SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 7



Seruni segera keluar dari kamar itu, pipinya merona kemerahan karena malu. Bapak Ibu Sajad dan juga Shaka segera berlari menghampiri Seruni, begitu mendengar suara teriakan perempuan tersebut.


"Ada apa Ser?" tanya bu Sajad dengan wajah khawatir.


"Tadi ada kecoa bu." Seruni memilih berbohong. Tidak mungkin berkata jujur, mau ditaruh mana mukanya. Mudah mudahan laki-laki di dalam sana juga tidak menganggap kejadian itu ada.


Seruni tidak sempat melihat wajah laki-laki sang pemilik benda pusaka. ketika masuk tanpa permisi, yang menyambut dan langsung menjadi perhatian matanya adalah sebuah benda menggantung tepat di antara dua paha. Layaknya jantung pisang yang menggantung.


"Ya sudah Ser, kamu mandi dulu. Itu kamarmu," ucap bu Sajad seraya menunjuk kamar tepat di seberang kamar yang dia masuki tadi.


Seruni segera masuk ke kamar tersebut. Menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah sangat merah merona karena dia sendiri sudah merasakan panasnya.


Di dalam kamar mandi, Seruni berkali-kali menepuk ringan kepalanya. Sekedar ingin membuat apa yang mengisi pikirannya saat ini keluar jatuh ke lantai dan hanyut terbawa air masuk ke ****** lalu menghilang tanpa jejak.


"Astaga apa yang aku lihat tadi. Ya Tuhan mataku sudah tidak perawan lagi. Baru kali ini melihat secara Live, mana gede pula. Aduh, kenapa jadi traveling begini." Seruni seperti salah tingkah sendiri.


Selesai mandi, Seruni masih mondar mandir di dalam kamar sementaranya. Di acara makan malam nanti pasti laki-laki tadi juga akan berada di tengah-tengah keluarga pak Sajad.


"Ser ... Ayo kita makan dulu!" Bu Sajad terdengar sudah memanggilnya dari luar pintu.


Seruni mengatur nafasnya, mengumpulkan rasa cuek dan masa bodoh yang selama ini dimilikinya. Dia pun membuka pintu kamarnya.


"Ayo makan dulu! Nanti keburu warga datang," ajak bu Sajad.


Seruni berjalan di belakang mengikuti langkah kaki bu Sajad yang lebar. Ada lima orang yang sudah ada mengelilingi meja makan kayu sederhana dari papan kayu, tidak ada kain yang menutupi bagian atasnya.


Pak Sajad, Shaka dan tiga laki-laki yang nampak sebaya. Entah siapa pemilik benda pusaka yang kini malah sengaja mengajak jaelangkung menyambangi pikirannya. Datang dan pergi semaunya tanpa salam tanpa diminta.


Melangkah perlahan, Seruni sebisa mungkin menampilkan wajah yang normal. Shaka menarik bangku yang terbuat dari bambu-bambu utuh yang dipaku rapi untuk menyatukannya.


"Terimakasih, Bang," ucap Seruni.


"Owh ya Ser, kenalkan ini anak bapak, kebetulan malam ini sedang pulang. Sabri dan Safri bekerja di negeri sebelah. Yang deket bu Sajad itu namanya Sayaka, masih kerabat bapak. Dia yang mengurus kebun milik bapak." pak Sajad menunjuk bergantian tiga orang laki-laki di sisi kirinya sesuai nama.


Pikiran Seruni mulai bekerja, jiwa dokternya mulai menganalisa dan juga setengah mengira-ngira. Tentu tidak ada yang pasti, jika hanya melihat tampilan luarnya. Ketiganya memiliki fisik yang hampir serupa, tapi pria bernama Sayaka sepertinya lebih kekar dan berotot dibanding dua yang lainnya. Uratnya terlihat biru menonjol saat dia menumpukan sikunya di atas meja. Kulit Sayaka lumayan cerah, meski tidak putih mulus. Untuk ukuran laki-laki warna itu sudah pas.


Mata Seruni beralih pada Sabri, uratnya tidak terlalu menonjol, tapi lengannya lebih gempal. Kulitnya eksotis seperti milik Shaka. Tidak hitam, lebih ke sawo matang yang terawat dengan sempurna. Bergeser ke Safri, hampir sebelas dua belas dengan Sabri Ketiganya tampan dengan versi masing-masing. Secara fisik, Seruni bisa tertarik dengan salah satunya.


