
Seruni langsung menepis pelukan pria tersebut dengan gerakan sedikit kasar. Perempuan itu tampak kesal karena perlakuan tidak terduga dari pria yang tidak lain tidak bukan adalah Satria---sang mantan calon suami yang sudah mengkhianatinya.
"Kenapa kamu memblokir nomorku, Ser? Sudah lama aku ingin berkirim kabar denganmu. Berpisah denganmu, aku kehilangan banyak hal, Ser. Aku sering datang ke rumahmu untuk mencari tahu kabarmu, tapi Ayah tidak mau membicarakan tentang kamu lagi denganku." Satria masih berusaha mendapatkan sebuah respon. Mengabaikan seorang pria di belakang Seruni yang sedang menatapnya penuh tanya.
"Aku baik, Bang. Seperti yang kamu lihat. Tidak semedihkan yang aku bayangkan sebelumnya. Tanpa kamu, semua masih baik-baik saja," tegas Seruni. "Maaf, aku sedang buru-buru," tambahnya seraya menggenggam pergelangan tangan Sayaka. Mengajak kekasih barunya itu melangkahkan kaki meninggalkan Satria yang kini menatap aneh ke arahnya.
"Secepat ini kamu mendapatkan penggantiku?" tanya Satria dengan bodohnya.
Seruni langsung menghentikan langkahnya. "Tidak penting seberapa cepat dan lamanya kita berpisah. Tapi cara kita berpisah---membuatku menerima dengan mudah, betapa kamu bukan orang yang tepat untuk diratapi. Aku malah bersyukur, dan sepertinya aku juga layak berterimakasih padamu. Melepas pertunangan kita---membawaku bertemu dengan orang-orang baru yang luar biasa baik, dan semakin menyadarkan aku betapa kebahagiaan itu tidak serumit yang ada di angan kita," tegas Seruni.
"Siapa dia, Ndhuk?" tanya Sayaka dengan volume suara pelan.
"Dia mantan tunanganku, Bang. Sudah menikah dengan perempuan lain dan pastinya sekarang juga sudah dipanggil Ayah. Dia menghamili perempuan lain saat masih bertunangan denganku," jawab Seruni. Jelas, lugas dan penuh tekanan. Sepertinya memang sengaja agar Satria menyadari posisinya sekarang di mata Seruni.
"Aku sudah bercerai dengan Sheila, Ser. Tidak lama setelah anak yang dikandungnya lahir. Ada pria lain yang mengaku dialah yang menghamili Sheila. Setelah tes DNA, memang aku bukanlah Ayah biologis dari bayi itu. Seharusnya aku tau, Sheila hanya memanfaatkan aku," sesal Satria.
"Turut sedih mendengarnya, Bang. Tapi pengkhianatan memang sudah seharusnya dibayar mahal. Terima saja, Bang. Anggap saja itu pelebur kesalahan. Kedepannya, Insya Allah akan ada jalan dan jodoh yang lebih baik." Seruni menyudahi pembicaraan dengan benar-benar melangkah bersama Sayaka tanpa menoleh lagi ke belakang. Meninggalkan Satria yang terdiam karena kata-kata Seruni berhasil membuatnya tersadar.
Pria tersebut kini harus menepis angannya sendiri. Sungguh dia sama sekali tidak menduga jika Seruni bisa melupakan dirinya dengan begitu cepat. Sebelumnya, Satria mengira akan membutuhkan waktu lama bagi Seruni untuk menyembuhkan luka hati. Dengan tidak tahu dirinya---Satria bisa berharap menyembuhkan luka itu dan menjalin hubungan kembali dengan Seruni.
"Ser!" seru Shaka menghentikan langkah Seruni dan Sayaka yang sudah hampir sampai di lobby penjemputan.
"Bang Shaka." Seruni mengernyitkan keningnya. Kebetulan ataukah apa? Hingga dia dipertemukan dengan orang-orang yang tidak terduga.
"Aku yang di suruh jemput kamu sama Pak Dhe Broto." Shaka mengalihkan tatapannya pada sosok Sayaka. Tanda tanya besar melintas di kepalanya. Bagaimana bisa pria yang pergelangan tangannya masih setia digenggam Seruni itu bisa sampai menemani perempuan idamannya itu.
