SERUNI

SERUNI
Seruni part 34



"Maaf, Pak. Bukannya saya tidak berminat. Tetapi saya tidak ada pengalaman berbisnis. Saya hanya paham bagaimana memilih ternak dan bibit tanaman yang unggul. Saya hanya lulusan sekolah kejuruan, Pak. Saya takut malah nantinya bisa mengecewakan, bapak." Sayaka menjawab tidak kalah hati-hati.


Subroto kembali mengulum senyumnya. Dia sudah menduga sebelumnya, Sayaka pastilah akan menjawab seperti itu. Pada umumnya, seseorang yang tidak memiliki atau belum menyadari jiwa berbisnis nya, pastilah akan mengalami keraguan dan ketakutan dulu sebelum melangkah.


"Semua orang pasti pernah berada di posisi belum pernah dan belum berpengalaman. Akan selalu ada saatnya kita mengalami hal untuk yang pertama kali. Hidup ini tentang kesempatan, perjuangan dan juga keberuntungan. Tidak akan pernah ada yang tau apa yang terjadi ke depan. Tugas kita, hanya menjalankan yang terbaik semampu kita. Janganlah kamu membatasi kemampuan kamu sendiri. Belum dilakukan, jangan sekali-sekali bilang tidak bisa."


Sayaka melanjutkan kembali pijatannya sembari menunduk dan berpikir. Sungguh dia sebenarnya juga berminat. Tetapi, bisnis apa yang ditawarkan, dia sendiri juga belum tahu. Padahal dia sendiri memiliki angan sederhana untuk usahanya, hanya saja, modal dan pengetahuannya belum mumpuni untuk mewujudkan angannya itu menjadi kenyataan.


"Ya sudah, kita tidak terlalu jauh-jauh atau serius membahas tentang bisnis. Begini saja, selama ini kamu tekun beternak dan bertani pasti ada tujuan, to? Apa tujuanmu?" Subroto mengembalikan pembicaraan ke gaya yang lebih ringan. Sepertinya kata bisnis begitu tinggi dan berat maknanya bagi Sayaka.


"Tentunya saya ingin mempunyai lahan pertanian dan juga hewan ternak yang bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat di sana. Saya ingin ada dua atau tiga orang pemuda yang bisa bekerja dengan saya dengan pendapatan layak. Tidak seharusnya, tenaga dan pikiran mereka terus menerus dimurahkan membantu perkembangan daerah apalagi negara lain." Kali ini Sayaksa menjawab dengan lugas tanpa ragu dan malu-malu.


"Nah, itu pemikiran yang bagus. Tapi kapan kira-kira kamu mewujudkannya? Jangan bilang nunggu modal, Ka. Modal bisa dicari kalau kamu memang yakin. Jaman sekarang, orang memulai usaha tidak harus dengan modal sendiri. Kamu bisa cari investor. Istilah sederhananya penanam modal. Kamu yang paham betul cara menjalankannya, cuman modal pikiran sama tenaga Beres, to?" Subroto menepuk-nepuk pundaknya. Sebuah isyarat tanpa kata agar pijatan Sayaka beralih ke sana.


Sayaka pun berdiri. Lalu melangkahkan kaki, menyesuaikan posisinya dengan pundak Subroto yang akan dipijatnya. "Kalau modal dari orang lain, saya takut kalau misalkan rugi bagaimana, Pak? Panen bisa saja gagal. Ternak bisa juga tiba-tiba kena serangan virus." ucap Sayaka sesaat setelah memulai kembali pijatannya.


"Memangnya ada usaha yang dijamin tidak pernah rugi? Apalagi diawal-awal. Makanya, kamu cari investor yang tepat. Orang yang benar-benar paham bisnis, pantang berharap untung di depan. Ibaratnya, modal awal itu memang uang hilang. Kembali syukur, bisa bertambah Alhamdulillah, nggak balik ya Lillah Billah."


Sayaka terkagum-kagum dengan pemikiran Subroto. Tidak heran Seruni bisa menjadi pribadi yang tangguh dan perempuan yang sukses meski dibesarkan tanpa seorang ibu. Pembawaan Subroto yang tegas tetapi sangat bijaksana, tentunya membuat orang yang dekat dengannya merasa tidak terlalu diintimidasi. Tetap bisa menjadi diri sendiri, meski tentu saja pria tersebut kerap kali memberikan arahan dan juga pandangan.


