
"Bom aja pak"Celutuk Seruni tiba-tiba.
Semua orang saling berpandangan satu sama.Para anggota polisi ada yang mengangguk setuju.
"Baiklah,kami akan memanggil tim khusus untuk melakukan pengeboman.Tapi sebelum itu,kita harus memanggil seseorang yang ahli dalam bidang arsitek.Supaya kita tahu seperti apa bangunan ini"
"Sepertinya ini akan memakan waktu"Tambah Pak Polisi.Roy mengangguk paham.
"Seruni lebih baik kamu pulang dulu ya,kasihan Bapak"Bisik Roy,Seruni ingin menolak tapi ia langsung teringat Bapaknya.Ditatapnya Pak Salam yang duduk di kursi rotan bersebelahan dengan Lyli yang terus saja menangis dalam pelukan Qodir.
Benar...kasihan Bapak,dia harus istirahat.Inj sudah jam 3pagi.
"Baiklah Tuan,tolong kabari aku selalu ya Tuan.Saya mau hantar Bapak pulang "Pamit Seruni.
"Aku akan antar kamu pulang"Roy segera beranjak.
"Tapi disini gimana urusannya Tuan?"
"Kam sudah ada polisi dan Lyli juga disini"Jawab Roy dengan entengnya.Seruni diam menatap Roy dengan tajam.
"Emmm nanti setelah aku antar kamu pulang,aku balik lagi kesini"
Barulah Seruni tersenyum.
HUFFF khawatir banget sama Leo.Bisik Roy dalam hati.
____
Ternyata diujung lorong itu,sudah terparkir mobil Van Hitam.Riris memasukkan kardus yang berisi tubuh Leo ke dalam mobil yang sudah di modif sedemikian rupa.Sehingga ruang mobil sangat luas tanpa jok kursi.
Sebelum ia masuk ke ruang kemudi, Riris menatap Rumahnya dari kejauhan.Ia tahu bahwa tak lama lagi rumah itu akan dihancurkan.Karena memang hanya dia yang bisa membuka pintu itu dengan tombol kunci otomatis yang selalu ia bawa.
Pintu itu dirancang hanya bisa dibuka secara manual dari dalam,karena Ayahnya menciptakan rumah itu dulu sebagai tempat persembunyian dari penjajah.Masa kecil sang Ayah hidup dalam masa penjajahan,jadi ia seperti paranoid dengan penjajahan.Takut terjadi lagi peperangan seperti dahulu kala.
Hanya Riris yang tahu akan ruang rahasia itu,dan juga tombol otomatisnya.Riris memang menjadikan ruangan itu tempatnya menyendiri saat merindukan orang tuanya.
Setelah beberapa saat termenung, akhirnya Riris memutuskan untuk pergi.Ia masuk ke dalam mobil itu lalu mengemudikannya melalui jalan setapak.Menerobos semak belukar,lalu keluar di Gank sempit menuju jalan utama.
Riris melajukan mobilnya lebih cepat setelah sampai di jalan utama.Suasana jalanan sangat lenggang, dikarenakan masih pagi buta.Tak ada yang tahu kemana gadis itu akan membawa Leo pergi.Yang jelas Riris hanya ingin hidup berdua dengan Leo tanpa gangguan siapapun.
____
Roy mengantar Seruni dan Pak Salam ke tempat tinggal mereka dengan selamat.
"Tuan jangan lupa kabari saya ya"Seruni tak henti-hentinya mengingatkan Roy.
"Hem"Jawab Roy dengan setengah hati.
"Tuaaan"Dengan manja Seruni menarik ujung baju milik Roy .
"Iyaaa"Roy menjawab dengan keterpaksaan.Seruni jadi manyun, membuat Roy tersenyum geli.
"Betapa bahagianya hati Leo,jika dia tahu ada orang yang begitu khawatir tentang dirinya"Sindir Roy.
"Bukan begitu Tuan,jika Tuan diposisi Pak Bos sekarang saya juga pasti akan sangat khawatir"Ucap Seruni .
"Apakah kamu mencintai aku dan dia?"
"Siapa?"Roy berniat memancing pengakuan dari gadis itu.Seruni diam,ia tidak berani untuk jujur bahwa dihatinya masih ada Roy.
"Kenapa diam?"
Seruni menggeleng perlahan.
"Apakah itu aku?"
Pipi Seruni memerah dalam keremangan.Roy tersenyum,ia bukan anak manusia kemarin sore yang tidak bisa memahami kediaman gadis di depannya.Roy meraih tangan Seruni,ia menggenggamnya penuh kasih.
"Tolong tunggu aku ya...aku akan segera menikahi mu"Roy membai'atkan janji.Seruni diam seribu bahasa.Roy tersenyum tipis,ia mengecup punggung tangan gadis itu lembut.
"Aku akan menceraikan Sherly setelah itu kita akan menikah,aku janji"
Seruni tetap bungkam,ia tidak berani mengatakan apapun.Karena ia merasa tidak tahu apa jawaban yang tepat untuk menanggapi ungkapan hati lawan bicaranya.
"Aku pergi dulu,aku akan berusaha menemukan Leo agar kamu bisa tenang.Bantu dengan do'a yah"
Barulah Seruni mengangguk.Roy tersenyum lagi, kemudian bergegas pergi.
Setelah mobil yang dikendarai pria itu menghilang di tikungan jalan,Seruni masuk ke dalam kamar.Ia menemukan Pak Salam sudah berbaring,mungkin karena kelelahan.Tapi Pak Salam belum memejamkan matanya,ia sengaja menunggu putrinya masuk.
"Bapak...."Seruni naik ke atas kasur dan duduk bersimpuh disana, melihat Pak Salam yang berbaring memandangnya.
"Kenapa Ibu tidak datang menolongku?Padahal saat aku keluar dari ruangan penyekapan kami,Ibu ada diluar menunjukkan jalan"Seruni mengungkapkan rasa penasarannya yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
"Perempuan itu makek sesuatu,sejenis yang sama dengan yang dipakai Jaka Sasongko.Jadi Ibumu tidak bisa mendekatinya"Jawab Pak Salam.Seruni manggut-manggut tanda mengerti.
"Bagaimana keadaan Pak Bos ya Pak?"Seruni bertanya yang sudah tentu tak ada yang tahu jawabannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah beranjak pagi saat Riris sampai di sebuah rumah di atas puncak.Ia mengeluarkan tubuh Leo dari dalam kardus.Terpapar cahaya matahari,pria yang masih bertelanjang bulat memicingkan matanya.Riris menarik tali yang mengikat tangan Leo seperti majikan yang menarik kerbaunya.
"Ada dimana kita?"Tanya Leo yang sangat merasa asing dengan keadaan sekitar.Riris tak menjawab,ia membuka pintu rumah itu lalu menarik Leo masuk.
Rumah itu terlihat kotor tak terurus.Banyak sarang laba-laba menghiasi setiap sudut rumah.
"Ini Villa ku,kau tidak tahu bukan?jika kau dan keluargamu tahu pasti sudah dibalik nama sejak lama.Om Baya sangat serakah,tapi aku awalnya tidak masalah.Karena aku akan dinikahkan dengan mu,aku menyukaimu sejak kita masih kecil Leo.Kau pasti tidak tahu itu"
Riris menyibak kain putih yang menutupi kursi,dan gadis itu duduk diatasnya.Ia tetap memegang erat ujung tali yang menahan pergerakan Leo.
"Sekarang kita akan tinggal disini,hidup bersama layaknya pasangan suami-istri"
"Aku tidak mau!!"Bantah Leo tegas.
"Aku tidak menanyakan kau mau atau tidak!!!Tapi apa yang ku katakan adalah perintah bagimu.Jadi kau Sudi ataupun tidak?Aku tidak perduli"
"Jangan buat aku tega membunuhmu RIS"Ancam Leo, bukannya takut? Riris justru tertawa ngakak.
"Kau mau membunuhku????Hahahahahaha lakukanlah!!Aku tidak pernah takut mati!!!"Balas Riris jumawa.Ia menarik tali yang dipegangnya dengan kuat hingga membuat Leo tersungkur ke lantai.
"Sekarang kau seperti seekor anjing,dan mau kau membunuhku?"Riris tersenyum mengejek"Justru aku yang akan membuat kamu meminta sebuah kematian padaku Leo, karena aku akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya"
Dengan kasar Riris menerajang kepala Leo sampai pria itu terjengkang ke belakang.Bukan merasa kasihan, Riris justru tertawa lebar.