
Seorang arsitek handal datang bersama beberapa petugas dengan baju pelindung lengkap.Rupanya mereka sudah siap sedia untuk melakukan pengeboman rumah besar itu.
Sang arsitek menelusuri setiap sudut rumah luar dan dalam,tentunya sesudah mendapat ijin dari Lyli.
"Bangunan ini jika dilihat tidak ada yang aneh,tapi setelah saya ketuk dinding yang katanya bisa terbuka.Dinding itu sama sekali tidak mengeluarkan bunyi.Itu pertanda dinding ini terbuat dari beton asli dengan ketebalan diatas 20cm"
"Jika dilakukan pengeboman,bukan hanya rumah ini yang akan porak poranda.Tapi juga rumah warga sekitar"
"Lalu bagaimana cara kita masuk?"Tanya Roy penasaran.
"Disetiap rumah pasti punya dua pintu,begitu juga ruangan itu.Kita harus mencari pintu kedua dari ruangan ini"
Semua mengangguk setuju.
"Baiklah semua petugas saya perintahkan untuk berpencar mencari dimana pintu yang dimaksud.Dan sebagian kecil dari kalian ada yang harus stay ditempat,karena dikhawatirkan buronan akan lari melewati pintu utama"
"Siap Pak!!!"
Dengan sigap para petugas memberi hormat.Dan mereka segera berpencar dengan disertai anjing pelacak.
"Wah...kalau di bom beneran,bukan hanya rumahnya yang hancur.Tapi kita juga akan mati berkalang tanah"Celutuk Qodir"Bener-bener tuh idenya Seruni"
Roy tersenyum menahan tawa.
"Kamu nih masih sempet-sempetnya bercanda yah,adikku aja masih belum tahu gimana nasibnya?"Semprot Lyli.
"Maaf"Qodir ciut juga melihat kekesalan kekasihnya.Sedangkan Roy memilih aman,ia pergi menjauh untuk menelfon sekretarisnya agar menunda jadwal rapat hari ini.
___
Leo merasa perutnya perih,karena biasanya ia sudah sarapan pagi tadi.Tapi sampai hari sudah siang,Riris belum memberinya makan.Malah gadis itu terlihat nyenyak sekali tidur di atas sofa.
Leo beringsut mendekati Riris,ia menarik-narik tali yang diikat dipergelangan tangan gadis itu.Berhasil!!Riris terjaga,ia mengucek-ngucek matanya lalu duduk menatap Leo yang sedikit pucat.
"Apa?"Bentaknya.
"A-aku lapar"Rengek Leo berharap gadis itu akan kasihan padanya.Riris tersenyum ketus.
"Makanlah seadanya"Hardik Riris.
"Seadanya? memang apa yang ada?"
"Tuh ada kecoak,cecak,tikus..."
"Apa??"Leo jadi merinding sendiri.Riris menyeringai sinis.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku Ris?Apakah seperti ini cara kamu mencintaiku?"
"Hahahahahaha"Riris tertawa ngakak.
"Sekarang kamu baru bertanya tentang caraku mencintaimu?Dari dulu kemana aja?Apa kamu tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang semua yang aku berikan padamu?Yang aku korbankan untukmu?"
"Tapi pernahkah kau melihatku sebagai seorang kekasih?Tidak pernah!!!Hanya gadis lain yang terlihat indah di matamu Leo"
Leo terdiam, ia memutar otak untuk melawan gadis ini.
"Aku menganggap mu sebagai adikku sendiri, Aku tidak tahu kalau kamu punya perasaan terhadapku Ris. Aku pikir perjodohan ini hanyalah kehendak dari Papa, bukan dari perasaanmu. Jika saja aku tahu, aku takkan mengabaikan perasaanmu Ris"
"Jika kamu tahu? Apakah kamu akan mencintaiku?"
Leo mengangguk perlahan.Riris tersenyum,ia duduk melantai didekat pria itu.
"Benarkah??"
"Pernahkah aku membohongimu Ris? kita sedari kecil dibesarkan bersama pasti kamu tahu seperti apa sifatku"
"Apakah kau akan menikahiku?"
"Sudah tentu"jawab Leo dengan lembut. Riris semakin merasa bahagia, ia langsung merangkul tubuh Leo yang tanpa busana.
