SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 10



Karena Reyhan pulang lebih awal dari biasanya, otomatis Livia pun pulang juga.


"Eh itu Livia ..."seru sebuah suara yang sangat Livia kenal dan tak pernah ingin sekali Livia bertemu orang tersebut.


Livia tercengang,Ibu tirinya tiba-tiba tersenyum ramah menyambut kedatangan dirinya.Si Ibu tiri merangkul bahu Livia lalu menggiringnya untuk duduk, yang mana disana ada sekelompok orang sedang bertamu.


"Sepertinya kalian memang berjodoh, biasanya dia selalu lembur.Dan pulang larut malam,tapi malam ini ? tiba-tiba dia pulang hehehehe"Perempuan istri Ayahnya itu duduk mengapit Livia dengan sang Ayah disebelahnya.


Livia heran dengan kalimat yang diucapkan ibu tirinya.Ia memperhatikan orang-orang yang menatapnya dengan senyuman yang susah diartikan.


"Livia ...Ada keluarga yang ingin meminangmu"Ayah Livia menyentuh ujung paha anaknya.Livia terperanjat ,ia benar-benar tidak percaya akan hal itu.


"Ta-ta-tapi Yah"


Kalimat Livia tak bisa dilanjutkan karena Ibu tirinya mencengkram bahu Livia yang dirangkul sejak tadi.Livia memperhatikan tangan yang berkuku lentik yang sedang menyakiti bahunya itu.


"Livia ...kamu sudah dewasa,sudah waktunya berkeluarga.Apalagi mereka keluarga berada ,jadi kamu tidak perlu bersusah payah lagi untuk bekerja dari pagi sampai malam hanya untuk mencari tambahan untuk membeli motor. Kalau setakat motor mereka pasti mampu membelikannya untukmu.Iya kan besan?"


"Iya..."jawab seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Ibu tirinya menyahut.


"Kamu kaget ya Nak, tidak merasa kenal dengan kami.Dan tiba-tiba datang melamarmu "Sambung wanita yang kemungkinan Ibu dari pria muda di sebelahnya.


Livia mengangguk pelan .


"Aku adalah sahabat almarhum Ibumu.Dulu sebelum kami menikah,kami mengikat janji bahwa jika anak kami sesama jenis,maka akan menjadi saudara kandung.Tapi jika berlain jenis,maka akan kami nikahkan"


"Selang beberapa tahun,aku menikah lebih dulu dan dibawa ke Surabaya.Tapi kami tidak pernah lost kontak,kami tetap menjaga persahabatan kami.Sampai akhirnya Ibumu menikah dengan Ayahmu.Tapi karena aku sedang hamil besar,jadi tidak bisa hadir"


"Ternyata aku melahirkan bayi laki-laki,dan tak lama kemudian Ibumu melahirkan bayi perempuan.Kami hanya memberi kabar melalui telepon.Dan melanjutkan janji kami"


"Tapi... ternyata Tuhan berkehendak lain, Ibumu tidak berumur panjang.Didepan pusara Ibumu,aku berjanji akan melanjutkan janji kami itu.Dan sekarang kami datang untuk menunaikan janji itu"


Livia menelan saliva,ia benar-benar tercekat.Ayahnya hanya tersenyum menanggapi Tatapan matanya yang meminta penjelasan,kenapa harus dirinya ???


"Kamu bersedia kan Nak... menikah dengan Khusairi anak kami??"lanjut wanita Ibu dari Khusairi itu.Livia bergulir menatap pria yang sejak tadi memperhatikan dirinya.Khusairi mengulas senyum.


"A-apa di-dia mau??"Livia gemetar sekali.


"Yah!!!saya mau..."Khusairi menjawab dengan tegas.


"Kamu sudah dengar sendiri kan sayang ??"Timpal Ibu tiri Livia dengan senyuman yang sangat lebar.Livia semakin tercekat, Apalagi melihat Ayahnya sangat bahagia sekali.


"Bo-boleh kami...bi-cara berdua"Livia memberanikan diri untuk membuat permintaan.


"Ooohhhh silahkan, Khusairi..."


Khusairi mengangguk menanggapi ucapan Ibunya, disini Ayah Khusairi hanya diam dan mengikuti saja.Karena yang membuat perjanjian pernikahan ini adalah istrinya.Dan disetujui oleh anaknya.


"Jangan kecewakan aku"bisik Ibu tiri Livia saat Livia hendak bangkit untuk keluar.Livia hanya mengangguk kecil.


.


.


.


