SERUNI

SERUNI
BAB 74 Tulang Belulang Manusia



Suprayogi berbaur bersama dengan sekelompok orang-orang desa yang hendak pergi memanen getah karet.Saat itu ia baru saja pulang dari piket malam.


"Boleh saya ikut Pak?"Tanya Yogi kepada seorang pria paruh baya.


"Boleh... silahkan..tapi nanti bajunya kotor loh den"Pria itu menunjuk penampilan Yogi yang rapi dengan jaket kulit hitam nya.


"Tidak apa-apa Pak"Sanggah Yogi.


"Memang Aden mau ngapain ikut kami masuk hutan?"Tanya salah seorang lagi.


"Mau ninjau lahan Pak sekaligus meng- akumulasikan berapa penghasilan dari hutan karet ini perbulan"Jawab Yogi cerdas.


"Ohhhh... kalau tidak salah ini luasnya Sampek 20hektar Den....Di ujung sana berbatasan dengan yayasan milik Ny Desi yang memiliki hutan karet ini.Kami semua nguli sama dia"


Yogi manggut-manggut.


"Apakah Aden ini anak Ny Desi ?"


"Bukan...saya pekerjanya"Jawab Yogi bohong.


"Ohhhh gitu... dengar-dengar putra Ny Desi akan tinggal di yayasan, mengurus semua lahan karet ini.Dan juga tanah persawahan di seberang desa sebelah?"


"Iya Pak,dan saya diminta mengecek semua data yang ada"sekali lagi Yogi berbohong.


"Ohhh begitu"


"Ya sudah Den....kami berpisah disini saja ya,Aden mau kemana?"Ucap seorang lagi.


"Kalau ke arah yang tembus ke Yayasan dimana ya Pak,saya jadi bingung nggak tahu arah"


"Aden lurus ke arah timur laut,nanti pasti akan tembus ke Yayasan "Pria itu menunjuk ke satu arah.Yogi mengangguk mengerti.


"Terimakasih Pak "


"Sama-sama Den"


Gerombolan pemanen karet berjalan kejalur lain.Suprayogi mengamati mereka sampai tak terlihat.Setelah dipikir aman,Yogi mengeluarkan alat pendeteksi jasad manusia yang ia pinjam dari tempat ia bekerja.Lalu ia melangkah masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan.


20 hektar??? pantas kejahatan Mukhlis terpendam.Pikir Suprayogi selama ia menapakkan kaki menelusuri hutan.


Pria itu mengingat kalimat yang diucapkan Seruni ,bahwa tempat itu hampir tidak ada cahaya matahari masuk.Dan kini ia berada di tempat yang mana sangat temaram meskipun hari ini sudah akan beranjak siang.


Suprayogi mengaktifkan alat pendeteksi yang ia bawa.Dengan mendekat kan ke tanah,Yogi terus mencari jasad yang terkubur itu.


Tit tit tit tit tit tit...


Bunyi alat itu memecah keheningan,Yogi terus saja Mencari.Semakin masuk ke dalam hutan.


Tittititititititiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt


Bunyi memanjang terdengar,Yogi segera membuka ranselnya.Ia mengambil alat sejenis cangkul namun terbuat dari besi yang bisa dilipat.Di ganggangnya pun ada semacam tombol yang bisa menggerakkan cangkul tersebut secara otomatis.


Yogi menekan tombol tersebut lalu menanam batang alatnya ke tanah dengan kuat.Ujung cangkul tersebut bekerja dengan baik dan lebih cepat dari gerakan manusia.Bisa dibilang sejenis robot cangkul.


Yogi menyuluh lampu senter lalu dipasangnya dikepalanya.Ia terus memperhatikan lubang yang semakin dalam tergali.Dan tanpa sengaja ujung cangkul mengait sesuatu benda keras berwarna putih,Yogi segera memungut benda itu setelah dihempaskan oleh robot cangkul.


Kedua bola mata pria itu membeliak lebar,sudah dipastikan benda itu adalah tulang betis manusia.Yogi segera menghubungi temannya.Namun sinyal ditempat itu tidak terjangkau.


