SERUNI

SERUNI
Seruni Bab 33



Setelah Shakala meninggalkan rumah Seruni bersama papanya. Tinggallah Sayaka yang menemani Subroto. Karena Seruni sengaja diminta sang ayah untuk tidak berada di antara mereka. Entah apa maksud dan tujuan Subroto melakukan hal tersebut.


Tentu saja hal itu membuat Seruni tidak tenang. Bukannya dia tidak percaya dengan sikap bijaksana sang ayah yang pastinya tidak akan merendahkan Sayaka, melainkan karena dia tahu bagaimana kepandaian ayahnya itu membuat orang lain tiba-tiba bisa mengungkapkan semua tentang dirinya apa adanya dengan nyaman. Seruni khawatir, dengan kepolosan dan kejujuran serta sikap apa adanya Sayaka, malah akan membuat sang ayah berat merestui hubungan mereka.


Sementara Seruni masih larut dalam kecemasannya, Subroto dan Sayaka sudah memulai obrolan mereka di kamar pribadi Subroto. Sedikit diawali dengan kecanggungan. Karena baik Subroto mau pun Sayaka, sama-sama sedang berupaya menyeimbangkan pembicaraan agar tidak terlalu timpang. Posisi Subroto yang merebahkan diri di atas ranjang karena Sayaka yang menawarkan diri memijat kakinya, sedikit membantu pria pilihan Seruni itu menghindari salah tingkah.


"Bapak ini sebenarnya pengen punya anak laki-laki lho, Ka. Tapi ya gimana mau punya anak lagi, Ibunya Seruni sudah tidak ada." Subroto terdiam sejenak menatap Sayaka yang menatap dirinya dengan penuh rasa sungkan. "Pasti kamu mau berpikir kenapa saya tidak menikah lagi saja, kan?" tambah Subroto. Sebenarnya dia tahu Sayaka tidak mungkin berpikiran sampai ke sana.


"Beberapa orang beranggapan menikah itu cukup sekali seumur hidup. Hal itu tentu saja sangat berhubungan dengan keyakinan bahwa mencintai pasangan itu haruslah dibarengi dengan kesetiaan. Sebagian lagi menganggap menikah lagi setelah ditinggal pasangan bukanlah hal yang salah. Mana yang benar? Dua-duanya benar, Ka. Yang salah itu, sebagian orang yang hanya mau menjalin hubungan tapi tidak mau memiliki ikatan atau komitmen."


Subroto lagi-lagi menghentikan sejenak ucapannya. Dia harus memastikan dulu lawan bicaranya memperhatikan dirinya ataukah tidak. Dia memang sengaja tidak langsung pada pokok pembicaraan yang menggali kepribadian Sayaka yang sebenarnya. Di mata Subroto, sosok seperti laki-laki pilihan anaknya itu baru akan banyak bicara jika dia sudah merasa nyaman dan diterima.


"Dan saya adalah orang yang hanya bisa mencintai dan menikah dengan seorang perempuan sekali saja seumur hidup. Saya dan bundanya Seruni dijodohkan, Ka. Tidak seperti kamu dan Seruni yang jatuh cinta atas kemauan sendiri. Diawal pernikahan kami masih malu-malu. Bahkan seperti orang asing. Tapi seiring berjalannya waktu, kami berdua saling membuka diri. Belajar bersama memahami hak dan kewajiban suami istri."


Sayaka menggeser duduknya. Dia mulai tertarik dengan pembicaraan yang masih didominasi oleh Subroto. Sayaka tidak bisa membohongi dirinya, meski masih ada perasaan deg-deg"an, tetapi dia mulai merasakan kenyamanan. Sedari kecil dia yatim piatu, dididik seorang ayah secara langsung adalah hal yang tidak pernah dia dapatkan. Dia tumbuh bersama bibinya yang tidak lain adalah ibu dari Bu Camat.


