SERUNI

SERUNI
Seruni part 38



Sayaka hanya menganggukkan kepala saja mendengar permintaan Bu Sajad. Lalu dia kembali meneruskan langkahnya ke dalam rumah. Sayaka langsung menuju ruang tamu di mana ayah Seruni berada. Namun, begitu sampai di ambang pintu antara ruang tamu menuju dapur, dia terpaksa menghentikan langkahnya. Pembicaraan yang terjadi antara Pak Sajad dan Subroto ternyata masih sangat serius.


"Masalah itu saya sudah tau Pak Sajad. Itulah mengapa, meski Seruni dekat dengan Sayaka. Saya tetap menjalin kedekatan dengan Shakala. Selain karena saya sudah kenal lama dengan ayahnya, juga karena saya merasa perlu mencari orang kepercayaan yang nantinya bisa mengelola usaha keluarga kami. Jadi, kalau pun Sayaka tidak sanggup, tapi memang dia ada jodoh sama Seruni, setidaknya dia harus lapang dada menerima Shakala dekat dengan kami."


Penuturan Subroto yang panjang lebar barusan, membuat Pak Sajad semakin berpikir, bagaimana pun, tidak mudah bagi Sayaka untuk masuk ke dalam keluarga Seruni. Meski Subroto sepertinya orang yang sangat bijaksansa, pada akhirnya masalah kesenjangan sosial dan pendidikan yang ada pasti akan menjadi batu sandungan tersendiri dalam hubungan keduanya.


Tidak ingin membiarkan obrolan berat tersebut berlangsung lama, Sayaka pun memutuskan untuk menampakkan diri saja. Dia tidak mau mencuri dengar lebih lama lagi sesuatu yang nantinya malah membebani pikirannya sendiri.


"Maaf, Pak. Ini kucingnya sudah saya bersihkan. Karena induknya tidak ada yang mencari, saya bawa ke sini saja," ucap Sayaka dengan sopan muncul disaat jeda pembicaraan sembari meletakkan kardus berisi kucing di lantai.


"Nanti biar saya bawa ke rumah dinas Seruni, Ka. Terimakasih," timpal Subroto sembari melemparkan senyuman hangat di ujung kalimatnya.


Tidak lama kumandang adzan Isya pun terdengar. Ketiga pria tersebut pun langsung menuju ke musholla kembali. Tinggallah Bu Sajad yang menghubungi Seruni melalui ponselnya untuk datang makan malam sekalian ke rumahnya. Sebagai seseorang yang sangat menyayangi Sayaka, tentu Bu Sajad awalnya bahagia mengetahui Seruni menaruh hati pada keponakannya tersebut. Tetapi setelah mendengar pembicaraan ayah Seruni dan suaminya, rasa bahagia itu kini berubah menjadi kekhawatiran yang pasti.


Seruni datang setelah dia melakukan sholat isya. Perempuan tersebut datang dengan menggunakan motor matic miliknya. Kedatangan Seruni tersebut bersamaan dengan Subroto, Pak Sajad dan Sayaka yang kompak berjalan beriringan keluar dari musholla. Mereka semua langsung menuju ruang makan.


"Silahkan, Pak. Mohon maaf. Hanya masakan sederhana dari kebun sendiri." Bu Sajad meletakkan telur pindang kuning di atas meja makan.


"Tidak ada makanan yang sederhana, Bu. Semua makanan itu istimewa kalau kita dalam keadaan sehat. Saya ini tidak suka makanan neko-neko. Sayur singkong direbus, dikasih sambal bawang sedikit, saya sudah bisa makan." Subroto begitu menghargai tuan rumah yang sudah menjamunya. Tanpa ragu, dia mengambil sedikit demi sedikit semua lauk yang dihidangkan.


"Ser, kamu juga makan yang banyak." Bu Sajad menambahkan secentong nasi di atas piring Seruni yang masih kosong.


"Saya bisa ambil sendiri, Bu Sajad. Jadi merepotkan begini," ucap Seruni. Merasa tidak enak karena diperlakukan terlalu baik.


