SERUNI

SERUNI
BAB 131 Niat Ingsun



"Assalamualaikum..."


Junaedi dan istrinya mendongak hampir bersamaan. Kedua mata Badriah langsung berbinar begitu melihat sosok tampan dan rupawan yang kini berada di hadapannya. Wajah bersih dan bercahaya yang dimiliki oleh Ba'im , telah berhasil mencuri perhatian Badriah. Apalagi di saat Ba'im melontarkan senyuman ke arahnya.Ia segera bangkit dari duduknya ,meletakkan ponsel yang sejak tadi ia mainkan di atas meja.Lalu mendekat ke arah Ba'im .


"Ada yang bisa saya bantu Mas?"tanya Badriah dengan logat yang mendayu-dayu lembut.


"Kamu???ah aku lupa,tapi aku merasa pernah melihat kamu"jawab Ba'im ,ia ngeblank tidak bisa menyebutkan satu nama yang bisa dikira-kira.


"Ohya??"Badriah tersenyum,ia seperti ditarik magnet semakin mendekati Ba'im . Hingga keduanya hanya berjarak dua jengkal saja.Gemetar lutut Ba'im karena didekati wanita yang menciptakan kengerian tersendiri baginya.Auranya sangat kuat sekali.Kemungkinan perkiraan Excel itu benar.


"Maaf Mas,,, kalau boleh tahu dimana anda bertemu istri saya?"Junaedi menghampiri, menciptakan jarak diantara mereka karena ia menarik lengan Badriah.Ba'im menghela nafas lega.


"Dimana ya??saya sendiri lupa,tapi wajahnya terasa sangat familiar sekali"


Badriah tersenyum,ia ingin mendekati Ba'im lagi namun ditahan oleh Junaedi.


"Apa-apaan sih??"Badriah tidak suka,ia menepis pegangan tangan suaminya.Setelah lolos, perempuan itu mendekati Ba'im lagi dan tanpa canggung langsung menautkan tangannya ke lengan Ba'im .


"Kalau begitu,mari kita sama-sama saling mengingat dimana kita pernah bertemu ?ayo masuk dulu Mas"ajakan yang penuh rayuan membuat bulu kuduk meremang.


"Dek...kamu apa-apaan bersikap seperti itu kepada pria asing ??"tegur Junaedi.Namun Badriah tak perduli,ia terus memepet Ba'im dan menggiringnya masuk ke dalam rumah.


Ba'im meringis,ia ingin menolak tapi nanti ketahuan semua sandiwaranya.


"Kak Jun..."Sebuah seruan menghentikan langkah Badriah ,ia menoleh ke balik punggungnya.


HUFFFF


Ba'im menghela nafas lega, Ia tidak dapat menutupi rasa bahagianya ketika melihat Aini bersama Excel.


"Aini...ada apa kamu kesini ??"Junaedi menghampiri adik sepupu dari mantan tunangannya.


"Kak Jun .. Apakah Kak Wanda datang di hari pernikahan kak Jun kemarin?"


Junaedi nampak kaget,ia menoleh ke arah istrinya.


"Tidak...kami tidak melihat Wanda datang "Badriah mengambil alih menjawab.


"Bohong... jelas-jelas aku melihat Kak Wanda datang ke sini"sanggah Excel tegas tanpa ragu.


"Kau siapa ?"tanya Badriah lantang.


"Aku teman sekamar Kak Wanda yang menemani dia pulang"


Badriah terlihat bingung,ia melirik suaminya seperti sebuah kode.


"Mungkin dia datang tapi aku tidak tahu..."Junaedi menjawab gugup.Excel maju,lalu dengan cengkraman tegas ia menarik kerah baju Junaedi hingga wajah mereka berdekatan.


"Jangan bohong kamu!!!aku tahu kau telah mencelakai Kak Wanda ,akan aku pastikan kamu masuk penjara jika kamu menutupi semuanya"Ancam Excel dengan delikan mata yang tajam.Junaedi gemetar ketakutan,ia melirik istrinya dengan ekor matanya.


Badriah panik,ia menarik lengan Ba'im agar ikut masuk ke dalam.Namun Ba'im menolak,ia melepaskan diri lalu berlari ke sisi Excel .


Junaedi ingin menyusul istrinya, namun Excel menahannya dengan memelintir kedua tangan Junaedi ke belakang punggung.


