SERUNI

SERUNI
Seruni part 36



Seruni langsung mencubit lengan Shakala dengan gemas. "Nggak ada pantes-pantesnya Mas Shaka sok imut begitu."


"Aduh, Ser. Cubitan mulai sakit, tau. Mending kegigit semut ketimbang cubitanmu ini." Shakala menggenggam pergelangan tangan Seruni yang masih ingin menghujaninya dengan cubitan. Keduanya seakan lupa ada empat pasang mata orang terdekat mereka dan juga puluhan pasang mata lain yang memperhatikan mereka.


"Kenapa mau?" tanya Seruni sekali lagi. Kali ini dengan tatapan dan nada yang lebih serius.


"Kamu penasaran, ya? Banget?" Shaka malah kembali menggoda Seruni.


Subroto menggelengkan kepala melihat interaksi Seruni dan Shakala. Seakan dia sedang dihadapkan dengan dua anaknya yang sedang berebut sesuatu hal.


"Tidak ingat umur! Sudah waktunya bikin bocah malah bertingkah macam bocah," lerai Subroto sambari menimpuk lengan Seruni dan Shakala secara bergantian.


Sayaka menyunggingkan senyumannya. Dengan kebaikan Shakala selama ini, rasanya terlalu tidak tahu diri kalau sampai dia menaruh rasa cemburu pada pria tersebut. Dari Shakala, sedikit banyak Sayaka belajar bersikap. Sebagai laki-laki, pantang untuk membenci, menghindar apalagi menyalahkan orang lain atas sebuah kegagalan atau pun kekalahan.


"Masih mau tau jawabannya nggak?" Shakala bertanya sambil sedikit menggeser badannya agar sedikit berjarak dengan Seruni.


Baru saja Seruni ingin menjawab, suara panggilan untuk penumpang pesawat tujuan bandar udara Supadio-Pontionak terdengar memenuhi seluruh ruangan.


"Berangkat dulu, Kha!" Subroto menjabat tangan Shakala dengan mantap. "Saya tunggu disana," tambahnya.


"Hati-hati, Pak dhe." Shakala menjawab sembari membalas jabat tangan Subroto tidak kalah erat.


Begitu Subroto bergeser, berganti Sayaka yang menghampiri Shakala. "Pak Mayor, saya kembali dulu. Terimakasih selama ini sudah begitu baik pada saya," ucapnya, begitu tulus.


"Tidak masalah, Ka. Semangat demi masa depan. Harus ada pengorbanan dan perjuangan untuk sesuatu yang memang pantas diperjuangkan," timpal Shakala sembari melemparkan senyuman yang dimata Seruni selalu dibayangkannya menjadi senyum sang ayah di waktu muda.


Setelah itu baru Seruni yang menjabat tangan Shakala. "Terimakasih, Mas. Banyak yang harus kita bicarakan. Saya tidak mau hutang budi terlalu banyak pada kebaikan Mas Shaka."


"Cerewet banget. Sudahlah. Kalau tidak jadi menantu Pak Dhe Broto, setidaknya aku kan bisa jadi anaknya. Kita bisa jadi kakak adik. Sama-sama anak tunggal juga kan kita?"


Pertanyaan Shakala membuat Seruni kembali mencubit manja pria tersebut.


"Hati-hati, dhek Ser. Mas tunggu undangannya," goda Shakala.


Mengingat panggilan untuk penumpang sudah terdengar dua kali, Subroto kembali mengingatkan Seruni untuk tidak berlama-lama bercanda dengan Shakala. Mereka bertiga pun akhirnya berjalan masuk gate khusus penumpang meninggalkan Shakala yang masih setia menatap punggung Seruni penuh harap dan doa dalam hatinya. Entah apa yang menjadi doanya. Hanya Shakala yang tahu.


****


"Sepertinya masjidnya deket ya dari sini. Ayah mau sholat di masjid saja," seru Subroto dengan bersemangat.


"Yah, Ayah kan baru saja sembuh. Sholat di rumah saja. Lagipula kita habis perjalanan. Istirahat dulu," cegah Seruni.


"Kamu ini. Sholat kok ditunda. Laki-laki itu paling bagus sholatnya jamaah di masjid. Beda sama perempuan." Subroto mengalihkan pandangan ke arah Sayaka yang sepertinya juga hendak pamit dari sana. Sudah tidak sabar rasanya pria tersebut ingin bertemu Siti dan kawan-kawan.