Sayaka tampak mencuri-curi pandang ke arah Seruni. Sesekali dia juga memperhatikan Subroto. Dalam pikiran Sayaka sekarang, jelas juga ada kekhawatiran. Melihat Pak Sajad dan Bu Sajad yang terkesan menaruh rasa segan pada tamunya, jelas kedua orang yang sudah dianggapnya seperti orangtuanya sendiri itu pasti menyimpan penilaian yang kurang lebih sudah bisa ditebak oleh Sayaka.


Seusai makan malam, Seruni dan Subroto langsung pamit undur diri. Dikarenakan kondisi kesehatan Subroto yang baru saja pulih, tentu membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Ditambah lagi, mereka baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Baik, Pak. Besok saya jemput Bapak. Biasanya saya berangkat pukul enam setelah memberikan sarapan untuk Siti, Sapto dan kawan-kawan."


Subroto tersenyum mendengar jawaban Sayaka. Pria tersebut lalu naik di atas boncengan motor yang sudah siap dikendarai oleh Seruni sembari mengangkat kardus berisi kucing pemberian Sayaka tadi.


***


Selepas kepulangan Seruni, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Bu Sajad mengajak Sayaka bicara di ruang tamu mereka. Pak Sajad pun ikut bergabung bersama di sana. Tahu persis apa yang akan dibicarakan, pria itu pun berniat turut serta memberikan pendapatnya pada Sayaka.


"Ka, apa kamu yakin mau membawa hubunganmu sama Seruni ke jenjang pernikahan?" tanya Bu Sajad. Langsung memulai pembicaraan.


Sayaka tidak langsung menjawab. Dia sengaja berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang paling tepat untuk dikemukakan.


"Saya serius Ua. Tetapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Bagaimana pun, saya harus memantaskan diri dulu. Apa yang saya miliki sekarang, tentu masih belum seberapa. saya tidak ingin mengajak Seruni hidup susah. Walau tidak mungkin bisa memberikan kemapanan atau kemewahan seperti sekarang yang sudah dimiliki Seruni, setidaknya perbedaan kehidupan nanti tidak terlalu jauh."


Jawaban Sayaka membuat Pak Sajad tersentuh. Baru pertama dan sekali ini keponakannya itu jatuh cinta. Rasanya terlalu kejam jika dia harus mematahkan secara terang-terangan. Sepertinya, dia harus memakai cara lain untuk membuat Sayaka berpisah dengan Seruni.


"Tapi, Ka. Bapaknya Seruni tadi bilang, pengen menantu yang bisa meneruskan usahanya. Seruni itu anak satu-satunya, tentu Bapaknya berharap mendapatkan yang terbaik. Bukannya Ua ini ingin mengecilkan hatimu, Ka. Ua bangga sekali sama kamu yang selalu bekerja keras. Tapi bagi Ua, menjadikan Seruni sebagai istrimu itu tidak mudah. Kamu ini ganteng, Ka. Kalau ukuran di sini, apa yang kamu punya sudah cukup. Ua rasa Shanum lebih pas buat kamu. Dia cantik, baik dan juga cekatan," tutur Bu Sajad. Perempuan tersebut sepertinya masih ingin melanjutkan bicaranya. Namun, Sang suami mengirimkan isyrat berupa helengan kepala agar sang istri tidak mengeluarkan kata-kata lagi.


Sayaka memilih untuk tidak menimpali nasihat Bu Sajad. Apa yang disampaikan adik kandung dari ibunya itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi juga tidak dapat dibenarkan. Rasa cinta tidak bisa memilih pada siapa rasa itu dijatuhkan. Seperti halnya dengan Sayaka yang tidak pernah menyangka cintanya akan berlabuh pada sosok Seruni.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Besok setelah dari ladang dan ngurus ternakmu. Antar Ua'mu ke desa sebelah. Ada bingkisan yang harus di antar ke sana. Kiriman dari kabupaten untuk disampaikan pada ibu-ibu."


Ucapan Pak Sajad barusan, membuat Bu Sajad mengernyitkan keningnya tanda keheranan. Sepanjang siang, rasanya tidak ada pembicaraan apapun mengenai bingkisan yang dimaksud suaminya. Sampai Sayaka masuk ke dalam kamarnya pun, perempuan tersebut masih menunjukan rasa herannya pada sang suami.


"Sudahlah, nanti aku jelaskan." Pak Sajad berdiri sembari menepuk lengan Bu Sajad.