SERUNI

SERUNI
BAB 100 Serangan Ismi yg Kesekian kalinya



Ismi bangun dari tidurnya,baru saja ia bermimpi tentang Ibunya.Sejenak ia terdiam mengenang mimpi yang baru saja ia alami.Setelah itu,ia beringsut turun dari tempat tidur.Berjalan gontai menuju dapur,ia tahu pasti Mbah Simah ada di dapur.Karena ia melihat kepulan asap keluar dari arah dapur.


Tapi ternyata di sana tak ada sosok tubuh Mbah Simah. Ismi melangkah membuka pintu belakang gubuk itu ialah mencari Mbak Sima. Mungkin saja si mbah berada di belakang, tapi tetap saja sosok Mbah Simah tak terlihat.


"Neeekkk..."Seru Ismi sembari matanya mengawasi sekitar.Tak ada sahutan,Ismi kembali masuk ke dalam.Menatap kosong tungku yang masih berapi.


Siapa yang membuat api kalau Nenek sebentar tidak ada


Ismi melangkah, tiba-tiba langkahnya tertahan di ambang pintu ketika ia melihat sosok hitam berbulu duduk di balai-balai bambu.


Sosok itu menyeringai,Ismi mendekat.Lalu duduk bersimpuh di lantai tanah gubuk tersebut.


HEMMMMM


"Kenapa kembali ??"


"Ampun guru... yang terakhir ini cukup susah untuk saya binasakan"Ismi menjawab dengan wajah tertunduk mendalam dan tangan menyatu di atas kepala.


Makhluk itu mengusap kepala Ismi dengan penuh kasih.Ia melihat semua kejadian yang Ismi sehingga anak itu pulang dengan tangan kosong.


HEMMMMM


"Rupanya begitu..."makhluk itu mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.


"Temui aku esok malam di bawah pohon besar itu, akan kusempurnakan ilmumu agar kamu bisa mengalahkan mereka"


"Baik guru..."


Ismi tak mengangkat kepalanya sebelum makhluk itu benar-benar pergi. Setelah bau kemenyan yang menusuk hidung itu hilang tak berbekas, barulah Ismi menurunkan tangannya dan mengangkat kepalanya.


Wajahnya datar tak berekspresi, matanya menatap sekitar tetap mencari sang nenek. Suara gesekan bambu mencuri perhatian Ismi , ia menoleh ke belakang .Di sanalah ia menemukan sosok Mbak Ismi baru saja masuk ke dalam dapur.


"Nek... dari mana ?Kok aku cari-cari nggak ada"Ismi menghampiri, mengambil bakul yang dipeluk oleh tubuh renta itu.


"Nenek nyari sayur buat lauk kita makan"Jawab Mbah Simah. beliau duduk di kursi kayu mengambil pisau untuk membersihkan sayuran yang baru saja ia dapatkan.


"Baru saja guru datang Nek... dia meminta aku untuk menemuinya esok malam di bawah pohon besar"


"Apa dia sudah tahu kenapa kamu pulang?"


Ismi mengiyakan, Mbah Sima tersenyum simpul.


"Ya sudah temui dia besok malam"


Ismi mengangguk patuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam yang dijanjikan sudah tiba, Ismi duduk bersimpuh di bawah pohon besar setelah ia mandi kembang 7 rupa. Tak berapa lama kemudian makhluk hitam berbulu itu muncul.Ia melempar seonggok daging yang masih berdarah ke hadapan Ismi .


"Makanlah,,,,"


Ismi menatap kosong daging itu,ia meraih daging tersebut lalu memakannya dengan rakus.Makhluk tersebut tersenyum simpul,ia menunggu anak muridnya menghabiskan makanan itu sampai tak bersisa.


HEMMMMM


"Setelah malam ini,ilmumu telah sempurna.Kamu sudah menjadi bagian dari diriku.Dan aku sudah menjadi bagian dari dirimu.Lakukanlah apa yang seharusnya kamu lakukan "


"Baik guru..."Ismi kembali menundukkan wajahnya dan menyatukan kedua telapak tangannya di atas kepala.


Ismi menatap telapak tangannya yang penuh dengan darah, dalam otaknya timbul sesuatu rencana. Iya mengambil secarik kain putih, lalu menulis nama Roy dengan memakai bahasa Sansekerta. Setelah itu ia menggulung kain putih tersebut Lalu mengepalnya kuat-kuat. Kemudian ia melempar kain putih tersebut ke dalam bara api. Serta merta bara itu mengeluarkan asap yang tebal membumbung tinggi.


