SERUNI

SERUNI
BAB 89 Tertangkap Basah



Hari sudah senja,Seruni menuruni anak tangga.Pandangannya menyapu ke sekitar,sepi...


Ia melangkah ke dapur,Bik Lulu tak ada disana.


"Kemana perginya semua orang ya??"


Sejak Bagas diminta untuk membiarkannya sendiri,pria itu benar-benar tak menampakkan diri.Entah kemana dia??


Saat Seruni melangkah ke teras rumah,eh Bik Lulu ternyata tengah menyiram bunga.Seruni mengulas senyum lega, akhirnya ia tidak sendiri rupanya.


Seruni melangkah mendekati Bik Lulu, wanita yang sudah tak lagi muda itu menoleh ke belakang ketika mendengar derap langkah kaki yang menghampiri.


"Nona..."


Seruni membalas sapaannya dengan senyuman.


"Kok sepi ya Bu...kemana Bagas?Apa ikut orang tuanya pergi??"


"Oh tidak Non,saat Ny Sasti danTuan Radit pulang, sebentar kemudian Tuan Bagas juga keluar.Katanya mau ke Kantor, bentar lagi pasti datang "Jawab Bik Lulu jelas.


Seruni mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bu boleh nanya sesuatu nggak ??"


"Boleh...apa?"


"Kok aku perhatikan ya, Ibunya Bagas tuh sayang banget sama aku??kenapa ya??"


"Karena dia memang sayang banget sama Non sejak Non masih kecil,Ny Sasti itu sahabat baik almarhum Ibunya Non.Dia anggap Non itu seperti anaknya sendiri,karena dia kan nggak punya anak perempuan "


"Terus Utari itu sepupu aku dari belah mana ya Bu?"


"Dari Ayahnya Non"


"Tapi kok aku nggak pernah ketemu sama keluarga yang lain ya Bu??"


Bik Lulu tersenyum perih,ia mematikan kran air lalu meletakkan selang air yang ia gunakan untuk menyiram tanaman.Lalu ia mengajak Seruni untuk duduk di kursi samping rumah.


"Saudara Tuan besar tidak suka dengan kesuksesan yang Tuan raih, mereka semua iri hati.Saat orang tua Non kecelakaan maut,mereka pada berebut mau mengasuh Nona.Tapi Kakek Non yang mengambil hak asuh, karena beliau tahu bahwa mereka hanya mengincar harta warisan.Bukan semata-mata kasihan kepada Nona"


"Jadi Bunga sudah tidak punya siapa-siapa ya Bu"tiba-tiba hati Seruni terasa perih dan sakit.Bik Lulu meraih bahu Bunga dan didekapnya erat.


"Non Bunga jangan pernah bilang begitu ya??ada Bibik,Bibik tidak akan pernah meninggalkan Nona...Bibik sayang banget sama Non Bunga "


Seruni tersenyum getir dalam pelukan Bik Lulu.


"Kasihan sekali kamu Bunga..."Ucapnya dalam hati.


"Bu...."


Bik Lulu melepaskan pelukannya,ia mengesat air matanya dengan punggung tangannya.


"Bagaimana jika aku mati nanti ??"


"Sstttt Non Bunga tidak boleh bicara begitu, pamali"


"Pasti harta warisan ini akan jadi rebutan ya Bu"


"Kan ada Den Bagas,Bibik yakin pasti Ny Sasti akan bertindak dengan bijak.Hanya tinggal Ny Sasti orang yang bisa dipercaya Non"


"Kalau harta warisan ini jatuh ke Bagas, berarti Utari akan mendapatkannya juga.Secara Bagas akan menikahi nya"


Bik Lulu terdiam,perandaian dari Bunga menurut nya itu bisa saja terjadi.


"Aku harus menyelamatkan harta ini Bik,harus!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bagas duduk dibelakang meja kerjanya,ia sangat fokus menyimak setiap lembar file yang sesaat tadi ia terima dari Menegernya.


"Kamu datang juga sayang"sapa Bagas .Ia kembali fokus ke lembaran kertas kerjanya.


"Iya,kan kamu ada disini.Jadi aku juga datang kesini sayang"


Utari menutup map yang sedang dikerjakan oleh Bagas ,lalu ia mendorong bahu kekasihnya hingga menyandar.Tanpa canggung,Utari duduk di pangkuan Bagas sambil lalu melingkarkan tangannya ke leher pria itu.


"Aku sibuk sayang"


"Sebentar saja ok"Bujuk Utari .


"Kamu mau apa?"


