
"Bagas... masalah rumah tangga mu sekarang sudah benar-benar serius, karena Bunga sudah berani minta cerai.Apa kamu masih berpikir untuk melanjutkan hubungan mu dengan Utari ?atau kamu memperjuangkan pernikahan mu dengan Bunga?"Ny Sasti berucap dengan penuh ketegasan.
Bagas terdiam,ia terlihat tengah berpikir.
"Ma...aku sebenarnya sempat khawatir, kebanyakan orang yang mati suri cepat atau lambat dia akan kembali mati.Jika Bunga benar-benar mati?...... Bagaimana ?"Tuan Radit menyimpan suatu kerisauan tersendiri.
Ny Sasti menghela nafas panjang,ia terlihat muram dengan pernyataan suaminya.
"Jika Bagas tidak mempunyai keturunan ?maka harta warisan ini akan Mama sumbangkan saja.Aku terlalu malu untuk mengelolanya"Ucap Ny Sasti kemudian.Bagas tetap bungkam.
"Jika Bagas tetap ingin menikahi Utari , terserah dia lah...Mama sudah capek ikut campur urusan dia.Begitu pun sebaliknya,jika dia ada masalah dikemudian hari.Jangan libatkan Mama"Sambung Ny Sasti .Ia bangkit , mengangguk kepada suaminya sebagai kode.Tuan Radit pun paham,ia bangkit mengikuti istrinya.
"Mama pulang dulu...."
Ny Sasti tidak menunggu jawaban dari anaknya,ia berjalan beriringan dengan suaminya keluar dari rumah Bunga.
Sedangkan Bagas tetap diam di tempat, wajahnya terlihat gusar.Ia memikirkan permintaan cerai dari istrinya , kenapa permintaan itu terdengar sangat menakutkan bagi Bagas ?. Padahal dari dulu,hal itu yang sangat ia inginkan.
Bagas mendongak menatap sayu kamar mereka berdua,lalu ia bangkit dan berjalan dengan tergesa ke kamar itu.
Saat pintu kamar dibuka,ia mendapati istrinya tidur di lantai.Bagas segera menghampiri dan membangun kan istrinya.
Seruni yang belum terlelap sepenuhnya beringsut duduk.
"Ada apa ?"
"Kita perlu bicara"
"Bicara apa lagi ?"
"Kamu serius ingin kita cerai ??"
Seruni mengangguk yakin.
"Kenapa ?? bukankah dari dulu kamu tidak pernah ingin bercerai dari aku?"
"Aku capek...cinta bertepuk sebelah tangan itu capek"
"Kalau....aku...mau.... belajar mencintai mu?"Bagas dengan gugup mengutarakan isi hatinya.
"Cinta nggak usah belajar , Apakah waktu kamu mencintai Utari kamu perlu diajari ? nggak kan??"
(Jiwa Bunga tersenyum lebar)
Bagas terdiam,ia seperti diskak mate oleh istrinya sehingga kehabisan kata-kata.Disaat tengah berpikir,ponsel Bagas berdering.Pria itu segera merogoh ponselnya.
Melihat nama Utari terpampang di layar,Bagas beranjak lalu melangkah ke luar balkon.Seruni menghela nafas lalu kembali merebahkan tubuhnya.
"Ngapain kamu suap-suapan sama Bunga?hah?!!"Belum sempat Bagas mengucapkan kata Hallo,Utari sudah mencercanya dengan pertanyaan.
"Tahu dari mana kamu?"
"Tante Sasti yang ngirim aku video itu,,tadi alasannya capek nggak mau makan malam sama aku? ternyata kamu malah suap-suapan sama Bunga"
Bagas tak menyahut,ia memilih diam daripada berdebat dengan Utari.
"Kenapa diam?? pokoknya aku nggak mau tahu ya sayang, sekarang juga kamu datang kesini!ke rumah ku"Sambung Utari dengan nada perintah yang tegas.
"Ini jam berapa ??ini udah malam loh sayang"
"Aku nggak mau alasan,aku mau kamu datang kesini sekarang juga!!"Utari memutuskan sambungan telepon.
Bukan hanya telfon Bagas yang berbunyi Tut Tut Tut...tapi kepala Bagas pun jadi cenat-cenut.Ia memijit pelipisnya,rasa pening menjalar disaat ia harus memilih pergi atau diam di rumah.
Bagas memperhatikan istrinya yang tidur di lantai, nostalgia jaman sebelum Bunga coma terbayang seperti layar film.
Bunga terdiam sejenak,lalu bibirnya terukir senyuman.