"Baiklah..... sekarang juga kita akan pergi ke masjid ataupun mushola dan kita akan menikah di sana.Ohya lupa, kau tidak mempunyai baju untuk dipakai di acara pernikahan kita bukan?? Aku akan segera membelinya Kamu tunggu di sini. Sekalian aku akan beli makanan untuk kita berdua"
Leo mengangguk,pria itu sangat senang.Akhirnya ia tidak jadi makan tikus ataupun kecoak.Riris bangkit ia menyandang tas dan meraih kunci mobilnya.Belum sampai ia di pintu, Riris menoleh ke arah Leo yang masih diposisi yang sama.
"Jangan coba-coba lari,atau kau akan melihat kekasihmu itu mati"Ancam Riris dengan wajah yang menyeramkan.Leo mengangguk patuh.Dalam sekelip mata wajah bringas itu langsung terhiasi oleh senyuman manis.Riris melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu.Tidak lupa ia mengunci rapat pintunya dari luar.Sehingga Leo tidak berkemungkinan untuk kabur.
Leo menghela nafas lega, ia harus menyusun strategi untuk bisa memperdaya Riris. Tapi ia tidak boleh gegabah karena bisa jadi ancaman Riris akan terjadi kepada Seruni. Jadi Leo harus benar-benar hati-hati.
___
Dengan susah payah akhirnya tim penyelidik bisa menemukan jalan lain yang menuju ruang rahasia itu. Mereka segera membuka paksa pintu jeruji besi yang menutupi lorong rahasia tersebut. Setelah berhasil, kemudian mereka masuk secara bergerombol ke dalam terowongan itu.
Mereka menyusuri terowongan itu dengan hati-hati,tim penyelidik berjalan ditepian dinding dengan senjata api ditangan.Bersiap sedia siapa tahu ada perlawanan yang tak terduga.
Kurang lebih 15 menit mereka baru menemukan sebuah kamar yang terbuka.Para tim tidak langsung masuk,mereka memperkirakan lebih dulu keadaan aman atau tidaknya.Setelah di intai dan tidak menemukan sebarang pergerakan yang mencurigakan,mereka masuk satu persatu.Dan menemukan mayat Ny Nila yang terkapar di lantai,serta mayat Tuan Baya yang masih bergelantungan.
Para tim penyelidik langsung melakukan evakuasi,ada juga yang meneruskan perjalanan ke sisi selanjutnya di dalam terowongan itu.Sehingga mereka menemukan pintu lain.
Mereka mencari tombol yang pernah disebutkan oleh ketua mereka.Ketemu!!!Dengan sentuhan kecil, dinding yang diperkirakan memiliki ketebalan di atas 20cm bergerak memutar.
Roy dengan ketua penyidik kaget melihat pintu yang ditunggu oleh mereka akhirnya terbuka.Si arsitek pun dengan cepat memeriksa pintu tersebut untuk mengobati rasa penasarannya.
Lyli menjerit histeris ketika tim penyidik menggotong mayat orang tuanya.Ia meronta-ronta dalam dekapan Qodir.
"Leo mana??Leo mana??"Jerit Lyli parau.Ia tidak ingin saudaranya juga kenapa-napa.
Roy bertanya kepada mereka yang sudah keluar dari ruang rahasia itu.Hanya gelengan kepala yang ia dapat sebagai jawaban.
"Kemungkinan pelaku sudah kabur bersama saudara Leo,karena kami menemukan jejak mobil disana"Jawab salah satu dari tim penyelidik.
Lyli semakin menjadi ia memukul-mukul dada Qodir menyerukan nama adiknya.Tiba-tiba ia terkulai lemas tak berdaya.Lyli pingsan dalam pelukan Qodir.
"Cepat bawa Lyli ke dalam dulu,biarkan ia istirahat"Titah Roy,Qodir mengangguk setuju.Segera ia membopong tubuh kekasihnya dan dibawanya ke dalam rumah.
"Apakah tidak ada kemungkinan Leo akan ditemukan?"Tanya Roy kepada ketua penyidik.
"Kami akan menindak lanjuti kasus ini,akan kami kerahkan seluruh tim untuk mencari keberadaan saudara Leo dan pelaku"
Roy manggut-manggut,ia menepuk pundak sang ketua penyidik.
"Terimakasih Pak atas semua bantuannya"
"Sama-sama"