Tanpa menjawab,Utari langsung mengulum bibir pria itu.Bagas diam tak melawan, awalnya ia tak berbuat apa-apa.Tapi lama kelamaan lumayan bibir Utari menaikkan gairahnya.Ia pun membalas gigitan demi gigitan.Kedua tangannya meremas buah pinggang milik Utari .


Merasa sudah ada reaksi balasan,Utari bangun lalu berganti posisi dengan duduk mengangkang di paha Bagas .Keduanya pun semakin intim,Bagas membenamkan wajahnya diantara dada Utari yang menonjol.Membuat gadis itu mendesah tak karuan.


Karena ke asyikan berasmara, keduanya sampai tidak tahu jika Ny Sasti sudah berdiri di ambang pintu.Ia dengan santainya berdiri sambil melipat tangan di dada menyaksikan pergumulan yang memanas.


Saat Bagas mengangkat tubuh Utari ke atas meja,barulah ia tahu jika Ibunya ada diambang pintu.Sontak ia kaget dan mendorong tubuh Utari ke samping.Utari pun gelagapan,ia segera merapikan pakaiannya dan memasang kancing bajunya yang terbuka separuh.


"Jadi begini kerjaan kamu di kantor??"


Ny Sasti melangkah mendekat,Bagas dan Utari sudah pucat pasi ketakutan.


"Kalau saja bukan karena kebaikan Mamanya Bunga,sudah pasti aku sudah memecatmu Utari!!!Dan kamu Bagas , ingat!!! ucapan Mama tidak main-main.Jika sampai kamu belum bisa punya keturunan dengan Bunga.Maka semua warisan yang Bunga miliki akan Mama sumbangkan ke yayasan.Paham kamu!!"Ny Sasti menyepak file yang digenggamnya sejak tadi.Ia datang ke kantor karena mendapat laporan tentang sebuah masalah di Unit Cabang.


Setelah berucap demikian,Ny Sasti keluar dari ruangan putranya dengan membanting pintu dengan kasar.


Bagas duduk dengan lemas,ia mengusap wajahnya yang mulai berdarah kembali.


"Apa tadi Mama kamu bilang sayang??kamu harus punya anak dengan Bunga??"


Bagas mengangguk lemah.Utari mendengus kesal,ia menghempaskan tubuhnya ke atas kursi yang tersekat meja dengan Bagas.


"Aku tidak setuju sayang,aku tidak sudi kamu menyentuhnya "


Bagas hanya diam, ia tidak bisa menanggapi apapun.


"Kamu milik aku,dan selamanya akan begitu"


"Tapi kamu harus bisa terima akibatnya sayang ,sudah pasti aku akan didepak dari perusahaan ini.Dan kamu juga pasti akan dipecat sama Mama"


"Itu nggak mungkin sayang,Mama kamu hanya mengancam saja.Nggak mungkin seorang Mama menyingkirkan anaknya sendiri,iya kalau aku sudah pasti dipecat.Tapi kalau kamu?itu mustahil "Utari merasa sangat yakin sekali.


"Kamu belum tahu siapa Mama ku"Bagas bersandar lemah, pandangannya menerawang ke atas.


"Ka-kamu takut sayang??"


Bagas menggeleng,ia ingin sekali mengatakan bahwa yang ia takutkan bukan Mamanya.Melainkan Bunga,gadis itu banyak sekali berubah.Bagas tak tahu kenapa ia merasa takut sekali dengan perubahan Bunga.


"Sayang..."


Panggilan dari Utari membuyarkan lamunannya.


"Nanti malam kita makan malam dirumah ku aja ya"Utari mengulas senyum,sudah dua kali ia hampir menyatukan tubuh dengan Bagas .Kali ini ia tidak boleh gagal lagi, kalau ia melakukannya di rumahnya pasti tidak akan ada yang menggangu.


"Kita lihat saja nanti sayang..."Jawab Bagas tak bergairah.


"Kenapa??kamu sudah bosan makan bareng sama aku??"Utari memasang mimik muka sedih.


"Bukan...tapi aku capek sayang,kamu kan tahu kalau kita habis datang dari Jakarta.Aku belum sempat istirahat langsung kesini"Bagas menjelaskan secara rinci.Utari diam,ia menghela nafas kesal.Namun tak tega juga bila dipaksakan.


"Ya udah,kapan kamu akan makan di rumah ku sayang ?"


"Nanti kalau aku ada waktu ya..."Bagas tidak berani berjanji namun ia juga tidak bisa menolak.Karena ia tahu karakter Utari seperti apa?