Livia mengajak Khusairi duduk di teras samping rumahnya.Disana tempat ternyaman untuk menikmati langit malam.


"Silahkan..."Livia menawarkan duduk.Khusairi mengangguk sopan,ia duduk hampir bersamaan dengan si gadis.


Saat ini Livia jauh lebih tenang dari pada didalam tadi.Karena ia sangat takut kepada Ibu tirinya.


"Sejak kapan anda tahu tentang perjanjian itu?"Livia mengawali pertanyaannya.


"Sejak saya sudah menyelesaikan ujian kelulusan SMA "


"Apa anda langsung menerimanya ??"


Khusairi tersenyum lalu menggeleng.


"Aku meminta waktu untuk mengenal mu"


"Tapi kita tidak pernah kenal bukan?"


"Kamu yang belum mengenal ku,tapi aku mengenalmu "


Livia menautkan kedua alisnya.


"Siapa yang bilang ??"


"Tadi...tadi Ibu anda mengatakan bahwa ia diboyong ke Surabaya "


"Itu Ibuku, setelah aku lulus SMA aku kuliah di Tasik hanya untuk mengenalmu .Kamu kuliah jurusan keperawatan bukan??"


Livia mengangguk.


"Kita satu kampus,tapi berbeda jurusan.Kamu sangat dekat sekali dengan seorang pria yang bernama Reyhan ,dan sekarang dia menjadi Dokter di satu Rumah Sakit dimana kamu bekerja disana"


Livia terpana, ternyata Khusairi sudah banyak tahu tentang dirinya.


"Aku juga tahu,dari gerak tubuhmu kamu sangat menyukai Reyhan .Tapi???Reyhan play boy "


"Jadi anda memata-matai saya?"


"Aku hanya ingin mengenal siapa calon istriku "


"Lalu apa alasan Anda untuk melanjutkan perjodohan ini?? "


"Aku tidak punya alasan untuk menolak "


"Tapi seharusnya kita bisa menolak,jika diantara kita tiada perasaan apa-apa "


Khusairi menggeleng pelan.


"Dan anda sendiri tahu jika saya menyukai laki-laki lain bukan??"


"Yang aku tahu dia tidak menyukai mu"


Wajah Livia memanas, matanya memerah.


"Apakah masih ada pertanyaan lagi??"


Livia membuang muka,ia menggeleng pelan.


"Kalau begitu aku permisi dulu "


Khusairi bangkit dan pergi meninggalkan si gadis yang masih terlihat emosi.Ia sudah yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar.


Meskipun ia tahu,gadis itu tidak punya perasaan apapun terhadapnya.Ia akan membiarkan semua berjalan seperti air yang mengalir.


___


Livia berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya.Semua tamunya sudah pulang beberapa menit yang lalu.Ia sengaja tetap berdiam diri di samping rumahnya karena enggan untuk berpura-pura tersenyum diatas kepiluan hatinya.


Saat ia baru saja masuk,ia melihat Ibu tirinya sibuk membuka bungkusan yang mungkin bawaan dari keluarga Khusairi.Wajahnya begitu sumringah sekali.


"Eh Livia ... sini sini sini..."


Dengan enggan Livia melangkah mendekat.


"Lihat ini,mereka membawa satu set perhiasan untuk lamaran,Dan Minggu depan kalian akan menikah "


"Apa??? menikah ???"Livia bergulir menatap Ayahnya yang tersenyum tipis ke arahnya.Beliau pun terlihat berbinar bahagia.


"Ayah apa-apaan ini ?Livia belum siap"


"Lalu kapan kalau menunggu kamu siap?"Ibu tirinya menjawab.


"Tapi tidak harus Minggu depan...ini terlalu cepat "


"Sudah bagus Minggu depan,mereka justru maunya lusa"


"Apa???ini tidak adil...Livia berhak menolak Ibu"


PLAK!!!


Sebuah tamparan mendarat membuat pipi Livia perih.


"Kamu sama sekali tidak punya hak apapun untuk memilih,tugasmu sebagai anak hanya patuh saja.Apalagi ini perjodohan yang dibuat Ibumu.Jika kamu mau protes,sana!!gali kuburnya"


Livia tercekat ,pelan wajahnya tertunduk melantai.


"Ini adalah kesempatanmu untuk berbakti kepada Almarhum Ibumu Liv"Ayah Livia baru berkomentar.Livia diam,ia tidak bisa mengatakan apapun.Meskipun ia tetap mengutamakan keinginan hatinya, hasilnya akan tetap sama.Pernikahan akan dilaksanakan Minggu depan.