimaan ijazah.Papa akan kesana untuk mengambilnya.Kamu istirahat saja di rumah "
"Nanti malam,Ex akan ke Jepang... Tolong urus semuanya Pa"
"Maksud kamu??"
"Yah... Excel akan ke Jepang nanti malam"
"Nak...kau baru saja siuman "
"Belikan Excel tiket kelas bisnis dengan layanan VIP"
Tuan Brata diam,tapi ia pun akhirnya menyanggupi permintaan putrinya.Dia yakin pasti Excel merencanakan sesuatu yang besar untuk hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari Yang dinanti telah tiba, Ba'im pun yang mendengar hal itu memaksa untuk pulang meskipun kondisinya belum dinyatakan sembuh total. Ia terpaksa menggunakan kursi roda karena punggungnya masih terasa sakit.
Ba'im berharap Excel akan datang untuk mengambil ijazahnya.Tapi sayang sekali,saat nama Excel Oktavia disebut.Orang yang naik ke atas panggung adalah seorang pria separuh baya dengan pakaian nicis berwarna ice blue.
Ba'im yakin pria itu pasti Papanya Excel ,meskipun tak sama seperti harapan.Namun Ba'im tetap menunggu Papanya Excel turun dan pulang.
"Om...."Seru Ba'im , ia mendekati Tuan Brata dengan bantuan dari Ismail yang mendorong kursi roda.Pria tua itu otomatis menghentikan langkahnya.Ia menoleh... dahinya mengernyit.
"Om...kemana Excel ??? kenapa dia tidak datang ??"
Tuan Brata tersenyum sengit...
"Untuk apa dia datang?? toh dia udah diusir kan??"
Ba'im menggeleng cepat...
"Tidak Om aku tidak mengusirnya... aku minta maaf Om, mungkin saat itu aku sedang kurang waras. Tapi sungguh aku tidak ada niat untuk mengusirnya. Aku mencintai Excel Om"
"Sudahlah... penyesalan mu sudah terlambat , begitu juga dengan diriku"
Tuan Brata menarik nafas dalam-dalam , tiba-tiba ia merasa paru-parunya menciut karena kekurangan udara.
"Aku sangat menyesal telah memasukkan Excel ke asrama ini. Kalau saja aku tidak memasukkan dia ke sini tidak mungkin dia bertemu dengan kamu dan tidak mungkin dia jatuh cinta sama kamu dan sampai kalian menikah"Suara Tuan Brata datar namun mendalam.Membuat Ba'im tertunduk disertai tetesan air mata.
"Maafkan saya Om..."ucapnya lirih.
"Maaf untuk apa ?? untuk apa kamu minta maaf sama aku??Aku juga menyakitinya,,,Tapi kamu lebih sadis ,sangat sadis...Excel hanya mencintai mu,sampai dia rela mendonorkan sumsum tulangnya untukmu"
Ba'im mendongak seketika, begitupun Ismail yang sejak tadi hanya diam.Keduanya menganga tak percaya.
"Ohya ???kamu tidak tahu itu kan??Excel meminta untuk merahasiakan identitas nya darimu... Entahlah aku tidak tahu,apa maksud dan tujuannya ?? Kenapa dia masih menolong pria yang sudah menyia-nyiakan Cintanya. Kenapa dia masih menolong laki-laki yang sudah mencampakkan dirinya ,Dan satu hal yang perlu kamu tahu ,kalau Excel sekarang sedang hamil"
"Apa ?-?!!"
"Waaah kau kaget'sekali ternyata..."Komentar Tuan Brata makin menghujam ke jantung Ba'im .
"Om tolong... tolong saya Om... tolong pertemukan saya dengan Excel ..."Ba'im begitu histeris,ia meraih celana Tuan Brata dan menariknya hingga tubuhnya yang masih dalam pemulihan jatuh terjerembab ke lantai.
"Kak..."Ismail meluruh membantu Kakaknya,tapi Ba'im justru beringsut dan bersimpuh di kaki Tuan Brata sambil menangis.
"Tolong...Omm... tolong...saya siap menerima hukuman apapun asal saya bisa bertemu dengan Excel ...saya akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan saya Om"
Tuan Brata hanya berdecih tanpa empati sedikit pun.
"Ku rasa hukuman ini yang pantas untuk mu,,,, PENYESALAN...hahahahaha...Anakku memang cerdas,dia meninggalkan Indonesia secepat ia bisa agar kamu menyesal telah mencampakkan dirinya.Agar kamu terus didera rasa bersalah seumur hidupmu"
"Meninggalkan Indonesia ??? maksud Om??"Ba'im tak sanggup mendengar kan hal yang lebih buruk lagi.
"Excel ke Jepang,dua hari yang lalu... untuk melanjutkan studinya disana"jawab Tuan Brata santai.
"Apa??tidak itu tidak mungkin...dia bilang hanya akan kuliah disini saja Om..tidak mungkin dia mengingkari janjinya padaku"Ba'im menolak sebuah kebenaran.Tuan Brata hanya tersenyum sinis,ia pergi begitu saja membiarkan Ba'im yang meraung-raung memanggil namanya.