SERUNI

SERUNI
BAB 68 Seruni Ketakutan



Menjelang Sholat Maghrib,Seruni hendak ambil wudhu.Namun tiba-tiba langkahnya tertahan ,ia melihat sosok dengan kepala tanggal berjalan mengambang keluar dari pintu gerbang belakang yayasan.


Memang Seruni melihat di belakang bangunan yayasan adalah hutan karet yang luas.Lalu kenapa makhluk astral itu pergi kesana??Oh mungkin karena tempat itu adalah hutan jadi lebih nyaman didiami.


Akan tetapi tiba-tiba makhluk lain menyembulkan kepalanya menembus gerbang,ia tersenyum ke arah Seruni sembari melambaikan tangan seperti memanggilnya.Karena penasaran Seruni melangkah mendekat dengan perlahan.Makhluk itu tersenyum lalu menghilang ,Seruni semakin mendekati pintu gerbang.Hingga tiba-tiba sebuah tepukan di bahunya mengagetkan dirinya.


"Astaghfirullah"


Ustadz Mukhlis tersenyum tipis.


"Mau kemana Neng?"


"Aaa emmm saya penasaran dengan apa yang ada diluar sana"Seruni menunjuk ke arah hutan.


"Kalau penasaran siangan aja pergi ke sana,ini sudah ba'da Maghrib Neng.Lebih baik kita sholat dulu"


"Oh iya..."Hampir Saja Seruni lupa akan kewajibannya.Segera ia menuju toilet untuk mengambil wudhu.


___


Sesudah sholat Maghrib berjamaah,Seruni ikut acara murottal bersama Muhibbah dan anak-anak yatim yang sudah beranjak dewasa.Mereka membaca mushaf Al-Qur'an secara bergantian sambil menunggu adzan 'isyak berkumandang.


Disaat Seruni asyik mendekte salah satu anak gadis yang tengah mengaji, tiba-tiba pandangan mata Seruni jadi gelap.


Sebuah bayangan kejadian terpampang jelas didalam kelopak matanya.Seseorang dengan keji memenggal kepala seorang gadis hidup-hidup dengan memakai pisau daging.Kaki gadis itu menggelepar, darah segar muncrat kemana-mana.Termasuk ke wajah sang pembunuh.


Seruni juga melihat mereka yang masih hidup di perkosa secara brutal oleh si pelaku.Ada juga yang tengah hamil dan tanpa belas kasihan ia ditusuk lalu diambil janinnya saat si ibu masih sadar.Alhasil,si ibu bayi yang masih cukup belia itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Gelak tawa si pembunuh sungguh mengerikan, membuat para gadis yang masih bernyawa meringkuk ketakutan.


Seruni terbelalak dengan gerakan cepat bangun dari tidurnya.Dadanya naik turun, wajahnya menegang.Ia yang menyaksikan kejadian yang begitu tak berperikemanusiaan itu sangat ketakutan.


"Uni..."Muhibbah menyodorkan segelas air putih untuk diminum oleh Seruni ,namun Seruni malah menepisnya hingga tumpah ruah.


Seruni terlihat sangat ketakutan,ia bangkit lalu berlari kencang sampai terlupa dengan alas kakinya.Gadis itu berlari sekencang-kencangnya menuju kamar pribadinya.Lalu ia membuka cepat Pintu kamarnya, kemudian menguncinya dari dalam.


Seruni mengintai keadaan sekitar melalui jendela kamarnya, setelah dipikir aman ia meloncat naik ke atas kasur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Seruni gemetaran didalam selimut itu,ia tidak kedinginan namun tubuhnya terasa membeku.Keringat dingin meleleh dipelipisnya.Ia sungguh ketakutan, bayang-bayang pembunuhan terus bergelayut manja di pelupuk matanya.


Tok tok tok tok


Seruni terlonjak kaget,ia menarik tubuhnya ke pojok sambil memeluk lututnya.


Tok tok tok tok tok


"Seruni ..."


Suara yang mirip dengan suara Bapaknya menyeru namanya dari arah luar.Namun Seruni tak bergeming,ia semakin erat memeluk lututnya.


"Seruni ...buka nak ini Bapak"


Seruni mengeleng ketakutan,ia menyembunyikan kepalanya dibalik lututnya yang tertekuk.


Tiba-tiba sentuhan dingin dan lembut mengusap pucuk kepalanya.Seruni mengangkat wajahnya, ternyata itu adalah arwah Ibunya.