Yogi tersenyum,ia punya rencana jitu.Ia pun memperluas area penggalian,dalam hal itu ia mempercayakan sepenuhnya kepada robot cangkul miliknya.Ia sendiri sibuk menaiki beberapa pohon karet.Dan menghitung letak strategis yang dapat ia letakkan CCTV mini yang akan merekam gerak manusia disekitar area yang ditandai nya.Dengan begitu,Yogi tidak khawatir barang bukti hilang karena ia menciptakan barang bukti baru.


Tapi ia tetap mengambil beberapa Sempel tulang belulang manusia yang ia jumpai.Untuk ia selidiki dengan bantuan dokter ahli forensik.


Setelah semua selesai,Yogi menutup kembali bekas galian itu sekedarnya saja untuk mengecoh pelaku.Ia merapikan barang-barangnya lalu memanggul kembali tas ranselnya.Tak lupa ia menjinjing karung goni yang ia jadikan tempat menyimpan tulang belulang yang ia temui.


Pria itu pun pergi dengan tergesa agar segera menyelesaikan tugas sampingannya itu.


___


Dua mata bergulir mengikuti gerak tubuh Suprayogi.Ia bersembunyi dan diam dibalik semak belukar,gadis itu terlalu takut untuk keluar.


Yah!! Muhibbah melihat semua yang dilakukan oleh seorang pria asing yang ia tak tahu siapa?tapi ia yakin kali ini kekasih hatinya dalam bahaya.


Setelah Pria misterius itu pergi, Muhibbah keluar dari tempat persembunyiannya.Lalu gegas berlari menuju rumah Mukhlis.


Ia menunggu kedatangan Mukhlis mengajar dengan perasaan yang tak karu-karuan.Langkahnya mondar-mandir disekitar ruang tamu.Ia tidak berani keluar karena takut diketahui orang-orang yayasan sehingga ia akan dihukum akibat penyerangannya kepada Seruni .


Jam sudah menunjukkan lewat pukul tiga sore, seharusnya Mukhlis sudah datang.Karena ia akan pulang dari Yayasan setelah melakukan sholat ashar berjamaah.


___


Di lain tempat, Mukhlis mencegah langkah Seruni yang baru saja turun dari Musholla.Gadis itu kaget dengan sikap Mukhlis yang terbilang cukup agresif.


"Ada apa Ustadz???"


"Emmmm maaf Neng,saya ingin sekali bicara dengan Neng,emmmmm...ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sama Neng"


Seruni menautkan kedua alisnya.


"Mau menyampaikan apa ya Ustadz??"


Mukhlis menatap ke sekitar, tempat itu masih terbilang ramai meskipun sebagian anak-anak panti sudah pergi ke kamar masing-masing.


"Kita bicara di Taman sana"Mukhlis menunjuk sebuah tempat di belakang Mushola.Seruni diam berpikir sejenak.


"Baiklah Ustadz"Jawab Seruni pada akhirnya.Mukhlis tersenyum senang mendengar ajakannya diterima oleh Seruni .Ia tidak akan membuang kesempatan ini.


Mukhlis pun membawa Seruni menuju ke arah taman.Tak jauh dari Musholla,disana juga ada lapangan basket dan futsal.Mukhlis mengajak Seruni duduk di bangku yang terbuat dari semen,agak jauh dari keramaian.


"Kita duduk disini saja"Pinta Mukhlis.Seruni menurut,mereka pun duduk berhadapan dengan disekat sebuah meja terbuat dari semen juga.


"Katakan lah Ustadz mau menyampaikan apa??saya tidak bisa lama-lama meninggalkan Bapak Ustadz"Seruni membuat alasan agar bisa cepat pergi dari tempat itu.


"Emmmm tapi Neng jangan marah ya??"


"Kenapa saya harus marah??"


"Karena sejujurnya saya menyukai Neng sejak pertama kali saya melihat Neng"Ucap Mukhlis mengutamakan perasaannya.Kedua bola mata Seruni membulat sempurna.


"Saya tahu Neng sudah bertunangan dengan Tuan Muda,tapi melihat Neng kemarin begitu akrab dengan pria lain membuat saya yakin bahwa saya masih ada kesempatan untuk bisa membahagiakan Neng"


Emosi gadis itu semakin bertambah besar mendengar sambungan kalimat yang diutarakan oleh lawan bicaranya.


"Neng jangan marah dulu,jangan tersinggung dulu..."Mukhlis dengan berani menyentuh tangan Seruni , refleks Seruni menepis tangan Mukhlis.