
"Kamu, Sayaka sama Ayah." Subroto perlahan membuka matanya kembali. Menyadari Sayaka juga berada di sana, timbul niatnya untuk sedikit mengerjai pria pilihan putri tunggalnya tersebut. "Ka, tadi bukannya sudah saya bilang jangan nyusul Seruni. Kok malah kamu ajak dia ke sini, to?" omelnya.
Sayaka menelan ludahnya dengan susah payah. Baru saja Subroto dan dirinya menjalin keakraban, masak iya akan terganggu gara-gara Seruni yang tidak sabaran. Tetapi sebagai pria sejati, bukankah tidak pantas jika dia langsung menyalahkan Seruni di depan Subroto?
"Ka? Kok malah bengong kamu ini," tegur Subroto dengan nada yang lebih tegas.
"Ehm, begini, Pak. Tadi sebenarnya saya tidak sengaja papasan sama Seruni. Karena sudah terlanjur berpapasan, tentu sangat tidak mungkin saya menghindar," jawab Sayaka.
Seruni mengulum senyuman di ujung bibirnya. Begitu bangga dengan sikap Sayaka yang tidak menunjukkan betapa dirinya yang sangat agresif menghampiri pria tersebut.
"Benarkah? Terus kenapa Seruni tadi tiba-tiba masuk ke kamar dengan tidak sopan seperti biasa? Kamu ngadu apa sama dia?" Subroto kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Menunda usahanya untuk tidur lebih awal dari biasanya.
"Saya tidak ngomong apa-apa, Pak. Hanya mengatakan kalau besok kita kembali ke daerah saya. Begitu saja." Sayaka segera menjawab dengan tatapan mata yang jujur. Sekilas lalu dia menatap Seruni yang malah cengengesan karena tahu benar ayahnya pasti sedang mengerjai Sayaka.
"Dulu Seruni itu sopan. Kalau mau masuk pintu ketuk dulu. Kalau belum ada jawaban tidak berani masuk. Sekarang malah sradak sruduk," kali ini lirikan kesal Subroto tepat mengarahkan pada Seruni.
"Tentu saja tidak sabar. Orang Seruni rencana lusa saja kembali ke sana. Malah Ayah bilang besok. Siapa yang nggak kaget. Ditambah lagi barusan Ayah bilang ikut ke sana. Yang ngijinin atau ngajak Ayah itu siapa? Baru juga sembuh. Keluar dari rumah sakit juga masih hitungan jam. Belum juga tidur di kasur ayah sendiri," cerocos Seruni sembari mencubit-cubit lengan ayahnya.
Subroto mengernyitkan keningnya. Sudah hampir tiga puluh satu tahun umur Seruni, baru kali ini dia menyaksikan putri sulungnya itu bersikap centil di depannya. Cubitan adalah hal langka yang dia terima. Latar belakang militer yang kerap kali dia bawa dalam kehidupan sehari-hari, membuat Seruni lebih sering memukul lengannya jika sedang gemas ketimbang mencubit seperti sekarang. Rupanya jatuh cinta kepada Sayaka benar-benar banyak mengubah perangai putri tunggalnya itu.
"Kamu lupa siapa ayah, Ser? Jangankan sakit seperti kemarin. Kaki berdarah-darah setelah dioperasi saja Ayah masih bisa lari kencang. Sudah jangan banyak protes. Sekarang biarkan Ayah dan Sayaka istirahat. Kamu juga, sana kembali ke kamarmu. Besok kita berangkat pukul tujuh pagi. Biar Shakala yang menjemput dan mengantar kita ke bandara."
Seruni menatap ayahnya dengan tatapan heran dan penuh tanya. "Kenapa harus Mas Shaka sih, Yah? Kayak tidak ada orang lain saja. Ayah kan tinggal tunjuk siapa gitu?"
"Jangan mengatur Ayah, Ser."
Kalau Subroto sudah berkata demikian. Seruni tidak bisa lagi mengatakan apa-apa selain menuruti kemauan sebagai ayah. Dalam hati, dia tidak habis pikir, kenapa ayahanda tercintanya itu seakan terus melibatkan dan menghadirkan Shakala di antara mereka. Padahal, pastinya Subroto paham betul hati Seruni untuk siapa.
****
Keesokan harinya, pagi sekali sebelum pukul lima pagi, Shakala sudah datang ke rumah Seruni. Tentu saja demikian, jadwal penerbangan pukul tujuh---itu artinya mereka harus tiba di bandara minimal satu jam sebelumnya.
Terlihat jelas kecemasan di wajah Sayaka. Baru saja mabuk pesawat usai dirasakan, sesaat lagi dia akan merasakan kembali rasa yang sama. Ditambah lagi, sekarang ada Subroto bersama mereka. Bagaimana bisa dia pura-pura tidur untuk mengurangi rasa mual dan pusingnya.
