SERUNI

SERUNI
BAB 140 Tentang Rasa



Excel dan Ismail berjalan beriringan dengan sesekali derai tawa menghiasi perjalanan mereka pulang.


"Besok ujian apa ya?"tanya Excel .


"Besok kesenian, biasanya melukis sih"


"Oh... berarti tak ada masalah untuk besok"


"Apakah kamu bisa melukis??"


"Bisa dong,,,,"jawab Excel jumawa.


"Bisakah kamu melukis ku??"


Langkah kaki Excel terhenti ,ia menatap Ismail dengan penuh kesanksian.


"Benarkah kamu ingin aku lukis??"


Ismail mengangguk yakin.


"Anggap saja sebagai tanda terimakasih mu atas bantuan ku tadi"


Excel tergelak,tapi tawanya langsung pudar begitu tahu dibelakangnya ada Ba'im .


"Ustadz ??"


Ismail langsung menoleh ke belakang.Ia menelan saliva melihat raut wajah Kakaknya yang sangat datar dan serius.


"Is...temui aku di rumah"Titah Ba'im tegas dan mendalam.Belum sempat Ismail menjawab ia sudah pergi meninggalkan keduanya yang ketar-ketir.


"Is... kelihatannya Ustadz tahu deh"


"Nggak apa-apa kamu tenang saja...ok"Ismail tetap menenangkan Excel meskipun dirinya sendiri agak takut menghadapi kemarahan Kakaknya..Excel mengangguk saja.


___


Sesampainya di rumah, Ba'im sudah duduk menunggu kedatangan adiknya di ruang tamu. Tanpa banyak alasan, ISMAIL langsung duduk di hadapan kakaknya . Sedangkan Excel berdiri tak jauh dari mereka.


"Kamu ngapain di situ?"tanya Ba'im dengan nada ketus kepada Excel . Yang ditanya tidak menjawab, ia hanya menatap Ismail dengan prihatin. Ismail tersenyum ,kepalanya bergerak sebagai kode agar Excel masuk ke dalam. Akhirnya dengan ragu Excel masuk meninggalkan kakak beradik itu di ruang tamu.


"Apakah kamu yang mengerjakan tugas ujian Excel?"


Tidak ada alasan untuk Ismail berbohong,ia mengangguk saja.


"Kau tahu kan apa yang kamu lakukan itu salah?"


Ismail mengangguk lagi.


"Apakah kamu pikir karena kamu adikku? jadi kamu mengira bahwa kamu akan lolos dari hukuman?"


Ismail menggeleng pelan.


"Kamu bisa aku scores !!!"


"Lakukanlah Kak apa yang menurut mu benar. Dan aku akan melakukan apa yang menurutku benar"Ismail akhirnya bersuara.


"Kamu tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini Is?tapi kenapa sekarang kamu melakukannya?"


"Kakak juga sering melakukan kesalahan bukan ?Lalu kenapa Kakak menuntut aku untuk tidak bersalah... lagi pula kesalahan itu sangat menyenangkan bagiku"


"Apakah kamu menyukai Excel ??"


Ismail tak mampu untuk menahan senyumnya.


"Kau tahu kan dia menyukaiku ?"


"Tapi Kakak tidak menyukainya bukan??"


"Kau lebih tahu alasannya kenapa Kakak tidak menyukainya?dan hal itu pun pasti akan terjadi pada hatimu"


"Tidak Kak!!Kakak salah... justru hatiku sangat bahagia menyukai gadis seunik dia.Jika Kakak mengabaikannya ??maka aku akan datang merentangkan kedua tangan ku untuknya "


"Jangan bodoh kau Is"


"Mau kemana kamu??Aku belum selesai bicara"


"Kakak mau mengajakku bicara tentang soal ujian atau soal perasaan ??"


Ba'im tercekat mendengar jawaban Ismail ,ia tidak bisa menjawab apa-apa.Ismail mengangkat sebelah bibirnya,lalu pergi masuk ke dalam.


Excel menguping semua pembicaraan dua bersaudara itu.Ia segera menyembunyikan dirinya begitu tahu Ismail masuk ke dalam.Excel mengulum senyum tipis, apakah sekarang Ba'im sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan si bencong itu?? sejak kapan ???


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ujian kesenian dimulai,itu dilakukan di taman belakang Mushola.Semua murid santri Wan dan santriwati begitu antusias mengikuti.


