
Setelah selesai menjalankan sholat Ashar di musholla samping rumah Pak Camat, Seruni bersiap untuk pergi bersama Shaka. Dia sangat bersemangat, karena ini adalah kali pertama Seruni akan menginjakkan kaki di negeri sendiri dan negeri tetangga dalam waktu yang bersamaan.
Shanum dan Sayaka juga sudah bersiap-siap. Seruni sudah meminta ijin pada Shaka untuk mengajak kedua orang itu dengan alasan agar lebih ramai dan seru.
Shaka sudah datang menjemput. Penampilan Shaka, membuat Sayaka kembali ke kamarnya lagi. Kemeja bergaris verikal dengan warna coklat yang dia kenakan sangat jauh dengan penampilan Shaka. Jeans biru tua, kaos oblong berkerah warna telur asin dan sneakers yang digunakan Shaka jelas tidak murahan.
Sayaka membuka isi lemarinya, jeans yang dipakainya sudah sesuai. Tetapi saat memilih baju atasan sungguh membuatnya bingung. Tidak ada satupun pakaian sebagus milik Shaka yang dia punya.
Seruni keluar menggunakan jeans dan t-shirt yang warnanya tanpa disengaja senada dengan Shaka. Keduanya terlihat seperti couple goals. Tas selempang kecil juga berwarna biru telur asin mempermanis penampilannya.
Sama seperti Sayaka, Shanum pun merasa tampilannya sangat jauh dari kata mengesankan. Rok plisket hijau botol dipadu dengan blouse warna yang sama dengan sandal wedges lima senti andalan melekat di tubuhnya. Begitu kontras dengan Seruni.
Shaka menyapa Shanum dengan senyum dan anggukan sopan. Saat melihat Seruni, senyuman dan matanya beralih pada mode Terpesona.
"Kok Bang Sayaka lama sekali?" tanya Seruni, sedikit heran.
"Iya, padahal tadi sudah siap lho, Kak," timpal Shanum.
Seruni berdiri dan kembali masuk ke dalam untuk memanggil Sayaka. Baru saja tangannya terulur ingin mengetuk pintu, Sayaka muncul dengan ragu dari dalam sana.
"Bang Sayaka, ganteng sekali." Seruni tanpa sadar memuji Sayaka yang mengenakan kaos oblong warna merah. Terlihat sangat segar. Biasanya pria itu lebih sering memakai warna hitam atau coklat.
"Benarkah?" Sayaka bertanya karena tidak yakin dengan penampilannya sendiri.
"Iya, Bang Sayaka ganteng banget. Pasti gadis-gadis di sini banyak yang naksir sama Abang," goda Seruni.
Sayaka malah menggaruk tengkuk lehernya. Ucapan Seruni, sungguh membuatnya salah tingkah, hingga tersenyum malu-malu.
''Ya Allah, menggemaskan sekali. Pengen aku bawa ke kota saja rasanya. Di sana nggak ada model Abang Sayaka gini,'' batin Seruni.
Akhirnya, mereka berempat pun berangkat dengan mobil Shaka. Sayaka duduk di samping kemudi, sementara Shanum dan Seruni di jok belakang.
Sepanjang perjalanan, celotehan Seruni dan Shaka yang mendominasi. Sedangkan Sayaka dan Shanum, lebih disibukkan dengan pikiran mereka yang menyimpan kekaguman yang belum terungkapkan.
Shaka sesekali melirik spion tengah untuk melihat Seruni yang selalu terlihat selalu cantik di matanya. "Tidak pengen balik ke Surabaya, Ser?" tanyanya.
"Belum, Bang. Masih menikmati di sini. Mungkin nanti, dekat-dekat puasa saja sekalian," jawab Seruni.
"Kabari saja. Pasti Abang antar sampai bandara."
Seruni menggigit bibir bawahnya, mendengar Shaka berbicara padanya dengan lembut seperti itu, dia khawatir nyali Sayaka akan menciut. Padahal dia yakin, bisa mengambil hati Sayaka.
Setelah hampir 60 menit perjalanan, sampailah mereka di tempat yang di tuju. Semburat langit senja menyambut kedatangan mereka. Seruni dan Shanum turun lebih dulu.
"Kamu pernah ke sini, Num?" tanya Seruni sembari menunjuk pada sebuah bangunan tugu perbatasan kedua negara yang masih beberapa meter di depan sana.
"Belum, Kak. Baru pertama kali ini. Tidak tahu, ternyata di sini sudah modern. Banyak penjualnya juga." Shanum tidak bisa menutupi rasa kagumnya begitu melihat deretan warung makan dan toko souvenir khas daerahnya.
Sayaka dan Shaka menyusul mereka berjalan di belakang. Keduanya juga sedang berbincang hangat.
"Sayaka,kamu cocok lho sama Shanum." Shaka menepuk pundak kekar Sayaka.
Saat Sayaka dan Shaka berjalan beriringan menggunakan pakaian santai seperti itu, tidak terlihat status sosial mereka. Mana yang TNI dan mana yang penggembala ternak. Keduanya sama-sama mempesona. Bahkan bisa dikatakan, sang penggembala lebih unggul, karena kelembutan tatapannya.
