
Lenguhan panjang terdengar,kedua otot pahanya menegang, tubuh wanita berambut cokelat itu bergetar hebat.
Seringai tipis tersungging,Reyhan mengangkat wajahnya dari bawah kedua paha putih nan mulus itu.Ia mengambil tisu basah mengandung antiseptik untuk membersihkan bibirnya.Kemudian ia bersandar malas ke kursi.
"Ahhh sayang....ayo dong...."wanita itu turun dari atas meja,ia duduk mengangkang di atas paha Reyhan.Pria tampan bermata hazel itu menarik sebelah sudut bibirnya.
"Bukankah kamu sudah puas..."
"He-em...tapi kurang hehehehehe"
Reyhan menengok ke belakang punggung wanita itu.
"Aku ada pasien..."
"Ah..kan ini sudah malam sayang,kamu bohong deh"
Wanita itu menarik kerah baju Reyhan hingga wajah mereka saling berdekatan.Wanita itu ingin mencium bibir Reyhan ,tapi tangan Reyhan lebih dulu menakup mulut perempuan itu.
"Cepat keluar,,,,"
Reyhan bangkit dari duduknya, wanita itu hampir saja terjengkang kalau tidak tertahan oleh meja kerja yang kokoh.
Reyhan mendekati pintu lalu membukanya...
"Jalan keluar disini... silahkan"ucap Reyhan datar.Wanita itu kesal sampai menghentakkan kakinya berkali-kali.Ia merapikan pakaiannya yang hampir terbuka sambil melangkah keluar.
"Lain kali aku pastikan kamu akan jatuh ke pelukan ku Rey"ancam wanita itu disaat melewati Reyhan ,pria itu hanya menanggapi dengan seulas senyum.
Setelah wanita itu pergi,Reyhan menutup pintu rapat-rapat.Lalu kembali duduk di kursi kerjanya.
Makhluk yang sejak tadi menonton gratis adegan hot yang dilakukan Reyhan bersama salah satu wanitanya,tetap melongo dengan mulut menganga.
Reyhan meraih sebuah pulpen dan dilemparnya ke arah makhluk itu.
TUK
Makhluk yang berjenis kelamin perempuan itu tersentak kaget.
"Eh iya..."Dia pun melayang mendekat dan duduk di hadapan Reyhan .
"Ada apa ?-"
Makhluk yang berwajah pucat tak berdarah itu planga-plongo,ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku lupa mau ngapain ??"
"Jangan buang-buang waktuku"ucap Reyhan datar.
"Hehehehehe aku kepengen..."makhluk itu justru tersengeh.Reyhan menautkan kedua alisnya,
"Pengen apa?"
"He.... gitu-gitu... liat kamu tadi aku jadi terangsang,biji kerangku seperti bergetar-getar.Basah deh..."
Reyhan menghela nafas panjang...
"Kalau hanya itu yang mau kamu katakan,cepat pergi sekarang "
"Ahhh jangan gitu dong...aku benar-benar lupa, serius "Makhluk itu merengek memohon.Reyhan seperti tak perduli,ia mengambil sesuatu di atas mejanya lalu digenggamnya.
"Jangan....jangan...."
Makhluk itu langsung menghilang sebelum ia merasakan kesakitan akibat benda yang digenggam Reyhan .
Pria itu mengembalikan barang yang digenggamnya kembali ke tempat semula.Ia bersandar ke kursi dengan menyelipkan dua tangannya dibelakang leher.
Pandangannya menerawang ke atas,helaan nafas panjang seperti membuang sesak di dada.
"Bunda...."sebuah nama terucap lirih.Bayangan di masa lalu hinggap kembali, pemandangan yang mengerikan dimana Ibunya tiba-tiba sudah tergeletak tak bernyawa didalam sebuah keranda.Reyhan memejamkan matanya,suara Ibunya saat terakhir berbicara dengannya melalui telepon masih terngiang-ngiang.
"Bunda...Rey akan segera berangkat jemput Bunda dengan Papa,Bunda tunggu ya..."
"Iya sayang... Bunda akan tunggu"
Tapi takdir berkata lain, saat itu tiba-tiba Reyhan teringat bahwa buku PR temannya lupa ia kembalikan.Padahal buku itu harus dikumpulkan besok pagi.
"Ya udah sayang,kamu pergi hantar buku itu sama si Mamang.Papa akan jemput Bunda sendiri aja"
Reyhan seperti tetap ingin ikut.
