SERUNI

SERUNI
BAB 57 Tak Berdaya



Riris melayani Leo tanpa segan, seolah tak ada Seruni di samping pria itu.Seruni hanya diam,dia tak dipersilahkan maka ia pun tak menyentuh apapun disana.


Leo melihat hal itu langsung menyerahkan piringnya yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauk.Lalu menukar dengan piring kosong yang masih tertelungkup dihadapan Seruni.


Riris menjeling dengan sinis,namun Seruni membalas tatapan tajam itu dengan senyuman.Wajah bringas itu kemudian berubah ramah sewaktu Leo menatapnya.Riris dengan cekatan mengambil alih piring kosong dari tangan Leo,dan mengisinya dengan lauk pauk serta nasi.


"Aku bisa sendiri"Tukas Leo ingin merebut kembali piringnya.Namun Riris menghindar.


"Nggak apa-apa,kapan lagi aku akan melayani mu seperti ini?"Tutur kata gadis itu begitu lembut.


"Silahkan dimakan"Riris menyuguhkan keduanya.Ia sendiri duduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja.


"Kamu tidak makan?"Tanya Leo.Riris hanya menggeleng,Leo masih celingukan mencari sosok Ibunya yang tak kunjung turun dari kamarnya.


"Mama kemana ya Ris?kok nggak keluar-keluar?"


"Mungkin masih pusing,nanti sudah makan baru kamu samperin ke kamarnya yah"Jawab Riris santai.


"Si Mbok juga nggak kelihatan?"


"Dia udah dipecat karena ketahuan mencuri perhiasan Tante"


"Hah?-masak sih?"Leo kurang percaya,Riris mengangguk meyakinkan.Leo mulai menyantap makanannya,sedangkan Seruni sudah lebih dulu melahap makanan yang dihidangkan.


"Enak??"Tanya Leo ingin tahu pendapat Seruni yang kelihatan sangat menikmati hidangan itu.Seruni mengangguk sambil tersenyum.


Kedua mata Riris begitu tajam memperhatikan gerak gerik dua sejoli itu.Seruni saja merasa ngeri bila tak sengaja keduanya bertembung pandang.


Baru saja Seruni menghabiskan makanannya,ia meneguk habis air jus yang dihidangkan di dalam gelas tepat disebelah kanannya.Tiba-tiba kepalanya terasa pusing,ia ingin mengeluh tapi belum sempat mengatakan apa-apa Seruni sudah kehilangan kesadaran.Kepalanya ambruk ke atas piring bekas ia makan.


"Seruni"Desis Leo kaget,Ia menggoyang tubuh Seruni yang sudah tak berdaya.


"Ris,,,apa yang terjadi?"Leo begitu emosi,namun Riris hanya mengedikkan bahunya.Leo bangkit ingin membopong tubuh Seruni,tiba-tiba ia merasakan pusing yang teramat sangat.Dan sama seperti Seruni,belum sempat mengeluh tubuhnya ambruk ke lantai.Riris menyeringai lebar,ia bangkit lalu mengheret tubuh Seruni.


____


Hujan lebat,angin kencang bertiup kencang,suara Guntur dan kilat bersahutan.Tubuh tua yang sudah ringkih itu mondar-mandir keluar masuk hanya untuk memastikan putrinya pulang.Namun kosong,tak ada siapapun yang ia jumpai.Beberapa kali Pak Salam mendail nomor telepon Seruni,namun tak ada respon.Pak salam mencoba menghubungi Qodir,namun juga tak tersambung.Mungkin karena efek cuaca,Singal jadi terganggu.


Samar-samar Pak Salam melihat kelibat Seseorang melesat masuk ke dalam kamar kostnya.Laki-laki tua itu segera masuk ke dalam,ia agak terkejut melihat sosok yang ia kenal tengah duduk dibibir tilam.


Wajahnya sedih seperti minta dibelas kasihani.Pak Salam segera mendekati,lututnya gemetar.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan Seruni?hah?"Perasaan Pak Salam sudah tak enak.


"Tolong Seruni,,,tolong dia..."Suara yang seperti sapuan angin membuat Pak Salam membeliakkan biji matanya.Pria tua itu kebingungan,ia harus bagaimana?ia harus kemana?ia harus minta tolong dengan siapa?