"Di makan Ser, maaf seadanya. Semua ini hasil kebun sendiri," ucap bu Sajad membuyarkan proses skrining yang dilakukan Seruni.


"Eh ... Iya bu," Seruni menjawab dengan gugup.


Acara makan malam pun berlangsung hangat. Sesekali mereka berbincang akrab. Sabri dan Sayaka sepertinya memang lebih tertutup dan pendiam dibanding Safri yang sama ramahnya dengan Shaka.


"Puskesmas jauh pak dari sini?" tanya Seruni di sela-sela obrolan mereka.


"Tidak jauh Ser, dari tempat kebakaran tadi kamu berjalan lagi 100 meter. Jangan bayangkan puskesmasnya seperti puskesmas di kota atau pinggiran kota. Lebih seperti posyandu. Tidak tersimpan satupun alat kesehatan di sana, hanya timbangan bayi. Tidak ada dokter atau bidan yang menetap di sini, biasanya mereka hanya datang sebulan paling banyak dua kali," jelas pak Sajad.


"Kotak P3K?" tanya Seruni sedikit kaget dengan pernyataan pak Camat.


"Ada, tapi mungkin obat-obatnya sudah kedaluwarsa. Karena tidak pernah kami pakai. Kami mengandalkan alam kalau sedang sakit. Kalau alam sudah tidak sanggup, kami baru turun ke kabupaten," tambah pak Sajad.


Seruni mengangguk mengerti. Tidak sengaja mata Seruni beradu pandang dengan salah satu pria di depannya. Seruni buru-buru mengalihkan pandangnya. Tatapan mata itu membuat Seruni tidak nyaman.


Mereka bergeser melanjutkan obrolan di halaman rumah Pak Sajad. Warga sudah berkumpul. Penduduk di sini tidak banyak, hanya 421 jiwa, setara dengan jumlah penduduk satu RT di tempat tinggal Seruni.


Tidak lebih dari 30an yang hadir malam ini. Sebagian yang lain tentu tidak bisa turut serta karena dalam satu desa yang sama ada wilayah-wilayah yang harus menyebrangi sungai dan jalan terjal untuk mencapai tempat di mana Seruni berada sekarang. Di sanalah sebenarnya populasi penduduk lebih padat.


Dalam satu kecamatan ini, ada tiga desa. Desa tempat pak Sajad ini bisa dikatakan sebagai pusat kehidupan mereka. Kegiatan perekonomian dan pendidikan dilakukan di desa ini. Posko TNI penjaga tapal batas wilayah NKRI pun berada di sini.


"Bang Shaka, boleh nggak Seruni minta tolong sama abang?" tanya Seruni setelah penduduk sudah kembali ke rumah masing-masing.


"Boleh, tapi kalau aku bisa ya, kalau enggak jangan ngambek," sahut Shaka.


"Aku mau nitip Bang Shaka belanja obat-obatan standart dan beberapa alat kesehatan. Aku yakin kalau mengajukan dulu akan lama. Abang taulah birokrasi dan prosedur kita bagaimana. Diposisi dari satu tingkat ke tingkatan yang lain saja sudah menyita waktu. Luka bakar ibu tadi butuh cepat kasa dingin agar tidak infeksi kena debu atau bakteri yang lain. Abang bisa kan mengusahakan pengadaannya maksimal lusa?" tanya Seruni penuh harap.


"Kamu mau memanfaatkan jabatanku, Ser?" Shaka balik bertanya dengan nada menggoda.


"Tentu saja. Kadang kita harus menggunakan kekuasaan di sekitar kita. Selama itu untuk kebaikan bersama kenapa tidak. Apa yang harus kita dahulukan, prosedur atau nyawa? Bisa ya, Bang? Aku yakin, peralatan dan obat yang dibutuhkan masih standart dan mudah didapatkan. Tunjukkan kemampuanmu, Bang!" Seruni menjelaskan pada Shaka, tapi di ujung kalimat malah menggoda dengan mengerlingkan satu mata.


Shaka meringis melihat godaan nyata di depannya.


"Ser, boleh minta nomer ponselmu?" tanya Shaka langsung menyodorkan ponselnya pada Seruni.