"Biar kita antar nanti pulang dari jemput Bunda aja Pa"
Semua perkataan Papanya itu benar, tapi dia sangat ingin sekali ikut menjemput Bundanya.
"Besok malam Reyhan kan bisa ikut jemput Bunda. Tapi kalau buku PR itu memang harus diantar sekarang sayang "Bujuk Ba'im yang berhasil dengan jawaban anggukan.
"Kalau saja malam itu aku ikut?? pasti aku tidak akan merasakan kesepian jauh dari bunda"
TRING TRING TRING
Suara deringan telfon membuyarkan lamunan Reyhan tentang orang tuanya.Dengan malas ia meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja.
"Hallo..."
"Kak....Kakak dimana?Ini udah jam berapa ??Kok belum pulang sih?"suara yang sangat tidak asing dan memang punya kebiasaan membebel itu terdengar dari seberang.Reyhan melirik jam di dinding,Pukul 23,15 menit.Sudah hampir pertengahan malam.
"Iya aku pulang"jawab Reyhan malas.
"Cepet!!!"
"Iya..."Reyhan mematikan ponselnya secara sepihak.Ia tidak perduli adiknya akan marah atau gimana kepadanya nanti.Itu sudah biasa baginya.
Reyhan bangkit,ia merapikan mejanya yang agak berantakan karena ulah wanita yang dibuatnya klepek-klepek tadi.
Setelah rapi,ia pun mengambil tas kerjanya lalu berjalan keluar.Tak lupa ia mematikan lampu diruang kerjanya tersebut.
"Hay..."
Sebuah sapaan menghampiri,Reyhan menoleh.Ternyata Livia, suster yang menjadi asistennya.Dan juga sahabatnya sejak menginjak sekolah menengah atas.
"Kamu belum pulang ??"
Livia hanya tersenyum, keduanya melangkah sejajar keluar dari area rumah sakit.
"Tadi siapa lagi??"
"Yang mana?"Reyhan pura-pura lupa.
"Perempuan berambut cokelat itu "
"Ooooh biasa... pasien "jawab Reyhan enteng,Livia memukul bahu pria itu.Membuat Reyhan tergelak lebar.
"Sampai kapan kamu akan berhenti gonta-ganti pacar ??"
"Sampai punya istri "
"Gimana kamu mau nikah kalau kamu suka mempermainkan perempuan ?"
Langkah Reyhan terhenti yang diikuti oleh gadis itu.
"Aku tidak mempermainkan mereka, mereka saja yang mau aku mainin "
"Sama saja"
"Berbeda sayang "Reyhan mentoel pipi Livia pelan.Lalu ia pun melanjutkan langkahnya menuruni tangga teras rumah sakit.
Livia terpegun, kata SAYANG yang diucapkan Reyhan berhasil membuat Livia melayang.
"Hey...apa kamu akan tetap berdiri disana?"Seru Reyhan yang sudah berdiri di sisi mobilnya.Livia gegas menghampiri dengan setengah berlari.Seperti biasa Reyhan akan mengantarkan gadis itu pulang terlebih dahulu.
Entah kenapa ?Reyhan pun tak mengerti, kenapa Livia selalu menunggunya pulang sampai jam berapa pun?Padahal jadwal dia kerja hanya sampai jam 7 malam saja.
"Kenapa selalu menunggu ku pulang ??"tanya Reyhan sambil memutar kemudi "Apa kamu tidak capek dan istirahat ??"
"Tadi sambil istirahat kok"
"Ya Kenapa masih nunggu aku pulang ??"
"Nggak punya tumpangan,yah itung-itung pengiritan hehehehe"
Reyhan hanya tersenyum sekelumit saja.
"Besok akan aku kasih kamu uang taxi, jangan menunggu lagi"
Livia menatap Reyhan sedih,namun pria itu tak meliriknya sedikitpun.
"Kamu tidak suka mengantar ku pulang ??Ya udah...aku turun di depan aja.Aku bisa pulang sendiri kok"
"Jangan gila kamu Liv,ini sudah jam berapa ??"
"Aku udah biasa,cepat hentikan mobilnya!!!"tegas Livia .Reyhan tak menggubris,ia justru melajukan mobilnya lebih cepat.Livia membuang pandangannya ke luar mobil, disudut matanya tersisip air bening yang mengalir perlahan.