SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 27



"Siap nikah itu bukan perkara apa yang sudah kamu miliki sekarang. Tidak punya apa-apa, masih bisa dicari bersama. Asal tangan dan kakimu memang tidak malas untuk bekerja. Di luar urusan yang katamu belum cukup itu, masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Lain kali saja kita bicara. Kamu baru datang." Subroto tersenyum di ujung kalimatnya.


Pria tersebut memang sangatlah bijak. Paham benar perjuangan dan jalan hidup setiap orang tentu berbeda. Ada yang harus bersusah payah memulai segala sesuatunya dari nol untuk mencapai kesuksesan. Ada juga yang beruntung meneruskan kesuksesan orangtuanya dengan segala fasilitas yang ada. Namun, terlepas dari keturunan dan latar belakang mana, kesuksesan tidak akan diraih jika pribadinya sendiri tidak ada niat untuk melakukan yang terbaik.


"Selama di Surabaya, Sayaka tinggal di mana?" tanya Subroto. Mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu tegang. Melihat raut wajah Sayaka, terbesit ketidaktegaan di hati mantan salah satu jenderal angkatan laut itu.


"Di hotel, Yah." Seruni menjawab dengan cepat.


"Tolong antar Sayaka ke hotelnya dulu, Ka. Biar Seruni di sini," pinta Subroto pada Shakala.


"Siap, Pakdhe," ucap Shakala.


"Nanti kamu ke sini lagi, ya. Tolong jemput Bi Surti sekalian. Suruh bawakan baju ganti buat Seruni. Pasti ini anak nggak bawa baju. Malam ini, biar Seruni yang jaga di sini." Subroto tersenyum ke arah Seruni.


"Siap, Pakdhe." Shakala menjawab dengan sikap tegap.


Sayaka menggaruk lehernya yang tidak gatal. Mempelajari cara Shakala berkomunikasi dengan ayahanda dari Seruni. Perlahan---mau tidak mau, dia harus memupuk rasa percaya dirinya. Meski bukan dari kalangan militer, tidak seharusnya dia menjawab setiap pertanyaan dengan malu-malu dan ragu.


Shakala dan Sayaka pun berpamitan secara bergantian. Keduanya meninggalkan Seruni bersama Subroto hanya berdua saja. Kini ada rasa canggung yang menghinggapi kedua pria tersebut. Shakala yang merasa kalah langkah dengan Sayaka, dan Sayaka yang merasa semakin bukan apa-apa ketika berada di samping Shakala.


Subroto menarik napas panjang, dadanya sudah lega untuk bernapas. Kondisi pria tersebut juga jauh lebih baik ketimbang kemarin. Ditambah dengan kehadiran Seruni di depannya. Seakan obat tersendiri bagi Subroto. Kerinduan yang berbulan-bulan sudah ditahan, kini tertuntaskan hanya dengan melihat senyum di wajah sang putri.


"Jadi bagaimana?" tanya Subroto.


"Bagaimana apanya, Yah?" Seruni balik bertanya. Sebenarnya, dia paham betul apa yang dimaksud Subroto.


"Yakin?" Subroto mengabaikan pertanyaan Seruni sebelumnya.


"Insya Allah, Yah. Bang Sayaka orangnya tulus. Tekun kerjanya dan sangat polos. Bersama Bang Sayaka, Seruni seperti menemukan sisi lain dalam diri Seruni. Dan yang paling penting lagi, Seruni bisa tertawa lepas tanpa beban untuk hal-hal yang sederhana."


"Bang Sayaka minder karena belum menyadari apa yang dia miliki saat ini luar biasa, Yah. Kejujuran, ketulusan dan kerja keras yang melekat pada dirinya tentu tidak semua laki-laki bisa memilikinya," bela Seruni.


Subroto menyunggingkan sebuah senyuman sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyadari sepenuhnya jika Seruni sedang dilanda jatuh cinta yang tidak biasa. Hingga sedikit lupa, dalam kehidupan---cinta memang dirasakan berdua, tetapi akan ada orang-orang sekitar yang akan memberikan ujian pada cinta itu.


"Ayah tidak melarang. Ayah memang ingin segera mempunyai menantu, tapi Ayah harap kamu pikirkan dulu. Bagaimana pun, secara ekonomi dan pendidikan, kamu lebih tinggi. Bisakah kamu menahan ego untuk tidak mempermasalahkan hal itu selama pernikahan kalian? Bisakah kamu tetap menempatkan suamimu sebagai imam tertinggi meski dengan keterbatasan wawasannya? Apakah kamu siap mendengar suamimu dicibir orang lain karena mempunyai istri yang lebih hebat?"


Subroto menatap Seruni begitu lembut. Meski kata-katanya terdengar tegas dan lugas, tetapi dirinya memang bukan bertujuan untuk mengintimidasi sang putri.


"Jangan dijawab sekarang. Pikirkan saja dulu baik-baik. Seseorang yang dalam dirinya sudah merasa minder, biasanya akan mudah tersinggung. Dari ketersinggungan, dia mudah mengatakan kata-kata yang bisa memancing perdebatan. Ingat Seruni! Ini bukan hanya tentang perasaanmu, tapi juga tentang Sayaka. Cinta yang kalian miliki sekarang tentu dengan mudah akan mengatakan semua bisa dilalui bersama. Sekali lagi, jangan lupa kalau pernikahan itu bukan memahami pasangan satu hari lalu semua selesai. Proses pemahaman itu seumur hidup. Seperti waktu yang berjalan membawa perubahan, kalian pun begitu," tutur Subroto panjang lebar.


Seruni menganggukkan kepalanya. Paham betul apa yang menjadi kekhawatiran sang Ayah saat ini. Belum lagi, sepertinya kehadiran Shakala juga pasti bukan kebetulan. Tentu ada maksud tersendiri. Dan kedatangannya bersama Sayaka adalah hal diluar dugaan Subroto.


Di sisi lain, Sayaka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sebuah hotel bintang lima, tampak dibuat terus melihat, mengamati dan mengagumi keadaan di sekelilingnya. Sejenak mereka berhenti di depan resepsionis untuk melakukan registrasi. Karena tidak paham, Sayaka menyerahkan urusan pada Shakala.


"Ayo, Ka ... ini masih lobby. Kamarmu ada di lantai 25." Ajakan Shakala sejenak mengalihkan perhatian Sayaka dari pintu kaca yang terbuka dan menutup sendiri begitu ada orang yang berdekatan posisinya dengan pintu tersebut.


"Lantai 25? Tangganya ada di sebelah mana, Pak Mayor?" tanya Sayaka dengan polosnya. Kepalanya kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak di dapatinya anak tangga di sekelilingnya. Dia mulai mengatur napasnya. Membayangkan berapa ribu anak tangga yang akan dilalui untuk mencapai lantai yang disebut Shakala.


Tidak lama, bola mata Sayaka tertuju pada kotak besi yang berderet tiga, tidak jauh dari meja yang bertuliskan resepsionis. Kotak itu juga membuka dan menutup sendiri---diikuti orang yang keluar masuk dari dalam sana. Satu hal yang aneh adalah dengan kotak yang sama, orang yang tadi masuk selalu berbeda dengan orang yang keluar. Lagi dan lagi, Sayaka menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Ayo, Ka. Tidak ada tangga di sini. Kita pakai itu." Shakala menunjuk salah satu kotak besi yang dari tadi memang sudah diperhatikan oleh Sayaka.


Shakala melangkah mendekati lift. Pria tersebut menekan tombol arah naik. Sayaka hanya memperhatikan saja dari belakang. Sungguh tidak bisa dibayangkan jika dia harus sendirian di tempat ini.


Tidak lama, pintu lift pun terbuka. Setelah memastikan orang yang berada di dalam sudah keluar, Shakala mengajak Sayaka masuk ke sana. Tarikan awal yang biasanya memang sedikit terasa, membuat Sayaka kaget. Reflek dia mencari pegangan mengira ada gempa kecil yang terjadi. Untung saja, lift itu hanya berisi mereka berdua. Sehingga keduanya tidak perlu menahan rasa malu.


"Saya nanti kalau mau kemana-mana pakai tangga saja, Pak Mayor. Terus ini nanti kita berhentinya di mana?" Sayaka semakin erat menggenggam lengan Shakala dengan wajah yang pucat.