"Bagaimana, Ka? Kesempatan tidak datang setiap hari. Dan tidak pada semua orang saya menaruh kepercayaan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Seruni. Bagi saya, kamu adalah pemuda yang potensial dan seharusnya bisa melakukan lebih untuk daerahmu. Maka sudah sepantasnya ada yang memberikanmu jalan. Sekali lagi, kalau kita berbisnis. Itu di luar hubunganmu dengan Seruni."


Sayaka mencoba mengajak otaknya berpikir dan mencerna ucapan Subroto dengan cepat. Menimbang baik-buruk dan juga langkah-langkah apa yang bisa dia lakukan untuk membuat kerjasama mereka berjalan dengan baik jika memang dia menyetujui kerjasama tersebut.


"Baik, Pak. Saya bersedia. Umur saya sudah tidak muda lagi, kalau saya menunggu modal sendiri, bisa jadi lima atau sepuluh tahun lagi angan itu bisa saya jadikan kenyataan," putus Sayaka. Mantap dan penuh keyakinan.


"Bagus.Begini saya suka. Seusiamu begini, harus berani mengambil resiko. Jangan bilang berani menikah kalau kamu tidak tahu pasti berapa mahar yang bisa kamu berikan. Sama saja seperti itu. Ya sudah, besok kita kembali ke daerahmu." Subroto tampak lega mendapatkan jawaban persetujuan dari Sayaka.


Iya besok. Memangnya kamu kerasan di sini? Atau memang kamu pengen terus di sini? Oh, ya, kita yang saya maksud itu saya, kamu sama Seruni." Subroto mengatakannya dengan raut wajah serius.


"Tidak, Pak. Saya malah senang kalau besok bisa pulang. Kasihan Siti sama teman-temannya. Pasti tidak enak makan dan tidur karena sudah berhari-hari bukan saya yang ngurus. Tapi ... bapak, kan, baru sembuh, bagaimana dengan kondisi bapak nantinya," timpal Sayaka. Buru-buru menjawab sebelum Subroto salah menilainya.


"Kamu tenang saja. Badan saya ini sudah terbiasa dan terlatih untuk tidak memanjakan rasa sakit. Lagipula, ada dokter bersama kita. Apa lagi yang mau dikhawatirkan?" Subroto menjawab dengan enteng. "Sudah cukup pijat nya. Saya mau istirahat. Kamu juga tidur sini. Kalau belum ngantuk. Boleh keluar dulu cari angin. Tapi ingat, jangan nyusul Seruni," tambahnya.


Sayaka mengangguk. Karena belum mengantuk dan juga tidak enak hati kalau langsung berbaring di samping Subroto, pria tersebut memilih pamit untuk keluar terlebih dahulu.


Berjalan menuju halaman samping rumah Seruni dengan hati-hati karena takut menimbulkan suara, Sayaka dikejutkan dengan kemunculan Seruni yang tiba-tiba di depannya.


"Astaghfirullah, Ndhuk. Kamu ngagetin saja Untung jantungku ini bukan bikinan pabrikan," kesal Sayaka dengan suara tertahan.


"Dih, Abang. Gimana di dalam? Ayah ngomong apa saja?" Seruni sudah tidak sabar mengetahui pembicaraan antara Sayaka dan Subroto.


"Tidak banyak, Ndhuk. Yang pasti kata Pak Subroto, kita besok kembali sama-sama."


"Hah? Besok? Gimana ceritanya?" Tidak percaya dengan jawaban Sayaka, Seruni segera berbalik badan menuju kamar sang ayah.


Dengan gerakan tidak sabar, dia menekan gagang pintu ke bawah untuk membuka benda tersebut. di lihatnya sang ayah masih belum memejamkan matanya dengan sungguh-sungguh.


"Ayah jangan pura-pura tidur, deh. Kok Bang Sayaka bilang kami besok sudah boleh kembali. Seruni belum booking tiket, Yah." Seruni menghempaskan bokongnya di sisi kosong ranjang yang ditiduri sang ayah.


"Ya memang besok, Ser. Apa kamu nggak ingat, di sana itu kamu dinas. Tidak bisa seenaknya ijin lama-lama. Ada aturannya. Ayah sudah pesankan tiketnya untuk tiga orang." Subroto menjawab santai sambil tetap memejamkan matanya.


"Tiga orang? Kenapa bisa begitu? Siapa saja?" cecar Seruni bersamaan dengan Sayaka yang kembali memasuki kamar tersebut karena khawatir akan adanya perdebatan antara bapak dan anak.