"Kenapa Sayaka, Ada perempuan lain yang sedang kamu incar ya? Jangan bilang kamu naksir Seruni. Kalau iya, kamu akan menjadi saingan beratku." Shaka mengatakannya dengan niat bercanda. Dia tidak tahu kalau ucapannya itu malah benar adanya.
Sayaka kembali menggaruk tengkuk lehernya. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan pria itu. "Tidak berani kalau itu. Saya tahu diri, Pak Mayor."
"Cinta itu tidak mengenal status Sayaka, Bukan perbedaan harta, jabatan dan jarak yang membuat dua orang berbeda jenis saling mencintai tidak bisa hidup bersama. Yang bikin kebersamaan itu terhalang, hanyalah perbedaan perasaan. Kamu yang jatuh cinta, dan dia yang tidak merasakan apapun."
Sayaka balik menepuk lengan Shaka. "Pak Mayor, bisa saja."
Keempatnya, berhenti tepat di tugu pembatas kedua negara. Seruni berdiri ditengahnya. Dengan membentangkan kedua tangannya merasakan angin berembus, rambut panjangnya ikut menari-nari terkena terpaan angin.
"Alhamdulillah, Tuhan memberiku luka, tapi kenikmatan yang diberikan sungguh lebih luar biasa." gumamnya lirih, tapi terdengar oleh ketiga yang lain.
Karena akhir pekan, suasana cukup ramai. Banyak muda mudi yang juga sengaja menikmati libur mereka di sana. Saat Seruni mengajak mereka berfoto bersama, Sayaka tampak bingung memilih posisi. Dia ingin dekat dengan Seruni. Sudah ada Shanum dan Shaka yang masing-masing berada di sisi kiri dan kanan perempuan pujaannya itu.
Tapi kali ini, Naluri laki-laki Sayaka sedang ingin ditonjolkan. Dia dengan santainya berjongkok di depan Seruni.
"Sayaka di samping Shanum kan bisa," tegur Shaka.
"Nanti lain gaya lagi. Sekarang begini dulu." Sayaka sudah bergaya melipat angan di depan dadanya.
"Satu lagi ya, Bang?" tanya Shaka pada Orang yang dimintai tolong untuk mengambil foto.
Laki-laki itu tampak mengangkat jempolnya. Formasi pun diubah. Seruni berasal tepat di tengah antara Sayaka dan Shaka. Di samping Shaka ada Shanum. Semua fokus ke depan, tiba-tiba seorang lewat dengan ular hitam bergaris kuning dengan ukuran besar mengalung di leher lewat di depan mereka, Seruni yang memiliki phobia berlebih pada hewan melata itu langsung memeluk Sayaka dengan erat sembari berteriak, "Takut."
Shaka dan Shanum langsung tercekat, begitu pun dengan Sayaka. Dia tidak berani bergerak. Badan Sayaka seperti manekin yang berdiri kaku. Bahkan bola matanya pun tidak bergerak. Sensasi lembut dan empuk di dada membuat denyut nadinya melemah.
"Ada apa, Ser?" Shaka menyentuh bahu Seruni dengan lembut.
"Ular!" teriak Seruni dan menghempaskan tangan Shaka dengan kasar. Karena mengira tangan itu adalah ular.
"Di mana ular, Ser?" Shaka melihat sekeliling, menggelengkan kepala pelan sembari tersenyum tipis begitu menyadari tidak jauh dari mereka ada kerumunan orang yang menyaksikan atraksi penyembuhan dengan ular sebagai daya tariknya.
"Jangan melihat sisi kanan." Shaka menarik bahu Seruni dengan lembut. Dia tidak rela Sayaka mendapatkan keberuntungan itu lama-lama.
"Kamu takut sama ular, Ndhuk?" tanya Sayaka.
Seruni hanya mengangguk. Dia masih ketakutan. Shanum memberikan botol air putih yang dibawanya dari rumah. "Minum dulu, Kak."
Seruni meneguknya hingga tandas. "Terimakasih, Num," ucapnya.
Shanum membalas dengan senyuman manis. Shaka mengernyitkan keningnya. Dari sekian banyak kelebihan dan kemandirian Seruni, ternyata hanya ular yang sanggup meruntuhkan keberanian dokter cantik itu.
Setelah kembali tenang, mereka pun memutuskan untuk makan. Saat melewati kerumunan tadi, Seruni mencengkram lengan Sayaka dengan kuat. Ketakutannya sungguh masih sangat kentara.
Sial memang nasib Seruni, hari ini niat bersantai dan bersenang-senang. Tapi malah mendapatkan kesialan beruntun. Setelah melihat ular, dia terlalu fokus melihat depan. Dia tidak melihat ke bawah, ke kiri atau ke kanan sedikit pun. Akibatnya, seekor kucing sukses terkena langkah kakinya.
Kucing itu kaget, hingga mengeong sangat keras dan reflek mencakar Seruni. Shaka segera melepaskan cengkraman kucing itu dan memapah Seruni dibantu Shanum. Sedangkan Sayaka ....
"Push, maafkan Ndhukku, Ya. Dia tidak sengaja. Jangan kamu kutuk dia untuk mendapatkan sial. Maafkan, Ndhuk Seruni." Sayaka mengelus kucing itu dengan penuh perasaan.
Shaka, Seruni dan Shanum, kompak saling bertukar pandang.