Nggak apa-apa,kita kan belum kenal dekat.Jadi mustahil Mas Bagas bisa mencintai Bunga.Nanti lama kelamaan Mas Bagas pasti akan menerima Bunga sebagai istri.
Kalimat yang sangat percaya diri dari seorang gadis lugu bernama Bunga.
Setiap pagi,ia akan menghindari untuk makan semeja dengan Bunga.Ia akan segera berangkat kerja sebelum Bunga terjaga.
Dan setiap malam,ia akan pulang terlambat dan menolak makan malam bersama dengan alasan sudah kenyang.
Meskipun begitu,Bunga selalu mencari alasan yang tepat untuk menutupi sikap Bagas didepan sang Kakek.Sampai akhirnya Kakek Bunga meninggal karena kecelakaan,dengan tanpa berperasaan.Bagas mengatakan kepada Bunga bahwa ia ingin bercerai dan akan menikah dengan Utari .
Namun Bunga menolak,sambil menangis dia berucap.
Mas Bagas boleh kok berhubungan intens dengan Utari , Bunga nggak akan melarang.Tapi jangan pernah cerai dengan Bunga.Bunga akan menjadi istri Mas Bagas sampai akhir hayat, meskipun Mas Bagas tidak pernah mencintai Bunga.
Bagas tersenyum lucu dengan kebodohan Bunga dulu,tapi sekarang Bunga sudah berubah.Ia ingin cerai disaat Bagas sudah nyaman dengan keberadaannya.
"Egoiskah aku jika aku ingin bertahan dengan pernikahan ini??"
Bagas membelai lembut rambut istrinya.Ia mengikuti kata hatinya, menggendong tubuh Bunga lalu ditidurkan di atas kasur.
Seruni nampak sangat terlelap, sehingga ia tetap pulas meskipun ia sudah dipindah ke atas kasur.Justru ia semakin nyaman karena alasnya sudah tidak keras dan dingin lagi.
Bagas merebahkan diri disisi istrinya,ia memunggungi Bunga lalu meraih tangan Bunga agar memeluk tubuhnya dari belakang.Bagas tersenyum,hatinya bergetar tenang.Matanya terpejam dengan bibir terukir simpul.Sudah lama ia tak merasakan pelukan Bunga yang hangat dan damai.
Saat mata sudah mulai terpejam, ponsel Bagas berdering.Bagas mengambil benda pipih miliknya, setelah tahu siapa yang menelepon.Ia justru langsung menonaktifkan ponselnya.Lalu ia kembali memejamkan matanya dengan menggenggam tangan istrinya.Seolah-olah ia tidak mau kehilangan Bunga .
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menyapa,Seruni tersenyum tipis.Ia merasakan kehangatan tubuh seorang pria.
"Akhirnya aku kembali ke pelukan suamiku...Apakah ini mimpi???Ah biarlah...jika ini mimpi,aku tak berniat untuk membuka mataku"
Seruni makin memeluk erat tubuh atletis itu, begitupun dengan Bagas .Ia semakin nyaman melanjutkan tidur dengan saling berpelukan.
Semoga ini menjadi pertanda baik bagi pernikahannya dengan Bunga
Itulah harapan Bagas saat ini.
"Apakah perlu aku buat anak bersama Bunga??"
Bagas membuka matanya,ia menatap lekat wajah ayu Bunga yang merasa sangat nyaman dalam pelukannya.Bagas perlahan mencium kening istrinya itu.Lalu turun mencium hidungnya, kemudian turun mengecup bibirnya.
Seruni merasa bulu kuduknya meremang seluruh badan.Namun ia tetap memejamkan matanya, karena ia merasa itu semua adalah mimpi indahnya bersama Roy suaminya.
Bagas dengan lembut menciumi bibir,lalu turun ke leher,dan menyingkap dada yang tersembunyi dibalik baju piyama istrinya.
Seruni menggelinjang hingga matanya terbuka.Ia meremas rambut Bagas menikmati sentuhan lembut dari pria itu.
Saat Seruni menyelami kenikmatan itu,ia baru tersadar bahwa ia berada di kamar Bunga.
"Apakah Suamiku datang ke mari??"
Kedua bola mata Seruni membeliak lebar,ia menarik rambut Bagas hingga kepalanya mendongak.
"Astaghfirullah"
Refleks Seruni mendorong tubuh Bagas hingga terjengkang ke lantai.Bagas meringis kesakitan ditulang ekornya.
Seruni menarik selimut menutupi dadanya, nafasnya tersengal-sengal sambil terus berucap istighfar.