SERUNI

SERUNI
DOKTER PSIKIATER HANTU BAB 42



"Al... sekarang kita harus gimana ?"


Aldo tetap memilih diam menyingkap pertanyaan Caroline untuk kesekian kalinya.


"Jawab dong Al... jangan diam saja"


"Aku bingung Car... Aku mau tanggung jawab atas kehamilan kamu tapi ini terlalu cepat. Mama nggak akan setuju"


"Terus gimana ??"


"Kita gugurin saja dulu"


"Apa??Ini manusia hidup Al...kamu tega mau bunuh anak ini"


"Ya kita harus gimana ??kamu tahu sendiri Mama Aku gimana ?Dan aku yakin Mama kamu juga pasti tidak akan bisa terima anak itu juga"


Caroline menundukkan kepalanya,ia menangis.


"Sayang....aku tahu ini salah,tapi kita tidak punya pilihan lain. Kalaupun kita mengatakan hal ini kepada kedua orang tua kita, mereka juga pasti akan menyuruh kamu untuk menggugurkan kandungan ini"


Caroline menelan saliva dalam-dalam.


"Tapi aku takut Al..."


"Dokter Inggit pasti bantu kamu,kita akan membayar dia berapapun agar kamu tidak kesakitan "


"Kamu yakin??"Caroline menatap Aldo lekat,Pria itu mengangguk yakin.


......................


Akhirnya dengan dukungan dari Uzma ,Reyhan pun mengijinkan Seruni untuk membantu Steven.Namun dengan syarat,Seruni tidak perlu tinggal satu rumah dengan Steven. Cukup tinggal di hotel saja.


Meskipun agak keberatan, Seruni pun setuju.Reyhan meninggalkan mobil miliknya disini,ia dan Uzma pulang naik taxi online.


"Aku balik ke hotel dulu ya"pamit Seruni setelah Kakaknya dan istrinya sudah berangkat pulang.


Steven diam,ia menatap Seruni dengan lekat.Mendapatkan Tatapan yang menggetarkan jiwa,Seruni tertunduk.Namun ia mengangkat kakinya dengan ragu-ragu.


Tetiba, sebuah tarikan membuatnya jatuh ke pelukan Steven.Tubuh Seruni memias panas.Ia tercekat,


"Maafkan aku,,,,aku hanya ingin memelukmu"ungkap Steven membuat senyuman tersungging di bibir Seruni . Ia pun secara perlahan membalas pelukan Steven.


Merasa ada respon, Steven semakin mempererat pelukannya.


"Aku heran, kenapa aku merasa tak rela jika kamu pergi ?Maaf... kalau aku lancang...Saat ini aku hanya merasa nyaman bila bersamamu.Rasa sakit karena pengkhianatan,tak lagi ku rasakan.Justru aku merasa lupa seperti apa perasaan ku kepada Caroline dulu?"


Seruni diam menggigit bibir bawahnya.


"Kamu nggak marah kan?? kalau kamu marah,atau tersinggung ?? pukul saja aku"


Seruni merenggangkan pelukannya, tubuhnya yang lebih pendek dari tinggi tubuh Steven membuatnya harus mendongakkan kepalanya.


Untuk beberapa saat, keduanya saling bertatapan.Seruni menjinjitkan tungkai kakinya dan memberikan kecupan di pipi Steven.


"Lebih baik aku mencium mu dari pada harus memukul mu..."Ucapnya,Mata Steven berbinar.Ia melingkar kan tangannya ke pinggang Seruni lalu sedikit menurun kan wajahnya hingga bisa mencium bibir gadis itu.


Seruni pun membalas ciuman hangat itu dengan tangan melingkar di leher Steven.Membuat keduanya semakin lekat.


Caroline yang menyaksikan itu semua perlahan mundur dengan kaki gemetar.Hatinya hancur sehancur-hancurnya.


"Seperti inikah perasaan Stev saat melihat ku bercumbu dengan Aldo?? Ternyata memanglah sakit... sangat sakit..."


Caroline meremas baju dibagian dadanya,air matanya jatuh perlahan membasahi pipinya.Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.Ia pun menyorokkan tubuhnya ke balik celah pintu gerbang.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berlalu perlahan melewatinya .Caroline yakin mobil itu pasti mobil yang dinaiki oleh Seruni.


Setelah menarik nafas beberapa kali, ia pun menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya untuk menemui Steven.