Excel benar-benar menjadikan Ismail sebagai model.Begitu pun dengan Ismail , diam-diam dia melukis wajah jelita itu.


Ba'im yang melihat keduanya dari kejauhan hanya menahan sesak di dadanya.Tanpa ia sadari darah segar mengalir dari hidungnya.


Ba'im langsung mendongak,mengusap dengan tisu darah itu.Ia juga berusaha untuk menghentikan keluarnya darah sebisa mungkin.


Tak ada yang menyadari kejadian tersebut.Kecuali Excel yang tanpa sengaja melihatnya.Ia Gegas bangkit tanpa mengatakan apapun kepada Ismail yang fokus melukis.


Kebetulan dipinggiran taman ada pohon sirih yang dibentuk sedemikian rupa seperti hiasan berbentuk gapura.Excel memetik beberapa lembar daun sirih yang memiliki jenis tertentu.Lalu ia menggulungnya sambil berjalan cepat menghampiri Ba'im .


Pria itu kaget tiba-tiba ada yang menarik lengannya.Ia bertambah terkejut begitu tahu siapa yang menariknya.Ba'im limbung, tubuhnya tidak stabil karena perasaannya.Akhirnya ia jatuh ke pangkuan Excel . Padahal Excel menariknya untuk duduk,tapi karena kaget bercampur deg-deg ser, Ba'im justru terduduk di pangkuan Excel .


Mau didorong kasihan, akhirnya Excel memilih untuk membiarkan saja.Dengan cekatan Excel membersihkan darah di hidung Ba'im ,lalu menyumbat kan gulungan daun sirih ke hidung pria itu.


Pemandangan itu menimbulkan keterpanaan bagi yang lain.Mereka sampai menahan nafas melihat adegan tersebut.


"Sudah ...."ucap Excel ,namun Ba'im tetap mematung dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ustadz...anda berat tahu"sambung Excel lagi.


"Ah... sorry..."wajah Ba'im bersemu merah,ia segera bangkit dari pangkuan Excel .


"Wuuuuuuuu"


Semua bersorak ria....Ba'im jadi bertambah malu.Excel hendak bangkit,namun tak dinyana tangan Ba'im garcep menariknya untuk bangkit.


"Terimakasih Ustadz...saya bisa sendiri"ucap Excel ,ia pun berbalik ingin kembali ke tempat duduknya.


"Maafkan aku..."


Namun suara Ba'im mencegah langkahnya.Excel mematung,ia tidak maju tidak juga mundur ataupun berbalik.


"Aku tahu aku banyak salah padamu..."


Semua orang yang tadinya bersorak termangu menyaksikan mereka berdua.Ada yang bertopang dagu,ada yang berdecih diam-diam.Sedangkan Ismail hanya diam seribu bahasa menyaksikan Kakak dengan seorang gadis yang berhasil menyentuh Hatinya itu.


"Tapi tolong... jangan diamkan aku"


Excel tersenyum dibalik tubuhnya.Sedangkan Ba'im sudah tak tahu lagi harus bagaimana ??Ia hanya ingin mengatakan apa yang ia inginkan dari seorang Excel .


Gadis yang memunggungi dirinya itu tak menanggapi apa-apa.Tiba-tiba saja ia pergi tanpa menoleh kepada dirinya.Ba'im terus mengikuti gerak tubuh gadis tersebut dengan sorot matanya, hingga gadis itu duduk kembali di tempat semula.


Seorang Ustadz menghampiri Ba'im ,ia menepuk pundak Ba'im beberapa kali.


"Kalau suka katakan suka... nanti didahului orang lain gimana ??"


"A-apa yang aku katakan tadi kurang jelas untuknya ??"


"Memangnya Tuan Muda mengatakan apa??hanya mengatakan jangan diamkan aku, apakah itu sebuah pengakuan perasaan?"


"Aku pikir dia cukup bisa mengerti ucapan ku"


"Mungkin dia mengerti ,tapi tidak mungkin dia langsung mengatakan. Nanti anda pikir dia salah mengartikan?"


Ba'im termenung, dipandangnya lagi Excel yang ternyata tengah memperhatikan dirinya.Ba'im mengulas senyum,namun Excel justru menundukkan wajahnya.


"Baiklah nanti aku akan mencari kesempatan untuk mengatakan semuanya kepadamu Ex"


Ba'im memantapkan niat didalam hatinya.