"Rupanya begitu, pantas saja driver biasanya tidak memberi kabar," timpal Seruni. Menyadari tatapan menyelidiki Shakala, perempuan tersebut melepas pegangan tangannya pada Sayaka.
"Gimana perjalananmu?" Shakala menepuo lengan Sayaka. Meski perasaannya tidak enak, dia harus tetap bersikap wajar.
"Pusing, Pak Mayor. Perut saya rasanya diaduk-aduk. Ini saja rasanya masih berasa kayak di dalam pesawat." Sayaka menjawab jujur.
Setiba di sana, ketiga orang tersebut langsung masuk ke dalam salah satu ruang rawat VVIP. Kedatangan Seruni seketika disambut dengan senyuman oleh sang ayahanda. Pria tersebut tampaknya belum melihat sosok Sayaka yang memang berjalan di belakang Shakala.
"Ayah, membuat Seruni takut," liriknya sembari memeluk Subroto dengan sangat hati-hati.
"Sudah berani jauh sama Ayah kok masih punya rasa takut," goda Subroto dengan volume suara yang tidak sekeras biasanya.
"Ayah kan sudah janji mau jaga kesehatan baik-baik. Ini kenapa bisa sampai begini? Pasti Ayah makan sembarangan? Masih demen makan gule kambing di ampel? Pasti masih," omel Seruni sembari menarik bangku besi di sebelah brankar.
"Ayah ini sudah sepuh, Ser. Mau makan apa, memang sudah waktunya Ayah ini suruh istirahat. Diam di rumah, nemenin cucu main lari ke sana ke mari. Tapi buru-buru ada cucu, anak saja milih pergi. Ya jangan salahkan Ayah kalau Ayah milih kulineran kesana kemari," sanggah Subroto. Santai tapi tepat membuat Seruni merasa tersindir.
"Ayah sudah nggak kenapa-napa. Budhe Surti aja yang terlalu panik. Mungkin paling banter besok-besok Ayah jalannya pakai kruk kaki tiga. Tapi terimakasih, kamu mau pulang. Maaf Ayah jadi mengganggu waktu dinasmu."
Mata Seruni berkaca-kaca. Beginilah ayahnya, selalu membuat semua keadaan seakan baik-baik saja jika berada di depannya. Padahal, dia tahu persis sorot mata pria yang masih begitu tampan meski sudah ada garis kerutan di sana sini itu begitu menyiratkan kerinduan dan sedih yang mendalam.
"Astaga, hampir lupa. Yah... Seruni datang tidak sendiri. Seruni ditemani Bang Sayaka." Perempuan itu menoleh ke belakang. Hanya Shakala yang terlihat. Namun, setelah Shakala dengan sengaja menggeser posisinya satu langkah ke samping kanan, tampaklah sosok Sayaka yang tengah menundukkan wajahnya.
"Sini, Bang. Kenalin ini Ayahnya Seruni."
Dengan langkah pelan, Sayaka mendekati brankar. Membungkukkan badan sembari menyambut ukuran tangan Subroto yang memberikan tatapan menyelidiki kepadanya. Pria itu mencium punggung tangan ayahanda Seruni dengan sopan.
"Saya Sayaka, Pak," ucap pria itu. Tetap memperkenalkan diri dengan sopan meski hatinya sudah deg-degan tidak karuan.
"Datang sejauh ini, dari Sambas ke Surabaya, kalau hanya sekedar teman, tentu tidak mungkin sekali. Jadi kamu sahabat atau kekasih anak Bapak? Umur Seruni sudah cukup dewasa. Kariernya sudah bisa dibilang mapan. Harapan yang sederhana dari Bapak, bisa melihat putri satu-satunya berumah tangga. Dicintai laki-laki yang pantas dan bertanggung jawab."
Sayaka menelan ludahnya dengan susah payah. Tidak ada yang salah dengan ucapan Subroto, hanya saja, dia belum terbiasa dengan sikap terbuka dan blak-blakan dari Ayah Seruni tersebut.
"Saya serius dengan Nduk Seruni, Pak. Saya juga tidak mau berlama-lama berpacaran. Tujuan saya bisa menikah secepatnya dengan Ndhuk Seruni. Tapi apa yang saya punya rasanya masih belum cukup."
Jawaban Sayaka membuat Shakala mengernyitkan keningnya. Sedikit tidak percaya jika Seruni dan Sayaka memang mempunyai sebuah hubungan spesial.