TING TONG TING TONG


Steven yang baru saja menutup pintu, heran tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Tapi mendadak ia tersenyum karena mengira Seruni kembali untuknya.


"Sayang...."seru Steven bersamaan dengan gerakan tangannya membuka daun pintu.Caroline tersenyum tipis mendengar seruan tersebut.


Ia berhambur memeluk tubuh Steven yang tegap. Pria itu tercengang, ia telah kehilangan senyumnya seketika itu juga.


"Aku sangat merindukanmu Steven"Caroline merintih penuh perasaan.


"Car... tolong lepaskan aku"Steven berusaha melepaskan diri,namun pelukan Caroline sangatlah erat.


"Car... tolong...hargai bayi yang kamu kandung,itu anakmu dengan Aldo"


Caroline tersentak kaget ,pelukannya perlahan merenggang.


"Dari mana kamu tahu aku hamil Steven ?"


"Aku tadi berada di klinik di saat kamu keluar dari klinik, Aku sudah mendengar semuanya"


Caroline tertunduk...


"Tapi bayinya tidak patut dihargai Stev"


"Kenapa kamu bicara begitu?"


"Kehadirannya tidak dikehendaki oleh semua orang"


"Kamu jangan begitu Car... kasihan bayi itu"


"Aku juga tidak mau Stev, Dia anakku ,darah dagingku.Tapi Aldo belum siap menghadapi kemarahan ibunya, dan aku juga tidak siap menghadapi kemarahan Mamaku "


"Apapun itu...kau harus menghadapinya Car"


"Kamu mau kan bantu aku Stev"


"Bantu kamu?"


Caroline mengangguk yakin.


"Bantu apa?"


"Menikah denganku ,agar bayi ini tetap hidup"


"Kamu sudah gila Car..."


"Aku tidak punya cara lain, agar bayi ini tetap hidup Stev.Mama pasti mau menerima keberadaan bayi ini jika kamu Sudi menikah dengan ku"


"Setelah kamu menghianatiku, sekarang kamu minta aku untuk menjadi tameng dengan alasan bayi itu"


"Lalu Siapa yang bisa menolongku Stev? Aku tidak mau menggugurkan kandungan ini ,dia makhluk hidup"


"Kamu harus berani, kamu harus berani memperjuangkan anakmu tanpa harus mengkambing hitamkan orang lain. Kamu harus menanggung semua kesalahanmu ini. Bukan menjadikan aku sebagai topeng dari kedok busukmu"


"Jadi kamu tidak mau menolong ku?"


"Aku tidak bisa "


"Aku hanya ingin kamu menjadi Ayah sementara bayi ini saja. Setelah sebulan ataupun paling tidak 2 minggu kita bisa cerai. Jadi aku tidak perlu menanggung malu atas keberadaan bayi ini Stev"


"Aku yang malu Car, apa kata orang nanti? seorang dokter Steven menikah Hanya dua minggu lalu bercerai . Mereka pasti mengira aku hanya menikmati keperawananmu dan meninggalkan kamu begitu saja. Mereka juga bisa mencap aku sebagai laki-laki bajin9an"


"Apalagi sekarang aku harus menjaga perasaan Seruni .Aku tidak mau merasa iba kepadamu dan mengorbankan perasaanku kepada Seruni"


Caroline tersenyum kecut.


"Sebegitu cintakah kamu padanya Stev ?"


"Bukankah cinta itu pernah aku berikan kepadamu? tapi kamu terlalu ngelunjak. Sehingga kamu merasa aku bisa dibodohi, dan akan tetap mencintaimu meskipun aku dikhianati"


Caroline benar-benar seperti sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Baiklah jika memang kamu tidak mau membantuku, aku akan memilih jalanku sendiri. Dan satu hal yang harus kamu ingat Stev, jalan yang aku pilih sekarang itu semua karena kamu sudah tidak peduli lagi padaku. Karena kamu tidak mau membantuku"


"Apapun itu ,semua yang kamu lakukan adalah hasil dari perbuatan mu sendiri Car. Jadi kamu tidak berhak menyalahkan orang lain atas semua yang telah terjadi . Apalagi menyalakan aku yang merupakan korban dari kelicikan kamu Car"


Caroline tersenyum sinis...Ia manggut-manggut lemah seperti orang yang kehilangan akal.Lalu melangkah mundur dan turun dari teras kemudian berlari kecil meninggalkan Steven tanpa pamit.