"Bundanya Seruni itu seharusnya bisa menjadi seorang guru kalau saja tidak memutuskan untuk menerima perjodohan orangtua kami. Bagi saya, karier terbaik seorang perempuan adalah sebagai istri dan ibu. Setinggi apa pun pendidikannya. Mengurus suami dan anak harus menjadi prioritas. Untung saja, ibunya Seruni ini nriman kalau orang Jawa bilang."


"Apa itu, Pak?" Sayaka yang tidak mengerti maksud kata-kata Subroto memberanikan diri untuk bertanya.


Sayaka memanggut-manggutkan kepala tanda mengerti. Kurang lebih, dia pun memiliki pemikiran yang sama dengan Subroto mengenai istri ideal. Namun, mengingat sekarang dia sedang menjalin hubungan dengan seorang Seruni. Jelas hal itu masih menjadi tanda tanya. Dengan profesi Seruni sebagai dokter kandungan, sangat disayangkan jika dia membatasi perempuan tersebut untuk mengabdi pada masyarakat. Apalagi jika mereka nantinya tinggal di daerahnya, tentu itu akan sangat membantu masyarakat di sana.


"Kamu ngangguk-ngangguk setuju sama omongan bapak yang mana, Ka?" Subroto bertanya sembari menepuk paha kirinya. Pertanda pria tersebut meminta pijatan Sayaka berpindah ke sisi kaki tersebut.


"Itu, Pak, maaf kalau saya lancang. Saya sependapat dengan bapak soal istri ideal. Saya juga dari dulu berpikiran seperti itu. Meski saya tidak bisa menentukan penghasilan saya, saya pengen kalau nanti berumah tangga bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga. Jadi istri tidak perlu bekerja lagi." Meski agak ragu-ragu dan malu, Sayaka akhirnya mampu mengatakan sederetan kalimat tadi dengan lancar.


"Kalau begitu, minimal kamu harus ada penghasilan pasti dan rutin, Ka. Karena pengeluaran rumah tangga itu setiap hari ada. Tidak bisa menunggu kamu panen atau jualan ternak dulu. Tidak perlu muluk-muluk, karena besar kecilnya rejeki itu sudah ada yang ngatur. Yang penting kamu ada pekerjaan pasti yang bisa membuat kamu ada pemasukan rutin. Apa kamu nggak pengen begitu?" Subroto bertanya dengan hati-hati. Karena dia tahu ini adalah masalah yang sensitif.


"Tentu saja saya juga mau, Pak. Tapi kalau mau seperti itu, saya harus ke negara tetangga. Kalau seperti itu, semakin sulit daerah kami mandiri dan berkembang. Yang sudah merasakan enaknya hidup di negara lain, tentu saja enggak kembali ke tapal batas. Yang jarang dianggap, pendidikan, pembangunan hampir tidak ada. Memang saya hanya seorang yang masih bertahan, tetapi kalau saya ikut pergi merantau anak-anak yang masih bersekolah, mereka pada akhirnya akan berpikiran suatu saat akan meninggalkan daerah kami juga."


Kali ini, Subroto yang memanggut-manggutkan kepalanya. Pemikiran Sayaka sangat mulia. Hanya saja, kepolosan dan wawasan yang terbatas, jelas membatasi banyak hal yang seharusnya masih bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan daerah. Memang bukan perkara mudah, selain terbentur budaya, keadaan geografis, sumber daya manusia dan juga modal juga sangat mempengaruhi.


"Bagaimana kalau kita bekerjasama, Ka? Tapi ini di luar urusan kamu dengan Seruni, ya. Bisnis adalah bisnis. Kamu ingin daerahmu maju, kan?"


Pertanyaan Subroto membuat pijatan tangan pada kaki pria tersebut seketika terhenti. Antara tidak menduga mendapat tawaran seperti itu, dan juga bingung harus menjawab apa.


"Bagaimana, Ka? Laki-laki tidak boleh lambat berpikir. Dalam situasi apa pun. Analisa menggunakan logika harus dilakukan dengan cepat, cermat dan tepat. Dalam mengambil keputusan, jangan biasakan dirimu menimbang rasa lebih berat ketimbang logika." Sisi militer Subroto kembali muncul. Sayaka pun menelan ludahnya dengan susah payah.