"Kamu minum ini dulu, Ka. Dijamin aman sampai Kalimantan. Bahkan sampai depan rumahmu," bisik Shakala sembari memberikan sebutir obat kecil berwarna kuning. Obat itu biasanya khusus diberikan pada anggota keluarga pasukan yang hendak diajak pindah berdinas tetapi mengalami mabuk kendaraan.
"Serius, Pak Mayor? Ini manjur, kan?" tanya Sayaka sembari menerima obat tersebut.
"Ya kali aku bercanda. Sudah cepetan minum sebelum ada yang melihat." Shakala membuka pintu mobil belakangnya. mengambil air mineral yang tersusun rapi di belakang sandaran bagian jok penumpang depan dan memberikannya pada Sayaka.
Tidak lama dari itu, Seruni dan Subroto pun muncul membawa koper masing-masing. Dengan sigap, secara bersamaan, Sayaka juga Shakala melangkahkan kaki lebar menghampiri bapak-anak itu untuk membantu membawa barang bawaan mereka.
Shakala membukakan pintu mobil. Lalu dia meletakkan koper-koper bawaan tadi di bagasi mobil Lexus milik kakak dari orangtuanya itu.
"Kamu di depan saja, Ka. Biar saya sama Seruni di belakang," perintah Subroto sembari masuk ke dalam mobil diikuti oleh Seruni.
Setelah semua sudah duduk di tempat masing-masing, Shakala segera melajukan mobilnya. Hampir mendekati bandara, Seruni meminta Shakala untuk berhenti sebentar di parkiran hotel untuk mengambil oleh-oleh yang dia pesan dadakan dari salah seorang teman dokternya di Surabaya. Dua kardus besar yang entah apa isinya itu, jelas harus membayar bagasi tersendiri. Namun demikian, jelas hal itu bukan masalah bagi Seruni.
"Shakala kapan nyusul Pak Dhe ke sana?" tanya Subroto tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil.
"Mungkin seminggu lagi, Pak Dhe. Menunggu semua barang-barang yang akan dikirim lengkap. Sekalian menunggu pergantian di ponorogo selesai. Besok saya baru akan berangkat ke sana untuk evakuasi salah satu warga yang dipasung keluarganya." Shakala menoleh sekilas ke arah Subroto, lalu kembali fokus pada jalanan karena kurang beberapa meter lagi mobil yang mereka tumpangi akan melewati gate masuk bandara.
"Memang masih ada yang tega pasung orang?" tanya Seruni ikut masuk ke dalam obrolan Subroto dan Shakala. Sementara Sayaka seperti biasa hanya menyimak karena takut salah bicara dan juga dalam hati masih harap-harap cemas tentang kelanjutan obat anti mabuk yang diberikan Shakala tadi.
"Masih ada, dhek. Bahkan lumayan banyak kami menemui kasus seperti ini di sana. Selain karena pendidikan dan ekonomi. Kesehatan di sana memang sangat memprihatinkan, Ser. Ada satu desa yang 70% warganya mengalami gangguan mental. Selain karena buruknya gizi, hal itu juga terjadi karena pernikahan sedarah," jelas Shakala. Membuat Seruni memajukan duduknya. Topik pembicaraan seperti ini, memang selalu menarik perhatiannya.
"Mau pindah ke Ponorogo?" tanya Subroto yang tentu saja langsung dijawab dengan cubitan oleh Seruni.
"Kamu kok jadi seneng nyubit gini, to," keluh Subroto pura-pura kesel.
"Begini seharusnya perempuan, Yah. Nggak kalau kesel suruh ninju," timpal Seruni.
****
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di lobby penurunan penumpang. Shakala ikut turun dan melambaikan tangan memanggil petugas potter untuk membantu membawa barang-barang Subroto, Sayaka dan Seruni.
"Mas Shaka kok mau to disuruh-suruh bapak?" Begitu mendapat kesempatan berada dekat dengan Shakala, Seruni bertanya sekaligus ingin menyelidiki hal yang
menurutnya masih tidak wajar.
"Kamu nanya?" Shakala malah menjawab dengan kembali bertanya menggunakan nada tanya yang kekinian ala-ala tiktokers viral.
💞💞💞💞💞
Hai pembaca setia Seruni. Sambil menunggu up Seruni, kalau berkenan sekalian mampir, baca, like, fav dan komen "Penjara Luka" juga ya kak.
Untuk author remahan dan terombang ambing ini, sepertinya tidak cukup 1 karya on going untuk menaikkan view/pembaca. Karena itu, kalau masih ingin author berkarya di sini. Please dukung dengan selalu membaca, fav, like dan komen karya author ya. Terimakasihhhhhhhhh....
#salahsatuauthoryanglelahdengansistemNT