THARRRRRRR


"SERUNIIII!!!"Roy terjaga bersamaan dengan suara kilat yang menyambar.Dadanya turun naik,keringat dingin meleleh di keningnya.Perasaannya tak nyaman,baru saja ia bermimpi buruk tentang Seruni.


Segera Roy mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor telepon Seruni.Talian tersambung,namun ditunggu-tunggu tak ada respon.Dicoba sekali lagi,hasilnya tetap sama.


Degup jantung pria itu semakin cepat,ia mendail nomor telepon Leo.Tak ada salahnya menurunkan ego untuk memastikan keadaan orang terkasih.Tapi nihil,tak ada respon.Roy meruntuk diri sendiri,kenapa ia tidak pernah terfikirkan untuk menyimpan nomor telepon Pak Salam.


Tak ada jalan lain,Roy turun dari tempat tidur.Ia bergerak cepat mengambil kunci mobil untuk menyambangi kediaman Seruni.Memang sangat tidak sopan karena ini sudah larut malam,namun pria itu tak perduli.Ia harus memastikan bahwa Seruni baik-baik saja.


____


Derikan bunyi seperti benda berat ditarik kuat membuat Seruni terjaga.Ia mengerjapkan kedua matanya,dan sangat terkejut menemukan tubuhnya sudah terikat kuat ke sebuah kursi kayu.Seruni meronta-ronta,namun ikatan itu sangat kuat.


"Eh sudah sadar ya...baguslah"


Seruni terpana melihat apa yang ada di depan matanya.Riris tengah menarik rantai besi yang mengikat tubuh gempal Tuan Baya.Lelaki tua itu mengerang tak berdaya karena di gantung dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas.


Di sana juga Seruni melihat tubuh Leo yang sudah bertelanjang bulat terlentang dengan tangan dan kaki di ikat ke setiap sudut tempat tidur.Pria itu ternyata belum siuman.


Dan yang lebih mengagetkan,Seruni melihat seonggok tubuh wanita yang tertelungkup di lantai.Sepertinya ia tengah terluka karena ada genangan darah disana.


Riris menghampiri Seruni setelah ia selesai mengikat kuat ujung rantai yang menahan pergerakan Tuan Baya.Gadis itu mencengkram kuat rahang Seruni hingga kepala Seruni terangkat.


"Kau akan menikah dengan Leo??benarkah??tapi sayang,kamu harus menyaksikan malam pertamaku dengannya hahahahahaha"Riris membuang wajah Seruni dengan kasar,tawanya lenyap berganti tatapan datar yang tajam.


"Apa yang akan kamu lakukan kepada Leo?"Seruni dengan berani bertanya.Riris mengangkat sebelah bibirnya,ia mendekati Leo yang sepertinya sudah mulai siuman.


"Hay sayang"Riris membelai dahi pria pujaan hatinya itu.Leo terbelalak kaget ketika mengetahui keadaan dirinya dan sekitarnya.


"Riris!!!Apa yang kamu lakukan sama Papa dan Mama?"Hardiknya.Riris tersenyum manis.


"Seperti yang kamu lihat sayang,Tante Nila sudah mati.Dia berani membantah ku disaat aku tidak terima kalau orang tuamu setuju dengan pilihan hatimu.Bukankah hanya aku yang pantas menjadi istrimu?Bukan dia dan bukan Tantri"


Leo terperangah,ia menoleh ke tubuh Ny Nila yang tertelungkup di lantai.Seruni pun sama,ternyata tubuh yang tergenang darah itu sudah tak bernyawa??


"Kamu Iblis"Wajah Leo memerah menahan amarah,ia ingin sekali menghajar wanita itu tapi tak bisa karena tangan dan kakinya terikat kuat.


Riris tertawa ngakak,ia menyemprotkan sesuatu ke wajah Leo membuat Leo meringis.Ia berkali-kali membuang udara dari hidungnya untuk menyingkirkan bau yang menyengat.Tapi sedikit banyak Leo sudah menghirup aroma itu.


"Apa yang kamu semburkan ke wajahku?"Bentak Leo geram.


"Perangsang"Jawab Riris santai.Leo terkesiap,Seruni pun sama.Matanya membulat tak percaya.