"Jangan takut Nak...mereka membutuhkan pertolonganmu"Ucap Ibu Seruni .Dua bola mata gadis itu berkaca-kaca,ia segera memeluk sosok astral itu dengan erat.Ibu Seruni hanya tersenyum dengan terus membelai rambut putrinya.


Seruni memejamkan matanya,lalu menelan saliva disertai ******* nafas panjang.Setelah itu ia melepaskan pelukannya,hatinya memantapkan diri untuk bisa lebih berani.


Seruni turun perlahan dari tempat tidurnya,ia membuka daun pintu dengan perlahan.Ternyata diluar kamarnya tidak hanya Bapaknya,tapi banyak orang yang mana mereka penasaran dengan keadaan Seruni . Muhibbah dan Ustadz Mukhlis juga ada diantara mereka.


"Kamu tidak apa-apa Nak?"Tanya Pak Salam terlihat sangat cemas sekali dengan keadaan putrinya.Seruni menggeleng disertai senyuman hambar.


"Aku temani ya Uni"Timpal Muhibbah menawarkan diri.


"Terimakasih Kak"Jawab Seruni , Suaranya hampir tak terdengar.


"Tolong temani dia ya"Pinta Pak Salam kepada Muhibbah,Kak Mu mengangguk.Ia pun masuk ke kamar Seruni yang kemudian si empunya kamar menutup pintunya kembali.


___


Tuan Hendrie duduk tanpa Sudi menatap wajah putri sulungnya itu.Wajahnya merah padam seperti sedang menahan amarah.


Bagaimana tidak, Sherly tetap kekeuh dengan perceraiannya.Meskipun Tuan Hendrie sudah mengusulkan rencana untuk tetap bertahan dengan Roy.


Ia bingung harus bagaimana ?Padahal menikah dengan Roy adalah keputusan putrinya sendiri.Dan sekarang disaat semua kepercayaan ia berikan kepada menantunya itu,malah mereka akan bercerai.Bagaimana nantinya nasib perusahaannya?


"Apa kau tidak memikirkan bagaimana nasib anakmu itu Sher??"


"Sherly akan menikah lagi Pa?"Jawab Sherly tanpa menutupi keinginannya.


"Dengan siapa?siapa yang akan sudi menjadi ayah dari anakmu?"


Sherly menoleh ke arah Rafa yang berdiri agak jauh dengan tangan tertumpu dibawah perutnya.Ia tak berani mengangkat wajahnya karena takut dengan kemarahan Tuan Hendrie.


Tuan Hendrie bergulir mengikuti arah pandangan putrinya.


"Dengan dia??Kamu akan menikah dengan supir itu??"Tuan Hendrie meninggikan nada Suaranya.


"Hanya dia yang akan menerima kehadiran anak ini dengan ikhlas Pa"Jawab Sherly.


"Tidak !!!Papa tidak ingin bermantukan seorang supir,dia tidak ada apa-apanya dibandingkan Roy.Bagaimana Papa bisa menyerahkan hak ahli waris kepada mu jika suamimu tidak bisa diandalkan?Lebih baik suami Dea, meskipun tidak begitu mahir dalam bidang bisnis.Tapi dia masih bisa aku ajari"


"Pa ..kalau Papa ngasih kesempatan sama Rafa,dia juga pasti bisa kok"


"Emangnya dia bisa apa? Kuliah jurusan apa? Lulusan akademik mana?"Tuan Hendrie menekan putrinya dengan pertanyaan yang membuat Sherly tidak tahu harus menjawab apa? Ia menatap Rafa meminta jawaban,namun pria itu justru menunduk semakin dalam.


Sherly mendongak, menatap langit rumahnya.Ia mendesah panjang,andai saja ia bisa mempertahankan hubungannya dengan Roy.Mungkin takkan begini jadinya,jika seperti ini akan sama saja baginya dengan punya anak atau tidak.


"Pokoknya Papa tidak mau tahu,kamu harus mempertahankan pernikahan mu dengan Roy.Atau kau bisa mencari seorang suami yang jauh lebih baik dari Roy.Kalau tidak??jangan harap Papa akan memberikan hak ahli waris kepadamu"Tuan Hendrie bangkit dari duduknya lalu pergi keluar dari rumah putrinya.


AAAAKKKHHHHHH


Sherly menjambak rambutnya sendiri,Rafa segera melangkah cepat menghampiri Sherly.


"Sayang...."


"Cukup!!!"Bentak Sherly memotong kalimat yang akan diucapkan oleh Rafa.


"Kenapa kamu tidak membela diri tadi??kenapa kamu hanya diam saja kayak patung Pancoran??"Sherly sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.Rafa diam,ia tidak bisa melawan Sherly.