"Kak?? gimana dia?"Aini seperti tak rela perempuan yang sudah merusak hubungan Kakaknya dengan Junaedi, kabur.


"Biarkan saja,kita tidak tahu apa yang bisa ia lakukan di dalam sana? Sebaiknya kita cepat bawa Junaedi pergi dari sini"Titah Excel ,semua mengangguk setuju.Mereka bertiga menggiring Junaedi masuk ke dalam mobil.


"Lepaskan aku...aku tidak tahu apa-apa,dan aku tidak melakukan apa-apa "Junaedi meronta-ronta dan memohon.Namun tak diindahkan oleh ketiganya.


"Kita bawa dia kemana?"tanya Ba'im .Excel melirik ke belakang,disana Junaedi di ikat dengan pengawasan dari Aini.


"Ke Kantor Polisi "nada tegas dari Excel membuat Junaedi terkesiap.


"Kamu serius ??"Ba'im yang merasa Excel hanya menggertak jadi ragu saat melihat wajah Excel yang serius.


"Menurut Ustadz ?kita harus membiarkan laki-laki yang sudah membunuh Kak Wanda bebas?"


Excel tersenyum kecut.


"Tidak Ustadz...aku akan membunuhnya juga,kita tidak perlu ke kantor polisi.Kita bawa saja dia ke tempat sepi, lalu kita habisi dia"Excel mengetatkan gerahamnya, nafasnya terdengar cepat dan berat.Ba'im terpelongo,ia begidik ngeri mendengar ucapan gadis itu.


"Kak... serius kita akan membunuh Kak Jun??"Aini mencondongkan tubuhnya ke depan, menelusup di tengah-tengah kursi kemudi dan kursi penumpang yang diduduki Excel .


"Kamu pikir ??"Excel melirik dengan hasrat pembunuh yang kejam.Aini ciut,ia menarik tubuhnya mundur.


"Aini...aku tidak salah, perempuan itu yang melakukannya.Perempuan itu yang sudah membunuh Wanda "Junaedi terlihat ketakutan,ia menggigil dengan gurat tangis yang minta dikasihani.


"Apa???jadi kalian membunuh Kak Wanda ??"Aina membeliak lebar, disudut netranya terlihat mengembun.


Excel tersenyum penuh misteri,dan senyuman itu sekilas terlihat oleh Muhammad Ibrahim.


"Excel ...apa sebenarnya yang kau rencanakan???"


____


Badriah panik,ia berjalan mondar mandir di ruang tamu rumahnya.Tangannya mengepal,dari mulutnya keluar sumpah serapah.


"Kur*Ng Ajar!!Bajing*n... ternyata ada yang tahu wanita itu datang.Bagaimana? Bagaimana jika benar dia melaporkannya ke polisi ?apa yang harus aku lakukan?? aku tidak mau dipenjara ,aku sudah rugi besar telah menikah dengan Junaedi, aku pikir dia masih perjaka . Ternyata dia sudah melakukan hubungan dengan tunangannya"


"Tidak!!!Aku tidak bersalah... Biarkan saja Junaedi menanggung semua kesalahan itu, aku akan berpura-pura tidak tahu. Bukankah semua ini terjadi karena kesalahannya juga. Kenapa dia harus melakukan hubungan sebelum menikah dengan tunangannya ? Kalau saja dia tidak melakukan hubungan lebih dulu dengan tunangannya ?Aku tidak mungkin membunuh wanita itu"


Badriah gegas cepat masuk ke kamarnya.Ia mengunci pintu kamarnya dari dalam.


"Aku harus membuat Junaedi mengaku bersalah dan tidak menyebut namaku"Wanita itu berniat dengan mantap.Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. Lalu ia menghamparkan kain hitam di atas lantai serta menjejer beberapa peralatan ritualnya.


Setelah itu,ia duduk bersila, menyulut bara api,kemudian menabur dupa.Badriah komat-kamit membaca mantra,ia meraih sisir di atas nakas.Lalu mengutip sisa-sisa rambut milik Junaedi.Rambut itu ia bakar bersama dengan dupa tersebut.


"Niat ingsun menyumpali mulut segawang Lanang Junaedi anak Adam,seng dadi bojoku,bojoku Pangarep ingsun.JUN...KAU LAH YANG MEMBUNUH Wanda ,KAU YANG MEMBUNUH WANDA..INGAT !!KAU YANG SUDAH MEMBUNUH WANDA "