Ismi menyeringai, ia memejamkan matanya lalu marapal mantra.


___


Roy yang beberapa jam yang lalu baru saja terlelap tidur, langsung terjaga.Ia merasakan badannya panas sekali, sampai-sampai Roy membuka seluruh bajunya. Namun rasa panas itu tidak juga menghilangkan, pria itu meraih remote control AC di kamarnya . Dia menambah tingkat rasa dingin pada AC tersebut.


Seruni gemetaran karena merasakan hawa dingin menusuk tulang-tulangnya.Ia mengeliat , membuka matanya perlahan.


"Mas..."wanita itu terjaga begitu melihat suaminya bersikap aneh. Roy berguling-guling di atas lantai keramik yang dingin. Ia terus berguling-guling mengeluh kepanasan.


"Mas kamu kenapa?"Seruni turun dari tempat tidur menghampiri suaminya.


"Panaaaaaa panaaaassss..."Desah Roy meracau.Ia terus berguling-guling kepanasan.Seruni heran, padahal dirinya merasakan dingin yang teramat sangat. Iya memperhatikan angka derajat Celcius dari AC yang menempel di dinding. 18°©


"Ini sudah sangat dingin sekali Mas..."Gumam Seruni .


"Panaaaaaas sayang...Panaaaaaas...."


"Ya udah...berendam aja yuk di bathtub"Seruni memberikan ide.Roy mengangguk disela kegelisahannya.Ia bangun dengan cepat dan berlari masuk ke kamar mandi.Seruni menyusul di belakang.


"Masih panaaaaaas sayang...paaanaaaaassss"


"Hah???"Seruni jadi bingung sendiri harus bagaimana.


"Tolong ambilkan es batu sayang..."


Seruni mengangguk cepat,ia gegas keluar untuk mengambil es batu.


Ba'im yang baru saja keluar dari Kamar tidurnya, keheranan melihat sang Ibu yang beberapa kali naik turun tangga membawa es batu ke kamarnya.


"Bun...Bunda buat apa?"tegur Ba'im .


"Ah ini sayang,Ayah kepanasan...jadi dia mau berendam es batu"Jawab Seruni,ia lalu masuk ke dalam kamarnya untuk memberikan es untuk suaminya.


Ba'im terpegun, Apakah mimpi itu memang benar-benar nyata?Baru saja Ba'im bermimpi Ayahnya tercebur ke dalam kolam yang berisi api yang berkobar,hingga membuat dirinya terjaga.Namun dalam mimpi itu pula Ba'im diperintahkan untuk membaca sholawat nariya sebanyak 4444 disekitar sang Ayah untuk memadamkan api tersebut.


Ba'im gegas masuk ke dalam tanpa menunggu ijin dari orang tuanya.Karena ia tahu, keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"Bunda...Ayah..."Ba'im berdiri di ambang pintu kamar mandi.


"Ba'im ...nak..."Seruni bangkit menghampiri putranya.


"Kamu kok kesini???lebih baik kamu kembali ke kamar ya Nak"Seruni membelai rambut Ba'im dengan lembut.


"Ba'im mau tolong Ayah Bunda..."ucap Ba'im lugu.Seruni terpana,ia menatap suaminya yang berendam di Bathtub sambil meracau.


"Ba'im mau tolong gimana Nak?"tanya Seruni,ia berpikir itu hanya hasil pikiran polos anaknya.


Ba'im mengambil tasbih yang biasa disimpan Ayahnya di dalam sajadah yang terlipat.Benar saja, didalam sajadah yang terlipat ada tasbih.Segera Ba'im masuk ke dalam kamar mandi, ambil wudhu lalu duduk bersila di samping Bathtub tempat Roy berendam.


Ba'im segera melafazkan sholawat nariya didalam hati sambil memejamkan matanya.Ia ingin khusuk dalam bertasbih.


Rasa panas yang menyiksa mulai berangsur hilang,Roy yang sejak tadi meracau mulai tenang.Seruni tersenyum,ia memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga.Diciuminya wajah sang suami dengan penuh kasih sayang.Ia menangis haru,di pandangnya sang anak yang masih khusyuk berzikir.