"Deket tidak masjidnya dari sini, Ka?" tanya Subroto.


"Deket kok, Pak. Tapi sebenarnya bukan masjid. Hanya musholla kecil saja. Kebetulan dekat di samping rumah Pak Camat. Rumah yang juga saya tempati," jawab Sayaka.


"Wah, kebetulan sekali. Ayolah kalau begitu. Sebentar saya ambil kopyah dulu." Subroto tampak sumringah. Dia membuka koper yang masih berada di ruang tamu di mana mereka semua berada.


Seruni hanya bisa menggelengkan kepala sembari mendengus kesal. Begitulah sang ayah kalau tidak ada yang dikeluhkan. Pria itu akan melakukan apa saja dan pergi kemana pun tanpa mengingat di usianya sekarang, fisiknya jelas sudah memiliki keterbatasan.


Sayaka berjalan kaki bersama Subroto menuju mushola. Tidak jarang mereka menjadi sumber perhatian ketika berpapasan dengan beberapa penduduk yang baru saja pulang dari aktifitasnya berkebun atau mencari rumput. Sebagian dari mereka menyapa Sayaka dengan ramah.


Beberapa langkah mendekati rumah Sajad, Sayaka menghentikan langkahnya sejenak. Lalu hati-hati dia berkata, "Mohon maaf, Pak. Saya mau menaruh tas saya dulu. Jika berkenan, Bapak mari singgah dulu."


"Owh, nanti saja, Ka. setelah sholat. Saya tunggu kamu di mushola saja." Subroto menepuk santai pundak Sayaka.


Keduanya pun berpisah di sana. Sayaka langsung ke dalam rumah. Ucapan salamnya langsung disambut Bu Sajad dengan lega. Meski sudah cukup dewasa, kepergian Sayaka ke kota asal Seruni membuat perempuan tersebut cukup khawatir. Karena memang ini adalah perjalanan jauh untuk pertama kalinya bagi Sayaka.


"Alhamdulillah, kamu kembali dalam kondisi utuh dan sehat, Ka." Bu Sajad menepuk-nepuk lengan Sayaka dengan sorot mata berbinar. Sedari kecil, dialah yang merawat Sayaka. Sebelum menikah dengan Pak Sajad, Sayakalah yang bekerja keras mencukupi kebutuhan hidup dirinya sejak pria itu berusia 13 tahun.


"Sudah, Ua. Ngobrolnya nanti dulu, ya. Mau ke mushola cepet-cepet. Ada ayahnya Seruni sudah menunggu di sana." Sayaka meletakkan tasnya di kursi panjang bambu begitu saja. Buru-buru dia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal karet biasa.


Biasanya, dari adzan dikumandangkan, sholat jamaah baru akan dilakukan sepuluh menit kemudian. Bukan tanpa alasan, hal ini dilakukan karena jarak rumah penduduk yang mengikuti jamaah ada yang cukup jauh. Dan juga, memberi kesempatan yang baru pulang dari kadang untuk bersiap-siap terlebih dahulu.


"Pasti mampir ke sini, kan, Ka? Wah, harus masak-masak dulu ini." Bu Sajad buru-buru ke dapur. Menyadari tamu yang akan datang jelas bukan tamu yang biasa saja. Sejauh yang dia ingat, dari cerita Shakala sebelum Seruni datang ke tempatnya, Mayor muda itu mengatakan yang akan berdinas di sana adalah dokter perempuan anak dari purnawirawan TNI berpangkat jenderal.


"Eh, sebentar, lewat belakang saja biar bisa lihat, siti, sapto dan yang lain. Siti kemana, Ua?" Sayaka masih sempat-sempatnya ingin mencuri waktu untuk bertatap muka biar pun hanya sekilas dengan para makhluk berkaki empat kesayangannya.


Bu Sajad tidak menjawab. Dia fokus memikirkan apa yang akan disuguhkan untuk tamunya nanti. Sayaka pun tidak menunggu jawaban perempuan itu lagi. Dia berjalan ke arah belakang. Lalu mendekati deretan kandang, melambaikan tangan sembari berkata, "Nanti aku ceritakan ke kalian selama di Surabaya. Sekarang aku ke mushola dulu, ya."


Sayaka melanjutkan langkahnya menuju mushola. Sampai di sana dia tertegun melihat sebuah kejadian yang baginya sangat tidak umum. Sama sekali tidak menyangka, sekaligus bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya.