
Bu Raudah menatap Ba'im ,Ba'im membalas dengan senyuman.Pak Ramli merasa ada yang janggal,tapi ia tidak bisa langsung mengintimidasi istrinya.
"Ya udah,Anak menantu lebih baik tunggu di ruang makan saja.Sekalian ajak Khumaira,biar Bapak sama Ibu yang menyiapkan makan malam"Pak Ramli secara halus mengusir Ba'im ,karena sebenarnya ia datang ke dapur untuk melancarkan aksinya.
"Tidak apa Pak,biar saya saja yang siapkan makanan "tolak Ba'im lembut.
"Anak menantu kan tamu disini"balas Pak Ramli .
"Jangan anggap begitu Pak, berarti saya orang luar disini.Padahal saya sudah menganggap Bapak sama Ibu seperti orang tua saya sendiri.Dan rumah ini seperti rumah saya sendiri "
Pak Ramli seperti diskak mate,ia jadi bingung harus bagaimana agar Ba'im pergi dari dapur.
"Ya sudah Pak...ayok kita ke sana.Rasanya tunangan Khumaira ingin menunjukkan diri bahwa dia pantas untuk anak kita"Timpal Bu Raudah,Ba'im tersenyum tipis.
"Aaa eemm baiklah "Pak Ramli jadi garuk-garuk kepala.Ia pun beriringan dengan sang istri meninggalkan ruang dapur.
"gagal deh... pokoknya sebelum Tuan Muda pulang,ia harus bisa dimasukin bunga Lawang ini meskipun sedikit"
Gumam Pak Ramli dalam hati,ia masih sempat melirik ke arah dapur dimana Ba'im terlihat menata piring.
____
"Kemana Khumaira ?"tanya Pak Ramli,ia menatap kamar Nayla yang masih tertutup.
"Dia capek katanya "Ba'im terpaksa berbohong lagi.
"Capek??"
Pak Ramli tersenyum lucu menahan tawa.Ia tak membahas panjang tentang putrinya lagi.Ketiganya melanjutkan makan sampai nasi dalam piring ludes.
"Kapan anak mantu berencana pulang ??"tanya Bu Raudah .
"Besok Bu...sekalian bersama dengan Khumaira "
"Ooohhh"Bu Raudah manggut-manggut.
"Apa tidak lebih baik tinggal beberapa hari lagi disini ??emmm aku masih sangat merindukan putriku"sambung Pak Ramli ,
"Kalau Khumaira masih ingin tinggal ?tidak mengapa?biar saya pulang lebih dulu "Jawab Ba'im .
"Ah bukan begitu...tapi saya ingin anak menantu juga bisa tinggal lebih lama disini "Pak Ramli jadi canggung sendiri.
"Maafkan saya Pak... tanggung jawab saya di Yayasan tidak bisa ditinggal lama-lama "
"Pak...jangan gitu dong"Timpal Bu Raudah .
"Yah kan Bapak cuma mengungkapkan perasaan Bapak,kalau memang tidak bisa ya nggak apa-apa "Balas Pak Ramli memberikan alibi.Ba'im tersenyum saja, setelah menegak minuman ia memohon diri untuk kembali ke kamar.
___
Malam merambat perlahan,Ba'im mengisi waktu dengan berzikir di atas sajadah.Ia menunggu waktu yang tepat untuk melakukan ritualnya.
Ba'im memulai semedinya , memanggil makhluk sakral penjaga benda pusaka itu yang merupakan peninggalan dari raja Siliwangi.Tak butuh waktu lama, auman harimau terdengar.Terjadi sesuatu yang aneh,bumi terasa bergetar hebat.Sehingga menjatuhkan beberapa barang ke lantai.Namun Ba'im tetap konsentrasi bersemedi.
Lain halnya dengan yang terjadi kepada Pak Ramli ,ia kaget dan terjaga ketika merasakan getaran Bumi itu.
"Buk...Buk... bangun ada gempa"Pak Ramli menggoyang-goyangkan bahu istrinya.Namun istrinya tak merespon.
KRIYEK GERBAK KRIYEK GERBAK
Suara jendela yang terbuka dan tertutup dengan kuat membuat Pak Ramli mengelus dada.Ia turun dari tempat tidur ingin menutup jendela,belum ia sampai menyentuh tiba-tiba seekor harimau putih ingin menerkam dari luar.Pak Ramli terjungkal jatuh karena kaget.
Harimau tersebut menyelur celah jendela dengan kaki depannya hendak menggapai Pak Ramli .Pria itu beringsut mundur ketakutan.Ia bangkit dan ingin lari keluar kamar.Baru saja daun pintu dibukanya, seekor harimau yang sama terlihat berkeliaran di dalam rumahnya.Ia pun menutup kembali pintu kamarnya.
"Kenapa banyak harimau disini -?"tanya Pak Ramli kepada dirinya sendiri.
Makhluk sakral itu memang berkeliaran untuk mencari jimat-jimat yang dipasang oleh Pak Ramli sebagai penangkal dari hantu Nayla .Ba'im memang sengaja menginap karena ingin memusnahkan benda-benda tersebut.Agar dendam Nayla terselesaikan.
Tidak cukup sampai disitu, ternyata Ki Darma bisa merasakan bahwa jin-jin peliharaannya telah dipukul mundur.Ia tidak bisa terima, dengan gegas ia melakukan ritual perlawanan.Ia mengirim jin-jin lainnya yang lebih hebat sehingga terjadi pertarungan tak kasat mata di kediaman Pak Ramli .
Suara dentuman dan getaran Bumi yang semakin kuat menjadi pertanda terjadinya pertarungan itu.
Pak Ramli ketakutan,ia menyorok dibawah tempat tidur untuk bersembunyi.Kedua tangannya menutup daun telinganya karena tak tahan dengan suara-suara dentuman dan pekikan -pekikan kuat seperti hewan yang dimangsa hewan buas.
Auman harimau melolong panjang,dan suara-suara itu mulai mereda.Getaran Bumi pun mulai tenang.Pak Ramli menangis dibawah tempat tidur karena terlalu ketakutan.
Sedangkan Ki Darma harus menerima akibatnya karena terus melawan.Ia didatangi langsung oleh harimau putih,tubuh tuanya diterkam dan di cabik-cabik tanpa ampun hingga ia meregang nyawa.
Setelah itu,si Harimau putih kembali ke tempatnya.Dimana pusaka Kujang berdiri menegak di hadapan Ba'im yang tengah bersemedi.
Perlahan Ba'im membuka matanya,ia menundukkan sedikit tubuhnya sebagai penghormatan kepada sang Harimau putih yang sudah masuk ke dalam Kujang.
"Terimakasih..."
Ba'im mengemas kembali senjata pusaka itu seperti sedia kala.Dan menyimpannya dalam tasnya.
Setelah semua usai,Ba'im hendak melelapkan diri di atas sajadah.Tiba-tiba daun jendela terbuka karena hantaman angin.Pria itu refleks kembali duduk, melihat ke arah jendela yang terbuka.
Sosok Nayla terlihat disana,ia mengambang di udara dengan baju putih yang berkibar-kibar tertiup angin.Gadis itu tersenyum lalu perlahan lenyap menyatu dengan gelapnya malam.
Sudut bibir Ba'im ketarik,ia merasa lega melihat hal itu.Kemudian ia melanjutkan kembali niatnya untuk istirahat.
Pak Ramli yang menelungkup di bawah tempat tidur merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tangannya.Ia mendongak cepat, matanya membulat sewaktu melihat wajah membusuk dengan bola mata yang dikerubungi belatung menyeringai ke arahnya.Nafasnya tertahan saat wajah itu mendekat perlahan,Pak Ramli lupa jika ia berada di kolong tempat tidur.Ia hendak bangkit tapi kepalanya terhantuk.
Dengan menahan sakit ia merambat keluar dari kolong tempat tidur,namun tungkai kakinya dicekal oleh tangan dingin.Sehingga ia tidak bisa lolos dari kolong dengan sempurna.
"Tolong... lepaskan aku...lepaskan aku..."Pak Ramli meronta-ronta, menghentakkan kakinya berkali-kali namun tak berhasil.
"PAMAAAAN"suara lembut seperti desauan angin mendayu pilu.
"Tolong jangan ganggu aku... tolong..."Pak Ramli memohon sambil menangis karena ketakutan.